Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
“Dia datang ke istana?” Shock Rei.
“Dari ucapanmu aku yakin kau tidak bertemu dengannya.” Pangeran Lie menenggak tehnya untuk menetralkan rasa ketawanya, “Ya, staf istana melakukan pemeriksaan rutin dan bekerja sama dengan rumah sakit Orinthal. Aku berpikir sistem monarki ini sedikit kaku, jadi aku meminta rumah sakit kerajaan untuk bekerja sama merekrut rumah sakit luar.”
“Apa terjadi sesuatu kau dengannya?”
Rei masih terdiam menenggak tehnya secara perlahan. Beban isi kepalanya terasa berat bukan karena pekerjaan, melainkan memikirkan wanita siang dan malam.
“Aku kakakmu Rei, kau bisa cerita apa saja pada ku.” Ucap pangeran Lie dengan menyebut nama kecil sang adik untuk mencairkan suasana yang terlihat canggung diantara mereka.
“Dia memblokir kontak ku.” Ujar Rei kemudian dengan geram.
“Kau diblokir?”
“Bahkan sebelum aku menyatakan ini mengenalnya lebih dekat, dia sudah menyuruhku untuk berhenti menemuinya.”
“Dia menghindar?”
Rei dengan sorot mata kesal menatap kakaknya dari sudut mata tajamnya. Ia merasa sang kakak sedang meledeknya.
“Lanjutkan, lanjutkan.” Pinta pangeran Lie dengan satu tangannya menirukan gaya mengunci pada bibirnya.
“Aku beberapa kali datang berkunjung ke rumah sakit dan wismanya, tapi dia selalu sibuk. Nyatanya aku tahu dia ada ditempat dan memiliki waktu untuk bertemu.”
“Kau tahu apalagi, aku mengirimkannya makanan yang dia sukai, tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri makanan itu diberikan pada rekan atau security wismanya.”
“Parahnya aku mengirimkan bunga, dia membuangnya.”
“Apa salahku dia sampai marah? Aku tidak pernah mengecewakannya. Hanya karena aku terburu-buru menyatakan ingin disisinya, dia sampai segitunya terburu-buru ingin menjauh dari ku.”
“Hmm, sedikit aneh. Aku jelas melihatnya dia hangat pada mu saat dibalon udara itu. Mungkin dia takut dengan sikapmu?”
“Takut?”
“Kau mengejarnya sedangkan dia tidak tahu siapa kau, terlebih yang aku dengar dia hanya dokter peralihan tiga bulan. Di negara ini dia asing seorang diri, terlebih wilayah Linggu masih sering terjadi pertarungan kelompok mafia. Mungkin dia mengira kau adalah salah satunya.”
“Dengan wajahku setampan ini?” Shock Rei.
“Hahaha para mafia muda itu juga tidak buruk Rei.”
“Tapi dia tidak ada rasa takut, aku pernah melihatnya dia membentak anggota mafia saat kepala pimpinannya sedang ia tangani. Wanita itu seperti tidak bisa ditindas atau diancam.”
“Wajar. Kakaknya seorang intel keamanan tingkat internasional. Keluarga Zhang juga terkenal adikuasa di Enchelon. Jangan katakan kau tidak tahu hal ini?”
Rei terdiam. Ia tidak peduli pada latar Alin selama ia bisa disisinya itu sudah cukup.
“Aku mencaritahunya hanya penasaran hal apa yang membuat adikku satu-satunya ini menyukainya.”
“Dia…” Rei teringat saat pertama kali bertemu di dalam kapal, wanita itu berusaha menekan ketakutannya hanya untuk orang lain baik-baik saja, “Aku hanya ingin melindunginya.”
Pangeran Lie tersenyum dalam diam mendengar perkataan Rei. Ia lega sang adik sudah terbuka akan perasaannya.
“Ingin ku atur pertemuan dengannya? Jika dia menolak mu, dia tidak mungkin menolak panggilan dari ku bukan?”
Rei terdiam menatap kakaknya, sorot matanya bingung dengan apa yang akan dilakukan pangeran Lie namun ia berharap ada bantuan yang bisa menyatukan hubungan mereka.
...****************...
“Kita akan ada pertemuan di istana? Dalam rangka apa?” Tanya Alin.
“Yang diundang hanya pendatang saja? Apa kita akan diinterogasi?” Cemas Mei.
“Apa maksud kalian?” Ujar salah satu perawat.
“Lihatlah, ini data nama kita dan asal negara kita. Yang kulihat tamu itu semuanya dari luar.” Mei merampas kartu undangan itu dari Alin dan menyerahkannya kemeja perawat. Seketika perawat dan dokter jaga berkumpul untuk melihat isi undangan tersebut.
