Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masak untuk sang suami
Semalam Arumi tidur cukup nyenyak, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Kini ia sudah tidur di kamar yang disediakan Elang, sementara Elang tidur di kamarnya sendiri.
Kamar yang di gunakan Arumi sangat nyaman. Meskipun hanya beralaskan busa, Elang membeli busa berkualitas dengan ketebalan sekitar tiga puluh sentimeter. Busa itu tebal seperti spring bed dan tidak terasa panas saat digunakan untuk tidur. Harganya pun mahal, apalagi sekelas penjual bakso bakar.
"Ah! Alhamdulillah, ternyata sudah subuh!" Arumi menggerakkan badannya,melemaskan otot yang terasa kaku .
Setiap subuh, tanpa ada yang membangunkan, Arumi pasti terbangun sendiri. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan sejak masih tinggal di rumahnya Arumi bergumam pelan sambil bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Setelah selesai menunaikan sholat Subuh, ia segera menuju dapur untuk memasak.ia mencuci beras, memasukkannya ke rice cooker, lalu menekan tombol "cook".
"Aku masak apa ya?" gumam Arumi sendiri sambil menggaruk kepala.
"Enaknya masak apa? Mas Elang kesukaannya apa? Semalam aku lupa bertanya padanya. Dia ingin dimasakkan apa?"
Arumi bergumam sambil membuka pintu kulkas. Matanya menyusuri isi kulkas yang isinya cukup lengkap setelah kemarin ia belanja. Setelah berpikir sebentar,ia memutuskan menu sederhana tapi enak.
"Sebaiknya aku masak tumis buncis dan ayam goreng saja. Siapa tahu dia suka. Nanti aku akan tanya langsung apa yang dia suka dan tidak suka, biar aku lebih mudah menyiapkan makanan untuknya."
Arumi segera mengambil daging ayam dan seikat buncis segar. Dengan teliti ia membersihkan, memotong-motong, dan mulai memasak. Bau harum tumisan buncis bercampur bawang putih dan cabai mulai menyebar di dapur kecil itu. Ayam gorengnya pun mulai berwarna keemasan yang menggugah selera.
"Alhamdulillah! Akhirnya masakanku selesai juga!"
Setelah hampir satu jam berperang dengan alat dapur, semua hidangan sudah matang. Arumi tersenyum lebar, sangat senang karena untuk pertama kalinya ia bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya
"Semoga mas Elang suka."
"Ah, sebaiknya aku buat bekal untuk makan siang nanti. Daripada makan di kantin, lebih hemat kalau bawa bekal sendiri," gumamnya
Arumi mulai mencari-cari tempat bekal di dapur. "Waduh, di mana dia meletakkan kotak bekalnya?"
"Khem! Khem!"
Suara deheman pelan terdengar dari belakang. Arumi terlonjak kaget.
"Astaghfirullah! Mas Elang!"
Arumi mengelus dada sambil menoleh ke belakang. Ternyata Elang sudah berdiri di sana, mengenakan kaus rumah yang sederhana. Karena terlalu fokus mencari kotak bekal, ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Elang
"Begitu saja kamu kaget. Makanya jangan sering melamun," kata Elang dengan nada santai, tapi ada sedikit bercanda ada nada geli di suaranya.
"Habis aku nggak tahu kalau Mas sudah ada di belakangku," jawab Arumi dengan tersipu malu.
"Habis kamu terlalu fokus. Sampai nggak sadar aku sudah berdiri di sini,"
"Iya, Mas. Mungkin aku memang terlalu fokus," Arumi mengakui. Apa yang dikatakannya memang benar.
"Memang kamu lagi mencari apa?" Elang menyandarkan tubuh ke meja dapur.
"Em … ini, aku lagi nyari kotak bekal yang biasa Mas pakai untuk bawa bekal ke kantor," jawab Arumi masih sibuk mencari.
Elang tertawa kecil. "Mau kamu cari sampai lebaran pun nggak bakal ketemu."
Arumi langsung menatapnya dengan heran. "Hah? Maksud Mas apa? Memang Mas nggak pernah bawa bekal ke kantor?"
"Memang aku nggak pernah bawa bekal kalau kerja," jawab Elang santai sambil menarik kursi dan duduk di depan meja makan.
Arumi mengerutkan kening. Biasanya orang yang bekerja sering membawa bekal untuk menghemat pengeluaran. Tapi Elang ternyata berbeda.
"Memang kenapa kamu mencari kotak bekal?"
"Rencananya aku mau buat bekal untuk Mas dan untuk aku juga. Dengan bawa bekal, kita bisa sedikit berhemat. Nggak perlu sering-sering makan di luar atau di kantin,"
Elang terdiam sejenak, seolah sedang berpikir. Wajahnya tampak serius.
"Mas? Mas kenapa? Kok malah diam?" Arumi memanggilnya berusaha menyadarkannya dari lamunan.
"Maaf. Apa yang kamu katakan ada benarnya. Selama ini aku memang nggak pernah bawa bekal karena selalu pesan di warung langganan. Jadi aku nggak pernah masak sendiri."
Arumi tersenyum lega. "Mas Elang mau nggak aku bawain bekal untuk makan siang nanti?"
"Elang mengangguk pelan. "Boleh."
"Baiklah. Tapi masalahnya, Mas nggak punya kotak bekal. Jadi mau bawa bekalnya pakai apa?"
"Pakai kertas nasi saja. Sepertinya ada di gerobak bakso bakar,"
"Boleh juga itu, Mas. Sementara pakai kertas nasi dulu. Nanti sepulang kerja aku akan beli kotak bekal untuk kita berdua. Supaya lebih irit," usul Arumi
"Itu terserah kamu. Tap i… kamu masih punya uang?" tanya Elang hati-hati takut Arumi tersinggung .
