Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mimpi Buruk atau Kelahiran Kembali?
Sakit... sakit yang menusuk hingga ke tulang.
Itulah sensasi pertama yang dirasakan Lin Feng saat kesadarannya perlahan kembali. Sebagai Penguasa Abadi yang telah berdiri di puncak Alam Abadi selama puluhan ribu tahun, rasa sakit adalah konsep yang sudah lama ia lupakan. Tubuh abadinya, yang ditempa oleh petir surgawi dan dibasuh oleh energi spiritual paling murni, seharusnya tidak bisa merasakan hal seremeh ini.
Ia mencoba membuka matanya, tetapi kelopaknya terasa seberat gunung. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa keruh, membawa aroma samar ramuan obat berkualitas rendah dan debu. Ini bukan kamarnya di Istana Abadi yang megah, yang dipenuhi aroma spiritual dari Sembilan Bunga Surgawi.
"Di mana aku?"
Sebuah suara serak dan lemah keluar dari tenggorokannya, suara yang sama sekali tidak ia kenali. Suara itu bukan miliknya, yang mampu mengguncang bintang-bintang hanya dengan satu teriakan.
Saat itulah, sebuah banjir informasi yang bukan miliknya membanjiri benaknya. Kenangan-kenangan asing, penuh dengan keputusasaan, penghinaan, dan rasa sakit, menyerbu jiwanya.
Seorang pemuda bernama Lin Feng, anggota cabang dari Klan Lin di Kota Awan Angin. Dianggap sebagai "sampah" karena bakatnya yang biasa-biasa saja. Tunangannya, Liu Xue'er, putri dari kepala klan Liu yang merupakan klan terkuat di kota, secara terbuka membatalkan pertunangan mereka dan menyebutnya tidak layak bahkan untuk menjadi pelayannya. Puncaknya, tiga hari yang lalu, dalam sebuah "latihan tanding" di klan, ia dipukuli secara brutal oleh sepupunya, Lin Wei, hingga meridiannya hancur dan ia terbaring di ambang kematian.
Pemuda ini telah mati karena luka-lukanya, dipenuhi dengan kebencian dan keengganan.
"Jadi begitu... Aku bereinkarnasi."
Kesadaran sang Penguasa Abadi akhirnya memahami situasinya. Raganya telah hancur, tetapi seutas jiwa ilahinya berhasil melarikan diri melintasi kehampaan dan memasuki tubuh pemuda yang baru saja mati ini.
Tawa sunyi bergema di dalam benaknya. Tawa yang penuh dengan ironi dan kebencian yang tak terbatas. Ia, Lin Feng, Penguasa Abadi yang agung, yang satu langkah lagi akan menembus belenggu abadi dan naik ke Alam Dewa, malah berakhir seperti ini.
Kenangan terakhir dari kehidupan sebelumnya melintas dengan jelas. Upayanya menembus Alam Dewa, Kitab Suci Kekacauan Abadi yang berputar di atas kepalanya, dan kemudian... pengkhianatan.
Murid yang paling ia banggakan, Tian Jue. Wanita yang paling ia cintai, Peri Yaochi. Keduanya, menusuknya dari belakang pada saat paling kritis. Tatapan dingin dan serakah di mata mereka saat mereka merebut kitab sucinya masih terpatri jelas di benaknya.
"TIAN JUE! PERI YAOCHI!"
Raungan tanpa suara mengguncang jiwanya. Kebencian yang membara begitu kuat hingga ruangan reyot itu seolah bergetar. Ia bersumpah pada langit dan bumi, jika ada kehidupan setelah ini, ia akan membuat mereka membayar seribu kali lipat!
"Hah... hah..."
Napasnya terengah-engah. Kemarahan yang luar biasa itu hampir menghancurkan jiwa sisa miliknya. Perlahan, ia menenangkan dirinya. Sebagai seorang kaisar yang telah hidup selama ribuan tahun, ia tahu bahwa amarah tidak akan menyelesaikan apa pun. Ketenangan adalah senjata terbesarnya.
Dengan susah payah, ia berhasil duduk di ranjang kayu yang keras itu. Ia melihat sekeliling. Sebuah ruangan kecil, sederhana, dengan perabotan yang sudah usang. Inilah tempat tinggal "sampah" Klan Lin.
Lin Feng menurunkan pandangannya, memeriksa tubuh barunya. Kurus, pucat, dan penuh dengan luka memar. Ia memejamkan mata dan mencoba merasakan kondisi internal tubuhnya. Seperti yang ada di dalam ingatan, meridiannya hancur berantakan. Dantiannya kosong, tanpa jejak energi spiritual sedikit pun. Bagi seorang kultivator, ini adalah vonis mati.
"Meridian hancur? Fondasi Dao rusak parah?" Lin Feng tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan penghinaan terhadap apa yang disebut "vonis mati" ini.
"Di mata kalian ini mungkin akhir dari segalanya," bisiknya pada diri sendiri. "Tapi di mata Penguasa Abadi ini, ini hanyalah sebuah awal yang sedikit merepotkan."
Pengetahuan yang ia miliki tak ternilai harganya. Kitab Suci Kekacauan Abadi, teknik kultivasi tertinggi di seluruh alam semesta, terukir dalam jiwanya. Metode penyembuhan, alkimia, dan formasi yang tak terhitung jumlahnya tersimpan di benaknya.
Memperbaiki tubuh fana ini? Itu hanya masalah waktu.
"Lin Wei... Klan Lin... Liu Xue'er..." Nama-nama itu melintas di benaknya. "Kalian telah memberi pemilik tubuh ini begitu banyak penderitaan. Anggap saja ini hutang."
Mata Lin Feng, yang tadinya dipenuhi keputusasaan milik pemilik asli tubuh ini, kini bersinar dengan cahaya yang tajam dan dalam, bagaikan langit malam yang tak berujung. Itu adalah mata seorang penguasa yang memandang rendah semut-semut di bawahnya.
"Hutang harus dibayar. Dan pengkhianatanku..."
Sebuah kilatan dingin melintas di matanya.
"Aku akan kembali ke Alam Abadi. Istana Surgawi kalian akan menjadi lautan darah. Aku, Lin Feng, akan mengambil kembali semua yang menjadi milikku!"