Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : DELAPAN LANGKAH DAN KABAR YANG MENUNGGU
Tujuh hari di Long Men terasa berbeda dari tujuh hari di laut terbuka karena lebih padat bising, dan paradoksnya justru lebih mudah untuk diselesaikan satu per satu.
Singkatnya, hari pertama dan kedua sudah habis untuk urusan logistik, mengisi kembali perbekalan air dan makanan, membeli bahan-bahan perbaikan tambahan yang tidak sempat mereka dapatkan dari kapal milik Kerajaan Tengkorak Hitam, dan menjual sebagian barang hasil rampasan yang tidak mereka butuhkan kepada pedagang-pedagang yang tidak terlalu banyak bertanya tentang asal-usulnya. Long Men sejatinya memang pulau yang terbiasa dengan transaksi dari sumber yang bermacam-macam, dan itu berguna.
Hari ketiga sampai kelima dihabiskan untuk mengumpulkan informasi dengan cara yang paling efektif di kota pelabuhan seperti ini, yaitu duduk di tempat-tempat yang ramai, minum sesuatu, dan mendengarkan. Qinghan yang memimpin pengumpulan data secara sistematis, sementara Haifeng bergerak di bagian yang membutuhkan bahasa-bahasa campuran yang tidak semua orang di kapal bisa gunakan. Meski hasilnya tidak secepat yang mereka harapkan, namun tetap saja mereka telah mendapatkan lebih banyak dari yang awalnya mereka takutkan.
Lalu tentang kru kapal-kapal yang hilang saat badai, masih tidak ada kabar yang pasti. Beberapa pedagang menyebut pernah melihat kapal-kapal yang rusak parah lewat di perairan barat beberapa minggu lalu, tapi tidak ada yang bisa dikonfirmasi lebih jauh. Oleh karena itu Haifeng hanya bisa mencatat semuanya dan memilih untuk tidak menyimpulkan terlalu cepat. Yang jelas mereka tidak kembali ke Long Yuan lebih awal, tidak sampai tujuan utama mereka tercapai.
Area latihan yang mereka gunakan adalah pelataran batu di ujung dermaga timur yang cukup sepi di pagi hari, sebelum pedagang-pedagang membuka lapak mereka dan keramaian mulai mengisi setiap sudut pulau itu.
Chen Mo sudah ada di sana sebelum Haifeng tiba.
"Kuda-kuda dulu," kata Chen Mo begitu Haifeng menginjakkan kaki di pelataran itu. "Tunjukkan yang kemarin."
Haifeng mengambil posisi kuda-kuda, kaki dibuka selebar bahu, lutut ditekuk sedikit, berat tubuh dibagi merata. Sudah tujuh pagi seperti ini, dan setiap kali dia pikir posisinya sudah benar, Chen Mo menemukan sesuatu yang perlu diperbaiki.
"Pinggulmu terlalu ke depan." Chen Mo mendekatinya dan menekan punggung bawahnya dengan dua jari ke posisi yang berbeda. "Ini. Rasakan bedanya."
Haifeng merasakan adanya perbedaan yang tidak besar tapi nyata, seperti perbedaan antara berdiri di atas tanah yang sedikit miring dan berdiri di atas tanah yang benar-benar rata. "Oh begini? Ini jauh lebih stabil."
"Karena titik beratmu sudah benar sekarang." Chen Mo mundur dan mengamati. "Delapan Langkah Naga Long Yuan dimulai dari kuda-kuda yang benar. Semua delapan langkah itu tidak ada gunanya kalau fondasi di bawahnya salah."
"Seperti membangun di atas tanah yang berlumpur."
"Persis seperti itu." Chen Mo tidak pernah banyak menjelaskan, tapi ketika dia menjelaskan, selalu menggunakan kalimat yang tidak bisa ditafsirkan dua kali. "Ayo. Langkah pertama lagi."
Langkah pertama dari Delapan Langkah Naga Long Yuan disebut Bu Naga Membuka Sayap, dan cara terbaik untuk menggambarkannya adalah dengan membayangkan seseorang yang membuka tangannya untuk menerima sesuatu dari dua arah sekaligus. Berat tubuh bergeser ke kaki kiri, tangan kanan membuka ke samping setinggi bahu, dan gerakan itu mengalihkan, layaknya seseorang yang membelokkan arah air dengan memasang tangan di tepi alirannya.
"Kau melawan lagi," kata Chen Mo setelah melihat Haifeng melakukannya tiga kali.
"Tapi aku tidak merasa melawan."
"Tanganmu masih tegang. Lihatlah." Chen Mo mengambil posisi yang sama dan melakukannya dengan pergelangan tangan yang terlihat longgar, tidak kaku. "Lihat pergelangan tanganku. Ini bukan serangan, tapi defleksi. Kalau kau menegangkan tangan untuk defleksi, itu berarti kau sudah membuang setengah energimu sebelum memulai."
