NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Pertarungan di Gerbang Leluhur

Suara benturan besi, teriakan, dan desah napas berat bercampur menjadi satu, menggema keras di dalam lorong batu yang sempit dan tertutup itu. Udara yang tadinya dingin dan lembab kini berubah menjadi panas, berbau keringat, debu, dan bau besi tajam yang menusuk hidung. Raga yang hanya mengandalkan kekuatan fisik dan keberanian, berusaha sekuat tenaga menahan serangan belasan orang bersenjata yang didatangkan Tuan Handoko. Ia melindungi Lira dan Bu Sumi di belakang punggungnya, bergerak gesit menghindari ayunan senjata, sesekali membalas dengan pukulan keras yang membuat penyerangnya terhuyung mundur.

Namun perbandingan kekuatan terlalu timpang. Luka lama di bahu Raga yang belum sembuh sempurna kembali terasa perih dan sakit hebat, darah segar mulai merembes keluar membasahi kain bajunya, membuat gerakannya perlahan melambat dan semakin sulit. Orang-orang suruhan Tuan Handoko tidak bertarung dengan aturan apa pun, mereka menyerang dari segala arah, kasar dan kejam, hanya mematuhi perintah untuk menangkap atau membunuh siapa saja yang menghalangi jalan tuan mereka.

“Kalian pikir bisa melawanku sampai kapan?!” teriak Tuan Handoko dengan suara parau, matanya melotot penuh amarah sambil melihat orang-orangnya yang lambat menguasai situasi. Ia sendiri akhirnya ikut melangkah maju, mengayunkan parang besar di tangannya dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada anak buahnya.

Raga hampir tidak sempat menghindar, ujung parang itu meluncur tipis di samping bahunya, menorehkan luka baru yang panjang di lengannya. Raga meringis kesakitan, tubuhnya hampir roboh jika tidak segera ditopang oleh dinding batu di sebelahnya. Darah merah segar menetes perlahan ke lantai batu, jatuh tepat di dekat gambar lambang keluarga yang terukir di depan pintu gerbang rahasia.

Melihat darah itu, mata Tuan Handoko berbinar penuh nafsu dan kegembiraan gila.

“Sempurna! Darahmu sudah tertumpah, Nak! Sekarang tinggal darah wanita itu, dan gerbang ini akan terbuka lebar untukku!” serunya dengan suara keras, lalu langsung berbalik arah, melompat cepat menuju ke arah Lira yang masih berdiri di belakang Raga.

Lira tersentak mundur ketakutan, kakinya kaku terpaku di tempat. Bu Sumi yang berada di sampingnya langsung melompat maju, memeluk tubuh Lira dengan erat, berusaha melindungi gadis itu dengan tubuh tuanya sendiri, meskipun ia tahu itu sama saja seperti melindungi tubuh lembut dari serangan badai besar.

“Jangan sentuh dia! Lewati mayatku dulu jika kau mau menyakiti Nona Lira!” teriak Bu Sumi sekuat tenaga, matanya memancarkan keberanian yang tidak terduga dari tubuh tua yang rapuh itu.

Namun kekuatan Bu Sumi tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Tuan Handoko yang penuh dendam dan kegilaan. Dengan satu dorongan kasar saja, tubuh Bu Sumi terlempar ke samping, membentur dinding batu keras hingga terdengar bunyi tulang yang berbenturan, lalu terjatuh lemas di lantai tanpa mampu bangkit kembali.

“Bu Sumi!” jerit Lira histeris, hatinya terasa robek melihat orang yang paling melindunginya terluka parah di hadapan matanya.

Kesempatan itu dimanfaatkan sepenuhnya oleh Tuan Handoko. Ia langsung mencengkeram leher Lira dengan tangan yang kuat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit dari lantai, membuat napas Lira terhenti, dadanya sesak hebat, dan pandangannya mulai kabur karena kekurangan oksigen.

“Kau adalah kunci terakhirku, gadis kecil. Selama bertahun-tahun aku sabar menunggu, menyusun rencana, menanggung segala kesulitan… Hari ini semuanya akan lunas,” bisik Tuan Handoko tepat di telinga Lira, napasnya bau dan panas, matanya menatap tajam tepat ke mata Lira yang membelalak ketakutan. “Setetes darahmu yang bercampur dengan darah anakku, dan kekuatan serta kekayaan terbesar di dunia ini akan menjadi milikku selamanya!”

