Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Jadi Dia Pelakornya
“Siapa pria itu?” batin Yvone. “Dia sangat tampan”
Sesaat Yvone segera tersadar, ia mengalihkan pandangannya dari pria tampan itu ke arah cermin, hendak menanyakan sesuatu. Akan tetapi, bayangan itu telah menghilang.
Yvone merasa bingung.
Lalu sebuah ingatan kembali berlomba-lomba memenuhi isi kepala. Pernikahan, bulan madu, kebersamaan, dan pertikaian. Wajah pria itu berulang kali berkelebat, dan wajah-wajah lain yang sangat asing.
Seorang wanita paruh baya, wanita muda cantik, serta wanita cantik lainnya, tetapi usianya lebih dewasa. Semua interaksi wanita bernama Rose dengan orang-orang itu terus berputar di kepala Yvone.
“Apa dia suamiku?” batin Yvone setelah tersadar dari ingatan tersebut.
Ia menggeleng cepat. “Tidak, dia bukan suamiku, melainkan suami wanita gendut ini.”
Dirinya bahkan belum menikah, bagaimana bisa ia menyebutnya suami. Tetapi saat ini dirinya berada di dalam tubuh wanita gendut ini. Wanita bersuami, dan wajah pria ini sama dengan pengantin pria yang ada dalam bayangan tadi.
Itu artinya pria ini memang benar suaminya. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa pria setampan ini mau menikah dengan wanita gendut seperti Rose?
“Rose, apa kau baik-baik saja?”
Pria itu mendekat, mengulurkan tangan hendak menyentuh Rose.
Yvone refleks menarik pergelangan tangan pria itu, lalu memelintirnya ke belakang.
“Arrghhh!” erang pria itu.
Tak lama kemudian, beberapa wanita memasuki kamar. Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul berteriak, “Aaa…Arsen…hei apa yang kau lakukan terhadap suamimu?”
Menyadari sesuatu. Yvone segera melepaskannya. Ia tertegun beberapa saat, spontanitas yang ia lakukan adalah kebiasaan dari dirinya jika merasa terancam. Dan itu membuat terkejut semua orang.
Jika tidak salah, Yvone mendengar wanita setengah baya itu menyebut pria ini sebagai suaminya? Tidak salah lagi. Yvone menatap pria yang kini memegangi lengannya. Ia yakin, pria itu cukup kesakitan saat ini, karena ia menggunakan tenaga penuh.
“Jadi namanya adalah Arsen?” ucap Yvone dalam hati.
“Kak Rose kenapa kau hidup lagi? Emm…maksudku bukannya kau sudah mati?” Seorang gadis cantik yang berdiri di dekat wanita paruh baya bersuara.
Yvone menatapnya. Dalam ingatan pemilik tubuh, dia adalah adik perempuan suaminya. Namanya Alexa. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu, membuat Yvone keheranan.
Lalu wanita paruh baya itu adalah Brighita, ibu mertuanya. Dilihat dari tatapannya saja sudah sangat tidak suka. Yvone memberikan tatapan tajam, sebelah sudut bibirnya ditarik ke samping.
Sedikit banyak ia mulai mengerti dengan situasinya. Sepertinya Rose memang tidak disukai oleh keluarga suaminya.
“Kenapa? Apa kalian tidak suka aku hidup lagi?” Yvone pun segera menutup mulutnya dengan jari. Suara wanita ini memang sangat lembut. Padahal ia sudah berbicara sesinis mungkin.
“Bukan begitu, kami hanya khawatir saja,” jawab Alexa. Jelas saja itu bohong.
Yvone menatap semua orang yang ada di dalam ruangan. Semuanya terlihat penuh dengan kepalsuan, sementara beberapa pelayan tampak ketakutan.
“Rose, apa kau baik-baik saja?” Meski merasa heran dengan sikap istrinya, Arsen tetap menahan diri. Saat mendengar istrinya kembali terbangun dari kematian, ia sangat terkejut.
Ia segera berlari menuju ke kamar untuk memastikannya sendiri, dan benar saja, Rose telah terbangun. Rupanya wanita itu telah mati suri.
“Kau lihat tubuhku masih utuh ‘kan?” Yvone berusaha sesinis mungkin.
Dan itu membuat Brighita dan Alexa merasa kesal.
“Karena kau sudah siuman, sebaiknya kau segera meminum obat,” ucap Brighita. Ia lantas memberi perintah kepada pelayan. “Ambilkan obat untuk Nyonya Muda.”
