NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SYARAT SANG PEWARIS.

Ban mobil SUV putih milik Lucas mencicit tajam saat berhenti tepat di belakang Rolls-Royce hitam Fardan yang terparkir di halaman depan kantor KUA. Ghifari melompat turun sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. Wajah kecilnya tidak menunjukkan ketakutan, hanya ada sorot mata dingin yang sanggup membekukan nyali siapa pun yang menatapnya.

Di depan pintu masuk, Fardan masih mencengkeram lengan Alisha, menyeretnya menuju meja pendaftaran. Alisha mencoba memberontak, namun tenaganya habis oleh isak tangis.

"Berhenti di sana, Tuan Fardan Raffasyah!" suara Ghifari melengking, kecil namun penuh otoritas yang menggelegar di area parkir yang sepi itu.

Fardan menoleh, terkejut melihat putranya sudah berdiri di sana dengan tablet yang menyala terang di tangan kirinya. "Ghifari? Bagaimana kau bisa sampai ke sini secepat ini?"

"Aku melacak GPS mobilmu dalam tiga detik setelah kau pergi," sahut Ghifari datar. Ia mengangkat tabletnya tinggi-tinggi. "Lepaskan tanganmu dari Bundaku, atau aku akan menekan tombol ini dan menghapus seluruh aset likuid di lima anak perusahaan propertimu sekarang juga."

Fardan tertawa getir, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau pikir aku akan takut pada ancaman anak kecil? Aku adalah ayahmu!"

"Ayah yang bodoh," potong Ghifari tanpa ragu. "Seorang pemimpin besar yang tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana fitnah murahan dari keluarganya sendiri. Kau ingin memaksanya menikah lagi? Untuk apa? Untuk menyakitinya lagi di istana beracunmu itu?"

Alisha memanfaatkan keterkejutan Fardan untuk melepaskan diri dan berlari ke arah Ghifari. Ia langsung memeluk putranya, berlindung di balik tubuh kecil yang kini terasa seperti benteng baja.

"Aku tidak bermaksud menyakitinya, Ghifari! Aku ingin melindunginya!" teriak Fardan frustrasi.

"Melindungi?" Ghifari tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat Fardan bergidik karena terlihat sangat manipulatif. "Kau bahkan tidak tahu siapa yang memegang pisau di belakang punggungmu selama enam tahun ini. Kau ingin bersamanya? Cari dulu kebenarannya sampai ke akar. Adili setiap orang yang telah menghina dan memfitnah Bundaku. Jika kau tidak bisa menghakimi keluargamu sendiri, jangan harap bisa menyentuh ujung jilbab Bundaku lagi."

Fardan terdiam. Ia melihat Dewa yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat, memegang ponsel yang terus bergetar melaporkan kerugian miliaran rupiah per menit akibat sistem yang lumpuh.

"Berikan aku kesempatan, Ghifari," mohon Fardan, suaranya kini merendah. "Aku akan mencari kebenarannya. Aku janji. Tapi tolong, pulihkan sistem perusahaan induk. Ribuan orang akan kehilangan pekerjaan jika server itu tidak kembali online dalam satu jam."

Ghifari menatap ayahnya dengan pandangan menilai. Ia mengetikkan sesuatu di layarnya dengan sangat cepat. "Aku memberimu waktu empat puluh delapan jam untuk membuktikan kata-katamu. Jika dalam waktu itu kau tidak bisa menyeret dalang fitnah itu ke depanku, aku akan memastikan nama Raffasyah hilang dari bursa saham selamanya."

"Lalu... perusahaan?" tanya Fardan penuh harap.

Ghifari tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia, lalu berbalik menuju mobil putih. "Ayo, Bunda. Kita pulang. Pria ini butuh waktu untuk belajar cara menjadi manusia."

Fardan terpaku di tempatnya saat melihat mobil Alisha melaju pergi. Ia menoleh pada Dewa dengan tatapan kosong. "Dewa, jelaskan padaku. Kenapa anak sekecil itu bisa begitu menakutkan? Apakah aku harus bangga memiliki putra sepertinya, atau aku harus waspada karena dia bisa menghancurkanku kapan saja?"

Dewa menyeka keringat di dahinya, tampak bingung menjawab. "Saya rasa... keduanya, Tuan. Dia memiliki kecerdasan Anda, tapi hatinya telah ditempa oleh luka yang dialami Nyonya Alisha. Dia adalah predator digital yang paling berbahaya yang pernah saya temui."

