Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Noni Belanda Bergaun Merah
Ketenangan di SMA Wijaya Kusuma setelah kepergian Dion ternyata hanya bertahan seumur jagung. Jika sebelumnya Satria harus berhadapan dengan cemburu yang bersifat manusiawi, kali ini ia harus menghadapi entitas yang tidak mengenal logika perasaan. Masalah bermula ketika pihak sekolah memutuskan untuk melakukan renovasi kecil pada bangunan aula tua yang letaknya paling terpencil, tepat di belakang laboratorium biologi.
Aula itu selama puluhan tahun terkunci rapat. Konon, di sanalah tersimpan sisa-sisa kemegahan Institut Van De Berg sebelum akhirnya terbengkalai. Saat para tukang mulai membongkar sekat kayu di dinding bagian dalam, mereka menemukan sebuah cermin raksasa dengan bingkai emas yang masih berkilau meski tertutup debu tebal. Di sudut cermin itu, tersampir selembar kain merah yang nampak segar, seolah baru saja diletakkan di sana kemarin sore.
"Sat, auranya beda banget," bisik Arini saat mereka berdiri di depan garis pembatas aula sore itu. "Baunya bukan lagi tanah atau melati, tapi... bau mawar yang busuk."
Satria tidak menjawab. Matanya terpaku pada cermin itu. Di dalam pantulannya, ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat sosok wanita muda berkulit putih pucat, dengan rambut pirang yang tertata rapi, mengenakan gaun beludru berwarna merah darah yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih pualam.
Meneer Van De Berg muncul di samping Satria, namun kali ini ia tidak berdiri tegak. Ia membungkuk hormat dengan raut wajah penuh ketakutan.
“Anak muda... Noni Arini... jangan mendekat ke sana,” suara Meneer bergetar. “Dia adalah Isabelle Van Den Broeke. Dia bukan bagian dari keluarga kami, tapi dia adalah tunangan seorang perwira yang dikhianati di aula ini. Amarahnya tidak pernah padam selama seratus tahun.”
"Isabelle? Kenapa dia baru muncul sekarang, Meneer?" tanya Satria.
“Cermin itu adalah penjaranya. Para tukang itu telah memecahkan segel batinnya saat mereka membersihkan debu di permukaannya. Isabelle tidak menyukai keramaian, dan dia sangat benci melihat perempuan cantik yang memiliki kebahagiaan.”
Satria melirik Arini. Benar saja, bayangan Noni berbaju merah di dalam cermin itu kini menatap tajam ke arah Arini. Matanya yang biru jernih perlahan berubah menjadi merah menyala, dan senyum tipisnya robek hingga ke telinga.
Malam itu, SMA Wijaya Kusuma dicekam kengerian yang berbeda. Biasanya, hantu-hantu sekolah seperti Mbak Suryani atau Pocong Dudung adalah penghuni yang "bersahabat". Namun malam ini, mereka semua menghilang. Ucok bahkan bersembunyi di dalam tas Satria dan menolak keluar, menggigil ketakutan.
“Sat... Suster Lastri aja lari ke sumur belakang! Noni baju merah itu galak banget! Dia bawa gunting tanaman ghaib!” lapor Ucok dengan suara mencicit.
Saat Satria dan Arini sedang lembur di ruang OSIS untuk menyiapkan laporan, lampu koridor mulai berkedip-kedip dengan irama yang aneh. Suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar bergema, klak... klak... klak... sangat lambat tapi pasti.
"Dia di sini," bisik Satria. Ia segera mengeluarkan garam kasar dan air suci yang selalu ia bawa sejak insiden dimensi antara.
Tiba-tiba, pintu ruang OSIS tertutup dengan keras. BRAK!
Suhu ruangan turun hingga di bawah nol derajat. Di dinding putih ruang OSIS, muncul rembesan cairan berwarna merah yang berbau amis mawar. Cairan itu membentuk tulisan dalam bahasa Belanda kuno: “Jij bent niet de enige die hier gelukkig mag zijn” (Bukan hanya kau yang boleh bahagia di sini).
Sesosok wanita muncul menembus pintu. Gaun merahnya berkibar meskipun tidak ada angin. Wajahnya cantik, namun ekspresinya dingin seperti es. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gunting besar yang karatan namun memancarkan aura kematian yang kuat.
“Maria...” desis Isabelle, matanya terpaku pada Arini. “Keturunan Van De Berg yang beruntung. Kau punya cinta, kau punya masa depan. Sementara aku? Aku mati di malam dansa saat tunanganku pergi dengan wanita lain!”
"Aku bukan Maria yang kau maksud! Aku Arini!" teriak Arini sambil menggenggam liontinnya.
Isabelle tertawa, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. Ia menerjang maju. Satria segera melempar garam kasar ke arahnya, namun Isabelle hanya mengibaskan tangannya. Garam itu berubah menjadi kelopak mawar hitam yang layu sebelum menyentuh gaunnya.
"Garem nggak mempan, Sat! Dia terlalu kuat karena dendamnya personal!" seru Arini.
Satria mencoba menghalangi jalan Isabelle. "Noni, berhenti! Arini nggak salah apa-apa atas apa yang terjadi sama kamu seratus tahun lalu!"
