Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKALI LIHAT LANGSUNG KE AKAR
Setelah waktu istirahat usai, suara genta kembali berbunyi panjang memecah keheningan siang itu. Seluruh murid laki-laki dan perempuan segera berbaris rapi kembali di halaman utama, wajah mereka penuh semangat namun juga sedikit gugup. Di bawah pohon beringin, Seruni sudah berpamitan pulang lebih dulu dengan senyum manis dan pesan singkat agar Liam berhati-hati dan belajar yang rajin. Liam hanya mengangguk pelan, menatap punggung gadis itu sampai hilang di balik gerbang, lalu berbalik bergabung ke barisan paling belakang, tempat ia selalu berdiri sendiri dengan tenang dan dingin.
Guru Besar Ardi berdiri di depan barisan, wajahnya tegas namun tenang. Di sebelah beliau berdiri para guru pembimbing dan pengurus padepokan, termasuk Jaka yang kini berdiri tegap dengan dada membusung, merasa paling berkuasa di antara murid-murid biasa.
"Hari ini," suara Guru Besar bergema jelas ke seluruh penjuru, "karena berkumpulnya murid dari dua perguruan, kita akan mulai dengan latihan dasar pengenalan gerakan dan kecepatan reaksi. Ini adalah fondasi utama ilmu bela diri. Siapa yang cepat menangkap gerakan dan menguasai ritme, dialah yang akan mudah berkembang ke tahap selanjutnya."
Beliau memberi isyarat pada salah satu guru pembimbing untuk memimpin latihan. Guru itu melangkah maju, seorang pria bertubuh kekar, berwajah garang namun pandai mengajar. Ia menjelaskan bahwa latihan ini bertujuan melatih mata dan tubuh agar peka terhadap setiap gerakan lawan, sekecil apa pun. Caranya sederhana: guru akan memperagakan satu rangkaian gerakan serangan dan pertahanan, lalu seluruh murid harus menirukannya persis, sama cepat, sama kuat, dan sama halusnya.
"Perhatikan baik-baik! Jangan ada yang lengah!" seru guru itu lantang.
Ia mulai memperagakan gerakan demi gerakan. Tangannya berputar, kakinya melangkah menyilang, badannya berputar dan menunduk berkelok, membentuk satu aliran jurus yang indah namun mematikan. Gerakannya cepat namun jelas, cukup bagi mata manusia biasa untuk mengikuti asal gerakannya saja, apalagi untuk menghafal urutannya.
Satu putaran selesai. "Sekarang kalian tiru! Mulai!"
Ratusan murid bergerak serentak. Suara hentakan kaki dan desiran udara terdengar bersahutan. Namun, hasilnya jauh dari sempurna. Banyak yang gerakannya lambat, tertinggal jauh dari irama, ada yang terbalik urutannya, ada yang kaku seperti patung, ada yang tidak sampai atau berlebihan. Bahkan Jaka dan teman-temannya yang merasa paling hebat pun, hanya bisa mengikuti sekitar tujuh puluh persen dari kecepatan dan kehalusan gerakan guru mereka. Para murid perempuan pun demikian, mereka lebih luwes namun kurang kuat dan kurang cepat.
Guru pembimbing itu menggeleng-gelengkan kepala melihat hasilnya. "Masih lambat! Masih kaku! Konsentrasikan mata dan pikiran kalian. Ulangi lagi dari awal, aku peragakan sekali lagi!"
Ia kembali bergerak, kali ini sedikit lebih cepat dari sebelumnya, untuk menguji ketajaman mata mereka.
Namun, di ujung barisan belakang, ada satu sosok yang berdiri bergerak dengan sangat berbeda. Liam.
Sejak guru itu mulai bergerak pertama kali, mata Liam yang hitam pekat itu tak berkedip sedikit pun. Ia menatap setiap perubahan posisi jari, setiap lengkungan lengan, setiap pergeseran berat badan ke kaki, setiap hembusan napas yang mengatur tenaga. Bagi orang lain, gerakan itu cepat dan rumit. Namun bagi Liam, yang panca inderanya tajam berlipat ganda karena darah yang mengalir di tubuhnya, gerakan itu terasa sangat lambat, sangat jelas, dan sangat mudah dibaca. Ia bisa melihat setiap detail kecil, bahkan aliran udara yang terbelah oleh gerakan tangan sang guru.