Mereka segera kembali ke kantor induk Raffasyah Group. Suasana di sana masih kacau balau. Layar-layar monitor masih menampilkan wajah pucat Ratna dan suara rekaman pengkhianatan yang diputar berulang-ulang seperti kaset rusak. Para staf IT hanya bisa duduk pasrah di depan papan tik mereka yang terkunci total.

"Tuan, kerugian kita sudah menembus angka lima miliar rupiah dan terus bertambah," lapor manajer keuangan dengan wajah lesu.

Fardan duduk di kursinya, menatap layar monitor besar di ruangannya yang hanya menampilkan satu kalimat singkat berwarna hijau neon: Tick Tock, Mr. Raffasyah.

Namun, tepat dua jam setelah kepergian Ghifari dari KUA, tiba-tiba seluruh lampu di gedung itu berkedip dua kali. Suara alarm berhenti mendadak. Layar monitor kembali normal, menampilkan grafik saham dan data perusahaan seperti sediakala. Ketegangan yang mencekik selama berjam-jam itu akhirnya mencair.

"Sistem kembali online, Tuan! Semua data utuh, tidak ada satu sen pun yang hilang!" teriak kepala IT dengan penuh kelegaan.

Fardan mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya yang pegal. "Dia memulihkannya tepat waktu. Dia benar-benar hanya ingin memberiku peringatan."

"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dewa.

Fardan berdiri, matanya berkilat penuh tekad yang tidak bisa diganggu gugat. "Kita lakukan apa yang diminta putraku. Dewa, panggil tim investigasi swasta terbaik. Aku ingin rekaman CCTV asli dari hotel malam itu, kesaksian pelayan, dan semua catatan medis ibu yang katanya sakit jantung saat Alisha pergi. Jangan lewatkan satu detail pun."

"Baik, Tuan. Bagaimana dengan Nyonya Besar Ratna?"

"Pantau setiap gerakannya. Jangan biarkan dia tahu aku sedang menyelidikinya," ujar Fardan dingin. "Dan cari tahu di mana keberadaan wanita bernama Sherly itu sekarang. Aku ingin mengakhiri semua sandiwara ini dengan tanganku sendiri."

Sementara itu, di apartemen, Ghifari duduk di balkon sambil menyesap susu cokelatnya. Alisha menghampirinya, duduk di sampingnya dengan wajah yang masih menyiratkan kelelahan.

"Sayang, apa yang kau lakukan pada perusahaan Ayahmu itu tidak berlebihan?" tanya Alisha pelan.

"Bunda, pria seperti dia harus diberi pelajaran tentang rasa kehilangan," jawab Ghifari tenang. "Dia mengira uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan Bunda. Aku hanya menunjukkan padanya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diretas dengan uang, tapi bisa dihancurkan dengan logika."

Alisha tersenyum, mengusap kepala putranya. "Kau sangat mirip dengannya saat sedang keras kepala."

"Tapi aku lebih tampan karena memiliki senyum Bunda," sahut Ghifari, membuat Alisha tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat di Jakarta.

Ghifari kembali menatap tabletnya. Ia sebenarnya tidak sepenuhnya melepaskan pengawasannya pada Fardan. Ia telah menanamkan spyware di ponsel ayahnya. Ia ingin melihat, apakah Fardan benar-benar akan berpihak pada kebenaran, atau kembali menjadi budak dari manipulasi keluarganya sendiri.

"Dua puluh empat jam lagi, Tuan Fardan," gumam Ghifari dalam hati. "Tunjukkan padaku apakah kau layak menyandang gelar Ayah, atau kau hanya seonggok sampah yang kebetulan memiliki DNA yang sama denganku."

Di kantornya, Fardan mulai menerima laporan pertama dari Dewa. Sebuah rekaman percakapan telepon antara ibunya dan Sherly yang dilakukan beberapa jam setelah Alisha pergi. Fardan mendengarkan setiap kata dengan teliti, dan setiap detiknya membuat amarahnya semakin memuncak. Kebusukan keluarga yang selama ini ia agungkan mulai terkuak satu per satu, persis seperti yang diprediksikan oleh putra geniusnya.

Perang keluarga ini baru saja dimulai, dan kali ini, Fardan tidak akan lagi menjadi pihak yang kalah.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!