NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Sang Ular Hitam

Kota Perbatasan Yan mulai terlihat seperti titik kecil di belakang Song Yuan. Ia sengaja mengambil jalur setapak yang jarang dilalui manusia, membelah hutan bambu yang berderit tertiup angin. Namun, meski ia sudah berjalan berkilo-kilometer, perasaan diawasi itu tidak pernah hilang.

Yuan berhenti di sebuah mata air kecil. Saat ia membungkuk untuk membasuh wajahnya, pantulan wajah lain muncul di permukaan air yang tenang.

"Tuan," ucap Yuan tanpa menoleh. "Bau amis ularmu tidak bisa disembunyikan oleh angin hutan."

Sshhh...

Mo Chen turun dari rimbunnya pohon bambu dengan kelenturan yang mengerikan. Ia mendarat tanpa suara, bahkan daun kering di bawah kakinya tidak berkerisik. "Tujuh tahun dan indramu baru sampai di level 'lumayan'. Kau beruntung prajurit di kedai tadi hanyalah sampah mabuk. Jika Gao Shuo yang ada di sana, kau sudah menjadi pajangan di dinding markasnya."

Mo Chen berjalan mendekat, jubah sisik hitamnya berkilauan tertimpa cahaya matahari yang menembus celah bambu. Ia mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil yang tampak berat.

"Kau pikir kau bisa membantai satu batalyon Garda Depan hanya dengan busur kayu dan tekad membara? Jangan konyol, Cacing Kecil," Mo Chen melemparkan kantong itu ke dada Yuan.

Begitu dibuka, mata Yuan sedikit melebar. Di dalamnya terdapat tujuh buah anak panah dengan desain yang belum pernah ia lihat. Batangnya terbuat dari tulang sayap elang monster, dan matanya terbuat dari batu hitam yang memancarkan aura dingin yang menusuk.

"Itu adalah Panah Tulang Jiwa,"desis Mo Chen, seringainya nampak sadis. "Aku merendam mata panah itu di dalam darah ular berbisa selama tiga tahun. Satu goresan kecil saja akan membuat darah musuhmu menggumpal di dalam jantung mereka dalam hitungan detik. Gunakan hanya untuk target yang layak. Jangan buang-buang hartaku untuk prajurit rendahan."

Yuan menyentuh ujung panah itu. Dinginnya menjalar hingga ke nadinya. "Kenapa kau memberiku ini sekarang? Kau bilang aku harus mandiri."

Mo Chen mencengkeram rahang Yuan, memaksa pemuda itu menatap mata kuningnya yang vertikal. "Aku memberimu ini karena aku ingin melihat kehancuran yang indah. Aku ingin kau menjadi mimpi buruk bagi setiap orang yang memakai seragam Ibukota. Ingat, Gao Shuo bukan lawan yang adil. Dia licik, dia pengecut, dan dia punya ribuan nyawa untuk dijadikan perisai."

Mo Chen melepaskan cengkeramannya dan memberikan sebuah botol berisi cairan bening. "Minum ini setiap tiga hari. Ini adalah penawar untuk racun yang aku masukkan ke tubuhmu selama tujuh tahun ini. Jika kau lupa meminumnya, pembuluh darahmu akan pecah dan kau akan mati dengan mengenaskan."

"Kau masih saja mengancamku, bahkan di saat terakhir," gumam Yuan dengan senyum tipis yang langka.

"Itu bukan ancaman, itu pengingat bahwa hidupmu adalah milikku sampai kau berhasil membawa kepala kaisar kepadaku," Mo Chen berbalik, jubahnya berkibar. "Sekarang pergi. Pergilah ke utara, ke Lembah Gagak. Di sana, Gao Shuo sedang membangun pos pertahanan baru. Mulailah dari sana. Biarkan mereka tahu bahwa 'Hantu Desa Songjia' telah kembali untuk menagih utang."

Yuan mengikat kantong panah pemberian gurunya dengan erat di pinggang. Ia merasakan berat lencana ayahnya di dada dan dinginnya panah gurunya di pinggang. Ia adalah perpaduan antara kehormatan seorang Jenderal dan kesadisan seorang Ular.

"Tuan," panggil Yuan saat sosok Mo Chen mulai memudar menjadi bayangan. "Jika aku mati... jangan repot-repot membedah mayatku. Bakar saja seperti mereka membakar desaku."

Mo Chen tidak menjawab, tapi suara tawanya yang kering bergema di antara pohon bambu sebelum akhirnya ia menghilang sepenuhnya.

Yuan menarik napas dalam-dalam. Hutan Hitam sudah berada di belakangnya, dan di depannya terbentang dunia yang penuh dengan tipu daya. Ia mengeluarkan busur besarnya, memasang satu anak panah biasa, dan menembakkannya ke sebuah batang bambu sejauh seratus meter tanpa menoleh.

TAK!

Bambu itu terbelah sempurna secara vertikal.

"Pesta dimulai, Gao Shuo," bisik Yuan.

Ia mulai berlari, bukan dengan lari manusia biasa, melainkan dengan gerakan rendah dan cepat—Langkah Ular yang diajarkan Mo Chen. Tujuannya jelas: Lembah Gagak. Tempat di mana darah pertama akan tertumpah untuk memulai upacara balas dendamnya.

"Lembah Gagak sebentar lagi tidak akan hanya dipenuhi suara burung pemakan bangkai. Ia akan dipenuhi suara tarikan busur yang membawa pesan kematian dari masa lalu. Song Yuan menghilang di antara kerapatan hutan, meninggalkan jejak dingin yang bahkan matahari pun enggan menyentuhnya."

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!