NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Akhirnya dengan berat hati Alex pun pergi meninggalkan Diandra yang kini menundukkan pandangannya.

Sementara mobil yang ditumpangi oleh keluarga konglomerat itu akhirnya pergi meninggalkan desa di pinggiran kota yang sejak empat bulan kurang ditempati oleh putra tunggal keluarga Tama itu.

Diandra pun kembali masuk kedalam rumah dengan air mata yang tidak terbendung lagi. Bukan karena cinta dalam diam nya telah kembali ke tempat yang seharusnya. Tapi kini rasa sepi itu semakin menghimpit dada dan begitu perih terasa.

"Dian kami pulang dulu, tahlilan hari ini kita adakan setelah salat magrib saja. Jika ada apa-apa segera hubungi kami"ucap Dito.

"Terimakasih mas, terimakasih fan, aku tidak tahu jika kalian tidak ada"ucap Diandra.

"Jangan bicara seperti itu, kita adalah teman Dian"ucap Dito.

"Nina sudah bisa dipastikan tidak akan pernah kembali lagi kerumah ini, dan tuan Alex sudah menebus kembali rumah ini. Sekarang rumah ini mutlak sebagai milikmu begitu juga dengan si Optimus"ucap Afandi yang kini menyerahkan surat-surat rumah dan tanah juga BPKB mobil tersebut.

"Simpan semua ini di tempat yang aman, ganti kunci rumah dan kalau bisa secepatnya renovasi dan buang kenangan buruk yang tersisa di rumah ini"ucap Afandi yang kini dibalas anggukan kepala oleh Dian.

Gadis cantik itu pun kembali ke kamar setelah mengantar teman-temannya sampai di teras rumah nya.

Dian pun terduduk sendirian di tepi ranjang nya itu. Tidak lama kemudian ia teringat akan Alex, benarkah pria itu membawa semua barang pemberian nya.

Sesampainya di kamar tamu yang ditempati oleh Alex, Dian kini terdiam saat melihat seluruh barang yang diberikan oleh nya semua dibawa tanpa tersisa satu pun, tapi yang membuat Dian terkejut adalah sebuah amplop coklat berukuran besar itu terisi gepokan uang didalamnya dengan secarik kertas berisi tulisan tangan Alex.

"Diandra saya harap setelah kepergian saya kamu bisa membuka hati mu untuk saya. Saya serius dengan semua ucapan saya. terimakasih untuk semuanya selama ini, mungkin uang ini tidak akan mampu menggantikan kebaikan mu dan pak Hasan, tapi saya berharap uang ini bisa menebus rasa bersalah pak Hasan terhadap mu karena keputusannya telah membuat mu kehilangan kalung berharga yang selama ini kamu hasilnya dari hasil kerja keras mu. Jujur aku pun sedih saat itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa demi agar kalian percaya padaku bahwa aku hilang ingatan. Please tebus kembali kalung mu dengan uang ini. Jika tidak belilah kalung yang jauh lebih bagus dari yang kamu miliki, sisanya untuk modal. Karena setelah ini aku tidak ingin kamu kembali jadi tukang kuli, kamu harus sukses seperti yang ayah mu inginkan. terimakasih Diandra... terimakasih gadis tangguh yang telah membuat ku jatuh cinta pada pandangan pertama, semoga setelah ini kita bisa bertemu dalam keadaan yang sangat baik. Aku yang sangat mengagumi mu."tulis Alex.

Dian langsung bangkit dan mencari tas miliknya. Dia tidak menggunakan tas bagus, tapi menggunakan tas kerja nya yang dekil lalu memasukkan semua uang tersebut kedalamnya dan kemudian bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.

Gadis cantik itu pun langsung bergegas ke kota untuk mencari bang terdekat dengan membawa foto copy dari nomor rekening bank milik Alex.

Baginya Alex sudah berbuat terlalu banyak kebaikan dengan mengungkap rahasia kematian ayahnya dan menebus surat rumah dan mobil, sekarang Dian hanya ingin mengembalikan uang itu, tidak peduli dia akan tetap jadi tukang kuli atau pun tidak.

Dian pergi dengan menggunakan mobil pick up nya menuju kota untuk mentransfer uang tersebut ke nomor rekening Alex yang terdapat di kertas fotocopy yang tertinggal di dalam kamar tersebut.

Sepanjang perjalanan Dian hanya fokus pada jalanan, dan sesampainya di sebuah bank, dia langsung turun dari dalam mobil dengan membawa tas lusuh miliknya dan bergegas menemui teller bank tersebut lalu dia bilang ingin transfer uang yang ada di dalam tasnya yang akhirnya di proses, dan setelah dihitung semua terdapat satu miliar lebih, dan betapa shock nya Dian saat itu dan akhirnya ia pun kembali pulang setelah dipastikan proses transfer selesai dan bukti transfer itu ia bawa pulang.

"Maaf tuan saya tidak bisa menerima uang itu, karena bagi saya semua sudah lebih dari cukup. Dan saya tidak ingin membuat anda rugi besar"ucap Dian yang kini berbicara sendirian.

