Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Suasana siang yang tenang perlahan berubah menjadi hangat dan intim. Setelah berkeliling cukup lama, Rendra meminta izin untuk membersihkan diri sejenak di kamar utama, meninggalkan Nara yang menawarkan diri untuk menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Di dalam kamar mandi yang luas, air hangat mengalir deras membasahi seluruh tubuh kekar Rendra. Uap panas mengepul tipis, menyelimuti ruangan itu dengan suasana yang menenangkan, namun tidak bagi pikiran pria itu.
Matanya terpejam rapat, kepalanya sedikit mendongak menghadap pancuran air. Namun, bayangan yang muncul di balik kelopak matanya bukanlah keindahan alam sekitar, melainkan wajah lembut Nara.
"Nara..." gumamnya pelan, suaranya tertelan oleh gemericik air.
Dia bisa merasakan jelas bayangan senyum wanita itu, tawa renyahnya yang baru saja dia dengar, dan sentuhan tangan halusnya yang tadi menggenggam tangannya. Bahkan di dalam imajinasinya, Rendra seakan bisa mencium aroma wangi parfum khas Nara yang bercampur dengan aroma alami tubuh wanita itu, aroma yang begitu menenangkan namun sekaligus mampu membakar hasrat di dalam dadanya.
Bayangan bagaimana rambut hitam panjang Nara berterbangan ditiup angin, bagaimana pipinya memerah saat dia menggodanya sedikit, dan bagaimana mata teduh itu menatapnya dengan penuh rasa percaya... semuanya terlihat begitu nyata.
Rendra mengepalkan tangannya di dinding keramik, napasnya mulai memburu. Dia teringat betapa rapuhnya Nara kemarin malam, namun betapa kuat dan anggunnya wanita itu hari ini. Cinta yang selama ini dia pendam, rasa protektif yang meluap-luap, dan hasrat untuk memiliki wanita itu seutuhnya kini bercampur menjadi satu, membuat darahnya berdesir panas.
"Kamu milikku, Nara... cepat atau lambat, kamu akan sadar bahwa hanya aku yang pantas mendapatkan hatimu," bisiknya serak, jemarinya perlahan bergerak menyusuri tubuhnya sendiri, seolah sedang membayangkan sentuhan itu dilakukan oleh tangan halus milik wanita yang sengat dia cintai.
Di dalam imajinasinya, Nara ada di sana, berdiri di bawah guyuran air yang sama, menatapnya dengan tatapan yang dalam dan penuh cinta. Aroma tubuh wanita itu seakan nyata menguar di udara, memabukkan akal sehatnya dan membuatnya semakin tak sabar untuk benar-benar memiliki Nara, bukan lagi sebagai istri sahabatnya, tapi sebagai wanita yang akan dia cintai seumur hidupnya.
Sementara itu didalam kamar, Nara masih terpaku di tempatnya, seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir sejenak. Telinganya tidak salah dengar, bukan? Pria di balik dinding kaca itu benar-benar menyebut namanya dengan nada desahan yang begitu berat dan penuh gairah.
"Ren..." bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya hilang tertelan udara.
Matanya tak bisa lepas memandang siluet itu. Dia bisa melihat bagaimana otot-otot kekar Rendra bergerak ritmis, bagaimana kepala pria itu mendongak seolah sedang menahan nikmat yang luar biasa, dan bagaimana tangannya terus bergerak menyentuh dirinya sendiri dengan begitu mesra.
Dan yang paling membuat jantung Nara berdebar kencang, Rendra terus menyebut namanya berulang kali.
"Nara... ah, Nara..."
Setiap kali nama itu terlontar dari bibir pria itu, dada Nara terasa berdebar kencang tak karuan. Wajahnya memanas, bukan hanya karena malu, tapi karena sebuah kesadaran yang tiba-tiba menghantam dirinya.
Jadi... wanita yang Rendra maksud tadi pagi, yang Rendra katakan sudah miliki seseorang didalam hatinya... itu adalah dirinya?
Rasa bingung, takut, namun ada getaran aneh yang menjalar hangat di seluruh tubuhnya. Selama ini dia menganggap Rendra hanya sahabat suaminya, tapi melihat pemandangan di depannya ini, mendengar desahan yang begitu penuh hasrat itu... Nara sadar, tatapan Rendra selama ini bukan sekadar tatapan teman. Ada cinta, ada rindu, dan ada hasrat membara yang selama ini pria itu pendam rapat-rapat.
