Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Paling Jujur
Suasana kafe yang sebelumnya tenang kini terasa mencekam karena kegusaran yang memancar dari kami berdua.
Sampai akhirnya, aku memecah kebuntuan itu. Aku menoleh ke arah Rain, menatapnya lurus-lurus dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Rain," panggilku pelan.
"Bukannya lucu kalau kita benar-benar menikah?"
Aku tertawa, tapi itu tawa yang terdengar miris di telingaku sendiri.
Aku mulai meracau, membayangkan skenario-skenario serial drama romansa.
"Bayangkan, Rain... 'Suamiku, apakah kamu sudah makan? Kamu di mana? Kenapa pulangnya telat? Apakah kamu masih mencintaiku? Kenapa tadi kamu bersalaman dengan wanita lain? Kenapa membalas chat wanita itu?'" Aku mengucapkan setiap kalimat dengan nada yang dibuat-buat, setengah mengejek, setengah ngeri.
Memmbayangkan diriku menjadi sosok posesif yang selalu kutertawakan di drama televisi. "Lalu... 'Apa? Kamu mau berangkat dinas luar kota lagi? Kenapa mendadak?'"
Rain melongo.
Ia menatapku seolah-olah aku baru saja kehilangan kewarasan di tengah kafe ini.
Ekspresinya yang kaku membuatku semakin ingin menumpahkan semua visualisasi buruk yang menari-nari di kepalaku—hal-hal yang sering kulihat terjadi pada pernikahan kedua adiku atau rekan-rekan kantorku.
Aku melanjutkan, kali ini dengan ekspresi yang lebih jujur namun tetap penuh drama.
"Dan dengar ini, Rain... Sayang, aku tidak suka memasak. Aku benci tidur di tempat asing yang bukan kamarku sendiri. Aku jauh lebih suka berkata jujur daripada bersikap manis yang palsu. Dan jangan harap rumah akan selalu rapi, karena aku tidak akan membereskannya kalau aku sedang mager!"
Aku membayangkan diriku duduk di tengah tumpukan cucian sambil memegang remote TV, sementara Rain pulang dengan wajah lelah. Bayangan itu terasa begitu nyata sekaligus konyol.
"Bagaimana? Masih mau membeli perhiasan itu bersamaku setelah tahu aku adalah 'bencana' domestik yang berjalan?" tanyaku sambil menantang matanya.
Martin yang sejak tadi hanya menyimak, kini menutup mulutnya dengan punggung tangan, bahunya bergetar menahan tawa yang hampir meledak.
Ia melihatku seperti melihat sebuah pertunjukan komedi tragis.
Sementara Rain, ia masih mematung. Matanya yang tajam menatapku tanpa berkedip, mencoba mencerna apakah semua "kejujuran" brutal ini adalah caraku untuk menolaknya, atau justru caraku untuk menantang takdir yang sedang disodorkan Nenek Elia lewat rekening bank-nya.
Martin tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang pinggiran meja agar tidak terjungkal. Suara tawanya yang lepas mengundang lirikan dari pengunjung kafe lain, tapi ia tidak peduli.
"Dengar itu, Rain!" seru Martin di sela tawa kencangnya. "Yang akan terjadi justru skenario kedua. Lupakan bayangan istri manis yang menyambutmu dengan kopi panas dan senyum manja setiap sore."
Martin menyandarkan punggungnya, menatap Rain dengan sisa-sisa geli di matanya. "Gadis ini hanya akan melakukan apa yang ingin ia terima. Dia punya jiwa 'ketuaan' yang akut. Kalau kamu mengharapkan drama romantis yang menye-menye, kamu salah orang."
Ia menoleh ke arahku, lalu kembali menatap Rain dengan tatapan memperingatkan namun jenaka. "Jadi jangan harap punya istri semanja itu jika bersama dia. Dia lebih mungkin mengajakmu berdebat soal audit kantor atau membiarkanmu makan mie instan karena dia terlalu malas untuk sekadar menyalakan kompor. Dia itu ketua geng di tubuh wanita muda, Rain!"
Kekeh Martin meledak lagi. Visualisasi tentang aku yang duduk malas-malasan sementara Rain pulang kerja tampaknya menjadi hiburan tingkat tinggi baginya.
