NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Murka Sang Iblis

TRATATATATAT!!

​Rentetan peluru dari moncong ganda Heckler & Koch MP7 di tangan Xander membelah udara dengan kecepatan mematikan, menembus deru angin badai yang mengamuk di dalam penthouse.

​Dua tentara bayaran Rusia yang baru saja menyentuh gagang pintu brankas titanium itu bahkan tidak sempat menoleh. Tubuh raksasa mereka tersentak hebat, bergetar bak boneka rusak saat puluhan peluru menembus pelindung kevlar mereka secara presisi. Keduanya ambruk ke lantai marmer dengan suara berdebum keras, darah merembes dengan cepat menodai karpet mewah di bawahnya.

​"Lindungi helikopter! Balas tembakan!" jerit tentara bayaran ketiga dari arah jendela, mengarahkan senapan mesinnya ke arah Xander.

​Namun sang raja Leonidas tidak datang sendirian. Dari balik bahu Xander, Dante melangkah keluar dengan tenang. Tangan kanan Xander itu mengangkat senapan serbu taktisnya dan melepaskan tiga tembakan beruntun yang mengenai tepat di dahi penembak tersebut. Pria bertopeng tengkorak itu terlempar ke belakang dan jatuh terjerembap melewati sisa-sisa kaca jendela, menghilang ditelan badai menuju jalanan aspal puluhan lantai di bawah.

​Melihat rekan-rekan mereka dibantai dalam hitungan detik, pilot helikopter hitam di luar sana panik. Ia memiringkan tuas kendali, berusaha menarik mundur burung besi itu.

​"Kau tidak akan ke mana-mana, Keparat!" desis Elena dari balik pilar. Ia mengambil senapan laser merah milik musuh yang tewas di dekatnya, membidik rotor ekor helikopter yang berputar liar, dan menahan pelatuknya.

​BAM! BAM! BAM!

​Rotor ekor itu meledak, memercikkan bunga api besar di udara. Helikopter itu kehilangan keseimbangan, berputar tak terkendali di udara bagaikan gasing, sebelum akhirnya menabrak gedung pencakar langit kosong di seberang Leonidas Tower dan meledak menjadi bola api raksasa yang menerangi langit kelabu Jakarta.

​Suasana di dalam penthouse mendadak sunyi, hanya menyisakan suara hujan deras dan angin yang masuk melalui dinding kaca yang hancur berantakan. Kertas-kertas desain beterbangan layaknya salju hitam.

​Xander menjatuhkan kedua senjatanya yang kehabisan amunisi hingga bergemerincing di lantai. Napasnya memburu. Kemeja hitamnya basah oleh tempias hujan dan keringat, namun matanya dengan panik mencari satu sosok.

​"Alana..." panggil Xander. Suaranya serak dan bergetar, jauh dari nada otoriter yang biasa ia gunakan.

​Pria itu berlari menginjak pecahan kaca dan genangan air, menghampiri pintu brankas titanium yang setengah terbuka. Di dalam sana, di sudut ruangan yang gelap, Alana berjongkok sambil memeluk erat tubuh Sarah yang setengah pingsan karena syok. Tubuh istri kecilnya itu gemetar tak terkendali, matanya terpejam rapat, dan tangannya menutupi telinga.

​Xander berlutut di hadapannya. Ia mengabaikan darah musuh yang menempel di sepatunya dan pecahan beling yang menggores lututnya.

​"Sayang... Alana, buka matamu. Ini aku," bisik Xander sangat lembut, menyentuh bahu Alana dengan tangan besarnya yang gemetar.

​Mendengar suara bariton yang sangat ia kenal, Alana perlahan membuka matanya. Begitu ia melihat siluet Xander di depannya, tangis Alana pecah. Ia menghambur ke depan, menabrak dada bidang suaminya, dan memeluk leher Xander dengan kekuatan penuh.

​"Xander! Xander, mereka... pria di telepon itu... dia ingin membunuh kita," isak Alana histeris, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Xander.

​Xander membalas pelukan itu dengan sangat erat, seolah takut Alana akan menghilang jika ia melepaskannya. Ia membenamkan wajahnya di rambut Alana, menghirup aromanya untuk menenangkan iblis pembunuh yang masih meronta di dalam dadanya.

​"Ssst... aku di sini. Kau aman, Sayang. Tidak ada yang akan menyentuhmu. Aku berjanji, aku bersumpah di atas nyawaku," bisik Xander, mengecup pelipis istrinya berkali-kali.

​Di belakang mereka, Dante memberikan isyarat pada Elena untuk membantu Sarah berdiri. Dante menatap kekacauan di penthouse itu dengan rahang mengeras.

​"Tuan Besar," panggil Dante pelan, enggan merusak momen, namun situasi mendesak. "Tim pembersih sedang menuju kemari. Polisi dan media akan segera mengepung gedung ini. Kita tidak bisa tinggal di sini."

​Xander mengurai pelukannya, menatap wajah istrinya yang sembap dan ketakutan. Ia menyeka air mata Alana dengan ibu jarinya, lalu menyelipkan rambut basah gadis itu ke belakang telinga. Keputusan telah dibuat.

​"Kita tidak akan kembali ke rumah sakit, tidak juga ke mansion utama," ucap Xander tegas, menatap Dante. "Siapkan jet pribadi kita. Aktifkan Protokol Aegis."

​Mata Dante sedikit membelalak mendengar nama sandi tersebut, namun ia langsung menunduk hormat. "Dimengerti, Tuan. Menyiapkan penerbangan ke Pulau Hantu."

​Alana menatap suaminya dengan bingung, hidungnya masih memerah. "Pulau Hantu? Xander, kita mau ke mana?"

​Xander mengangkat tubuh Alana ke dalam gendongannya layaknya seorang putri, tidak membiarkan kaki rapuh istrinya menginjak puing-puing kaca. Matanya memancarkan kegelapan mutlak seorang raja yang siap menabuh genderang perang.

​"Kita akan pergi ke satu-satunya tempat di bumi yang tidak bisa disentuh oleh Volkov," jawab Xander dengan nada final yang dingin. "Mereka menginginkan perang, Alana. Dan aku akan memastikan, mereka semua mati."

​Di waktu yang sama, Moskow, Rusia.

​Di dalam sebuah kastil bergaya Gothic yang tertutup badai salju, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di mata kirinya duduk di depan perapian. Ia memutar sebuah gelas berisi vodka di tangannya, mendengarkan laporan dari telepon satelit.

​Ivan Volkov menyeringai, menampilkan gigi-gigi emasnya yang berkilat memantulkan cahaya api.

​"Jadi, serangannya gagal dan helikopter kita dihancurkan?" kekeh Ivan santai. Ia menyesap vodkanya. "Bagus. Aku memang tidak berniat membunuhnya semudah itu. Buat Sang Iblis merasa ketakutan, buat dia berlari membawa istri kecilnya. Saat dia kelelahan... barulah kita cabut jantungnya."

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!