Dian pun kembali ke rumah yang kini tampak begitu sepi dan jauh lebih sepi dari sebelumnya, hingga air matanya kembali meleleh membasahi pipinya.

Sampai saat waktu tahlilan tiba, ibu-ibu yang memang sudah menyiapkan kudapan lezat dan puluhan kotak nasi berkat dan semua biaya itu ditanggung oleh Alex yang telah menyerahkan uang dalam jumlah besar pada Afandi kala itu.

Dian hanya bisa berterimakasih kepada mereka yang telah bekerjasama untuk menyiapkan semuanya meskipun mereka juga mendapatkan upah.

Tahlil pun dimulai, Dian dan ibu-ibu juga gadis desa lainnya berada di barisan belakang. Dan para pemuda dan para bapak-bapak hingga sesepuh desa kini berada di barisan paling depan, dan dipimpin oleh pak ustadz setempat acara tahlilan itu pun berjalan dengan sangat khidmat, tidak sedikit dari mereka yang menitikan air mata saat Dian meminta maaf atas dosa dan kesalahan yang mungkin dilakukan oleh almarhum semasa hidupnya baik yang disengaja ataupun tidak.

Mereka pun membalas permintaan maaf Dian dengan mengatakan bahwa mereka memaafkan pak Hasan dari kesalahan yang mungkin tidak ia sengaja karena selama hidupnya pak Hasan hampir tidak pernah berubah kesalahan apalagi hingga merugikan orang. Dia adalah orang baik yang selalu peduli terhadap tetangga dan lingkungan.

Mereka juga minta maaf dengan tulus jika selama ini mereka punya salah terhadap almarhum.

Setelah doa selesai Dian dan teman-temannya pun membagikan amplop dan nasi berkat yang kini hampir habis, dan lebihnya Dian berikan pada tetangga lansia nya yang tidak bisa datang karena faktor usia.

Setelah itu Dian kembali sendirian di rumah karena semua orang telah kembali ke rumah masing-masing.

Dian pun terlelap dalam tidurnya setelah rasa lelah atas duka dan kegiatan nya tadi.

Sampai hari ke empat puluh usai Dian kini sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Karena musim panen telah usai dan musim tanam pun sudah terlewat, Dian kini memutuskan untuk kembali menjual buah-buahan.

Saat ini Dian ditemani Ari yang juga salah satu dari teman nguli nya yang juga sedang tidak punya pekerjaan.

Dian mengajak pemuda itu untuk berjualan dan pemuda itu pun dengan senang hati menerima tawaran Dian, mereka bekerja sama menjajakan buah-buahan segar itu dari desa ke desa ke gang-gang dimana perumahan warga yang bisa dilalui oleh mobil.

...*****...

Satu tahun berlalu, vonis pengadilan menjatuhi hukuman mati pada ayah kandung Nina, sementara ibu dan anak itu dijatuhi lima belas tahun penjara, karena mereka juga ikut andil memeras dan merahasiakan kematian itu dengan sengaja.

Dian sendiri menyerahkan semuanya pada pihak berwenang, sementara barang-barang penting milik ibu dan anak yang ada di rumah Dian dikirimkan ke rumah nenek Nina dari pihak ayahnya yang dijatuhi vonis mati.

Keluarga dari pria itu pun malah mendukung Dian, mereka yang memang sangat baik dan mengerti hukum tidak pernah mendukung orang yang salah meskipun pria itu adalah anggota keluarga nya.

Dan tidak hanya itu, mereka pun sudah terlanjur kecewa atas perbuatan dosa yang selama ini selalu dilakukan oleh ayah Nina dan Nina sendiri sebagai anaknya sama saja.

Dan itu artinya selama ini mereka tidak pernah benar-benar resmi berpisah dan saling membenci. Mereka justru bekerja sama memeras pak Hasan dan Dian, juga pegadaian rumah dan mobil itu pun uang nya mengalir ke rekening pribadi pria itu.

Dian benar-benar tidak percaya dengan itu. Mereka yang selama ini selalu dianggap sebagai keluarga meskipun perangai keduanya tidak jarang membuat Dian mengadu pada pak Hasan.

Dian pun merenovasi rumah milik dengan uang penghasilan nya, saat ini rumah itu bahkan tidak menyisakan kamar bekas Nina atau pun ibu tirinya.

Rumah yang terdapat tiga kamar dengan kamar tamu itu, salah satunya diisi foto kenangan keluarga nya, yaitu foto ayah dan almarhum ibunya dan beberapa barang-barang peninggalan mereka ada disana setelah sebagian besar Dian sumbangkan kepada yang lebih membutuhkan.

Gadis cantik itu pun masih tetap bekerja seperti biasanya. Jika tidak menjual buah dan sayur, dia pun kembali nguli karena seperti hari ini Dian kembali mendapatkan pekerjaan untuk mengirim hasil panen ke kota dari gudang penampungan yang merupakan milik tuan Tama.

Dan kali ini dia menyetir ditemani ari, sementara dua mobil lainnya, dikemudikan oleh Afandi Dito dan kedua teman lainnya sebagai sopir cadangan.