"Tapi tahu tidak apa yang lucu?" Martin menghentikan tawanya sejenak, wajahnya mendadak serius namun hangat. "Di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini, jujur dan 'mager' seperti nya lah itu jauh lebih mahal harganya daripada sandiwara istri sempurna."
Aku mendengus, mencoba menahan senyum meski hatiku sedikit mencelos. Martin memang paling tahu cara menelanjangi sifat asliku di depan pria yang menurut Nenek Elia, seharusnya membelikanku perhiasan sore ini.
Aku melirik Rain. Dia masih diam, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat. Ada ketenangan yang aneh di wajahnya, seolah daftar "keburukanku" tadi bukannya membuatnya takut, malah membuatnya merasa... aman.
"Jadi bagaimana, Rain?" tantangku lagi, kali ini dengan nada yang lebih santai. "Masih mau mengajak 'bencana' ini ke toko perhiasan, atau kita hubungi Nenek Elia dan bilang kalau uangnya lebih baik dipakai untuk modal nikahi gadis lain saja?"
Rain tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan berdiri, merapikan kemeja casual di tubuhnya, lalu meraih kunci motor di atas meja.
"Ayo," ucapnya singkat.
Aku terpaku. "Ayo ke mana?"
"Ke toko perhiasan," jawab Rain tanpa ragu.
"Aku tidak butuh istri yang pandai memasak atau membereskan rumah. Aku butuh seseorang yang bisa diajak bicara jujur seperti tadi. Dan soal 'mager'...aku juga sama.?"
Kali ini, giliran Martin yang melongo, sementara jantungku mendadak melakukan lompatan waktu yang lebih gila dari perjalanan ke ibu kota kemarin.
Suasana kafe yang tadinya riuh oleh tawa Martin mendadak hening, seolah udara di sekitar meja kami tersedot habis. Aku berdiri, bukan untuk melangkah pergi, tapi untuk menegaskan eksistensiku.
Mataku menatap Rain tajam, menahan gerakannya yang hendak meraih kunci motor.
"Rain!"
suaraku sedikit meninggi, membelah keheningan dengan nada otoritas yang tak terbantah.
"Diam dan dengarkan aku."
Rain tertegun, tangannya menggantung di udara. Martin pun berhenti tertawa, raut wajahnya berubah serius, menyadari bahwa
"Ayyara yang berusia tiga puluh empat tahun" baru saja mengambil alih kendali.
Aku menarik napas panjang, membiarkan dadaku sesak oleh kejujuran yang sudah lama kupendam.
"Menikah denganku... dengar, pernikahan bukan hal yang menakutkan untukku. Aku tidak trauma, aku tidak fobia. Tapi aku hanya tidak ingin menodai ekspektasi pasangan ku nanti."
Aku melangkah satu tapak lebih dekat, memangkas jarak di antara kami.
"Aku sangat mencintai diriku sendiri, Rain. Aku selalu menjadi orang yang mengutamakan diriku di atas segalanya. Aku tidak akan mengemis perubahan partner-ku dengan romantisasi picisan. Aku akan mengatakan dengan lantang: apa mauku, lalu aku akan tetap berada di jalanku."
Tatapan Rain tak lepas dariku, ada kilat kekaguman yang bercampur dengan kegelisahan di sana.
"Kamu pernah merasakan cinta," lanjutku,
suaranya kini merendah namun lebih tajam. "Aku tahu kamu punya ekspektasi tentang bagaimana sebuah pernikahan seharusnya berjalan.
Tapi Rain, ini pernikahan, bukan sekadar persahabatan kita yang nyaman ini. Setiap hal yang aku lakukan, kamu akan menerima konsekuensinya. Begitupun aku."
Aku menjeda sejenak, membiarkan kalimat itu meresap.
"Saat kepentingan kita bersinggungan, jangan harap aku akan mengalah demi 'pengabdian'. Aku hanya akan menggunakan logika rasional yang tetap menguntungkanku, tanpa merugikanmu. Itu prinsipku."
Aku tahu, di mata dunia, atau di mata orang lain aku mungkin terdengar egois. Tapi ini adalah kejujuran paling murni yang selama ini sudah menjadi prinsipku. Kejujuran yang bisa kuberikan pada pria yang hendak membawaku ke toko perhiasan.
