Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GODAAN MALAM HARI
"Menghancurkan Magnus? Silakan suruh kaisar tua itu mencoba, kita lihat saja, apakah dia rela kehilangan takhtanya demi menyelamatkan putra bodohnya yang tertangkap basah mencoba berbuat kejahatan di wilayah Gard Duke Magnus," jawab Anastasia enteng sembari membalikkan tubuhnya, bersiap untuk pergi.
"Nikmati malam pertamamu di kamar ini, Pangeran Arkan, karena besok pagi, surat resmi dari suamiku mengenai tebusan kepalamu akan dikirim ke istana, bersiaplah untuk melihat bagaimana istrimu yang tercinta, Elena, menangis histeris saat tahu suaminya menjadi tawanan politik di tangan ku," lanjut Anastasia tanpa menoleh lagi.
Anastasia melangkah menuju pintu, memberikan kode ketukan dari dalam, dan pintu pun langsung dibuka oleh ksatria yang berjaga di luar.
Anastasia keluar dari kamar tersebut dengan perasaan yang sangat puas, meninggalkan Arkan yang jatuh terduduk di lantai kamar dengan wajah pucat pasi dan tatapan mata yang kosong. Pelajaran malam ini sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan seluruh harga diri sang Pangeran Mahkota.
Setelah menutup pintu kamar Arkan dengan perasaan puas, Anastasia melangkah santai menyusuri lorong-lorong kediaman Magnus yang dingin.
Langkah kakinya yang ringan menggema pelan di lantai.
Anastasia berniat langsung kembali ke kamarnya untuk tidur nyenyak, setelah memberikan salam pembuka untuk sang mantan tunangan nya, namun saat melewati lorong menuju ruang kerja Grand Duke, sudut matanya menangkap seberkas cahaya lilin.
Anastasia menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat pintu ruang kerja Alessandro sedikit terbuka, menyisakan celah kecil.
"Jam berapa ini? Kenapa pria itu belum tidur?" gumam Anastasia pelan.
Karena penasaran, dia berjalan mendekat dan mengintip melalui celah pintu.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi beberapa lilin besar, Alessandro masih duduk tegak di kursi kerjanya, berkas-berkas militer menumpuk di depannya, tetapi pria itu sedang tidak membaca, dia hanya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memijat pelipisnya, wajahnya terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Dasar gila kerja. Apa dia tidak tahu cara istirahat?" batin Anastasia, yang berjiwa modern itu, langsung menyimpulkan bahwa suaminya terkena gejala insomnia parah.
Anastasia terdiam sejenak, otak pintar nya berputar, lalu dia tersenyum tipis.
Ini kesempatan bagus untuk menarik simpati sang Malaikat maut itu.
Dengan satu jentikan pikiran, Anastasia mengakses ruang dimensi rahasianya, dia mencari sesuatu yang cocok untuk mengatasi insomnia.
Anastasia mengambil sebuah botol kaca kecil berisi minyak esensial aroma lavender dan sebuah lilin terapi khusus yang bisa memicu rasa rileks.
Setelah menyembunyikan botol kecil itu di balik lengan jubah tidurnya, Anastasia sengaja mengetuk pintu ruang kerja Alessandro dengan pelan.
"Mari kita lihat, setelah ini apa kamu masih bisa lepas dari genggaman ku Alessandro Magnus," batin Anastasia, tersenyum miring.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," jawab Alessandro, suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya
Anastasia mendorong pintu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk dengan gaya anggunnya. Alessandro mendongak, sedikit terkejut melihat istrinya masih berkeliaran tengah malam dengan jubah tidur nya.
"Belum tidur, Grand Duke? Ini sudah hampir sepertiga malam," tanya Anastasia sembari berjalan mendekati meja kerja pria itu.
Alessandro menurunkan tangannya dari pelipis, menatap Anastasia dengan pandangan menyelidik.
"Urusan perbatasan dan tebusan si pangeran bodoh itu membuatku harus terjaga," jawab Alessandro bohong.
Padahal aslinya dia memang punya gangguan tidur sejak lama, seperti tebakan Anastasia tadi, Alessandro mengidap insomnia parah.
