Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Ke-esokan harinya mikayla memutuskan kembali ke Jakarta tapi tidak kerumah melainkan ke apartemen kecil yang ia beli, bahkan ia tak lagi bisa menangis mikayla yang dulu begitu taat agama kini seperti orang yang berbeda, bahkan berani meminum alkohol hingga mabuk.
Rasya menatap sahabatnya dengan sendu bahkan menangis, gadis yang berhijab itu tak berani menegur atau menasehati jiwa yang terluka, bukan hanya suaminya, tapi kakak dan orangtuanya ikut menghancurkan hati dan hidupnya.
Apartemen kecil itu terasa pengap, kontras dengan kemewahan rumah Elang yang baru saja ia tinggalkan. Di atas meja kayu minimalis, botol-botol minuman keras berserakan. Mikayla duduk di lantai, bersandar pada sofa, matanya merah namun kering—tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk dikuras.
Rasya berdiri di ambang pintu dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya setelah salat Subuh. Ia menatap sahabatnya dengan hati yang hancur. Mikayla yang ia kenal adalah wanita yang lembut, yang suaranya selalu tenang saat melantunkan ayat suci, kini tampak seperti raga kosong yang kehilangan arah.
"Mika..." suara Rasya bergetar, tertahan di tenggorokan.
Mikayla menuangkan cairan bening itu ke gelasnya lagi, lalu tertawa getir. "Kenapa, Ras? Kamu mau bilang ini dosa? Kamu mau bilang Tuhan sedang mengujiku?"
Rasya menggeleng pelan, air matanya jatuh membasahi pipi. Ia mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping Mikayla tanpa berani menyentuh botol itu. Ia tahu, saat ini bukan nasihat agama yang dibutuhkan Mikayla, melainkan pelukan untuk jiwa yang sudah tercabik-cabik oleh darah dagingnya sendiri.
"Aku tidak akan menceramahimu, Mika. Aku hanya... aku hanya tidak sanggup melihatmu menghancurkan dirimu sendiri demi orang-orang yang bahkan tidak layak mendapatkan setetes air matamu," bisik Rasya lirih.
Luka yang Mendalam
Mikayla menenggak minumannya hingga tandas, rasa pahit membakar kerongkongannya, namun tak sebanding dengan pahitnya kenyataan.
"Mereka semua ada di sana, Ras. Ayah, Ibu... kakek..." suara Mikayla parau. "Mereka tertawa saat Elang mencium tangan Naura. Mereka merayakan pertunangan itu seolah-olah aku ini hanya kerikil yang sudah mereka tendang jauh-jauh. Lima tahun aku melayani mereka, menelan pil KB yang mereka berikan seperti orang bodoh..."
Mikayla meremas gelas kristal di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan, Ras. Aku ingin mereka tahu bahwa putri yang mereka buang ini bisa menjadi iblis yang akan menyeret mereka ke neraka kemiskinan.”
Apartemen Rahasia
Apartemen ini dibeli Mikayla setahun lalu menggunakan nama samaran—salah satu keuntungan dari jaringan perbankan yang ia kuasai. Tidak ada yang tahu keberadaannya di sini, bahkan Elang sekalipun.
Langkah Berikutnya: Mikayla tidak akan terburu-buru melakukan penyitaan. Ia ingin Elang merasa tenang terlebih dahulu. Ia ingin Elang membawa Naura pulang ke rumah mereka di Jakarta, membiarkan kakaknya itu merasa telah memenangkan segalanya
Dukungan Tanpa Syarat
Rasya meraih tangan Mikayla yang dingin. "Kalau ini cara kamu bertahan untuk saat ini, lakukanlah. Tapi tolong, jangan biarkan kebencian itu membunuh kebaikan yang ada di dalam dirimu selamanya. Aku akan di sini, Mika. Sampai kamu siap untuk berdiri tegak lagi."
Mikayla menatap Rasya dengan tatapan kosong, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya itu. Untuk sejenak, di dalam apartemen kecil yang terisolasi dari dunia luar, Mikayla memejamkan mata.
Ia tidak sedang tidur. Ia sedang menyusun kepingan rencana yang lebih sistematis. Uang triliunan di rekeningnya, bukti sabotase medis, dan pengkhianatan keluarga akan menjadi bahan bakar untuk ledakan yang akan ia picu tepat di saat mereka merasa paling bahagia.