Saat semua murid berusaha meniru untuk kedua kalinya, Liam bergerak. Tubuhnya yang tinggi besar itu berputar, menunduk, melangkah, dan mengayunkan tangan dengan kecepatan yang membuat mata orang biasa sulit mengikutinya. Gerakannya persis sama dengan sang guru, sama bentuknya, sama iramanya, sama halusnya, bahkan lebih cepat dan lebih luwes dari aslinya. Tidak ada satu gerakan pun yang salah, tidak ada urutan yang terbalik, tidak ada yang kurang atau lebih. Ia melakukannya dengan sempurna, aliran gerakan yang indah dan mematikan mengalir begitu saja dari tubuhnya, seolah ia sudah menghafal dan melakukannya puluhan tahun lamanya.
Dan yang paling mengerikan: Liam hanya melihat satu kali peragaan saja, dan ia sudah menguasai semuanya sampai ke akar-akarnya.
Guru pembimbing itu yang sedang berjalan memeriksa barisan dari depan ke belakang, langkahnya terhenti mendadak saat pandangannya jatuh pada sosok di belakang itu. Matanya terbelalak tak percaya, mulutnya sedikit terbuka. Ia melihat Liam bergerak dengan luwes, cepat, dan tepat sempurna. Ia melihat betapa ringannya langkah pemuda itu, betapa kuat namun lembutnya ayunan tangannya, betapa pasnya setiap perputaran badannya.
"Itu... itu mustahil..." gumam guru itu pelan. "Bagaimana bisa dia menangkapnya secepat itu? Padahal anak baru, belum pernah belajar apa pun sebelumnya."
Kagum dan heran membuat guru itu tak sadar menunjuk ke arah Liam dan berseru lantang. "Lihatlah anak ini! Baru sekali lihat, sudah bisa melakukannya persis dan sempurna! Kalian yang lain, lihat dan pelajari gerakannya!"
Seketika, ratusan kepala berbalik serentak ke arah Liam. Suara bisikan kembali bergema.
"Benar! Gerakannya sempurna sekali!"
"Cepat sekali, dia tidak salah sedikit pun!"
"Padahal tadi kelihatan diam saja, ternyata otak dan matanya secepat kilat!"
Jaka dan teman-temannya menatap dengan rasa iri dan tak percaya. Mereka yang merasa paling hebat pun masih banyak kekurangan, tapi anak baru yang mereka anggap lemah dan aneh itu... justru menjadi yang terbaik di antara semuanya.
Liam sama sekali tidak peduli keributan atau kekaguman itu. Ia menyelesaikan rangkaian terakhir dengan tenang, lalu kembali berdiri tegak diam di tempatnya, wajahnya tetap datar, dingin, dan kosong seolah tidak ada hal hebat yang baru saja ia lakukan. Baginya, itu hal biasa. Ia hanya meniru apa yang dilihat matanya, persis seperti saat ia melihat orang makan, berjalan, atau bekerja. Ia hanya meniru bentuk dan gerakan, tanpa merasa bangga atau merasa hebat.
Namun, di atas panggung, Guru Besar Ardi melihat semuanya dengan sangat jelas. Beliau melihat ketajaman mata Liam, melihat betapa cepatnya otak pemuda itu memproses informasi, melihat betapa luwesnya tubuh yang tampak kaku itu saat bergerak. Kerutan di kening beliau makin dalam. Semakin lama melihat pemuda ini, semakin banyak hal luar biasa yang ditemukan. Kecepatan menangkap ilmu setinggi ini... bukan milik manusia biasa. Ini adalah bakat alami tingkat tertinggi, atau lebih tepatnya... insting dan kemampuan bawaan dari jenis makhluk yang jauh lebih unggul.
