Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 : Stay
“Apa kau menyukai tempat ini?” Tanya Rei saat wanita itu terlihat begitu kagum dengan jalanan sepanjang kota.
“Ya… terasa menenangkan.”
“Tinggalah lebih dari tiga bulan. Kau memiliki pilihan untuk menetap.”
Alin tak menjawab. Ia hanya terdiam mengabaikan ucapan pria itu. Kalimat yang akan terus ia dengar sepanjang waktu nantinya.
“Kita sudah tiba? Ramai sekali.” Decak kagum Alin saat memasuki gerbang istana yang sangat besar dan kokoh dengan latar pengawal di setiap titik penjagaan.
“Alin…” Rei menahan tangan wanita itu saat ia hendak turun.
Alin terdiam menunggu ucapan pria itu.
“Tempat mu dan aku berbeda. Aku mendapat kabar dari Yuchen kalau dokter Gu sudah dan dia menunggu mu.”
“Dokter Gu? Kau mengenalnya?”
Rei hanya mengangguk pelan, “Meja itu sudah diatur sedemikian rupa. Kau tidak akan merasakan bosan didalam sana. Duduklah sesuai namamu.” Jelas Rei.
Bahkan pria itu mengatur posisi duduk wanita itu hanya memastikan Rei dapat melihatnya dari posisi ia duduk dan wanita itu tidak merasa kesepian.
“Baiklah aku mengerti. Lalu apa kita akan masuk bersama?”
“Pintu ku berbeda. Yuchen sudah menungguku di pintu utara.”
BIP BIP BIP
Alin melihat dari layar ponselnya, panggilan masuk dari dokter Gu.
“Masuklah. Dokter Gu sudah menunggu mu.”
“Kalau begitu aku duluan. Terimakasih sudah menemani ku dalam perjalanan. Aku merepotkanmu.”
“Jangan sungkan. Jika kau mau aku akan mengantarmu pulang nanti. Aku akan menghubungi…”
“Aku rasa tidak perlu. Aku dapat…”
“Angkat saja panggilan dari ku nanti Alin.” Pinta Rei menyela ucapan wanita itu.
Alin hanya mengangguk pelan dan beranjak keluar. Seorang diri memasuki aula pertemuan istana.
...****************...
Ruang jamuan itu berjalan sesuai peraturannya. Tidak ada yang terlewat. Penghargaan rumah sakit diberikan bagi yang sigap bertindak dan mampu menangani korban dengan cepat tanpa cela. Sayangnya, salah satu yang menerima penghargaan itu adalah rumah sakit cabang Orinthal beserta tenaga medisnya. Mereka tidak dapat menerima penghargaan tersebut secara langsung, hanya diwakilkan oleh pihak managementnya. Dokter Gu bersama timnya tidak ada disana, Alin tidak pernah sempat menikmati hari liburnya.
“Kemana dia?” Tanya Rei pada Yuchen sesaat setelah penghargaan itu tidak diterima langsung oleh Alin.
“Panggilan darurat, tim dokter Gu mendapat kiriman pasien. IGD mereka kembali penuh.”
BIP
Rei : Kau dimana?
Sebuah pesan singkat sengaja Rei kirimkan meski ia sudah tahu bawa Alin tidak mungkin kembali ke istana itu.
BIP
Dokter Yi : Aku di rumah sakit.
Jawab singkat Alin tanpa menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Rei pun paham pada akhirnya Alin kembali disibukkan dengan rutinitasnya.
“Aku akan pulang ke kediaman pribadi ku.” Sahut Rei beranjak berdiri tidak mengikuti acara itu hingga selesai. Percuma baginya, ia sengaja memohon pada sang raja untuk diselenggarakan acara tersebut semata untuk bisa bertemu Alin.
...****************...
Hampir satu minggu berlalu. Alin disibukkan dengan tugasnya sebagai tenaga medis. Sedangkan Rei memiliki tugasnya sendiri sebagai pengaran kedua dinegara tersebut.
“Kau akan pulang dan tidur saja? Ini akhir pekan, yakin tidak ingin pergi bersama sore nanti?” Tanya Mei pada Alin kala itu.
“Tidak. Lain waktu aku akan ikut. Bersenang-senanglah kalian.” Jawab Alin. Ia menolak ajakan temannya untuk berpesta mengadakan festival tahunan negara Xinglan. Alin bergegas pergi menuju lorong wismanya.
Lorong yang tersambung dengan bagian gedung rumah sakit. Saat ini dengan kepadatan jadwalnya dirumah sakit, Alin lebih memilih beristirahat tidur dikamarnya atau terkadang melakukan spa massage yang meringankan otak dan tubuhnya, sejujurnya ia tak suka keramaian tempat. Festival itu justru bagai lautan manusia yang memadati jalan.
Rei tidak lagi menghubunginya, Alin juga tak pernah menghubungi Rei terlebih dahulu, ia tak tahu siapa pria itu di tengah kota yang masyarakatnya kebanyakan bar-bar. Dan ia juga tak ingin ambil repot dengan status pria itu jika sudah memiliki kekasih.
