NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBOSANAN DI PUNCAK

​Di Ranah Kedewataan Tertinggi, waktu bukanlah sebuah garis lurus, melainkan pusaran debu kosmis yang tidak berarti. Jutaan tahun bisa berlalu hanya dalam satu kedipan mata seorang makhluk abadi. Namun, bagi entitas yang mendiami Taixu Gu Jian—Lembah Pedang Ruang Hampa—waktu adalah musuh paling kejam yang berwujud kesunyian mutlak.

​Tempat itu adalah ujung dari segala penciptaan. Tidak ada hamparan rumput hijau, tidak ada aliran sungai yang jernih, pun tidak ada kicauan burung fana. Tanah di lembah itu terbuat dari logam kuno berwarna kelabu keperakan yang telah membeku sejak alam semesta pertama kali tercipta. Langit di atasnya tidak pernah dihiasi matahari atau bulan, melainkan hamparan awan pedang (Sword Qi) yang terus bergesekan, memercikkan kilatan petir yang sanggup mencincang jiwa seorang kultivator tingkat tinggi menjadi abu dalam sekejap.

​Di tengah-tengah lembah tak berujung itu, menancap jutaan—atau mungkin miliaran—pedang purba. Ada yang patah, ada yang berkarat, dan ada yang masih memancarkan cahaya ilahi yang menyilaukan. Semua pedang itu memiliki satu kesamaan: bilahnya tertunduk condong ke satu arah, bersujud kepada satu-satunya penguasa tempat itu.

​Dia adalah Ji Huang.

​Gelar di punggungnya terlalu banyak untuk ditulis dalam kitab suci manusia. Para dewa di Langit Sembilan menyebutnya Dewa Pedang Primordial. Dialah entitas yang melahirkan konsep "pedang" itu sendiri ke alam semesta. Sebelum Ji Huang lahir dari kekosongan, makhluk hidup tidak tahu apa itu memotong, apa itu ketajaman, dan apa itu senyuman sebilah besi. Di dunia ini, dia adalah hukum mutlak. Jika Ji Huang menginginkan sebatang rumput untuk membelah bintang di langit, maka takdir akan tunduk pada kehendaknya.

​Namun, sang Dewa Pedang saat ini sedang melakukan ritual paling agung dalam hidupnya: menguap lebar-lebar sambil menggaruk perutnya yang tertutup jubah putih keperakan.

​"Membosankan," gumam Ji Huang. Suaranya rendah, namun getarannya membuat ratusan pedang suci di sekelilingnya berdengung gemetar ketakutan.

​Ji Huang telah duduk di atas batu gergasa kelabu itu selama tiga juta tahun tanpa berpindah tempat. Jubah dewanya yang anggun bahkan sudah mulai dihinggapi debu-debu kosmis karena dia terlalu malas untuk sekadar mengibaskan tangan.

​Pada awalnya, beberapa juta tahun yang lalu, hidup sebagai dewa tertinggi terasa cukup menyenangkan. Ketika ada dewa-dewa arogan dari Ras Iblis atau Kaisar Langit yang mencoba menantang wilayahnya, Ji Huang hanya perlu menatap mereka. Benar, hanya menatap. Sword Intent (Maksud Pedang) yang memancar dari matanya sudah cukup untuk mencabik-cabik hukum ruang dan waktu di sekitar musuhnya, membuat mereka lenyap sebelum sempat menghunus senjata.

​Tapi setelah semua musuh habis, setelah para dewa lain bahkan tidak berani bernapas terlalu keras jika berada dalam radius sepuluh ribu mil dari lembahnya, Ji Huang kehilangan hiburan. Kehidupan kedewataan yang diagung-agungkan oleh manusia fana ternyata tidak lebih dari sekadar rutinitas tanpa akhir. Tidak ada makanan fana yang lezat, tidak ada gosip-gosip tidak penting, dan tidak ada tempat tidur yang empuk. Yang ada hanyalah meditasi, memahami Dao, dan kesepian yang mencekik.

​Saking bosannya, seratus ribu tahun yang lalu, Ji Huang memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen konyol. Dia ingin menciptakan sebuah mahakarya baru: sebuah jurus pedang yang belum pernah ada sejak alam semesta tercipta. Sebuah konsep pedang yang tidak lagi memotong fisik atau jiwa, melainkan memotong takdir itu sendiri.

​Dengan menggunakan jarinya sebagai bilah, Ji Huang menggoreskan garis-garis Dao di udara hampa. Energi pedang yang keluar dari ujung jarinya begitu murni, begitu padat, hingga memancarkan warna hitam kelam yang menyerap semua cahaya di Lembah Pedang.

​"Hmm, kalau bagian ini ditarik ke kiri, lalu diputar sedikit ke atas..." Ji Huang bergumam sendiri, matanya yang biasanya sayu tampak sedikit bersemangat.

​Dia terus mengutak-atik garis energi itu, melilitkannya ke sana kemari seperti seorang anak kecil yang sedang bermain tali pancing. Tanpa dia sadari, karena pemahamannya tentang Dao Pedang sudah terlalu melampaui batas, energi yang dia keluarkan mulai memicu reaksi berantai dari hukum alam semesta.

​KLANG! KLANG! KLANG!