Tangan Tuan Handoko yang lain mengangkat belati tajam yang dibawanya, ujungnya diarahkan tepat ke dada Lira, perlahan didekatkan dengan gerakan yang penuh kesengajaan dan kejam. Di saat yang sama, darah yang menetes dari luka Raga perlahan mengalir di atas permukaan batu, bergerak lambat menuju ke arah tempat Lira berdiri, seolah-olah sedang ditarik oleh kekuatan tak terlihat untuk bersatu.

Raga yang melihat itu dari kejauhan, merasa seperti ada pisau yang menusuk tepat di jantungnya. Ia mengumpulkan sisa kekuatan terakhir yang ada di tubuhnya, menahan rasa sakit yang luar biasa di seluruh badannya, lalu melompat maju dengan kecepatan yang tidak disangka-sangka, langsung menerjang tubuh Tuan Handoko dari samping.

Tubuh besar Tuan Handoko terguncang keras, cengkeramannya di leher Lira terlepas, dan belati di tangannya terlempar jauh jatuh ke sudut lorong. Lira terjatuh tersungkur ke lantai, langsung terbatuk-batuk hebat sambil menghirup napas segar dengan rakus, dadanya masih terasa perih dan sakit luar biasa.

“Jangan… kau jangan sentuh dia… selagi aku masih bernapas…” geram Raga dengan suara parau, meskipun tubuhnya gemetar hebat karena kelelahan dan darah yang terus mengalir keluar, ia tetap berdiri tegak di hadapan ayahnya, menatap mata itu dengan pandangan yang tidak lagi penuh hormat atau rasa takut, melainkan penuh rasa benci dan kemarahan yang mendalam. “Kau bukan lagi ayahku… Ayahku sudah mati sejak hari kau memilih kekuasaan dan kejahatan di atas keluarga sendiri.”

Kalimat itu seolah menjadi tusukan tajam yang menusuk ke bagian terdalam hati Tuan Handoko. Wajahnya yang tadinya penuh kemarahan, seketika berubah menjadi merah padam karena rasa malu dan murka yang meledak-ledak.

“Kau berani?! Kau anak durhaka! Kau tidak tahu betapa besar pengorbanan yang aku lakukan demi nama keluarga ini, demi masa depan kita semua!” teriak Tuan Handoko histeris, lalu sekali lagi menyerang Raga dengan kekuatan yang jauh lebih liar dan tidak terkontrol dibandingkan sebelumnya.

Pertarungan itu menjadi pertarungan satu lawan satu yang sengit dan mematikan. Tidak ada lagi aturan, tidak ada lagi belas kasihan. Di sana ada seorang ayah yang gila kekuasaan melawan anak kandungnya sendiri yang berjuang demi cinta dan kebenaran. Setiap pukulan, setiap tendangan, setiap benturan, penuh dengan rasa sakit dan dendam yang sudah tertimbun bertahun-tahun lamanya.

Namun karena Raga sudah terluka parah sejak awal, perlahan namun pasti, ia mulai kalah tenaga. Satu pukulan keras mengenai pelipisnya, membuat pandangannya berputar kacau, kakinya gemetar, dan akhirnya ia roboh jatuh berlutut di lantai batu, darah segar mengalir dari pelipisnya menutupi sebagian wajahnya.

Tuan Handoko berdiri tegak di depannya, napasnya terengah-engah, wajahnya bercampur keringat dan darah, senyum kemenangan yang mengerikan kembali terukir di bibirnya. Ia mengangkat kakinya, menginjak dada Raga dengan keras, membuat pemuda itu mengerang kesakitan dan tidak mampu bergerak sedikit pun.

“Lihat? Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Semua keberanianmu, semua kekuatanmu, tidak ada gunanya melawan kekuatan yang sudah aku bangun seumur hidupku,” ucap Tuan Handoko dengan nada dingin dan penuh kemenangan. Ia lalu memandang ke arah Lira yang sudah bangkit berdiri namun masih gemetar ketakutan di dekat Bu Sumi yang terbaring lemas.

“Sekarang… tidak ada lagi yang bisa melindungimu, gadis kecil. Datanglah ke sini dengan sukarela, atau aku akan menghancurkan tulang-tulang kekasihmu ini satu per satu di depan matamu.”

