Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL 25
Raden Kirana Wijaya tak sengaja melihat salah satu karyawati ayahnya yang bertubrukan dengan seorang pria tua yang mungkin umurnya tak jauh beda dengan sang Ayah.
Pria itu tampak angkuh.
Rana bangkit dari duduknya dan berjalan santai menghampiri pria itu yang sedang mencerca seorang wanita muda yang usianya mungkin baru dua puluh dua tahun berdiri menunduk, tak berkutik.
"Apa matamu disimpan di dengkul?!" tanyanya kasar.
"Maaf, tuan. Saya tidak sengaja menabrak tuan," ucapnya dengan suara bergetar.
Laki-laki itu berkecak pinggang menatap tajam kepada si wanita muda. Dengan angkuh pria itu menunjuk-nunjuknya kasar.
"Saya akan memaafkan kamu kalau kamu mau berlutut dihadapan saya sekarang!"
Rana mendekat, "ada apa ini?"
Semua orang yang bergerombol itu membuka jalan untuk putri semata wayang presiden perusahaan mereka. Rana berdiri, melipatkan kedua tangannya seraya menatap pria angkuh tersebut.
"Tuan, aku dengar dia sudah meminta maaf barusan." Ujar Rana.
Pria itu menoleh ke arah sumber suara, lalu terkekeh pelan. "Minta maaf? Apa semua perempuan di perusahaan ini ceroboh dan tidak tahu malu?" tanyanya dengan nada sombong.
Rana tersenyum kecil, lalu menatapnya. Masih dengan wajah tenang, elegan.
"Tuan, jika kata maaf tidak membuatmu memberikan kelembutan anda, tolong jangan sampai merendahkan seorang perempuan."
"Pak Bram, ada orang yang menyalakan kamera ponsel mereka. Saya mohon redam amarah anda," bisik seorang laki-laki yang datang dengannya.
Pria itu menatap sekeliling lalu dengan kasar membenarkan jasnya, Rana tahu. Jas yang di pakai laki-laki itu memang bernilai tinggi.
Pria yang bernama Pak Bram itu langsung pergi dan di ikuti oleh laki-laki barusan, mungkin sekretaris atau orang kepercayaannya. Rana gegas membantu wanita itu untuk bangun dari lantai. Alaric yang melihat kejadian barusan berlari ke arah bundanya.
"Bundaaa..." serunya, tiba-tiba saja ia mengacungkan kedua jempol tangannya. "Keren...Bunda keren banget." Seru bocah itu membuat Rana terkekeh.
"Yuk! Kita makan siang dulu," ajak Rana seraya menggandeng jemari kecil Alaric menuju cafetaria.
Rana dan Alaric gegas menuju cafetaria. Sebelumnya ia melihat pria tadi berjalan tergesa menuju lift.
Pak Bram? Gumam Rana, nama itu tidak asing di telinganya. Barusan ia mendengar nama itu dari mulut sekretaris ayahnya, lalu ia kembali teringat suaminya yang beberapa kali mengatakan nama itu.
Mungkin hanya sama saja. Rana dan Alaric berjalan ringan menuju cafetaria. Ia mengantri seperti para karyawan perusahaan ayahnya. Rana memang sederhana, tidak menonjolkan dirinya siapa.
~
Di parkiran mobil.
Jarum jam tangan Rana menunjukan pukul setengah dua siang. Alaric terlihat butuh istirahat setelah makan. Matanya terlihat mengantuk, bahkan dirinya sudah teringat dengan putri kecilnya di rumah.
"Bunda...ngantuk..." sahut Alaric manja.
Rana tersenyum mengelus pucuk kepala putranya lembut. "Kamu tidur aja di mobil, nanti kalau kita sampai di rumah bunda bangunin kamu."
"Okey,"
Alaric membuka pintu mobil, Rana berlari kecil menuju pintu lainnya. Saat ia hendak membuka pintu mobil, tangannya berhenti bergerak ketika ia tak sengaja mendengar suara seseorang yang tengah berbicara di telpon.
Pria tadi!
Pak Bram.
Rana diam-diam menguping.
"Sialan! Wijaya sama sekali tidak mau bekerja sama. Laras! Kamu harus melancarkan semuanya. Buat suami anaknya tunduk sama kamu! Setelah itu, perlahan kamu ambil alih perusahaan Adhikara! Biar si Wijaya itu tahu rasa kalau bermain-main denganku!"
Deg!
Rana menelan ludahnya. Apakah tuan ini mengenali suamiku? Apa maksudnya? Laras? Apakah nama yang sama dengan teman lamanya Mas Dipta?
"Bunda...ayo!!! Kok lama?" seru anaknya membuat Rana cepat-cepat membuka pintu mobil.
Pria yang mungkin saja sekretaris Pak Bram menoleh sejenak ke arah pergerakan Rana. Namun pria itu sama sekali tidak mengetahui atau bahkan belum mengetahui wanita ini.
Rana diam.
"Ada apa, Bunda?" tanya Alaric lesu karena mengantuk.
Rana menoleh, tersenyum kecil. "Tidak, ayo kita pulang. Di rumah pasti Masayu nunggu kita di rumah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adhikara Pradipta Mahendra.
Seorang pebisnis muda yang terkenal dengan kepribadian dingin itu menoleh ke arah sumber suara. Sekretarisnya- Hamdan mengatakan kalau besok pagi ada jadwal mendadak.