​Miliaran pedang di lembah itu tiba-tiba bergetar hebat. Langit kelabu di atas mereka terbelah menjadi dua. Garis-garis energi hitam yang dibuat Ji Huang mendadak meledak, memancarkan rantai-rantai tak kasat mata yang terbuat dari hukum kausalitas murni. Sebelum Ji Huang sempat meregangkan badannya yang kaku, rantai-rantai energi buatannya sendiri itu melesat cepat, melilit kedua pergelangan tangan, kaki, hingga mengunci inti jiwanya ke batu gergasa tempat dia duduk.

​Ji Huang berkedip. Dia mencoba mengangkat tangan kanannya, tapi rantai itu menahannya dengan kekuatan yang sanggup menahan runtuhnya sebuah galaksi.

​Dia mencoba melepaskan aura pedangnya untuk menghancurkan rantai itu, tapi rantai tersebut justru menyerap aura pedangnya dan menjadi semakin kuat. Tentu saja, karena segel itu terbuat dari Dao Pedang miliknya sendiri. Di seluruh alam semesta, hanya ada satu hal yang bisa mengunci kekuatan seorang Ji Huang: yaitu kekuatan Ji Huang sendiri.

​Dewa Pedang Primordial itu terdiam melihat dirinya yang kini terbelenggu total dalam sangkar absolut ciptaannya sendiri.

​"Eh? Kok... malah kesegel?" Ji Huang mengerutkan kening.

​Dia mencoba berbagai cara selama seribu tahun berikutnya—yang bagi dewa seperti dia rasanya cuma seperti beberapa hari. Namun hasilnya nihil. Segel itu terlalu sempurna. Itu adalah mahakarya terbaiknya, dan ironisnya, mahakarya itu berhasil mengunci penciptanya sendiri dengan sangat sukses. Jika para dewa di Langit Sembilan tahu bahwa Dewa Pedang legendaris yang mereka takuti terperangkap bukan karena kalah bertarung, melainkan karena kebodohannya sendiri saat bereksperimen karena bosan, mereka pasti akan muntah darah karena syok.

​"Sialan. Ini benar-benar terlihat bodoh," Ji Huang menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat pasrah. "Kalah oleh musuh itu biasa. Tapi kalah karena jurus sendiri? Kalau sejarah menulis ini, harga diriku sebagai dewa bisa jatuh ke tingkat paling bawah."

​Tiga ribu tahun lagi berlalu dalam belenggu. Ji Huang yang dasarnya malas akhirnya memilih untuk menggunakan waktu senggangnya (yang sekarang bener-bener senggang) untuk tidur. Namun, setelah ribuan tahun bermimpi, sebuah ide gila—dan agak nekat—muncul di kepala yang jenius sekaligus nyeleneh itu.

​Segel ini mengunci wujud dewa, energi kedewataan, dan takdir keabadiannya. Berarti, selama dia masih berwujud "Dewa Pedang Ji Huang", dia tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini sampai alam semesta hancur.

​"Kalau begitu, kenapa aku tidak berhenti jadi dewa saja?" Pikirnya.

​Satu-satunya jalan keluar adalah kehancuran total. Dia harus menghancurkan wujud kedewataannya yang agung, membuang seluruh kultivasi kosmis yang telah dia kumpulkan sejak awal waktu, dan membiarkan jiwanya yang paling murni terlepas dari belenggu takdir untuk masuk ke dalam roda reinkarnasi. Dia akan membuang status keabadian yang dikejar-kejar oleh seluruh makhluk hidup di dunia, hanya demi bisa lepas dari tempat tidur batunya yang membosankan.

​"Lagipula, kudengar hidup di dunia fana itu seru. Ada arak yang enak, makanan yang berminyak, dan yang paling penting... aku bisa tidur siang tanpa perlu khawatir tentang keseimbangan kosmis," Ji Huang tersenyum lebar, sebuah senyuman polos yang agak tolol untuk ukuran entitas tertinggi.

​Ji Huang memejamkan mata. Dia mengumpulkan sisa-sisa kehendak bebas di dalam jiwanya. Detik berikutnya, jutaan pedang di lembah itu mengeluarkan suara tangisan yang memekakkan telinga. Mereka bisa merasakan apa yang akan dilakukan oleh tuan mereka.

​BOOM!!!

​Tidak ada suara ledakan di dunia nyata yang bisa menandingi hancurnya wujud seorang Dewa Primordial. Tubuh abadi Ji Huang mendadak retak, memancarkan cahaya perak yang menyilaukan yang menembus hingga ke langit-langit tertinggi kekaisaran dewa lainnya. Energi kultivasinya meledak, menguap menjadi udara kosong, menghancurkan segel absolut yang mengikatnya bersamaan dengan hancurnya raga dewanya sendiri.

​Di mata para dewa lain di luar sana, hari itu adalah hari di mana bintang paling terang di langit runtuh. Mereka mengira Dewa Pedang Tertinggi akhirnya telah binasa ditelan waktu, atau mungkin telah mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi lagi. Mereka mulai merayakan sekaligus meratapi hilangnya sang penguasa hampa.

​Mereka tidak pernah tahu, di tengah-tengah badai kehancuran itu, sebuah percikan jiwa yang sangat kecil—tanpa energi, tanpa identitas, namun membawa esensi Dao Pedang ini yang mutlak—melesat keluar dari Ranah Dewa. Percikan jiwa itu jatuh bebas melewati miliaran bintang, menembus batas atmosfer dunia bawah yang kotor dan berisik, lalu melesat menuju sebuah benua fana yang bernama Kekaisaran Nan Gong.

​Ji Huang telah mengakhiri keabadiannya dengan cara yang paling konyol, dan kini, perjalanan barunya sebagai manusia malas di dunia fana baru saja dimulai.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!