“Hai, Alin…”
Suara yang tidak asing memanggil dirinya saat ia hendak menuju lobby utama wismanya. Pria dengan tubuh tinggi tegap dan wajah yang teduh.
“Kau ada waktu hari ini?” Tanyanya lagi menghampiri Alin. Suara pria itu terdengar tenang dan lembut. Seperti awal pertemuan, tak pernah terdengar suara terburu hanya terkadang sedikit memaksa.
Alin yang baru saja pulang dinas jaga malamnya terlihat polos tanpa riasan di wajah dan rambut asal ikat. Wanita itu memang terlihat jarang memakai riasan namun wajah polos itu membuat siapapun terpikat dengan cepat.
“Apa aku bisa mengajakmu keluar sebentar?” Tanyanya kembali membuka masker yang ia kenakan.
“Rei… apa yang kau lakukan disini?” Kaget Alin.
“Aku menunggumu.” Sahutnya, “Jadi bagaimana? Aku hanya ingin mengajak mu makan siang bersama, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan?” Tanyanya memastikan, saat Alin hanya terdiam.
Alin sebenarnya enggan untuk pergi, otaknya berpikir cara menolaknya. Sedangkan dirinya saat itu membawa tas begitu besar dengan jas dokternya. Terlihat bahwa ia akan libur dan mencuci pakaiannya di binatu terdekat.
“Aku tidak yakin…” Ragu Alin saat matanya menatap pintu lobby wisma. “Mungkin lain waktu. Kau bisa menghubungi ku terlebih dulu.”
“Aku takut mengganggumu jadi aku langsung datang dan mendapatkan kabar kau libur hari ini, juga lusa.”
“Ah… ternyata kau tahu jadwal ku.” Gumam Alin nyaris terdengar, ia tak bisa mengarang jika hari ini sibuk dengan pekerjaannya.
“Mungkin…”
“Aku akan menunggumu di dalam lobby. Kau bisa bersiap dulu.” Ujar Rei tak ingin mendengar penolakan dari wanita itu, ia mendorong tubuh Alin menuju lobby.
Alin hanya mengikuti kemauan pria itu. Ia sungguh lelah jika harus berdebat. Rei terlihat mengenakan kembali maskernya, seakan tak ingin ada yang mengenalinya. Meski Alin tak mengenal dekat pria itu, dari data pasien. Terlihat pria itu bukan orang sembarangan, alamat tinggalnya saja bahkan diperuntukkan untuk orang yang memiliki kedudukan penting. Hanya itu saja yang Alin ketahui,
Tak terlalu lama bagi Alin untuk mandi dan berganti pakaian ia bergegas kembali menuju lobby. Tak mungkin ia meminta Rei menunggunya di dalam kamar, tidak pada orang yang masih terasa asing baginya.
Dengan setelan sweater putih dan celana navy panjang serta sepatu putih andalannya. Alin kembali menemui Rei. Ia bahkan hanya mengikat rambutnya secara asal dan kembali tanpa riasan mencolok diwajahnya.
Rei menatap Alin dari ujung kepala hingga kaki, wanita itu bahkan terlihat menawan meski berpenampilan seadanya. Berbeda dengan wanita lain yang berusaha mendekati Rei dengan pakaian dan riasan yang menggodanya.
“Kita hanya pergi makan saja bukan?” Tanya Alin memastikan saat Rei hanya terdiam. Ia tidak tahu bahwa Rei sedang berusahan meredam degup jantungnya, tak ingin terdengar oleh wanita yang berdiri di hadapan nya.
“Ya. Ayo.” Ajaknya kemudian memberikan jalan pada Alin untuk mendahului. Bahkan sejak awal adab pria itu dalam menjaga kehormatan Alin mendapat penilaian plus tersendiri bagi Alin.
“Kau suka makan apa?” Tanya Rei.
“Aku?”
“Ya. Aku mengajakmu makan, jadi harus menyesuaikan makanan mu.”
“Sejujurnya…” Alin sedikit lama menjawab dengan memainkan ponselnya, “Kau tahu tempat ini. Sebenarnya aku sudah mereservasi tempat ini hari ini, untuk ku datangi sendiri. Karena kebetulan kau mengajakku makan…”
“Maaf…” Ujar Rei membuat Alin tersentak mundur hingga merapatkan tubuhnya pada sandaran mobil.
Bukan karena penolakan dari Rei, hanya saja perbuatannya mencengangkan Alin saat Rei menarik seatbelt disisi seat Alin dan memakaikannya pada wanita itu. Wajah mereka terlalu dekat hingga Alin bahkan dapat merasakan hangatnya nafas pria itu.
“Kita kesana sekarang. Tunjukkan jalannya.” Ujarnya kemudian.
Dan kembali Alin hanya terdiam didalam mobil itu, menikmati perjalanan tanpa banyak kata. Namun entah kenapa, Rei sendiri merasa nyaman berada didekat wanita itu.