Lira menatap Raga yang terbaring lemah di bawah kaki Tuan Handoko, hatinya terasa hancur dan putus asa. Ia tahu Tuan Handoko tidak main-main, ia tahu pria itu benar-benar akan melakukan apa yang diancamkannya jika ia menolak. Air mata mengalir deras di pipinya, namun perlahan, rasa takut di hatinya mulai digantikan oleh rasa tekad yang keras dan tajam. Ia tidak boleh lari, ia tidak boleh terus menjadi orang yang lemah yang selalu dilindungi orang lain. Kali ini, dialah yang harus menjadi pelindung, dialah yang harus menyelamatkan orang yang dicintainya, menyelamatkan keluarganya, dan menyelamatkan warisan leluhur dari tangan orang jahat.

Lira perlahan mengangkat kepalanya, menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Tuan Handoko dengan pandangan yang tajam, dingin, dan penuh keberanian yang belum pernah dimilikinya sebelumnya. Ia tidak berjalan mendekati pria itu seperti yang diperintahkan, melainkan perlahan berbalik badan, melangkah tegak menuju ke arah pintu gerbang batu besar di belakangnya, tepat di tengah tempat ukiran dua lambang keluarga itu berada.

“Kau mau apa? Mau lari? Mau bersembunyi di balik batu tua itu? Itu tidak akan menyelamatkanmu!” ejek Tuan Handoko sambil tertawa sinis, namun ia tetap mengawasi gerak-gerik Lira dengan saksama.

Lira tidak menjawab. Ia mengulurkan kedua tangannya, meletakkan telapak tangannya tepat di atas gambar tangan bergambar lambang keluarga Ardiansyah yang terukir di lantai batu, tepat di sebelah gambar tangan keluarga Handoko. Di tangannya, masih tergantung erat liontin peninggalan ibunya yang bersinar redup karena terkena cahaya obor.

“Kau bilang kekuatan ada pada darah, pada kekerasan, pada ambisi pribadi…” kata Lira dengan suara keras dan jelas, menggema di seluruh penjuru lorong, meskipun suaranya masih sedikit gemetar, namun penuh keyakinan yang kuat. “Tapi leluhur kami sudah berkata dengan jelas: kekuatan yang sesungguhnya ada pada kebenaran, pada persatuan yang suci, pada cinta yang tulus, dan pada hati yang bersih yang menjaga amanah, bukan yang merebutnya dengan kekerasan!”

Saat kata-kata itu selesai diucapkan, Lira mengangkat kepalanya, dan tepat saat itu, cahaya keemasan yang sangat terang tiba-tiba memancar keluar dari bawah telapak tangannya, meluas cepat menutupi seluruh permukaan pintu batu dan ukiran di lantai. Cahaya itu begitu terang hingga membuat semua orang yang ada di sana, termasuk Tuan Handoko dan anak buahnya, terpaksa menutup mata mereka dengan tangan karena silau hebat.

Suara gemuruh berat terdengar dari dalam tanah, seolah ada sesuatu yang besar dan kuat sedang bergerak di bawah kaki mereka. Dinding-dinding batu berguncang pelan, debu-debu tua jatuh dari langit-langit lorong, dan udara di sekeliling mereka berubah menjadi hangat, bersih, dan penuh energi yang kuat namun menenangkan, berkebalikan dengan hawa jahat dan mencekam yang sebelumnya ada di sana.

Saat cahaya itu perlahan meredup sedikit, mereka semua membuka mata kembali, dan apa yang mereka lihat membuat mulut mereka terbuka lebar kaget.

Darah yang menetes dari luka Raga yang tadi bergerak mendekati darah Lira, kini justru berhenti total, lalu perlahan mengalir mundur, menjauh dari arah Lira, seolah ditolak keras oleh kekuatan yang ada di sana. Dan di atas permukaan pintu batu besar itu, ukiran kedua lambang keluarga itu kini bersinar terang bergantian, namun ada satu perubahan yang sangat jelas: lambang keluarga Ardiansyah bersinar dengan cahaya emas yang indah dan hangat, sedangkan lambang keluarga Handoko yang tadinya sama terangnya, kini perlahan berubah warnanya menjadi merah gelap, redup, dan akhirnya… retak, pecah, dan lenyap perlahan dari permukaan batu itu, seolah-olah ditelan oleh kegelapan sendiri.

Di saat yang sama, suara berat dan dalam bergema dari balik pintu batu itu, suara yang terdengar seperti gabungan suara banyak orang tua, suara leluhur mereka yang sudah lama tiada.