"Biarkan mereka menikmati Bali sedikit lebih lama," bisik Mikayla pelan, nyaris seperti embusan angin yang mematikan. "Karena saat mereka mendarat di Jakarta nanti, mereka akan menyadari bahwa rumah yang mereka tuju... sudah bukan lagi milik mereka.”
_____
Air mata Rasya mengalir meskipun ia tak sanggup mengatakan apapun, tapi ia telah menceritakan masalah sahabatnya pada kedua orangtuanya, mereka pun ikut geram apalagi ayahnya, ayah rasya menangis mendengar apa yang terjadi pada mikayla.
Bahkan kini rambutnya diwarnai "sehancur apa dirimu tidak ada yang bisa menghakimi-mu, ingatlah mika bahwa kamu tidak sendiri ada aku satu-satunya sahabatmu." Rasya mengusap air matanya.
Rasya memeluk Mikayla erat, tidak peduli dengan aroma alkohol yang mulai tercium atau tatapan kosong yang terpancar dari mata sahabatnya. Ia tahu, di balik rambut yang kini berwarna dark ash itu, ada seorang wanita yang sedang berusaha mematikan rasa sakitnya agar tidak mati gila.
Ayah Rasya, yang selama ini mengenal Mikayla sebagai gadis santun dan berbakti, benar-benar terpukul. Beliau bahkan sempat menggebrak meja saat mendengar tentang sabotase pil KB itu. Bagi keluarga Rasya, Mikayla sudah seperti putri sendiri, dan melihatnya hancur seperti ini adalah penghinaan bagi kemanusiaan.
"Mika..." Rasya berbisik di telinga sahabatnya, suaranya bergetar hebat. "Ayahku bilang, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu. Beliau sudah menyiapkan tim hukum tambahan jika Pak Hendra butuh bantuan. Kamu tidak akan menghadapi monster-monster itu sendirian.”
Transformasi yang Menakutkan
Mikayla melepaskan pelukan Rasya perlahan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin apartemen. Rambut barunya memberikan kesan dingin, tajam, dan tak tersentuh. Benar-benar kontras dengan Mikayla yang dulu selalu memakai hijab lembut dan tutur kata yang tertata.
"Terima kasih, Ras," ucap Mikayla, suaranya kini terdengar seperti es yang membeku. "Tapi sampaikan pada Ayahmu, aku ingin menyelesaikan bagian awal ini dengan tanganku sendiri. Aku ingin mereka melihat bahwa 'kerikil' yang mereka injak-injak ini sebenarnya adalah berlian yang bisa menggores kulit mereka sampai berdarah.”
Mikayla berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi dokumen perbankan dan laporan aset. Ia sudah tidak menyentuh botol minuman itu lagi. Alkohol hanya pelarian sesaat, tapi balas dendam butuh konsentrasi penuh.
Mikayla mulai memblokir setiap kenangan manis bersama Elang. Setiap kali bayangan Elang yang tersenyum muncul, ia segera menggantinya dengan rekaman suara ibu mertuanya yang membahas pil KB atau foto Elang yang merangkul Naura di Bali.
Ia memeriksa kembali saldo triliunannya. Ia mulai memberikan instruksi pada Reno untuk membeli secara rahasia saham-saham perusahaan penyuplai utama di bisnis konstruksi milik Elang. Ia ingin memutus jalur logistik suaminya pelan-pelan.
Apartemen ini menjadi benteng pertahanannya. Ia meminta Rasya untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada siapapun, termasuk keluarga Mikayla jika mereka mulai mencari bukan karena peduli, tapi karena butuh "pembantu" mereka kembali.
Sumpah di Tengah Kehancuran
"Sehancur apa pun aku sekarang, Ras," Mikayla menoleh dengan tatapan yang membuat Rasya merinding, "aku tidak akan membiarkan mereka menang. Mereka pikir dengan membuatku mandul, mereka telah mengakhiri garis keturunanku. Mereka lupa, aku punya otak dan harta yang bisa membangun masa depan yang jauh lebih megah dari apa yang mereka impikan."
Mikayla mengambil gunting di atas meja, lalu memotong label Sweet Melody dari salah satu sampel baju yang ada di sana.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi melodi manis. Yang ada hanya simfoni kehancuran untuk mereka," tegas Mikayla.