Lantas Haifeng mengangguk singkat sebelum mengulang, meski pergelangan tangannya masih sedikit kaku.
"Bayangkan tanganmu adalah ranting bambu di tepi sungai," kata Chen Mo. "Sungai mendorong ranting itu, dan ranting itu menekuk, lalu kembali ke tempat asalnya. Itu yang kau cari."
Mencoba memahami, Haifeng menutup matanya sebentar. Ranting bambu. Dia pernah duduk di tepi sungai di belakang istana Long Yuan waktu kecil dan mengamati persis hal itu, ranting yang bergerak mengikuti arus tanpa kehilangan akarnya.
Sampai Putra Wei Changsong itu melakukan gerakan itu lagi.
Chen Mo tidak berkata apa-apa kali ini. Itu sudah cukup sebagai konfirmasi positif.
Mereka akhirnya melanjutkan ke langkah kedua, Bu Naga Menyentuh Tanah, yang berkebalikan dari langkah pertama. Kali ini berat tubuh turun, tangan mendorong ke bawah dan ke depan sekaligus, dan tujuannya adalah membawa lawan ke bawah menggunakan beratnya sendiri. Filosofinya sama dengan yang pertama, bukan kekuatan melawan kekuatan, melainkan kekuatan yang diarahkan ke tempat yang sudah tidak ada perlawanan di sana.
"Qi-mu mulai mengalir ke sini kalau kau melakukannya dengan benar," kata Chen Mo sambil menunjuk ke titik di antara dua tulang bahu Haifeng. "Tingkat tiga sudah cukup untuk mulai merasakan itu. Tapi kau harus berhenti mendorong qi-mu dan mulai membiarkannya bergerak."
"Samudera bilang hal yang sama tentang kultivasi."
"Karena itu memang benar untuk semua hal." Chen Mo berbalik dan mengambil posisi menghadap Haifeng. "Sekarang coba terapkan keduanya bersamaan. Aku maju, kau defleksi dengan langkah pertama, lanjutkan ke langkah kedua. Jangan pikirkan urutannya, rasakan kapan perpindahannya."
Haifeng segera mengambil napas dan mengangguk.
Sementara Chen Mo maju dengan kecepatan yang dikurangi tapi tidak dikurangi terlalu banyak, demi memaksa Haifeng berpikir. Tangan kanan Chen Mo mengarah ke bahunya. Haifeng menggerakkan langkah pertama, tangan membuka, pergelangan longgar, dan tangan Chen Mo teralihkan ke samping. Momentum itu membawa Chen Mo satu langkah ke depan ke posisi yang tidak stabil, dan Haifeng sudah bergerak ke langkah kedua, tangan turun dan mendorong bahu Chen Mo ke bawah.
Chen Mo tidak jatuh. Tapi dia harus mengambil satu langkah ekstra untuk mempertahankan keseimbangannya, sebelum keduanya berdiri berhadapan selama beberapa saat.
"Kau baru saja melakukan itu dengan benar untuk pertama kalinya," kata Chen Mo.
"Rasanya sungguh berbeda." Haifeng menatap tangannya. "Seperti aku tidak melakukan apa-apa tapi sesuatu tetap terjadi."
"Itu artinya kau sudah berhenti melawan dan mulai mengalir." Chen Mo menyarungkan tangan ke balik lengan bajunya. "Ulangi sampai kau tidak perlu berpikir untuk melakukannya."
Alhasil mereka berlatih sampai matahari sudah cukup tinggi untuk membuat bayangan yang pendek di pelataran batu itu. Haifeng tidak menghitung berapa kali dia mengulang dua langkah pertama itu, tapi di suatu titik antara pengulangan kesekian dan pengulangan berikutnya, ada sesuatu yang berhenti terasa seperti gerakan yang dipelajari dan mulai terasa seperti gerakan yang diingat oleh tubuh.
Itu perbedaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata kepada orang yang belum pernah merasakannya.
Mereka baru saja selesai ketika seseorang melangkah ke pelataran itu dari arah dermaga.
Tuan Li berdiri di tepi pelataran dengan kipasnya yang sudah tidak dibuka-tutup seperti biasanya. Wajahnya yang biasanya memiliki ekspresi ramah yang sangat terlatih kini menunjukkan campuran antara tidak nyaman dan ingin menyampaikan sesuatu yang sudah lama dia tahan.
"Tuan Muda Haifeng." Dia membungkuk, tapi membungkuknya tidak seenergetik biasanya. "Kalau berkenan, Saya ingin bicara sebentar."
Haifeng mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya dan menatap pedagang itu. Tuan Li sudah meringis seperti seseorang yang membawa kabar yang dia sendiri tidak yakin bagaimana menyampaikannya.
"Baiklah," kata Haifeng. “Kita bisa bicara di sini.”