"Ah... aku ingin memilikimu sekarang juga, Nara..." suara Rendra kembali terdengar, kali ini lebih serak dan berat. "Kamu terlalu indah... terlalu sempurna untuk disia-siakan oleh orang lain..."
Nara menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isakan napasnya agar tidak terdengar. Kakinya terasa lemas, dia ingin pergi, tapi tubuhnya seakan membeku, tak mampu bergerak selangkah pun.
Di dalam sana, Rendra semakin mempercepat gerakannya. Imajinasinya membawa dia pada bayangan wajah Nara yang lembut, pada aroma tubuh wanita itu yang selalu membuatnya mabuk kepayang, pada senyum manis yang baru saja dia lihat pagi ini.
Bayangan bagaimana Nara menatapnya dengan mata teduh itu kini berubah menjadi tatapan yang memabukkan di dalam pikirannya. Dia membayangkan tangan halus itulah yang sedang menyentuhnya, bukan tangannya sendiri.
"Nara... ah... ahhh..." erang Rendra, kepalanya terkulai lemas ke belakang saat gelombang kenikmatan memuncak.
Nara yang melihat itu langsung menutup matanya kuat-kuat, air mata tiba-tiba menggenang. Campuran antara rasa bersalah, rasa takut, dan rasa tersentuh karena tahu dirinya begitu diinginkan oleh seseorang membuat emosinya campur aduk.
Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur pelan, berusaha menjauh dari pintu itu tanpa membuat suara. Jantungnya berpacu begitu kencang, seakan ingin meledak. Namun saat dia baru saja berhasil memutar tubuhnya, tiba-tiba suara air di kamar mandi berhenti, dan tak lama kemudian pintu kamar mandi dibuka oleh Rendra. Nara membeku, napasnya tertahan di tenggorokan.
Rendra melangkah keluar dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya, membiarkan tubuh kekarnya yang masih basah kuyup terpapar udara ruangan. Air menetes perlahan dari ujung rambut hitamnya, mengalir melewati leher yang gagah, turun menyusuri dada bidang dan perut yang berotot, hingga hilang terserap oleh kain handuk.
"Nara...?"
Mata Rendra membelalak lebar, tubuhnya kaku seperti patung patung saat melihat Nara yang kini sedang berdiri memunggunginya.
"Kamu... sejak kapan kamu ada disini?"
Nara tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Dia memutar tubuhnya perlahan, matanya reflek menatap tubuh Rendra yang nyaris telanjang itu, lalu cepat-cepat dia membuang muka, wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Aku... aku..." ucap Nara dengan gugup. "Aku tadi memanggil-manggil kamu... tapi tidak ada jawaban. Aku pikir kamu kenapa-kenapa..." suaranya terdengar putus-putus, matanya mulai berkaca-kaca antara malu dan panik. "Aku tidak sengaja... aku tidak bermaksud mengintip, Ren. Maaf..."
Rendra tersenyum dengan wajah tenang. Wanita itu jelas-jelas melihat semuanya, mendengar desahannya, dan melihat gerakannya. Akhirnya rahasianya terbongkar, dan dia tidak perlu lagi bersandiwara. Tidak perlu lagi dia menyembunyikan api yang membara di dadanya.
Rendra perlahan melangkah maju mendekati Nara. Langkahnya tegas meski napasnya masih berat.
Nara mundur selangkah demi selangkah, punggungnya akhirnya menabrak dinding pintu, memojokkannya. Dia terperangkap. Tidak ada jalan untuk lari.
"Kamu dengar semuanya...?" tanya Rendra pelan, suaranya rendah dan berat, matanya menatap tajam kedalam manik mata Nara.
Nara mengangguk kecil dengan gemetar, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Maafkan aku... maaf aku tidak bermaksud..."
Rendra menghela napas panjang, lalu dia mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Dia bisa mencium aroma wangi tubuh Nara yang bercampur dengan aroma wangi sabun dari dirinya.
"Jangan minta maaf, Nara..." bisik Rendra, tangannya terangkat perlahan, menyentuh pipi mulus wanita itu dengan punggung tangannya yang hangat.
"Karena apa yang kamu dengar dan lihat itu... semuanya benar."
Dia terdiam sejenak, matanya menyala penuh tekad.
"Aku mencintaimu, Nara. Aku gila karenamu. Dan mulai sekarang... aku tidak akan lagi menyembunyikannya."
-
-
-
Bersambung...