“Kau benar. Kalian akan dinilai ancaman atau bukan untuk kami.” Ujar dokter lainnya meledek Mei dan Alin.
“Ah direktur sialan. Masih saja menjebak kita seperti ini.” Kesal Mei.
“Apa yang kau takutkan, itu bukan hanya kita saja. Dari rumah sakit lain tenaga medis pendatang juga diundang. Setidaknya ada seratusan lebih tamu undangannya.” Jelas Han.
“Sifatnya wajib. Apa itu berarti kita mendapat libur? Ah, aku tidak suka jadwal libur ku justru ada kegiatan lain.” Keluh Alin, “Siapa yang membuat undangan itu, Raja?!” Kagetnya saat melihat stamp kerajaan, “Apa dia tidak tahu kita sesibuk apa. Hari libur itu bukan digunakan untuk hal semacam ini, dan…”
Mei bergegas menutup mulut Alin. Tak terlebih Han yang mengarung kepala Alin dengan jas dokternya.
“Hahahaha maafkan dia.”
“Sudahlah kami sudah terbiasa mendengar umpatannya pada Raja. Jangankan pada Raja, aku ingat bagaimana dia mengejek dokter Gu di depannya langsung.” Ledek salah satu dokter tadi.
Satu ruangan yang bersama Alin jelas sudah mengetahui perangai wanita itu. Segudang prestasi dengan sekolah ditempat yang sulit ditembus tanpa nilai yang bagus tidak menjamin sifat dan perangai aslinya. Alin termasuk wanita yang tidak peduli akan kasta atau tingkat jabatan seseorang, selama dirinya dipersulit maka disana lah lawannya akan bertemu sosok asli Alin. Sejauh ini Alin hanya akan tunduk pada kecerdasan seseorang.
...****************...
“Kakak kau datang?” Alin berlari memeluk Yuhan saat pria itu baru tiba di lobby wismanya, “Kau hanya datang sendiri?” Alin mencari kekasih Yuhan.
“Aku hanya mampir sebentar untuk melihat mu. Kebetulan aku ada penugasan disekitar sini.”
“Dikota ini? Berapa lama?”
“Bukan dikota ini. Melainkan salah satu pulau terdekat negara Xinglan.”
“Ah ya aku tahu.” Alin ingat akan mengenai pulau Cangyan. Pulau yang bersikeras memberontak ingin memisahkan diri dari kerajaan monarki Xing dan membentuk serikatnya sendiri.
“Kau semakin kurusan.”
“Kalau begitu kita makan dulu bagaimana? Shift ku sudah selesai dan kebetulan ada barang yang ingin kucari, kau tahu aku mendapat undangan resmi dari kerajaan.”
“Undangan kerajaan?”
“Ya, dikhususkan bagi tenaga kerja luar saja.”
“Dari Raja?”
Alin mengangguk cepat, “Ayo aku yang menyetir.” Sahut Alin kemudian menarik lengan Yuhan.
Disisi lain, Rei hendak menemui Alin untuk menyerahkan sebuah dress yang akan dikenakan pada saat undangan tersebut. Namun ia urungkan saat Alin begitu mesra menggandeng Yuhan.
“Siapa pria itu?” Geram Rei menatap Yuhan.
Yuhan sendiri hanya mengenakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin diketahui kunjungannya menemui Alin. Menunjukkan tampangnya hanya akan membuat Alin dalam bahaya.
“Hamba akan mencari tahu nya Yang mulia.” Sigap Yuchen yang takut akan kemarahan tuannya.
...****************...
Selama beberapa waktu terakhir, Rei terus melakukan pengawasan terhadap Alin. Ia mengikuti Alin bersama Zhang Yuhan ke berbagai tempat. Aktivitas tersebut dilakukan secara diam-diam dan berkelanjutan.
Namun yang membuatnya semakin geram pada saat mereka berdua berdiam lama makan didalam mobil.
Alin tahu kakaknya tidak ingin makan ditempat umum dengan membuka maskernya, pertimbangan terbaik adalah membungkus makanan dan memakannya didalam mobil.
Menyaksikan kedekatan yang terjalin antara Alin dan Yuhan di dalam mobil tersebut, emosi Rei semakin tidak terkendali. Rasa cemburu dan amarah bercampur menjadi satu.
Hingga pada akhirnya, Rei memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia menghubungi dan meminta bantuan dari pihak mafia yang menguasai wilayah tersebut. Tujuannya adalah untuk mengusik dan merusak hubungan antara Zhang Yuhan dengan Alin.
Rei telah menetapkan keputusan. Apabila Alin tidak dapat didekati dengan cara yang baik, maka ia akan menempuh cara lain. Sekalipun cara tersebut harus melibatkan pihak-pihak yang berada di luar hukum.