Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Gerbang Berdarah Kota Debu
Ngarai Ratapan akhirnya berada di belakang mereka. Angin yang berhembus tidak lagi membawa bau bangkai busuk yang pekat, melainkan aroma debu kering dan asap kayu bakar. Di ujung cakrawala, di bawah langit kelabu yang retak, berdirilah sebuah pemukiman kumuh berskala masif yang dikelilingi oleh tembok batu kasar setinggi tiga tombak.
Itulah Kota Debu, sebuah pos terdepan sekaligus tempat perlindungan sementara bagi para pengungsi dan kultivator pengembara sebelum mereka memasuki wilayah inti benua utara tempat Akademi Jiannan berada.
Zeng Niu berdiri di atas sebuah bukit gersang, menatap kota itu dengan mata sedingin es. Jubahnya sudah compang-camping, berlumuran darah kering berwarna hitam dan abu kotor. Rambutnya panjang tak terurus, mengikat wajahnya yang pucat namun memancarkan aura buas yang tertahan.
Di sebelahnya, Bao Tuo sedang bersandar pada batu karang sambil terengah-engah. Wajah bundarnya tirus sedikit akibat perjalanan neraka selama sebulan terakhir, tapi perutnya entah bagaimana tetap buncit. Ia telah menyembunyikan cincin ruang penyimpanan itu di balik lapisan kain pakaian dalamnya yang kotor, menggantungnya di leher menggunakan tali rami agar tidak menarik perhatian.
"Dewa Langit memberkati... akhirnya peradaban," bisik Bao Tuo dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat puluhan tenda kumuh di luar tembok kota. "Lihat, Saudara Niu! Manusia! Bukan monster yang ingin memakan usus kita!"
"Manusia bisa lebih buruk dari monster," balas Zeng Niu datar. Ia melangkah turun dari bukit. "Sembunyikan auramu. Jangan bertingkah seperti Tuan Muda dari klan kaya. Jika ada yang melihat cincin itu, aku akan memotong lehermu sebelum mereka memotong perutmu."
Bao Tuo menelan ludah dan segera membungkukkan bahunya, memasang wajah melas dan langkah terseret layaknya pengungsi kelaparan pada umumnya.
Saat mereka mendekati gerbang kota, pemandangan era Bencana terpampang nyata. Ribuan manusia fana mereka yang tidak memiliki akar spiritual hidup layaknya belatung. Mereka meringkuk di lumpur, mengemis dengan mangkuk retak. Seorang pria fana dipukuli hingga mati oleh dua kultivator liar hanya karena tak sengaja menyenggol ujung jubah mereka. Emas dan perak di sini hanya berguna untuk membeli sepotong roti keras bercampur serbuk gergaji. Nyawa manusia tidak memiliki harga.
Di depan gerbang besi raksasa yang setengah berkarat, belasan penjaga berwajah beringas sedang memungut pajak masuk. Mereka bukan prajurit kerajaan, melainkan preman dari Geng Pasir Hitam, penguasa lokal tingkat rendah. Aura mereka rata-rata berada di Pengumpulan Qi Tahap 3 dan 4.
"Pajak masuk! Satu keping perak untuk fana! Setengah Kristal Roh kelas rendah untuk kultivator!" teriak seorang penjaga bertubuh tinggi dengan bekas luka melintang di wajahnya. Ia memegang golok besar yang memancarkan pendar Qi elemen logam tipis.
Zeng Niu dan Bao Tuo ikut mengantre dalam diam. Ketika giliran mereka tiba, penjaga berbekas luka itu menatap Zeng Niu dari atas ke bawah. Ia tidak merasakan fluktuasi Qi apa pun dari Dantian Zeng Niu. Di matanya, pemuda kurus berwajah dingin ini hanyalah manusia fana biasa yang entah bagaimana beruntung selamat dari hutan.
"Fana. Dua keping perak, karena kau terlihat sangat kotor dan akan mengotori jalanan kotaku," ludah si penjaga dengan sombong. Matanya lalu beralih ke Bao Tuo, dan alisnya terangkat. Meskipun Bao Tuo berusaha membungkuk, cadangan daging di perutnya tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia makan cukup baik. Terlebih lagi, ada fluktuasi Pengumpulan Qi Tahap 2 dari tubuhnya.
"Oh? Seorang kultivator gemuk?" Penjaga itu menyeringai serakah. "Kultivator tanpa lambang sekte harus membayar dua Kristal Roh kelas rendah!"
"D-dua?!" Bao Tuo membelalak. "Tadi kau bilang setengah! Dari mana Tuan Muda maksudku, dari mana pengembara miskin sepertiku mendapatkan dua Kristal Roh?!"
Penjaga itu maju selangkah, melepaskan tekanan Qi Tahap 4 miliknya. Bao Tuo yang penakut otomatis mundur sambil bergetar.
"Kau punya daging di perutmu. Kau pasti punya harta di kantongmu. Geledah dia!" perintah penjaga itu kepada dua anak buahnya.
Bao Tuo memucat pasih. Jika mereka menggeledahnya, mereka akan menemukan cincin ruang penyimpanan yang berisi ratusan Kristal Roh dan artefak! Itu sama saja dengan menandatangani surat kematian mereka berdua.
Si gendut melirik panik ke arah Zeng Niu.
Zeng Niu tetap diam, ekspresinya tidak berubah. Namun, kecerdikannya sedang menghitung variabel. Penjaga ini Tahap 4 Pengumpulan Qi. Qi pelindungnya tipis. Jarak lehernya dua langkah dariku. Teman-temannya terlalu santai, mereka tidak akan sempat bereaksi.