“Siapa yang datang dengan hati penuh cinta dan kesetiaan, akan kami lindungi selamanya. Siapa yang datang dengan hati penuh dendam, nafsu, dan kekerasan, akan kami tolak selamanya. Kekuatan ini bukan milik penguasa, bukan milik penakluk, tapi milik penjaga. Ambisi jahatmu telah memutuskan ikatan darahmu dengan kami, anak keturunan yang tersesat. Mulai hari ini, kau tidak lagi memiliki bagian sedikit pun dari kami, dari harta ini, dan dari kekuatan ini. Semua yang kau cari, akan menjauh selamanya. Semua yang kau inginkan, akan menjadi debu di tanganmu.”

Setelah suara itu menghilang, pintu batu besar itu tidak terbuka sedikit pun, malah terasa semakin kokoh, semakin padat, dan semakin tertutup rapat dari sebelumnya, seolah-olah tidak akan pernah bisa dibuka lagi oleh siapa pun yang memiliki niat jahat seumur hidupnya.

Pemandangan itu membuat Tuan Handoko terpaku kaku di tempat, wajahnya pucat pasi, matanya melotot tidak percaya, mulutnya terbuka lebar namun tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Semua keyakinan yang dia pegang selama puluhan tahun, semua rencana yang dia susun dengan susah payah, semua pengorbanan dan kejahatan yang dia lakukan, semuanya hancur lenyap seketika hanya dengan satu kalimat penolakan dari leluhur mereka.

Dia ditolak. Dia tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga itu. Semua haknya, semua klaimnya, semuanya batal seketika.

“Tidak… Tidak mungkin… Itu bohong! Itu tidak benar! Ini milikku! Semua ini milikku!” teriak Tuan Handoko histeris, seolah sudah kehilangan kewarasannya sama sekali. Ia langsung berlari melompat ke depan, memukul, menendang, dan mencakar permukaan pintu batu besar itu dengan sekuat tenaga, namun batu itu tidak bergeser sedikit pun, tidak ada retakan, tidak ada perubahan apa pun, sama sekali tidak merespons kekerasan yang dia lakukan.

Anak buah Tuan Handoko yang melihat kejadian aneh dan mengerikan itu, melihat kekuatan gaib yang menolak tuan mereka, perlahan mulai merasa takut dan gentar. Mereka saling pandang dengan wajah ketakutan, lalu perlahan mundur selangkah demi selangkah, sampai akhirnya salah satu dari mereka berteriak kaget.

“Kutukan leluhur! Dia terkena kutukan leluhur! Kita harus pergi dari sini, cepat, sebelum kita juga tertimpa musibah!”

Teror itu menyebar cepat. Dalam hitungan detik, semua orang suruhan Tuan Handoko yang tadinya berani dan galak, langsung berbalik badan, berlari tergopoh-gopoh keluar dari lorong bawah tanah itu, menaiki tangga batu dengan cepat, meninggalkan tuan mereka sendirian yang masih meronta-ronta gila di depan pintu batu besar.

Tuan Handoko menyadari dia ditinggalkan sendirian. Ia berhenti memukul batu itu, lalu perlahan berbalik badan, menatap Raga, Lira, dan Bu Sumi yang kini sudah mulai sadar kembali, dengan pandangan yang kosong, hampa, dan penuh keputusasaan yang paling dalam. Di matanya tidak ada lagi kemarahan, tidak ada lagi kebencian, hanya ada rasa hampa yang menyiksa, rasa kalah yang mutlak, dan rasa sakit karena menyadari bahwa seumur hidupnya dia berjuang untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah akan menjadi miliknya, bahkan tidak pernah dianggap ada oleh orang-orang yang dia anggap leluhurnya sendiri.

“Kalian menang… Kalian semua menang…” bisiknya dengan suara parau dan lemah, tubuhnya perlahan merosot jatuh berlutut di lantai batu, kepalanya tertunduk lemah ke dada. “Aku sudah menghancurkan segalanya… Aku sudah menghancurkan keluargaku sendiri, menghancurkan nyawa orang lain, menghancurkan hidupku sendiri… demi sesuatu yang ternyata tidak pernah ada untukku…”

Suasana di lorong bawah tanah itu menjadi hening total, hanya terdengar suara napas mereka masing-masing. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara, semua orang diam membiarkan pria itu merasakan rasa sakit dan penyesalan yang seharusnya dia rasakan sejak lama.

