Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Lulu merosot ke lantai setelah Ibunya keluar dari kamar. Di tangannya, selembar akte kelahiran asli itu terasa begitu berat. Lucinda Erin. Nama yang seharusnya membawa kedamaian, kini justru terasa seperti ejekan bagi hidupnya yang sedang porak-poranda.
Ia teringat betapa polosnya dia selama ini. Ia membiarkan Arlan memanggilnya "Lulu" dengan nada manis yang ternyata hanya racun. Ia membiarkan seluruh sekolah mengenal nama yang salah, sementara identitas aslinya tersimpan rapi dalam map tua yang berdebu.
Puk! Puk!
Bunyi kerikil menghantam kaca jendela. Lulu tersentak. Harapan itu—harapan bodoh yang seharusnya sudah mati—tiba-tiba berdenyut lagi.
Arlan? Apa dia batal berangkat? Apa dia turun dari pesawat cuma buat minta maaf?
Lulu berlari ke jendela. Kepolosannya membuat dia lupa kalau Arlan tadi sudah di berita bandara, siap terbang ke Inggris. Dengan napas memburu, Lulu membuka jendela lebar-lebar.
Namun, di bawah sana, di atas motor yang mesinnya sengaja dibiarkan menderu, hanya ada Reno dan Gani. Mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Lulu yang muncul dengan tatapan penuh harap.
"Woi! Nyari siapa, Lu? Nyari Arlan?" teriak Reno sambil menunjuk ke arah langit yang gelap. "Pesawatnya udah lepas landas kali! Dia udah terbang ke Inggris, duduk manis di Business Class sambil ngetawain lo!"
Gani ikut berteriak dari boncengan, "Lo pikir dia bakal balik? Arlan bilang tadi di telepon, misi dia udah selesai begitu lo pingsan di koridor kemarin! Dia dapet duit taruhan, dan sekarang dia bakal nyari cewek bule yang jauh lebih berkelas dari lo!"
Lulu mencengkeram kusen jendela sampai jari-jarinya memutih. "Dia... dia benar-benar pergi?"
"Iya, bego! Dia pergi bawa kemenangan, dan lo ditinggalin di sini bareng sampah-sampah buku lo yang udah jadi abu!" Reno melempar satu kerikil lagi yang hampir mengenai wajah Lulu. "Jangan nungguin dia lagi. Mending lo urusin tuh reputasi lo yang udah busuk satu kota!"
Reno menggeber motornya, suaranya sangat bising di tengah malam yang sunyi, lalu mereka melesat pergi meninggalkan kepulan asap knalpot yang menyesakkan.
Lulu menutup jendela dengan tangan gemetar. Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya erat-erat. Benar. Arlan sudah pergi. Arlan sudah bebas, sementara Lulu terjebak di dalam penjara yang diciptakan Arlan di rumahnya sendiri.
Ia melihat kembali akte kelahirannya. Nama Lucinda Erin itu kini basah terkena air matanya.
"Dia bahkan nggak tahu namaku yang sebenarnya," isak Lulu di tengah kegelapan kamar. "Dia cuma kenal Lulu yang bisa dia injak-injak. Dia pergi bahkan tanpa tahu siapa aku yang asli..."
Lulu merasa sangat kecil dan tidak berarti. Di usia 16 tahun, dia baru saja menyadari bahwa dia hanyalah sebuah "proyek" yang sudah selesai dikerjakan, dan sang pemilik proyek sudah pindah ke negara lain untuk merayakan keberhasilannya.
Ia mengambil pulpen di atas meja, lalu di balik akte itu—di bagian kosongnya—ia menuliskan sebuah kalimat dengan tulisan yang hancur berantakan:
Arlan pergi ke Inggris sebagai pemenang. Aku tinggal di sini sebagai Lucinda yang kalah.
Malam itu, kepolosan Lulu benar-benar mati. Tidak ada lagi harapan untuk Arlan kembali. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang luar biasa dan sebuah nama asing yang diberikan orang tuanya, nama yang kini ia benci karena terasa terlalu suci untuk gadis sehancur dirinya.