Tak
Tanpa mengucapkan apapun, Anastasia meletakkan botol kaca kecil dan sebuah lilin aromaterapi yang sudah dia ambil dari dimensinya ke atas meja kerja Alessandro, tepat di samping tumpukan berkas.
"Apa itu?" tanya Alessandro, mengernyitkan dahi menatap barang asing di depannya.
"Ini obat untuk keras kepala mu, Ale," jawab Anastasia santai, tanpa rasa takut sama sekali.
"Kau!"
Ucap Alessandro, mendengus kesal.
Anastasia tidak memperdulikan kekesalan Alessandro, dia mengambil lilin tersebut, menyalakannya menggunakan korek api yang ada di meja Alessandro.
Dalam hitungan detik, aroma lembut bunga lavender langsung menguar, memenuhi ruangan kerja yang awalnya berbau anyir minyak pedang dan kertas tua.
Alessandro menghirup udara secara refleks, sesaat, otot-otot bahunya yang tegang mendadak terasa sedikit rileks.
"Aroma apa ini? Sangat asing, tapi tidak buruk," ucap Alessandro, menghirup dalam aroma lilin terapi itu.
"Ini namanya lilin aromaterapi lavender, di tempat asalku, maksudku, dari buku rahasia yang pernah ku baca, ini sangat ampuh untuk orang yang punya gangguan tidur atau insomnia seperti dirimu," jawab Anastasia, hampir saja keceplosan soal dunia modernnya.
"Baru kali ini aku tahu ada lilin seperti ini, di mana kamu beli ini? Biar ku borong besok dengan toko-toko nya," ucap Alessandro, merasa dirinya jauh lebih baik dan tenang.
"Tidak, ini tidak yang menjualnya," jawab Anastasia, mendengus mendengar kesombongan suaminya itu.
Anastasia kemudian mengambil botol minyak kecil tadi, membukanya, lalu menuangkan sedikit cairan minyak itu ke telapak tangannya sendiri.
Sebelum Alessandro sempat bertanya lagi, Anastasia sudah melangkah ke belakang kursi kerja suaminya.
"Apa yang mau kamu lakukan, Anastasia?" tanya Alessandro, tubuhnya refleks menegang saat merasakan kehadiran Anastasia di belakang punggungnya.
"Diam lah, Ale, anggap saja ini bagian dari kerja sama kita," ucap Anastasia setengah berbisik.
Kedua tangan lentik Anastasia perlahan menyentuh pelipis dan dahi Alessandro, dia mulai memijatnya dengan gerakan memutar yang lembut namun bertenaga, menyebarkan aroma lavender langsung di dekat indra penciuman sang Grand Duke.
Alessandro sempat menahan napasnya, saat kulit tangan Anastasia yang halus dan hangat menyentuh kulit wajahnya yang dingin.
Sebenarnya dia ingin menolak, tetapi pijatan Anastasia di titik-titik saraf kepalanya benar-benar terasa sangat nyaman.
Perlahan tapi pasti, Alessandro memejamkan matanya, menikmati sentuhan istrinya.
"Kamu selalu penuh kejutan, Anastasia, dari mana kamu belajar cara memijat seperti ini?" gumam Alessandro, suaranya semakin rendah dan terdengar sangat ringan.
Anastasia terkekeh pelan di belakang tubuh Alessandro, tangannya kini beralih memijat otot leher dan bahu suaminya yang kaku.
"Aku punya banyak rahasia yang tidak kamu ketahui, Suamiku, jadi, jangan macam-macam denganku jika kamu masih ingin tidur nyenyak di masa depan," goda Anastasia, mempermainkan rambut hitam pendek Alessandro di bagian belakang lehernya.
Sentuhan kecil di lehernya itu membuat Alessandro membuka mata kembali, dia menangkap pergelangan tangan Anastasia dengan cepat, menghentikan pijatan wanita itu, lalu membalikkan tubuhnya di kursi untuk menatap Anastasia secara langsung.
"Jangan memancingku tengah malam seperti ini, Grand Duchess, pertahananku bisa runtuh jika kamu terus bersikap manis seperti ini," desis Alessandro dengan senyum miring yang terlihat sangat seksi di bawah temaram cahaya lilin.
Anastasia tidak panik, dia justru menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Alessandro, menatap bibir pria itu dengan berani.