Sepanjang perjalanan mereka seperti biasanya saling bahu membahu, dan perjalanan yang menghabiskan waktu lima jam tersebut pun berakhir ketika ketiga truk pengangkut hasil panen itu tiba di gerbang rumah megah dengan gudang padi yang begitu luas dan jauh lebih luas dari yang ada di desa mereka.

Diandra pun turun dari mobil truk bersama kawan-kawan lainnya, tanpa dia sadari bahwa saat ini seseorang tengah mengamati mereka terutama Dian yang merupakan satu-satunya wanita yang ada di kelompok mereka.

Dia adalah Alex yang baru saja datang dengan mobilnya yang terparkir di kejauhan.

Pria yang baru lima bulan resmi menjadi duda dengan satu anak yang masih berusia lima bulan tersebut pun, masih begitu mencintai dan merindukan gadis yang kini tengah duduk selonjoran sambil menunggu upah yang akan diberikan oleh Alex yang merupakan pemilik rumah dan juga gudang padi tersebut.

"Dian ini minum nya, kita istirahat dulu sebentar sebelum pulang"ucap Dito.

"Hm..." lirih Dian.

"Bos besar sepertinya tidak ada disini, kita juga diminta untuk menunggu"ucap Afandi.

"Fan, kamu ingat satu tahun yang lalu kita pernah kesini?"ucap Dian.

"Ya, aku ingat Diandra.... Ada apa memangnya?"tanya Afandi.

"Aku tidak ingin bertemu dengan tuan Tama, aku takut dia salah faham, seperti istri tuan Alex saat itu"ucap Dian.

"Kita datang karena pekerjaan Dian, aku akan membela mu jika ada orang yang berani menyalahkan mu atas kedatangan mu kesini"ucap Dito.

"Terimakasih mas," lirih Dian.

" Tidak akan ada lagi yang akan salah faham Diandra, dia sudah tiada,"ucap seseorang yang kini membuat Dian mematung di tempatnya tanpa menatap kearah orang yang kini mendekat kearahnya.

"Tuan Alex, apa kabar?"ucap Dito dan yang lainnya.

"Seperti yang kalian lihat, kalian nikmatilah waktu istirahat nya. Setelah itu kalian bisa makan malam atau menginap disini.... Rumah ini kosong setelah kakek saya meninggal dunia"ucap Alex pelan.

"Terimakasih tuan, sepertinya kami akan pulang saja"ucap Diandra.

"Tidak, Diandra aku tau kalian semua sangat lelah kalian istirahat dan pelayan akan menyiapkan semua yang kalian butuhkan. Diandra ikut dengan saya saya ingin bicara empat mata dengan mu"ucap Alex yang kini dibalas gelengan kepala pelan oleh Diandra.

"Tuan bisa bicara disini saja,"ucap Dian yang masih bersikap dingin seperti dulu.

"Diandra, saya bilang kamu ikut saya "ucap Alex tegas dan akhirnya Fandi ikut bicara.

"Dian mungkin tuan Alex tidak bisa bicara disini dan itu cukup penting ikutlah bersamanya kami akan menunggu mu disini"ucap Fandi dengan lembut.

"Baiklah,"ucap Dian tanpa menatap wajah Alex sedikit pun.

Alex pun membawa Dian kedalam mobilnya dan mobil itu melaju pelan meninggalkan gazebo tempat mereka beristirahat dan memasuki lobby rumah megah itu.

"Turunlah,"ucap pria tampan yang kini terlihat begitu gagah dengan pakaian formal yang benar-benar mahal seperti yang dulu pernah Dian bersihkan.

"Tidak disini saja tuan, anda ingin bicara bukan?"ucap Dian yang kini masih menundukkan pandangannya.

"Diandra, please ikut aku masuk kedalam."ucap Alex yang kini membuat Diandra menghela nafas berat.

"Aku tidak akan menyakiti mu, aku hanya ingin kita bisa bicara lebih santai didalam"ucap Alex dengan lembut.

Diandra pun keluar dari dalam mobil mewah itu, diikuti oleh Alex yang tidak melepaskan pandangannya pada gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda itu.

Rambut dian kini dibiarkan panjang, tidak seperti dulu, Dian juga terlihat semakin cantik dengan itu meskipun baju yang dia kenakan saat ini masih baju lusuh yang biasa ia gunakan untuk bekerja.

Alex membuka pintu rumah yang terlihat sangat sepi tersebut, rumah yang sangat luas bak istana itu pun terlihat memiliki perabotan yang sangat mahal yang mungkin tidak akan pernah mampu dibeli oleh Dian si gadis desa tersebut.

"Ikut dengan ku,"ucap Alex yang kini menggenggam tangan Dian dan menuntunnya menuju pintu lift.

Sementara Dian hanya menatap kearah tangan nya yang kini di genggam oleh Alex hingga mereka tiba di dalam lift.

"Masuklah,"ucap Alex setibanya di depan pintu kamar utama yang ada di lantai tiga tersebut.

"Tidak tuan, katakan anda ingin bicara apa? saya akan segera pulang"ucap Dian yang kini memberanikan diri menatap wajah tampan itu.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!