Tepat ketika tangan anak buah penjaga itu hendak mencengkeram kerah Bao Tuo, Zeng Niu melangkah maju. Gerakannya tampak tidak tergesa-gesa, seolah ia hanya manusia fana yang bodoh dan mencoba melerai.
"Tuan," ucap Zeng Niu serak, menyodorkan sebuah kantong kulit kotor peninggalan ayahnya yang sudah kosong. "Kami punya kepingan perak. Ambil saja semua ini."
Penjaga berbekas luka itu tertawa meremehkan. "Singkirkan tangan kotor fana-mu itu, bocah mati—"
Ia mengayunkan punggung goloknya untuk memukul lengan Zeng Niu hingga patah.
TRAAAK!
Suara logam berbenturan dengan sesuatu yang sangat keras bergema di depan gerbang. Semua orang terdiam. Mata penjaga berbekas luka itu membelalak lebar, menatap tak percaya.
Punggung goloknya yang dilapisi Qi tidak mematahkan lengan pemuda kurus itu. Sebaliknya, lengan Zeng Niu menahan bilah itu dengan kulit telanjangnya, hanya meninggalkan bekas putih pucat berkat kekuatan Penempatan Tubuh Tahap 4 yang setara dengan besi hitam.
Sebelum penjaga itu sempat menyadari kengerian dari sosok ini, Zeng Niu bergerak.
Itu bukan teknik bela diri yang indah. Itu murni insting membunuh yang ditempa di dasar sumur berdarah. Tangan kanan Zeng Niu melesat ke depan seperti kilat, jari-jarinya membentuk cengkeraman cakar, dan mencengkeram rahang bawah serta leher penjaga tersebut.
Zeng Niu mengerahkan seluruh tenaga fisik Tahap 4-nya dan memutar lengannya dengan kasar.
KRAK!
Bunyi tulang leher yang patah terdengar sangat keras, tajam, dan mematikan. Kepala penjaga berbekas luka itu terpelintir ke belakang dengan sudut yang tidak wajar. Tubuh besarnya ambruk ke tanah berlumpur, mati seketika sebelum ia bahkan bisa memanggil Qi dari Dantiannya.
Keheningan menyelimuti antrean gerbang. Para pengungsi menjerit tertahan dan mundur menjauh. Anak buah penjaga yang hendak menggeledah Bao Tuo membeku di tempat, kaki mereka bergetar hebat. Mereka adalah kultivator Tahap 3, namun bos mereka baru saja dibunuh dalam satu detik oleh seseorang yang tidak memancarkan sebutir debu Qi pun!
Hukum rimba di Era Keruntuhan Surga sangat sederhana: Yang kuat menelan yang lemah, dan yang lemah mati dalam keheningan. Zeng Niu tidak peduli dengan keadilan. Ia hanya membunuh hambatan di jalannya.
Dengan wajah datar dan tanpa emosi, Zeng Niu membungkuk. Ia merogoh kantong mayat penjaga itu, mengambil tiga keping Kristal Roh kelas rendah yang baru saja diperas dari orang lain, serta mencabut kantong koin peraknya.
Zeng Niu berdiri tegak, melempar satu keping Kristal Roh ke tanah, tepat di depan kaki dua anak buah penjaga yang masih membatu ketakutan.
"Ini pajak masuk kami berdua," desis Zeng Niu dingin. Matanya menyapu sisa penjaga Geng Pasir Hitam dengan tatapan yang biasa ia gunakan saat melihat bangkai monster. "Ada yang keberatan?"
Tidak ada yang menjawab. Bau darah dan aura kejam yang menguar dari tubuh Zeng Niu membuat para preman itu sadar bahwa pemuda compang-camping ini bukanlah manusia, melainkan monster buas berwujud fana. Mereka menundukkan kepala, membiarkan jalan gerbang terbuka lebar.
Bao Tuo, yang napasnya nyaris berhenti karena syok, buru-buru berlari mengekor di belakang punggung Zeng Niu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh si gendut.
Begitu mereka melangkah masuk melewati lorong gerbang yang remang-remang, Bao Tuo merendahkan suaranya dan berbisik histeris. "K-Kau gila! Kau membunuh bos mereka di siang bolong! Geng Pasir Hitam pasti akan memburu kita di dalam kota!"
"Mereka geng jalanan, bukan sekte agung yang menjunjung kehormatan," jawab Zeng Niu datar, matanya menyapu jalanan Kota Debu yang dipenuhi tenda pedagang asongan dan rumah bordil reyot. "Pemimpin yang mati karena diremehkan oleh 'fana' tidak akan dibela. Mereka akan sibuk berebut posisi kosong yang ditinggalkan mayat itu daripada memburu kita."
Zeng Niu berhenti melangkah, menatap keramaian kota yang kelam di depannya.
"Lagipula," tambah Zeng Niu, suaranya sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin mematikan. "Jika mereka memburu kita, kita hanya perlu membunuh mereka semua. Malam ini, tugasmu adalah mencari Paviliun Dagang. Kita harus menukar material monster ini dan membeli informasi tentang ujian masuk Akademi Jiannan."
Bao Tuo menelan ludah, menatap punggung Zeng Niu yang tidak terlalu lebar, namun terasa seperti tembok gunung yang mustahil diruntuhkan. Dengan satu pembunuhan brutal dan pertunjukan dominasi, Zeng Niu baru saja memotong rantai penindasan sebelum rantai itu sempat melilit leher mereka.
"B-baik, Saudara Niu. Tuan Muda ini akan mencari tempat paling aman di kota terkutuk ini," gumam Bao Tuo patuh. Petualangan mereka di peradaban baru saja dimulai, dan darah sudah mengotori langkah pertama.