Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
Malam turun lebih cepat dari biasanya, atau setidaknya begitulah yang terasa bagi Zevarion Hale. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, membentuk garis cahaya panjang di antara jalan raya dan gedung tinggi yang berdiri rapat. Dari jendela apartemennya di lantai atas, ia memandang ke luar tanpa benar-benar melihat pemandangan di hadapannya. Matanya tertuju ke kota, tetapi pikirannya masih tertahan di taman kampus sore tadi.
Ia masih mengingat pertanyaan Airel dengan terlalu jelas. Cara gadis itu menatap lurus tanpa ragu, seolah siap menerima jawaban apa pun yang keluar darinya. Tidak ada nada menuduh, tidak juga memohon, hanya keinginan tulus untuk mengerti. Justru karena itu, Zev merasa lebih sulit menjawab.
Kamu sengaja menghindari aku?
Kalimat sederhana itu terus terulang di kepalanya. Lalu disusul jawabannya sendiri yang terdengar kaku dan hambar. Ia bahkan masih bisa merasakan berat saat mengucapkan kalimat terakhir sebelum pergi.
Kamu sebaiknya enggak terlalu dekat sama aku.
Zev mengembuskan napas perlahan. Ia tahu ucapan itu terdengar dingin, bahkan bisa dianggap kasar jika didengar orang lain. Namun menurutnya, itu jauh lebih aman dibanding mengatakan sesuatu yang bahkan belum bisa ia pahami sendiri.
Ia melepas jam tangan dari pergelangan, meletakkannya di meja dekat sofa, lalu berjalan ke dapur. Langkahnya tenang dan teratur seperti biasa, nyaris tanpa bunyi. Ia mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin, lalu meneguk setengahnya dalam sekali minum.
Dari luar, ia tampak sama seperti setiap malam. Pria yang hidup dengan jadwal rapi, kebiasaan teratur, dan ekspresi yang sulit ditebak. Namun malam ini, ketenangan itu hanya berada di permukaan. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus bergerak tanpa arah.
Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Airel muncul.
Bukan hanya wajah gadis itu sekarang. Bukan sekadar rambut yang tertiup angin atau mata yang menatapnya dengan tenang. Ada hal lain yang datang bersamaan dengannya, sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam. Seperti pintu lama yang lama terkunci, lalu mulai bergetar dari sisi dalam.
Zev meneguk sisa air di gelas, lalu meletakkannya sedikit lebih keras dari niat awalnya. Bunyi kaca menyentuh meja terdengar jelas di ruangan yang sepi. Ia memijat pelipis sambil menunduk beberapa saat.
“Apa sebenarnya ini…” gumamnya rendah.
Tidak ada jawaban selain suara pendingin ruangan yang halus. Ia berjalan ke kamar, membuka laptop, lalu menyalakan beberapa dokumen kerja. Deretan angka, jadwal rapat, catatan proyek, dan tabel laporan memenuhi layar. Biasanya hal-hal seperti itu cukup membuat pikirannya kembali lurus.
Hal yang bisa dihitung selalu lebih mudah dihadapi daripada perasaan yang tidak punya bentuk.
Namun malam ini, bahkan angka gagal menahannya. Baris tulisan mulai terlihat kabur bukan karena matanya lelah, tetapi karena fokusnya terus pecah. Di sela kolom laporan, ia justru melihat kilasan wajah seseorang.
Zev menutup laptop perlahan. Ia menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur, lalu memejamkan mata.
Hanya sebentar, pikirnya.
Namun begitu gelap menutup pandangannya, sesuatu langsung datang.
Suara hujan.
Bukan hujan yang jatuh tenang dari kejauhan, melainkan deras dan dekat. Air menghantam tanah, atap, pagar besi, dan sesuatu dari seng dengan ritme berantakan. Suara itu terlalu jelas untuk disebut bayangan biasa.
Zev membuka mata cepat.
Napasnya sedikit berat. Kamar kembali sunyi. Tidak ada hujan di luar, hanya malam yang tenang dan lampu kota yang tetap menyala.
Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu tersenyum tipis tanpa rasa lucu.
Lelah, mungkin.
Ia memejamkan mata lagi.
Kali ini suara itu datang lebih lengkap. Hujan masih deras. Ada hembusan angin yang memotong suara air. Lalu di antaranya, terdengar langkah kaki kecil yang berlari tergesa-gesa.
Zev mengerutkan kening.
Sebuah bayangan samar muncul. Jalan setapak yang basah. Genangan air memantulkan cahaya lampu kuning redup. Seseorang berlari di depan. Tubuhnya kecil dan pendek, tetapi wajahnya tertutup kabut tipis yang tak bisa ditembus.
Lalu terdengar suara anak kecil.
“Tunggu…”
Suara itu jauh, terputus, dan tidak jelas apakah memanggilnya atau orang lain. Namun entah kenapa, kata sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.
Zev membuka mata lagi. Kali ini ia langsung duduk tegak di tepi tempat tidur. Kedua tangannya bertumpu pada lutut, sementara napasnya naik turun lebih cepat dari biasanya. Keringat tipis muncul di tengkuk.
“Apa ini…” bisiknya.
Ia bukan orang yang mudah dipengaruhi mimpi. Ia juga tidak suka memikirkan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Selama ini hidupnya dibangun dari keputusan nyata, target jelas, dan jarak aman dari masa lalu yang tak perlu disentuh lagi.
Namun sejak bertemu Airel, semuanya mulai terganggu.
Nama itu terlintas lagi.
Airel.
Dan bersama nama itu, datang rasa sesak yang aneh, seperti rindu yang tidak punya asal.
