NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Tiga hari telah berlalu semenjak badai pertengkaran subuh itu pecah. Tiga hari pula rumah sederhana peninggalan almarhum orang tua Arumi terasa begitu tenang, damai, dan dipenuhi energi positif. Tanpa kehadiran Pras, Arumi bisa fokus menulis hingga berhasil merampungkan draf kontrak dengan penerbit mayor yang tempo hari menghubunginya. Tidak ada suara bentakan, tidak ada tuntutan kopi di pagi hari, dan tidak ada tatapan menghakimi yang biasanya membuat dada Arumi sesak.

​Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana anak-anak libur sekolah. Suasana pagi yang cerah itu mendadak berubah menjadi abu-abu saat sebuah suara motor sport yang sangat familiar berhenti di depan pagar rumah.

​Pintu depan yang memang sengaja dibuka agar angin pagi masuk, menjadi saksi saat Pras akhirnya memperlihatkan batang hidungnya. Pria itu melangkah masuk dengan dagu terangkat, mengenakan pakaian kasual yang modis dan wangi parfum mahal yang langsung menusuk hidung. Langkah kakinya terdengar begitu percaya diri, seolah-olah dia adalah seorang raja yang baru saja kembali dari medan perang dan siap disambut dengan pelukan serta tangisan rindu dari sang istri. Pras mengira, setelah tiga hari dia "menghukum" Arumi dengan cara menghilang tanpa kabar, dia akan mendapati istrinya dalam kondisi frustrasi, menangis di sudut kamar dan memohon ampun karena kehabisan uang belanja.

​Namun, ekspektasi Pras hancur berantakan dalam detik pertama dia melintasi pintu.

​Arumi yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melipat baju-baju bersih anak-anak, hanya mendongak sekilas. Tatapan mata Arumi begitu datar, dingin, dan kosong. Tidak ada binar kepanikan, tidak ada rasa bersalah, dan yang paling menyakitkan bagi ego Pras: sama sekali tidak ada rasa hormat yang tersisa di dalam sepasang mata itu. Arumi bahkan tidak beranjak dari duduknya untuk menyambut Pras, apalagi meraih tangan suaminya untuk dicium seperti yang biasa dia lakukan selama sepuluh tahun ini demi menjaga tata krama sebagai menantu yang dididik sopan santun. Arumi memperlakukan Pras tak ubahnya seperti seonggok barang mati atau orang asing yang salah masuk rumah.

​Atmosphere di dalam ruangan langsung drop drastis. Kehadiran Pras tidak membawa kebahagiaan, melainkan awan mendung yang pekat.

​Bintang dan si Adik, Langit, yang awalnya sedang asyik menggambar di meja kecil dekat televisi, seketika menghentikan aktivitas mereka begitu melihat bayangan Pras. Bintang, si sulung yang sudah tahu betul tabiat ayahnya, langsung menundukkan kepala. Sorot matanya yang cerdas mendadak berubah menjadi sangat sedih dan dipenuhi kekecewaan. Dia meremas pensil warnanya kuat-kuat, merasa kedamaian yang dia rasakan bersama ibu dan adiknya selama tiga hari ini harus direnggut kembali oleh kembalinya sang ayah.

​Sementara itu, Langit yang baru duduk di kelas 2 SD tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Bocah kecil itu mengerucutkan bibirnya, menatap Pras dengan wajah yang kelihatan sangat kesal dan tidak bersahabat. Bagi kedua anak itu, kepulangan Pras adalah sinyal bahwa Ibu mereka akan kembali disakiti.

​Arumi menyadari perubahan drastis pada raut wajah kedua putranya. Sebagai seorang ibu, dia tahu betul bahwa atmosfer ini akan segera memanas dan pertengkaran hebat jilid dua tidak akan bisa dihindari. Arumi tidak ingin psikologis anak-anaknya semakin terluka karena harus mendengarkan cacian dan egoisme Pras yang tak berujung.

​Arumi meletakkan lipatan bajunya, lalu tersenyum manis ke arah Bintang dan Langit sebuah senyuman yang sengaja dia buat untuk menenangkan hati mereka.

​"Kakak, Adik... ini kan hari Minggu, kalian main di taman depan kompleks saja yuk? Biar nggak bosan di rumah terus," ujar Arumi dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin.

​Bintang menatap ibunya dengan ragu, seolah enggan meninggalkan Arumi sendirian menghadapi Pras. Namun, Arumi memberikan anggukan kecil, meyakinkan putra sulungnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Arumi kemudian merogoh saku dasternya. Dia mengeluarkan selembar uang kertas berwarna hijau nominal dua puluh ribu rupiah, lalu mengulurkannya kepada Bintang. "Ini, Kakak pegang uangnya. Buat jajan Kakak sama Adik di depan ya. Beli es krim atau camilan yang kalian suka."