"Aku tahu, aku memang tidak punya pengalaman pacaran atau drama percintaan lainnya. Tapi aku tahu pernikahan jauh lebih berat dari itu. Dan menikah denganku..."
aku menatapnya dengan pandangan paling dingin sekaligus paling jujur yang kupunya, "...tidak bisa tanpa janji pranikah. Aku butuh hitam di atas putih untuk menjaga jati diriku tetap utuh di dalam rumah yang ku tempati nanti."
Martin terpaku di kursinya, matanya berbinar melihat ketegasan sahabatnya. Sementara Rain, ia melepaskan kunci motornya. Ia tidak mundur, justru ia melipat tangan di dada, membalas tatapanku dengan ketenangan yang mematikan.
"Janji pranikah, ya?"
Rain mengulang kalimatku dengan suara khas nya yang tenang.
"Tuliskan semua, Ra. Apa pun yang kamu butuhkan untuk merasa aman bersamaku. Aku tidak butuh istri yang mengabdi sampai kehilangan diri sendiri. Aku butuh partner yang tahu cara menjaga dirinya sendiri, agar aku tidak perlu cemas saat aku sedang tidak di sampingnya."
Martin bertepuk tangan pelan, sebuah gestur penghormatan yang ganjil namun tulus. Ia menyandarkan tubuhnya, menatapku dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—campuran antara kekaguman murni dan rasa sayang yang meluap.
"ara, I love you," ucap Martin, suaranya berat dan bersungguh-sungguh. "Aku bersumpah, aku akan mencari calon istri berprinsip sepertimu, bahkan jika aku harus menggeledah setiap sudut dunia ini untuk menemukannya."
Ia kemudian menoleh perlahan ke arah Rain. Senyum jenakanya lenyap, digantikan oleh sorot mata seorang sahabat yang sedang memberikan peringatan terakhir di tepi jurang.
"Rain... sebaiknya kamu pikirkan lagi,"
suara Martin merendah, mengisi kekosongan di antara kami dengan bobot yang nyata. "Penalaran Ayyara ini bukan soal tawar-menawar emosi. Ini bukan tentang kompromi yang bisa luluh oleh pelukan. Jika kamu hanya ingin menjadi sahabatnya seumur hidup, barulah semua ini bisa berjalan."
Kata-kata Martin menghujam tepat di ulu hati. Ia benar. Sebagai sahabat, kami adalah tim yang tak terkalahkan. Namun sebagai pasangan? Logika dingin yang baru saja kupaparkan adalah tembok berduri yang harus dipanjat Rain setiap hari.
"Menjadi suaminya berarti kamu harus siap berbagi hidup dengan seorang individu yang tetap akan utuh tanpa kamu, Rain,"
lanjut Martin, kini menatap Rain lurus-sunyi.
"Dia tidak akan hancur jika kamu pergi, dan dia tidak akan menunggumu untuk menyelamatkannya. Apa kamu sanggup hidup dengan wanita yang bahkan tidak memberimu ruang untuk merasa 'dibutuhkan' secara tradisional?,
Ke-utuhan dirinya hanya goyah jika ditinggal kan oleh orang setia yang menghargai caranya hidup".
Suasana kafe itu mendadak terasa seperti panggung teater yang sunyi.
Martin baru saja melucuti romantisasi pernikahan yang selama ini mungkin ada di kepala Rain. Ia meletakkan kenyataan pahit di atas meja: bahwa mencintai Ayyara berarti mencintai kebebasannya, bukan kepatuhannya.
Rain terdiam.
Tangannya yang memegang kunci motor perlahan merileks. Ia menatapku, bukan lagi sebagai gadis muda berusia dua puluh empat tahun yang cantik di foto katalog, melainkan sebagai jiwa tua yang keras kepala dan penuh perhitungan.
"Aku tahu," suara Rain akhirnya keluar, tipis namun kokoh.
"Aku tahu dia tidak butuh diselamatkan. Dan justru karena itu aku tidak perlu berpikir lagi."
Rain berdiri sepenuhnya, mematikan layar ponselnya yang tadi sempat menampilkan saldo dari Nenek Elia.
Ia menatap Martin sejenak, seolah memberikan jawaban atas peringatan itu tanpa kata-kata, lalu beralih padaku.