Zev bangkit lalu berjalan ke balkon. Udara malam menyentuh wajahnya dan sedikit membantu menenangkan kepala yang terasa penuh. Dari bawah, suara kendaraan terdengar samar. Langit gelap menggantung tanpa bintang yang jelas.
Tanpa sadar, jemarinya mengepal.
Begitu ia menutup mata sekali lagi, bayangan lain datang.
Bukan jalan setapak kali ini.
Melainkan tempat berteduh kecil di pinggir jalan. Atap seng. Bau tanah basah. Suara hujan memukul sisi bangunan. Dan di sudut tempat itu, ada seseorang yang sedang menangis.
Tangisnya tertahan, seperti berusaha diredam agar tidak terdengar. Justru karena itu, suaranya terasa lebih menusuk.
Zev mencoba melihat lebih dekat. Sosok itu kecil, duduk meringkuk dengan bahu bergetar. Rambutnya basah menempel di kepala. Namun wajahnya tetap tak terlihat jelas.
Ia melangkah mendekat dalam bayangan itu.
Begitu jarak hampir cukup untuk melihat siapa orang tersebut, semuanya pecah begitu saja.
Zev tersentak dan membuka mata. Tangannya sudah mencengkeram pagar balkon begitu erat sampai buku-buku jarinya memucat. Napasnya tercekat beberapa detik sebelum akhirnya keluar kasar.
Ia menunduk, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ini bukan mimpi biasa.
Terlalu tajam. Terlalu terasa nyata. Dan yang paling mengganggu, emosi di dalamnya ikut terbawa ke dunia nyata.
Panik.
Takut.
Dan keinginan kuat untuk melindungi seseorang.
Zev menutup mata lagi, kali ini dengan sengaja. Ia memaksa dirinya kembali ke potongan tadi. Hujan deras. Suara tangis. Langkah kecil berlari.
Lalu suara lain terdengar.
Lebih dekat.
Lebih lembut.
“Jangan nangis…”
Kalimat itu membuat jantungnya berdebar keras. Suara anak laki-laki. Masih muda. Masih polos.
Dan terasa seperti suaranya sendiri.
Zev membuka mata kasar.
“Cukup.”
Kata itu keluar rendah dan tegas, seperti perintah yang diarahkan pada dirinya sendiri. Ia masuk kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Namun bayangan tadi tidak ikut tertinggal di luar. Semuanya masih berada di kepalanya.
Ia mengambil segelas air lagi dan meminumnya sekaligus. Tangannya sedikit gemetar saat menaruh gelas. Hal seperti itu sangat jarang terjadi padanya.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Wajah yang ia kenal.
Nama yang ia gunakan.
Hidup yang ia jalani sekarang.
Semuanya terasa nyata dan jelas.
Lalu kenapa potongan-potongan asing itu muncul seolah menuntut tempat? Kenapa semuanya mulai datang setelah Airel hadir di hadapannya?
Zev memejamkan mata perlahan. Nama gadis itu kembali terdengar di kepalanya, bercampur dengan suara tangis samar dari kilasan tadi. Tidak masuk akal, tetapi terlalu kuat untuk diabaikan.
Malam itu ia tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring sambil memandang langit-langit, lalu sesekali menutup mata dan membukanya kembali ketika suara hujan seolah datang dari tempat yang jauh. Waktu bergerak lambat sampai cahaya pagi akhirnya masuk melalui celah tirai.
Keesokan harinya, Zev datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin dan halaman belum ramai. Beberapa petugas kebersihan sedang menyapu daun kering di jalur pejalan kaki. Kampus terasa tenang, hampir seperti kota yang belum sepenuhnya bangun.
Ia berjalan melewati taman tempat ia berbicara dengan Airel kemarin.
Langkahnya sempat terhenti.
Di bangku yang sama, sisa daun kering menumpuk tipis. Tidak ada siapa pun di sana. Namun melihat tempat itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa berat lagi.
Ia mengalihkan pandangan dan melanjutkan jalan.
Di koridor gedung utama, mahasiswa mulai berdatangan satu per satu. Suara percakapan kecil memenuhi lorong, pintu kelas dibuka, langkah kaki saling bersahutan. Zev berjalan lurus sambil berusaha menjaga pikirannya tetap kosong.
Lalu dari kejauhan, ia melihat Airel.
Gadis itu berdiri sambil merapikan buku di tangannya. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin dari jendela samping. Dari luar, ia tampak seperti biasa. Tenang. Tidak mencolok. Namun saat Zev melihatnya, semua kekacauan malam tadi datang lagi sekaligus.
Hujan.
Tangisan kecil.
Suara memanggil.
Langkah kecil berlari.
Tubuh Zev menegang. Langkahnya berhenti sepersekian detik.
Airel menoleh, menyadari keberadaannya. Tatapan mereka bertemu di tengah lorong yang mulai ramai.
Dan anehnya, kebisingan di kepalanya justru sedikit mereda.
Seolah pusat dari semua kekacauan itu berdiri tepat di hadapannya.
Airel tampak hendak mengatakan sesuatu. Bibirnya sedikit terbuka, tangannya bergerak kecil di sisi buku yang ia pegang. Namun Zev lebih dulu mengalihkan pandangan.
Ia berbelok ke lorong lain tanpa mendekat.
Jarak.
Ia butuh jarak.
Karena semakin dekat gadis itu berada, semakin banyak sesuatu yang lama terkunci mulai terbuka. Dan ia belum siap melihat apa yang menunggu di balik pintu itu.
Di belakangnya, Airel masih berdiri menatap arah ia pergi.
Sementara Zev terus melangkah dengan rahang mengeras dan napas tertahan.
Kini ia tahu satu hal yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Masa lalu yang ia kira telah hilang belum benar-benar pergi.
Ia hanya tertidur.
Dan Airel, dengan kehadirannya, sedang membangunkannya perlahan.