“Baik, Nyonya.”
Yvone menatap Brighita. “Obat?”
Lalu sebuah ingatan kembali muncul. Semasa hidup, Rose mengkonsumsi obat-obatan. Dan obat itu adalah rekomendasi yang diberikan oleh Brighita. Wanita itu berkata bahwa obat itu adalah vitamin untuk kesuburan.
Akan tetapi, setelah memakan obat itu, bukannya mendapat keturunan, nafsu makannya justru semakin bertambah.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dengan nampan kecil berisi obat dan segelas air putih. Pelayan itu mendekat, dan dengan takut-takut memberikannya pada Yvone yang berada dalam tubuh Rose.
“Silakan diminum, Nyonya,” kata pelayan dengan suara bergetar.
Yvone menatap obat itu. Keningnya mengkerut. Ia lantas meraih obat dalam bentuk pil dan kapsul, mengamatinya dengan seksama, mengendusnya, dan meneliti bentuknya.
Obat dalam bentuk kapsul dibuka, lalu mengeluarkan isinya. Aromanya sangat khas. Meski Yvone adalah seorang ahli obat-obatan, ia tidak akan meminum obat sembarangan. Detik selanjutnya ia melempar obat itu ke atas nampan.
“Aku tidak mau!” tolaknya yang membuat semua orang membulatkan mata.
“Apa? Bukannya kau ingin segera pulih?” protes Brighita.
Yvone melipat kedua tangan di dada. Bibirnya mendecak samar. Jika Rose akan diam saja saat ditindas, tapi tidak dengan dirinya. Kemudian dengan santai ia berkata, “Pulih? Memangnya aku sakit apa?”
Tatapan Brighita semakin membesar, begitu juga dengan Alexa, keduanya lantas saling berpandangan. “Apa kau lupa? kau itu obesitas, obat itu untuk menekan nafsu makanmu.”
“Aku tidak yakin itu obat diet.” Tatapan Rose semakin tajam. “Mertua jahat sepertimu tidak mungkin seperhatian ini padaku ‘kan?”
“Apa? Kau memanggilku apa?” Brighita berkacak pinggang.
Yvone tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata buruk. “Ini belum seberapa,” batinnya.
Arsen yang melihat sikap istrinya merasa aneh. Biasanya Rose akan bersikap lembut, sopan, dan santun. Bahkan wanita itu terbilang terlalu patuh. Ia kembali menatap istrinya, mengamati wajah wanita itu.
Tidak ada yang berubah, hanya sedikit lebih garang. Apa ini efek dari mati suri yang dialaminya?
“Untuk memastikan kondisimu, aku akan memanggil Dokter,” kata Arsen yang membuat atensi Yvone teralih pada pria itu.
Ia memperhatikan Arsen, gerakannya sangat elegan saat meraih ponsel. Pria itu bahkan tidak marah setelah ia memelintir tangannya tadi. Akan tetapi, sikapnya terkesan dingin.
Arsen menutup panggilan setelah Dokter menyanggupi permintaannya.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik memasuki kamar. Semua mata tertuju padanya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan setelan jas formal dan rok span di atas lutut. Tubuhnya tinggi, pinggangnya ramping, kakinya jenjang.
Langkahnya sangat elegan, setiap gerakannya begitu berwibawa dan terstruktur. Wanita itu berhenti tepat di dekat suaminya, lalu membisikkan sesuatu di telinga pria itu.
Melihat itu, Yvone membulatkan matanya. Ia menajamkan pendengarannya, akan tetapi tetap saja ia tidak dapat mendengar.
“Sialan, apa yang dia katakan?”
Detik selanjutnya Arsen mengangguk. “Baiklah, setelah ini kita pergi.”
“Apa? di saat seperti dia malah ingin pergi? Dengan wanita itu?”
Arsen menatap Rose. “Setelah ini Dokter akan datang untuk memeriksa kondisimu, pelayan akan menemanimu.”
“Lalu kau mau ke mana?” tanya Yvone sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Aku ada urusan dengan Renata,” jawabnya lantas berbalik. Langkahnya perlahan menjauh.
Wanita bernama Renata mengulas senyum tipis, sebelum akhirnya turut berbalik dan menyusul Arsen.
Yvone teringat sesuatu. Wajah itu ada dalam ingatan asli pemilik tubuh ini, detik itu juga ia menyadari sesuatu, kemudian tersenyum.
“Jadi dia pelakornya?”