"Bali?" tanya Dipta seraya mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca.
"Iya, Pak." Sahutnya seraya membaca buku agendanya. "Besok pagi pukul sembilan. Forum investor nasional. Hampir seluruh pemilik perusahaan besar di undang."
Dipta melipat koran, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Forum investor?"
"Iya, pak. Kabarnya akan ada pembahasan proyek pengembangan kawasan premium terpadu...hunian, pusat komersial, hotel, sampai kawasan lifestyle berkelas internasional."
Alis Dipta terangkat tipis.
"Skalanya besar."
"Sangat besar, Pak. Nilai investasinya diperkirakan menembus triliunan."
ketika Hamdan hendak membuka map hitam, tiba-tiba ponsel milik Dipta berdering. Dipta menatap layar ponselnya yang tergeletak di meja, dari istrinya.
"Kamu atur jadwalnya, nanti kamu kirim filenya. Aku harus pulang sekarang." Ucap Dipta seraya meraih ponselnya dan beranjak bangkit dari duduknya.
"Baik, Pak." Ujar Hamdan mengangguk paham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara makan malam yang di gelar di salah satu restaurant terbaik di Yogyakarta berjalan dengan lancar. Hidangan sudah tersaji di meja, Rana dan Dipta duduk mengapit kedua anaknya. Lalu Tuan Astawinata Wijaya pemilik Wijaya grup itu duduk dengan istrinya yang usianya sudah beranjak di angka 55 tahun, namun kecantikannya masih menggurat di wajah teduhnya. Di hadapan Pak Wijaya dan Nyonya Raden Inggit Wijaya duduk juga kedua orang tua Dipta.
Tuan Mahendra Putra Pratama, pemilik perusahaan Interior terbesar itu duduk disebelah istrinya yang usianya satu tahun lebih tua dari ibunya Rana. Seorang dokter anestesi, konsultan dan guru besar fakultas kedokteran bernama dr. Rania Hirata, Sp.An( K). Mereka duduk tenang.
Tuan Mahendra mengangkat gelasnya.
"Beberapa bulan terakhir proyek interior premium kami mengalami peningkatan permintaan cukup signifikan. Terutama dari sektor hospitality dan hunian elit."
Pak Wijaya mengangguk kecil.
"Pasar properti memang sedang bergeser. Orang tak lagi hanya membeli bangunan, tapi membeli kenyamanan dan identitas."
Tuan Mahendra tersenyum.
"Tepat sekali. Karena itu saya banyak menyerahkan ekspansi lini bisnis pada Dipta."
Sorot mata Pak Wijaya kini beralih pada menantunya.
"Dipta."
Dipta menegakkan duduknya.
"Ya, Ayah."
"Ayahmu mengatakan kamu yang memegang penuh arah perusahaan sekarang."
"Belum sepenuhnya. Saya masih banyak belajar. Tapi untuk divisi pengembangan dan ekspansi pasar, memang saya yang menangani."
Pak Wijaya menyilangkan jemarinya di atas meja.
"Lalu menurutmu, kemana arah industri interior dan furnitur premium lima tahun ke depan?"
Dipta terdiam sejenak, menyusun kata-kata.
"Pasar akan bergerak ke arah personalisasi dan integrasi teknologi."
Tuan Mahendra dan Pak Wijaya sama-sama menatapnya.
Dipta melanjutkan dengan tenang.
"Klien kelas atas tak lagi mencari sofa mahal atau meja impor semata. Mereka mencari pengalaman tinggi, smart living, sustainable material, desain eksklusif, dan identitas ruang yang mempresentasikan status sosial mereka."
Pak Wijaya mengangkat alis kirinya tipis, tertarik.
"Menarik."
Dipta menambahkan, "karena itu saya sedang menyiapkan lini furnitur premium custom made dengan tekhnologi smart integration. Sistem pencahayaan otomatis, material ramah lingkungan, sampai pengaturan ruang berbasis AI."
Tuan Mahendra tersenyum bangga.
Sedangkan Pak Wijaya justru menyandarkan tubuhnya, menatap Dipta cukup lama sebelum berkata..
"Visimu, besar."
Ia berhenti sejenak.
"Namun bisnis besar bukan hanya soal visi. Melainkan daya tahan saat di hantam kegagalan."
Suasana meja mendadak sedikit hening. Pak Wijaya menatap lurus kemata Dipta.
"Kalau suatu hari seluruh proyekmu runtuh, investor pergi, dan pasar menolakmu...apa yang akan kamu pertahankan terlebih dahulu?"
Dipta mengepalkan jemari di bawah meja, lalu menjawab mantap.
"Nama baik perusahaan. Karena modal bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan...hanya datang sekali."
Senyum tipis muncul di wajah Pak Wijaya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat benar-benar puas.
"Jawaban yang bagus." Ujarnya, lalu menoleh ke arah Rana. "Rana, jika suatu saat kamu ingin kembali, belajarlah pada menantu ayah ini."
Rana tahu maksud ayahnya, dia sedang memuji suaminya. Rana menoleh ke arah Dipta yang tertunduk lalu tersenyum tipis dengan perasaan bangga.
"Ya, Ayah."
...****************...
Jangan skip-skip ya🙏🙏🙏
Mohon bantu Yehppee di karya pertamaku disini😘
Kira-kira, kenapa Mas Dipta hanya menunduk saja pas waktu ayah mertuanya memuji dirinya?
Bersambung...