​Melihat lembaran uang dua puluh ribu rupiah itu berpindah tangan, Pras yang sejak tadi berdiri mematung di dekat pintu seketika terbelalak. Dahinya berkerut dalam, dan matanya menatap tajam ke arah uang tersebut. Pras benar-benar kaget. Di dalam kamus rumah tangga yang dia bangun, Arumi adalah sosok istri yang sangat hemat, atau lebih tepatnya dipaksa hemat oleh keadaan keuangan yang dia jepit. Biasanya, Arumi tidak akan pernah memberikan uang jajan sebanyak itu kepada anak-anaknya hanya untuk urusan jajan main-main di hari Minggu. Jangankan dua puluh ribu, memberikan lima ribu rupiah saja Arumi harus berpikir dua kali dan menghitung sisa kas dapur. Pras berpikir, dari mana perempuan dekil ini mendapatkan kelonggaran finansial untuk bersikap royal seperti itu kepada anak-anak?

​"Ayo, Kak, ajak adiknya keluar sekarang ya," perintah Arumi lagi.

​Bintang menerima uang itu, lalu menggandeng tangan Langit. Kedua bocah itu melangkah keluar melewati Pras tanpa menyapa, tanpa mencium tangan, dan tanpa menoleh sedikit pun. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan Pras yang gengsinya terluka parah karena diabaikan oleh darah dagingnya sendiri.

​Begitu bayangan Bintang dan Langit menghilang di balik pagar, keheningan di ruang tamu langsung terasa mencekam. Pras melangkah maju dengan gusar, menggebrak lengan sofa tempat Arumi duduk meskipun Arumi sama sekali tidak bergeming.

​"Kamu sengaja ya, Rum? Sengaja mau pamer di depan aku?!" tuntut Pras, suaranya langsung meninggi mengisi ruangan. "Maksud kamu apa kasih uang jajan sampai dua puluh ribu begitu ke anak-anak? Kamu pikir cari uang itu gampang? Kamu itu jangan sok kaya! Uang bulanan yang aku kasih itu harusnya diirit, didepositokan buat masa depan, bukan malah dihambur-hamburkan buat jajan nggak jelas begitu! Pantas saja uang di rumah ini selalu kurang, ternyata cara kamu mendidik anak saja sudah salah, diajarkan jadi anak yang boros!"

​Arumi menyelesaikan lipatan baju terakhirnya dengan sangat tenang. Dia menaruh baju itu di atas tumpukan yang rapi, lalu berdiri. Dia melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke dalam bola mata Pras dengan senyuman sinis yang belum pernah Pras lihat sebelumnya selama sepuluh tahun pernikahan mereka.

​"Uang bulanan yang mana yang kamu maksud, Mas?" tanya Arumi, suaranya pelan namun terdengar begitu menohok dan menusuk tepat di ulu hati Pras.

"Uang bulanan dari kamu yang cuma naik seratus ribu per tahun itu? Uang yang jangankan buat jajan anak, buat beli beras dan bayar token listrik saja sudah langsung menguap di minggu pertama?"

​Wajah Pras seketika memerah mendengar sindiran telak itu. "Arumi! Jaga bicara kamu ya! Nggak usah kamu mengungkit-ungkit masalah itu lagi! Yang aku tanyakan itu, uang dua puluh ribu tadi itu uang dari mana?! Kamu pasti pakai uang jatah dapur yang harusnya buat makan aku minggu ini, kan?! Kamu potong hak makan suami kamu cuma demi kelihatan sok hebat di depan anak-anak?!"

​Arumi tertawa getir, sebuah tawa meremehkan yang membuat darah Pras mendidih.

​"Dengar ya, Pras," Arumi sengaja tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Mas, sebuah tanda bahwa rasa hormatnya sudah benar-benar mati dan dikubur dalam-dalam. "Uang dua puluh ribu yang aku kasih ke Bintang dan Langit tadi, itu adalah uang hasil kerja keras aku sendiri! Uang halal yang aku dapatkan dari jemariku yang kapalan karena ngetik novel sampai subuh! Itu bukan uang kamu, bukan uang hasil sisa nafkah pelit kamu dan sama sekali tidak ada sepeser pun hak kamu di dalam uang itu!"

​"Arumi!! Kamu sudah keterlaluan ya!" Pras berteriak histeris, egonya sebagai kepala keluarga hancur berkeping-keping. "Kamu benar-benar sudah jadi istri durhaka semenjak punya penghasilan sendiri! Kamu sepelekan aku sebagai suami yang sudah banting tulang di kantor! Kamu pikir dengan uang hasil ngetik cerita sampah kamu itu, kamu bisa injak-injak wibawa aku di rumah ini?! Ingat ya, surga kamu itu ada di bawah telapak kaki aku!"

​"Surga di bawah telapak kaki suami yang menafkahi anak istrinya dengan benar, Pras! Bukan suami parasit yang memotong jatah makan anak kandungnya sendiri demi membelikan daging mewah untuk ibunya dan membiayai gaya hidup adik-adiknya yang malas di kampung!" balas Arumi dengan suara yang tak kalah lantang, membuat dada Pras kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak.

​Pertengkaran hebat pun kembali pecah di ruang tamu itu, namun kali ini Arumi tidak lagi menangis. Dia berdiri tegak, membalas setiap makian Pras dengan fakta-fakta yang selama ini dia simpan rapat. Di dalam rumah yang dulunya penuh dengan kepasrahan itu, Arumi kini telah menabuh genderang perang untuk menuntut kebebasannya yang seutuhnya.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!