Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dan Kemarahan Sang Kakak saya aw
"Arsen..."
Nama itu terucap pelan dari bibir Ziva, namun efeknya bagai petir yang menyambar di kepalanya. Tangan Ziva yang sedang membersihkan luka pria itu seketika berhenti. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena asmara, tapi karena kewaspadaan.
'Arsen... Bukankah itu nama CEO paling berpengaruh di kota ini? Orang yang menjadi target pembunuhan yang baru saja kubaca di laporan intel tadi?' batin Ziva terkejut.
Ziva segera mengangkat wajahnya, menatap tajam ke manik mata pria itu. Ia harus memastikan.
"Arsen? Arsen siapa? Apakah kau Arsen William, pemimpin Grup Perusahaan William yang terkenal itu?" tanya Ziva cepat, matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi wajah pria di depannya.
Arsen tersentak sedikit. Ia tidak menyangka gadis ini akan mengenali namanya secepat itu. Namun, ia segera menguasai diri dan memasang topeng kebohongannya. Ia menggeleng pelan dengan senyum tipis yang dibuat-buat.
"Bukan, Non. Kau salah orang. Namaku Arsen, tapi aku bukan orang kaya atau CEO besar seperti yang kau maksud. Aku hanya Arsen, karyawan biasa di perusahaan itu. Kebetulan saja namanya sama," jawab Arsen berbohong dengan lancar.
Hatinya berdegup gelisah. 'Maafkan aku, Ziva. Aku tidak memberitahumu yang sebenarnya bukan karena aku tidak percaya, tapi aku takut... jika kau tahu siapa aku, kau akan merasa minder atau merasa ada jarak di antara kita. Aku ingin kau menyukaiku apa adanya, bukan karena hartaku atau jabatan ku.'
Arsen sama sekali tidak tahu bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah gadis biasa. Ia tidak tahu bahwa Ziva adalah pewaris keluarga Sterling, keluarga kaya raya yang setara dengannya. Dan yang lebih parah, ia tidak menyadari bahwa wanita cantik yang sedang merawat lukanya ini adalah 'Ratu Mafia' yang kekuasaannya bisa menyaingi kekayaan negaranya sendiri.
Mereka berdiri di sana, dua orang yang saling tertarik, namun sama-sama memakai topeng. Saling menyembunyikan identitas asli demi alasan masing-masing—ia mengira dia gadis biasa, dia mengira dia pegawai biasa—padahal keduanya adalah raksasa yang sedang menyamar menjadi kelinci.
"Begitu ya..." Ziva mendengus pelan, sedikit lega namun tetap waspada. "Yasudah, yang penting lukamu sudah ditangani. Segera ke rumah sakit, jahit lukanya agar tidak infeksi."
"Terima kasih, Ziva. Kau telah menyelamatkanku," ucap Arsen tulus.
Ziva tidak menjawab, ia segera membalikkan badan dan menghilang begitu saja ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Arsen yang masih terpana memandangi kepergiannya.
Sepuluh menit kemudian, di kediaman megah keluarga Sterling.
Brak!
Dengan lompatan yang sangat lincah dan presisi, Ziva mendarat sempurna di balkon kamarnya setelah melompati tembok tinggi dan pagar halaman. Ia masuk ke dalam kamar dengan napas masih sedikit memburu.
Petualangan malam ini benar-benar melelahkan. Mulai dari jatuh dari motor, bertemu pria asing yang menciumnya, hingga merawat luka orang yang mungkin adalah targetnya.
"Ah, dasar pria aneh!" gerutu Ziva sambil melempar jaketnya ke sofa. Ia segera masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dari debu jalanan dan rasa lelah.
Namun, kedamaian di kamar mandi itu tidak berlangsung lama.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu kamar terdengar pelan namun tegas.
Ziva yang baru selesai mengenakan piyama, mengernyitkan dahi. "Siapa?"