Beberapa saat kemudian, Tuan Handoko perlahan mengangkat kepalanya, menatap Raga dengan pandangan yang masih menyisakan sedikit rasa kasih sayang yang tertimbun di balik kegilaan dan kejahatan yang sudah lama dia jalani. Pandangan itu adalah pandangan seorang ayah yang sesungguhnya, pandangan yang sudah lama hilang dan tidak pernah ditunjukkan kepada Raga selama bertahun-tahun.

“Maafkan aku… Nak… Maafkan aku karena sudah menjadi ayah yang buruk, ayah yang jahat, ayah yang hanya memikirkan dirinya sendiri… Semua penderitaan yang kamu alami, semua rasa sakit yang kamu rasakan… itu semua salahku… semuanya salahku…”

Air mata, air mata penyesalan yang tulus, akhirnya mengalir di pipi kasar dan tua itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

“Tolong… selamatkan anak Bu Sumi… Dia tidak bersalah sama sekali, dia hanya korban kesalahanku… Anak itu ditahan di rumah tua di ujung hutan sebelah timur desa, kuncinya ada di saku bajuku… Tolong bebaskan dia, berikan mereka kebebasan yang pantas mereka dapatkan…”

Setelah mengucapkan kalimat itu dengan susah payah, tubuh besar Tuan Handoko perlahan miring ke samping, lalu jatuh terbaring diam di lantai batu. Bukan jatuh karena dipukul atau dikalahkan, tapi jatuh karena hatinya yang hancur, karena semangat hidupnya yang lenyap seketika, karena menyadari bahwa tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan, tidak ada lagi alasan untuk hidup bagi orang yang sudah kalah mutlak.

Raga menatap tubuh ayahnya yang terbaring diam itu dengan pandangan yang rumit, campuran rasa sedih, rasa lega, rasa iba, dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu. Ia tidak merasa senang melihat ayahnya jatuh, namun ia juga tidak bisa lagi merasakan cinta atau rasa hormat seperti dulu. Semua yang terjadi sudah berlalu, semua dendam sudah selesai, dan lingkaran kejahatan itu akhirnya pecah dan berakhir di sana, tepat di depan gerbang rahasia yang menjadi awal dari semuanya.

Lira perlahan berjalan mendekati Raga, lalu berjongkok di sampingnya, memegang tangan pemuda itu dengan lembut dan erat. Bu Sumi yang sudah bisa berdiri dengan bantuan dinding, perlahan berjalan mendekat juga, air mata bahagia dan lega mengalir deras di wajah tuanya.

“Sudah selesai… Semuanya sudah selesai, Nak, Nona…” bisik Bu Sumi dengan suara gemetar. “Bahaya sudah lewat, musuh sudah kalah, dan kita semua selamat dengan selamat… Akhirnya kedamaian itu benar-benar datang menghampiri kita.”

Di atas tanah, suara hujan yang tadinya deras dan mengamuk perlahan mereda, suara petir sudah tidak terdengar lagi, dan langit yang tadinya gelap gulita perlahan mulai terang kembali, sinar bulan dan bintang mulai terlihat menyelinap keluar dari balik awan hitam, seolah alam pun ikut merayakan berakhirnya masa gelap dan datangnya masa terang yang baru.

Namun mereka semua tahu, meskipun bahaya terbesar sudah berlalu, meskipun rahasia leluhur sudah terlindungi dengan baik, perjalanan hidup mereka belum selesai. Masih ada luka yang harus disembuhkan, masih ada hal yang harus diperbaiki, masih ada masa depan yang harus dibangun kembali dengan susah payah. Tapi kali ini, mereka tidak akan berjalan sendirian. Mereka berjalan bersama-sama, saling percaya, saling menjaga, tanpa ada lagi rahasia, tanpa ada lagi rasa curiga, dan tanpa ada lagi rasa takut yang menghantui di setiap sudut kegelapan.

Mereka perlahan saling mengangkat tubuh satu sama lain, lalu berjalan beriringan naik kembali ke atas tanah, keluar dari lorong bawah tanah yang menjadi saksi sejarah panjang perjuangan keluarga mereka, menuju ke dunia yang luas, ke kehidupan yang baru, yang penuh dengan harapan, cinta, dan kedamaian yang sejati.

 

(Bersambung ke Episode 16)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!