Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mayang entah di mana : 09
Pada hunian bu Sasmita bagian samping, terlihat Ahwaya mondar mandir di depan teras kamar berderet.
“Mayang sebenernya kemana sih? Dari tadi kok gak balik-balik?” tanyanya pada diri sendiri. Tadi sang sahabat pamit hendak ke kamar mandi, sudah entah berapa lama dikarenakan penunjuk waktu tidak berguna, belum juga kembali.
Aya juga sudah memeriksa kamar mandi, kosong. Hendak bertanya tapi tidak ada orang di dalam rumah besar sedikit membuatnya takut.
Hunian mertua Tejo, kalau dari luar dan memang dia orang kota – terasa menyeramkan.
“Mayang!” panggilnya mulai panik, tetap tidak berani kemana-mana.
“Kenapa, Aya?” Sambara yang baru saja sampai, terkejut melihat kekasihnya menangis sembari berteriak.
“Mayang entah kemana, Sam. Tadi pamitnya ke kamar mandi, tapi gak ada setelah ku cek,” ada sorot lega di netra basah. Merasa tidak sendirian.
Abeer juga telah sampai, dia sama paniknya setelah diberitahu.
Mereka memeriksa halaman belakang yang tidak berpagar dan langsung bertemu semak belukar rimbun, ada juga sepasang pohon beringin berdiameter sang besar.
Sementara itu, Candra Kanti dan Aji, sengaja melangkah lambat, berbisik pelan.
“Apa yang membuatmu mencurigai daging Rusa itu, Kanti?” tanya pemuda seolah-olah tengah mengobrol ringan.
Tatapan Kanti lurus ke depan, meskipun tidak ada bertemu warga, dia tetap waspada. “Aku memang belum pernah makan daging Rusa, tapi pertama kali melihat dalam sajian panggang, entah kenapa hatiku melarang. Seperti ada yang mengingatkan.”
“Terus setelah melihat dua ekor Rusa di kandang tadi, kamu tetap curiga?”
“Sedikit berkurang, namun tetap aku enggan makan,” katanya pelan.
Aji menoleh ke kiri, menatap sisi samping wajah berkulit halus tanpa adanya jerawat. “Apa kamu percaya dengan cerita bu Sasmi tentang kutukan tetua adat?”
“Lebih banyak ke gak percaya nya. Kecuali dia memberitahu rupa sosok astral itu. Aji, mumpung masih terang, temani aku ke jurang, mau gak?” Kanti berhenti di persimpangan jalan.
“Kamu yakin mau kesana? Kalau ada apa-apa gimana? Gak takut sama konsekuensi yang dijelaskan bu Sasmi?” Aji sedikit enggan.
Kanti bergeming, enggan melangkah lurus kembali ke hunian Lilis. “Terus kita akan diam saja sampai bulan suro berakhir? Kalau kisah itu aslinya cuma dongeng demi membuat kita takut. Padahal bahaya sesungguhnya ada disini, gimana?”
Aji gamang antara mengabulkan keinginan Kanti, atau memaksanya kembali ke hunian sementara.
“Ayolah. Gunakan logikamu, Ji! Apa kamu gak curiga, ada orang asing sebegitu bermurah hati?” ia mulai memprovokasi.
“Terus, kamar yang kita tempati lebih mirip penjara. Sengaja dibangun tanpa jendela supaya gak bisa mengamati luar. Belum lagi pakaian serba putih dalam lemari, sama dalaman juga disediakan dengan warna senada. Seakan-akan bukan kebetulan, tapi memang sengaja telah disediakan,” suara Kanti terdengar bertambah rendah.
Aji Sardi teringat pakaian yang juga ada dalam lemarinya, memang dia juga merasakan kejanggalan, belum lagi kamar tanpa jendela, ventilasi udara sangat tinggi, dan keempat temannya bertingkah aneh.
Pada akhirnya Aji setuju. Mereka tidak melewati jalan lebar dua meter belum di aspal, melainkan berlari cepat sampai tiba di pohon besar, lanjut lagi seperti itu.
Jalan ke jurang tempat mobil terjun bebas, terlihat sangat sepi. Tidak ada satupun bunyi hewan, dan udara disana lembab.
Deru napas Kanti dan Aji terdengar nyaring, mereka sedikit terengah-engah.
“Itu jurangnya!” Kanti menunjuk tepi berlubang berjarak tiga meter lagi.
“Ayo!” Aji berlari duluan, setiap sampai di pohon besar, sejenak berhenti demi memperhatikan kondisi sekitar.
Kurang dari satu meter lagi, tiba-tiba Kanti berbisik. “Ada suara mobil. Sebaiknya kita bersembunyi.”
Di balik pohon rindang, dua orang sama-sama mengintip dari arah berlawanan.
Sebuah mobil pickup melaju pelan, lalu berhenti sejajar dengan tempat persembunyian Kanti.
Terdengar bunyi suara pintu ditutup kuat, Kanti memicingkan mata supaya penglihatannya jelas.
“Itu Tejo dan pelayan di hunian bu Sasmi ‘kan?”
Kanti menjawab pertanyaan Aji. “Iya. Siapa nama bapak itu?”
“Aku gak tahu, mau nanya lebih dari dua kali, rasanya segan,” dia pernah bertanya ke Tejo, tapi tidak mendapatkan jawaban. Cuma dipanggil ‘Pak’ saja.
"Mereka ngapain?” sangat jelas terlihat olehnya, dua orang tengah menarik karung kain besar, sepertinya juga berat.
“Eh, mau diapakan? Dibuang ke jurang kah?” Aji ikutan bertanya, dan mereka tidak mendapatkan jawaban kalau masih terus berdiam diri di sana.
Tejo dan si pelayan saling pandang, mereka baru saja selesai melempar karung ke jurang, lalu masuk lagi ke dalam mobil.
“Ayo kita periksa!” Kanti keluar dari tempat persembunyiannya kala mobil sudah tidak terlihat.
“Jangan nekat, Kanti! Kita gak tahu ada bahaya atau tidak _”
“Karena belum tahu, makanya wajib dicari tahu.” Kanti berlari kencang, tubuhnya yang ramping memudahkan dia bergerak.
“Astaga!” Aji mana tega membiarkan si gadis sendirian, dia pun menyusul.
“Sayang sekali tidak nampak apapun selain pucuk rimbun pepohonan,” ucap Kanti merasa kecewa. Dari tepi jurang, hanya tampak rimbunnya dedaunan hijau.
Kanti sampai berbaring telungkup, kepalanya terjulur ke jurang. Baru saja hendak mengamati sedikit lebih lama – tiba-tiba bayangan hitam mengintip lewat sela ranting.
Gadis mewarisi sifat sang ibu yaitu rasa penasaran tinggi – terbelalak, sekelebat ingatan buram berputar, membuatnya sesak napas dan kepala nyeri.
“A _ ji!” suaranya gemetar, tapi netranya tidak bisa berkedip, ia terpekik – sepasang bola mata biru memancarkan cahaya terang.
“Kanti, langitnya mulai memerah. Kenapa cepat sekali, ya? Candra Kanti … kamu dimana?!”
.
.
Bersambung.
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya
lanjut Thor