"Ra, aku tidak mencari seseorang untuk melengkapiku. Aku mencari seseorang yang tetap berani menjadi dirinya sendiri meskipun ada aku di sampingnya. Tuliskan janji pranikahmu malam ini. Masukkan semua egoismu, semua 'mager'-mu, dan semua logika rasionalku di sana. Aku akan menandatanganinya bahkan sebelum aku mengikrarkan janjiku."
Dramatis. Epik. Dan benar-benar gila. Martin hanya bisa mendesah panjang, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya saat ia melihat dua sahabatnya sedang melakukan transaksi paling jujur dalam sejarah hubungan manusia.
"Gila," gumam Martin sambil menggelengkan kepala.
"Kalian berdua benar-benar gila. Tapi mungkin, hanya kegilaan macam ini yang bisa bertahan di dunia yang membosankan ini."
Suasana di meja kafe itu mendadak menjadi sangat dingin dan transparan.
Kejujuran yang aku lemparkan seolah meruntuhkan dinding-dinding basa-basi di antara kami. Rain tidak memalingkan wajah. Ia justru menumpukan kedua lengannya di meja, menatap ku dengan sorot mata yang kering , bukan karena benci, tapi karena ia sudah selesai dengan segala bentuk romantisasi.
"Jujur, Ra," suara Rain berat dan tenang, mengisi kekosongan di antara kami.
"Jika pernikahan ini berjalan, Nenek akan sangat tenang. Dan bagiku, itu adalah prioritas yang tak bisa ditawar saat ini.itu sebabnya aku menghadiri kencan buta aneh itu."
Ia menarik napas panjang, menatap Martin sejenak sebelum kembali fokus pada ku.
"Pernikahan yang kamu bayangkan tadi? Persis sepertimu, aku juga tidak merasakannya. Saat ini, perasaanku padamu adalah perasaan sahabat. Bukan cinta yang meluap-luap atau gairah seperti yang pernah kurasakan dulu. Kita adalah dua orang yang saling mengenal, dan bagiku, itu cukup."
Rain terdiam sebentar, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang teratur.
"Tapi, kamu tahu aku, Ra. Aku tidak pernah tidak bertanggung jawab. Kita bisa tetap menjadi sahabat di dalam satu atap yang sama. Di usia kita yang 'sebenarnya' tiga puluh empat tahun, kita adalah manusia yang sudah sangat menghargai privasi dan kesendirian. Jadi, berkompromi dalam janji pernikahan bukanlah hal yang sulit bagi kita sekarang."
Lalu, suaranya merendah, membawa beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat.
"Ekspektasi pernikahan yang kamu katakan tadi? Hal-hal manis, kecemburuan, atau pengabdian total? Semua itu sudah hilang bertahun-tahun yang lalu, Ra.
Semuanya mati di hari aku tahu calon istriku dihamili oleh sahabatnya sendiri."
Kata-kata itu jatuh seperti bom di tengah meja. Martin tersentak, sementara aku terpaku melihat luka lama yang Rain buka dengan cara yang begitu teknis dan dingin.
"Jadi," lanjut Rain tanpa emosi yang meledak-ledak,
"aku tidak butuh kamu menjadi istri yang manis. Aku tidak butuh kamu melayaniku.
Aku hanya butuh partner yang bisa kupercaya untuk menjaga nama baik keluarga dan menemani sisa hari-hari Nenek dengan tenang.
Aku butuh partner yang bisa jadi sahabtku.
Jika janji pranikah adalah caramu untuk tetap menjadi 'Ayyara', maka tuliskan. Aku akan menandatanganinya tanpa membaca dua kali, karena aku pun ingin tetap menjadi 'Rain' yang punya dunianya sendiri."
Ia meraih kunci motornya lagi, kali ini dengan genggaman yang sangat mantap.
"Kita dua orang asing yang tersesat di waktu yang salah, Ra. Mari kita bangun benteng bersama agar tidak ada lagi orang luar yang bisa melukai kita. Bagaimana? Masih mau ke toko perhiasan untuk membeli kerja sama ini?"
Di bawah lampu kafe yang mulai meredup, aku melihat Rain bukan sebagai pria yang sedang melamar kekasihnya, melainkan sebagai seorang prajurit yang sedang menawarkan aliansi paling jujur di tengah medan perang kehidupan.