Latihan berlanjut ke tahap selanjutnya, dan hasilnya selalu sama. Apa pun gerakan yang diperagakan, secepat apa pun perubahannya, Liam selalu bisa menangkapnya dalam sekali lihat, menirukannya dengan sempurna, bahkan sering kali menyempurnakan kekurangan kecil yang ada pada gerakan sang guru. Lama-kelamaan, rasa heran para murid berubah menjadi rasa hormat dan kagum yang mendalam. Para murid perempuan menatapnya dengan mata berbinar, sementara para pemuda yang tadinya meremehkan kini menundukkan kepala segan.
Setelah beberapa jam berlalu, matahari mulai condong ke barat, udara semakin sejuk. Guru Besar Ardi kembali melangkah ke depan, memberi isyarat agar latihan dihentikan. Semua murid segera berbaris rapi kembali, napas mereka terengah-engah lelah namun puas, kecuali Liam yang masih berdiri tegak segar bugar tanpa keringat sedikit pun di dahinya.
"Anak-anakku," suara Guru Besar terdengar berat dan serius. "Hari ini aku melihat bakat luar biasa di antara kalian. Aku melihat semangat, aku melihat ketekunan, dan aku melihat potensi besar yang bisa dikembangkan. Namun, tempat ini sudah terlalu sempit dan terbatas untuk kemampuan yang mulai tumbuh ini. Apalagi dengan berkumpulnya murid dari dua perguruan, kita butuh tempat yang lebih luas, lebih berat ujiannya, dan lebih jauh dari keramaian agar ilmu kalian bisa tumbuh murni dan kuat."
Beliau berhenti sejenak, menatap seluruh wajah di hadapannya, lalu melanjutkan dengan tegas.
"Maka dari itu, aku umumkan: Mulai besok pagi, seluruh murid laki-laki dan perempuan yang ada di sini, akan berpindah sementara tempat latihan kita. Kita akan pergi ke Lembah Kering, sebuah lembah luas yang terletak di balik bukit besar di seberang sana. Di sana medannya berat, udaranya berbeda, dan tantangannya jauh lebih besar dibandingkan halaman ini. Di sana lah kalian akan ditempa menjadi pendekar sejati."
Suara riuh rendah persetujuan terdengar dari para murid. Bagi mereka, pergi ke tempat baru yang lebih menantang adalah kehormatan dan kebanggaan besar. Hati mereka berdebar semangat membayangkan latihan di tempat yang konon penuh misteri dan ujian berat itu.
Namun, di balik semangat itu, ada satu sosok yang diam saja menatap ke arah bukit jauh itu dengan tatapan tajam dan dingin. Liam.
Ia mendengar nama tempat itu, Lembah Kering. Entah kenapa, saat nama itu disebutkan, ada rasa samar-samar berdenyut di kepalanya yang kosong. Ada rasa asing namun juga rasa yang pernah dikenal, ada rasa dingin dan gelap yang seolah menyambut namanya dari kejauhan.
Guru Besar Ardi menatap tepat ke arah Liam, mata mereka bertemu sekilas. Di dalam hati tua sang Guru, ada niat besar tersembunyi. Ia membawa mereka ke sana bukan hanya untuk latihan biasa. Ia membawa mereka ke sana karena ia tahu, di tempat yang terisolasi dan berat itu, sifat asli dan kekuatan sesungguhnya dari sosok misterius bernama Liam itu akan muncul lebih jelas lagi. Di sana lah beliau akan menemukan jawaban: Siapa sebenarnya anak muda ini, dan bahaya apa yang dibawanya.
"Persiapkan diri kalian malam ini," tutup Guru Besar Ardi. "Besok saat fajar menyingsing, kita berangkat. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang mengeluh. Kita pergi bersama, dan kita akan pulang dengan kekuatan baru."
Liam menghela napas panjang pelan, matanya kembali menatap kosong ke depan. Tempat baru, tantangan baru, dan rahasia yang makin mendekat. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Lembah Kering nanti, tapi satu hal yang pasti: perjalanan panjang untuk menemukan jati dirinya baru saja memasuki babak yang jauh lebih gelap dan lebih berat.