Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat—8
"Sumpah demi apa?! Dia beneran nawarin nikah kontrak?!"
Suara pekikan Chelsea tertahan di pojokan koridor lantai tiga gedung Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Bangsa. Siang itu, area loker sengaja dipilih oleh keempatnya karena suasananya yang relatif sepi dari lalu lalang mahasiswa lain.
Aletha bersandar santai pada deretan loker besi, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menikmati ekspresi syok dari ketiga sahabatnya. Di bawah penerangan lampu koridor kampus, wajah Aletha tampak begitu tenang, sangat kontras dengan kepanikan yang melanda Angelina, Chelsea, dan Electra.
"Gila, Tha... target lo ini beneran fast-track banget. Kita baru taruhan kemarin lusa, sekarang lo udah disodorin draf nikah!" Angelina menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak habis pikir dengan pesona manipulatif Aletha yang sanggup menggerakkan seorang CEO sedingin Danny Atonio dalam waktu kilat.
"Terus rencana lo gimana? Lo bakal tolak kan? Maksud gue, nikah kontrak itu taruhannya nama baik keluarga lo juga, Tha," tanya Electra agak cemas, meskipun dia tahu Aletha selalu punya perhitungan yang matang.
Aletha menyunggingkan senyum misteriusnya, seulas senyuman yang selalu berhasil membuat bulu kuduk orang yang mengenalnya berdiri. "Nolak? Nggak akan. Rencana gue... gue bakal terima penawaran itu."
"Hah?! Lo serius?!" Chelsea melotot.
"Serius. Tapi, gue nggak akan tanda tangan draf buatan dia gitu aja," bisik Aletha, mencondongkan tubuhnya ke arah lingkaran mereka dengan mata yang berkilat licik. "Gue bakal ngajuin syarat balik ke dia. Dan syarat dari gue ini... dijamin bakal bikin permainan kita jauh lebih seru."
"Syarat apa, Tha?" tanya Angelina kepo maksimal.
Aletha hanya mengedipkan sebelah matanya, menaruh jari telunjuk di depan bibir. "Ada deh. Pokoknya kalian tonton aja dari bangku penonton. Raja kalian sebentar lagi bakal kehilangan takhtanya."
Malam harinya, sekitar jam delapan, Aletha duduk di balik kemudi Porsche Taycan maroon-nya yang terparkir di pinggir jalanan Menteng yang rindang. Jari lentiknya menggeser layar ponsel, lalu menekan tombol panggil pada kontak bernama Danny Atonio.
Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.
"Halo, Danny? Di mana? Bisa bertemu malam ini?" tanya Aletha tanpa basa-basi, nadanya terdengar santai.
Di seberang telepon, terdengar suara bariton Danny yang khas, diiringi keheningan latar belakang yang menandakan dia tidak sedang berada di luar. "Saya di rumah, Aletha. Kebetulan malam ini jadwal saya senggang. Kamu bisa langsung datang ke mansion saya."
"Oke, saya otw," jawab Aletha singkat lalu memutus sambungan. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil mewahnya membelah gerbang raksasa kediaman keluarga Dirgantara beberapa menit kemudian.
Suasana mansion malam itu terasa sangat sepi. Rupanya, Papa Michael dan Mama Dominic sedang pergi menghadiri jamuan makan malam privat antar-komisaris. Begitu pintu utama berbahan kayu jati berukir itu terbuka, sosok yang muncul bukanlah pelayan, melainkan Cassandra.
Adik perempuan Danny itu tampak mengenakan pakaian rumah yang santai. Begitu melihat siapa tamu yang datang, matanya langsung berbinar senang.
"Eh, Kak Aletha ya?" sapa Cassandra dengan nada suara yang sangat excited cengan kehadiran Aletha.
Aletha mengubah dirinya menjadi seorang yang friendly di depan adik Danny yang polos ini, ia melepaskan topeng dinginnya dan memasang senyum paling hangat, ramah. "Iya, Cassandra. Maaf ya ga diundang langsung main datang malam-malam gini. Danny-nya ada?"