"Ziva, ini Kak Daniel. Turun sebentar ke ruang keluarga. Ada yang ingin dibicarakan," suara kakak sulungnya terdengar dari luar. Nada bicaranya datar, tapi Ziva bisa merasakan ada aura ketidakpuasan di sana.
Ziva menghela napas panjang. 'Pasti soal kejadian di arena tinju tadi siang,' batinnya menebak dengan tepat.
Dengan langkah santai namun siap mental, Ziva berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Dan benar saja, pemandangan yang menyambutnya cukup mencengangkan.
Di tengah ruangan, Zio terlihat duduk tertunduk lesu di sofa. Pundaknya terkulai, wajahnya yang biasanya ceria kini terlihat takut dan panik. Berdiri tepat di hadapannya adalah Daniel, kakak sulung mereka yang biasanya dikenal sangat tenang, sabar, dan bijaksana.
Namun malam ini, wajah Daniel merah padam menahan amarah. Matanya tajam menatap Zio.
"Kau sadar tidak sih apa yang kau lakukan hari ini, Zio?!" bentak Daniel dengan suara keras yang menggema di seluruh ruangan. "Adikmu, Ziva, baru saja pulang! Dia baru kembali ke keluarga setelah dua puluh tahun terpisah! Dan apa yang kau lakukan? Kau malah mengajaknya ke tempat berbahaya seperti arena tinju liar?!"
Zio hanya diam membatu. Kepalanya semakin tertunduk, tak berani menyangkal ataupun membela diri. Ia tahu ia salah. Ia terlalu asik bermain sampai lupa resiko.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana jika dia terluka parah atau bahkan nyawanya terancam? Apa kau mau bertanggung jawab?!" Daniel terus melontarkan omelan dan teguran keras. Ia sangat marah karena Zio telah membahayakan nyawa adiknya yang baru saja mereka temukan.
Suasana sangat tegang. Kevin dan yang lain mungkin belum datang, tapi kemarahan Daniel saja sudah cukup membuat suhu ruangan terasa panas.
Ziva berdiri di pinggir ruangan, menyandar di tiang, hanya memandang dengan tatapan datar. Ia tidak takut, ia hanya merasa Zio memang pantas diberi pelajaran sedikit.
Namun, di sudut ruangan yang agak gelap, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan dengan senyum jahat. Itu adalah Zea.
Melihat suasana sedang memanas, Zea merasa ini adalah kesempatan emas. Ia berjalan mendekat dengan langkah anggun namun penuh niat buruk.
"Ihhh, kasihan sekali ya Kak Zio dimarahi," ucap Zea dengan nada manja namun menyindir. Ia menoleh ke arah Ziva dengan tatapan seolah-olah iba.
"Tapi Ziva, kamu juga sih... tahu saja diri kamu baru pulang, masa mau diajak main ke tempat kasar begitu sih? Kan bikin repot Kak Daniel saja. Nanti kalau kamu kenapa-napa, kan kami juga yang salah. Kamu itu kan putri keluarga Sterling, harusnya jaga image dong, jangan ikut-ikutan berantem kayak preman pasar..."
Zea terus berbicara, berusaha menyalakan api kemarahan Daniel lebih besar lagi, sekaligus menjatuhkan citra Ziva. Ia berharap Daniel akan ikut memarahi Ziva juga.
Mendengar ocehan Zea yang mulai melantur dan menyebalkan itu, Ziva hanya mendengus kasar.
Huh!
Suara dengusan itu terdengar jelas, dingin, dan penuh ketidakpedulian.
Ziva menatap Zea dengan tatapan tajam yang membuat gadis itu seketika berhenti bicara dan mundur selangkah ketakutan.
"Sudah cukup, Zea. Jangan menambah masalah," potong Ziva dingin tanpa rasa takut sedikitpun. "Dan Kak Daniel... aku baik-baik saja. Aku yang membiarkan diriku diajak, dan aku yang bisa menjaga diriku sendiri. Jadi jangan terlalu keras pada Zio."
Meskipun berkata begitu, tatapan Ziva seolah berkata: 'Dasar banyak omong, Zea.'