"Masih, Mas. Kemarin uang dari Mas nggak aku habiskan semua kok,"
"Kalau habis, bilang saja. Nanti aku kasih lagi," ucap Elang lembut.Arumi hanya mengangguk
"Ya sudah. Aku mandi dulu ya," kata Elang sambil bangkit dari kursi.
"Iya, Mas. Aku juga mau beres-beres dulu," sahutku.
"Nggak usah,nanti aku yang akan bereskan semua ,Kalau kamu sudah selesai di dapur, langsung mandi saja. Nanti kesiangan," perintah Elang dengan nada yang lembut tapi tegas.
Arumi mengangguk patuh. "Iya, Mas."
Arumi sangat bersyukur bisa bersama Elang. Walaupun mereka masih terasa asing, sikap elang sangat baik. Dulu, saat Arumi tinggal di rumah bersama Ayah dan ibu tirinya ,ia diperlakukan seperti orang asing, bahkan seperti pembantu. Sekarang, meski pernikahan mendadak, Elang memperlakukan Arumi dengan hormat.
Setelah Elang masuk ke kamar mandi, Arumi segera membereskan sisa-sisa memasak. Piring-piring kotor ia cuci bersih, kompor ia lap hingga mengkilap, dan meja dapur ia rapikan. Tak sampai lima belas menit, dapur sudah kembali rapi.
Arumi lalu mandi dengan cepat. Air hangat pagi itu terasa menyegarkan. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana tapi rapi blus putih dan rok hitam panjang. Rambutnya di sisir rapi dan wajahnya diberi sedikit bedak serta lipstik tipis.
Ketika Arumi keluar dari kamar, Elang sudah duduk di meja makan. Ia mengenakan kemeja biru tua yang membuatnya terlihat gagah. Aroma sabun mandi masih menempel di tubuhnya.
"Kita sarapan bersama ya," ajak Elang dengan senyum diwajahnya .
Arum tersenyum dan segera menyajikan nasi hangat, tumis buncis yang masih mengepul, serta ayam goreng yang renyah. Kami duduk berhadapan. Untuk pertama kalinya, kami sarapan bersama sebagai suami-istri.
Elang mengambil nasi dan mencoba tumis buncis. Ia mengunyah pelan, lalu mengangguk. "Enak. Kamu masaknya lumayan."
Wajah Arumi langsung memerah karena senang. "Alhamdulillah. Terima kasih, Mas."
Mereka makan dalam suasana yang tenang. Sesekali Elang bertanya tentang kebiasaan Arumi di rumah dulu, dan Arumi bercerita ,Elang mendengarkan dengan saksama, Arumi merasa didengarkan ,sesuatu yang jarang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya .
Setelah sarapan selesai, Arumi segera menyiapkan bekal. Karena tidak ada kotak bekal, ia membungkus nasi, tumis buncis, dan ayam goreng dengan kertas nasi bersih yang memang ada di dekat gerobak bakso bakar. Ia membungkus dua porsi dengan rapi, satu untuk Elang dan satu untukku.
"Ini bekalnya, Mas," kata Arumi sambil menyerahkan bungkusan itu.
Elang menerimanya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Arumi."
Arumi berangkat bersama Elang mengendarai motornya dengan pelan, Arumi duduk di belakang sambil memegang erat pinggang Elang. Angin pagi yang sejuk menerpa wajah kami. Meski pernikahan kami masih terasa aneh, ada rasa hangat yang mulai tumbuh di dada.
Sepanjang perjalanan, Arumi berpikir banyak hal. Bagaimana caranya agar dia bisa menjadi istri yang baik untuk Elang? Bagaimana agar ia nyaman pulang ke rumah setiap hari? Arumi berjanji dalam hati akan belajar memasak menu-menu favorit Elang,dan nanti malam ia akan bertanya lebih banyak tentang kesukaan Elang.
Sesampainya di depan kantor Arumi, Elang menghentikan motornya.
"Hati-hati di kantor ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku," pesan Elang
"Iya, Mas. Mas juga hati-hati," balas Arumi
Elang mengangguk, lalu berjalan memarkirkan motornya yang ada di belakang gedung utama . Arumi menatap punggung Elang yang menjauh dengan perasaan campur aduk senang, gugup, dan sedikit bahagia.
---
Sepanjang hari di kantor, pikiran Arumi sering melayang ke Elang. Ia membayangkan wajah Elang saat makan bekal yang dia buat. Apakah ia suka? Apakah ia merasa terawat?
Pulang kerja nanti, Arumi berencana membeli kotak bekal yang bagus. Mungkin dua buah yang senada, supaya terlihat serasi. Ia juga ingin membeli bumbu-bumbu dapur tambahan agar bisa mencoba masakan baru besok.
Malam nanti, setelah pulang, Arumi ingin membuat teh hangat untuk Elang. Mungkin mereka bisa duduk sebentar di ruang tamu, mengobrol ringan tentang hari masing-masing. Dia ingin belajar mengenal suaminya lebih dalam, langkah demi langkah.
Meski pernikahan ini datang secara mendadak, Arumi yakin Allah telah menyiapkan jalan yang terbaik. Ia hanya perlu sabar, ikhlas, dan berusaha menjadi yang terbaik untuk Elang.
Saat matahari mulai condong ke barat, Arumi tersenyum sendiri di meja kerjanya. Hari pertama memasak untuk suami ternyata memberi perasaan yang luar biasa. Ada rasa bangga dan harapan yang tumbuh di hati.
"Ini baru permulaan," gumam Arumi pelan. "Semoga kita bisa menjalani semuanya dengan baik, Mas Elang."