"Ih, nggak apa-apa banget, Kak! Seneng banget malah Kak Aletha main ke sini," sahut Cassandra ceria, sama sekali tidak curiga pada serigala berbulu domba di depannya. "Kak Danny ada di kamarnya di lantai dua, dari tadi nungguin Kakak kayaknya. Ayo, aku anterin naik ke atas!"
Dengan sikap yang sangat akrab, Cassandra memandu Aletha menaiki tangga yang megah menuju lantai atas. Tepat di depan sebuah pintu ganda berwarna hitam legam, Cassandra mengetuk pintu itu sekali sebelum menoleh ke Aletha. "Masuk aja, Kak. Kak Danny udah nunggu. Aku ke bawah dulu ya, mau lanjut maraton drama, hehe."
"Makasih ya, Cassandra," ucap Aletha manis sembari mengusap lengan gadis itu sekilas sebelum Cassandra melangkah pergi.
Cklek.
Aletha membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Danny. Kamar itu seolah mencerminkan kepribadian pemiliknya—sangat luas, berdesain minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu gelap, pencahayaan warm white, dan sebuah ranjang king-size yang tertata luar biasa rapi.
Danny sedang berdiri di dekat balkon kamarnya, melepas kancing teratas kemeja hitamnya. Begitu menyadari kehadiran Aletha, ia berbalik, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan menatap tamunya dengan pandangan menilai yang intens.
Aletha tidak mau membuang waktu untuk sekadar berbasa-basi menanyakan kabar atau memuji kemewahan kamarnya. Ia berjalan tegap, berhenti tepat tiga langkah di hadapan Danny, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang pria itu.
"Saya setuju dengan perjanjian pernikahan kontrak itu," ujar Aletha tegas, suaranya terdengar lantang dan berani di dalam keheningan kamar. "Tapi... saya mengajukan syarat balik."
Danny menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut namun langsung mengulas senyum tipis yang penuh ketertarikan. "Syarat apa, Nona Adinata? Katakan."
"Pertama, aku mau pernikahan kita diadakan besar-besaran. Sangat megah, mewah, dan semua orang di negara ini harus tahu kalau aku adalah istrimu," ucap Aletha dengan nada menuntut.
Ia mengambil satu langkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di mata Danny. "Dan kedua... apakah Anda keberatan jika setelah menikah nanti, kita tidur di satu kamar yang sama? Tidak ada kamar terpisah seperti draf konyolmu kemarin."
Sorot mata Danny sedikit menggelap mendengar syarat kedua yang tak terduga itu. "Satu kamar? Bukankah di perjanjian awal saya bilang kita tidak akan melibatkan hubungan fisik?"
Aletha terkekeh pelan, sebuah tawa licik yang terdengar sangat seksi dan menantang. Ia menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di depan wajah Danny. "Tenang saja, Mr. Danny. Aku tidak akan menyerangmu di atas ranjang. Aku melakukan ini karena aku penasaran... aku penasaran ingin melihat bagaimana seorang Danny Antonio yang agung dan dingin itu bereaksi jika aku masuk ke dalam kehidupan pribadimu jauh lebih dalam."
Suasana kamar mendadak mencekam selama beberapa detik. Danny terpaku, menatap wajah cantik di hadapannya yang begitu berani mengusik batas teritorinya. Alih-alih merasa terancam, ego kompetitif Danny justru meledak dipenuhi rasa puas. Gadis di depannya ini benar-benar jenis lawan yang sangat berbahaya, dan Danny menyukainya.
Danny tiba-tiba melepaskan tawa renyahnya—sebuah tawa yang sarat akan rasa kagum sekaligus tantangan balik. Ia menundukkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan Aletha hingga hembusan napas hangatnya menerpa pipi gadis itu.
"Baiklah, Nona Manis," bisik Danny dengan suara bariton yang berat, senyum ringannya terkembang penuh kemenangan. "Permintaanmu terkabul. Kita lihat... siapa di antara kita yang akan bertahan paling lama di dalam satu kamar yang sama."