Isabelle menatap Satria. Guntingnya terbuka lebar, siap memotong benang takdir Satria. “Laki-laki... kalian semua sama. Janji manis tapi busuk di dalam!”
Tepat saat Isabelle hendak menyerang Satria, sebuah benda terbang melesat dari sudut ruangan. Itu adalah botol infus ghaib milik Suster Lastri!
“Enak saja mau potong-potong pasien saya! Kamu butuh obat penenang dosis tinggi, Noni!” seru Suster Lastri yang akhirnya muncul kembali dengan keberanian yang dipaksakan.
Pocong Dudung juga muncul, ia melompat-lompat mencoba mengalihkan perhatian Isabelle. “Noni! Lihat saya! Saya lebih merah—eh, saya lebih putih dari kain kafan Noni! Ayo kejar saya saja!”
Meneer Van De Berg muncul dan mencoba menahan tangan Isabelle. “Hentikan, Isabelle! Ini bukan aula dansa tahun 1920! Kau hanya menyakiti anak-anak yang tidak tahu apa-apa!”
Namun, Isabelle sedang dalam puncak amarahnya. Kekuatannya meledak, memukul mundur Suster Lastri dan Meneer hingga mereka terlempar ke dinding dimensi.
Satria menyadari sesuatu. Isabelle terus-menerus memegangi bagian dadanya yang tertutup gaun merah itu. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di sana.
"Rin! Cek foto di liontin lo! Ada nggak hubungan antara Maria sama Isabelle?" teriak Satria sambil menahan gempuran hawa dingin Isabelle.
Arini dengan cepat membuka liontinnya. Di balik foto Maria, ada secarik kertas kecil yang terselip sangat dalam, hampir tidak terlihat. Ia menariknya keluar. Itu adalah sepucuk surat permohonan maaf yang tidak pernah terkirim.
"Untuk Isabelle, sahabatku. Maafkan aku karena perwira itu memilihku. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku menyimpan gaun merah ini sebagai tanda duka cita atas kepergianmu. Aku harap kau menemukan kedamaian."
"Sat! Dia sahabat nenek buyut gue! Dia salah paham!" seru Arini.
Arini melangkah maju, meskipun Isabelle sudah mengarahkan guntingnya ke leher Arini. "Isabelle! Lihat ini! Maria tidak pernah membencimu! Dia menyimpan gaun ini karena dia berduka untukmu!"
Isabelle terhenti. Matanya menatap surat yang dipegang Arini. Perlahan, wujudnya yang menyeramkan mulai melunak. Gunting di tangannya jatuh ke lantai dan menghilang menjadi asap.
“Dia... dia berduka untukku?” suara Isabelle kini terdengar rapuh, bukan lagi penuh amarah.
"Iya. Dia merasa bersalah seumur hidupnya karena dia pikir kamu membencinya," Arini mendekat dan memberikan surat itu ke arah Isabelle.
Saat Isabelle menyentuh surat itu, warna merah pada gaunnya perlahan memudar menjadi warna putih yang indah—gaun dansa yang seharusnya ia pakai di malam terakhirnya. Wajahnya kembali cantik dan tenang. Air mata ghaib mengalir di pipinya.
“Aku sudah menunggu terlalu lama di dalam kegelapan cermin itu... Aku hanya ingin tahu bahwa aku pernah dicintai sebagai sahabat...”
Meneer Van De Berg mendekat, memberikan tangannya kepada Isabelle. “Sudah waktunya, Isabelle. Mari kita pergi ke pesta dansa yang sesungguhnya. Maria sudah menunggumu di sana dengan gaun putih yang sama.”
Isabelle tersenyum pada Satria dan Arini. “Terima kasih, Penjaga... Terima kasih, Maria kecil. Jangan pernah biarkan benang takdir kalian terputus oleh kesalahpahaman.”
Sosok Isabelle dan Meneer perlahan menghilang dalam pusaran cahaya putih yang hangat, meninggalkan aroma mawar segar yang harum, bukan lagi mawar busuk.
Suasana ruang OSIS kembali normal. Rembesan cairan merah di dinding menghilang, dan suhu ruangan kembali hangat. Satria terduduk lemas di kursi, jantungnya masih berdegup kencang.
"Gila... itu tadi horor banget, Rin," keluh Satria sambil mengusap keringat dingin di dahinya.
Arini menyimpan kembali surat itu ke dalam liontinnya. "Setidaknya sekarang dia sudah tenang, Sat. Kadang hantu itu cuma butuh klarifikasi, bukan pengusiran paksa."
Ucok keluar dari tas Satria, kepalanya celingukan. “Sudah aman? Noni baju merah sudah nggak ada? Saya tadi hampir mau pingsan ghaib, Sat!”
"Aman, Cok. Lo payah, masa kalah berani sama Suster Lastri," ledek Satria.
Suster Lastri muncul sambil merapikan topinya. “Tentu saja! Saya kan profesional! Tapi Sat... jangan lupa ya, bunga sedap malamnya ditambah satu buket lagi buat kompensasi trauma jantung saya.”
Keesokan harinya, renovasi aula berlanjut. Cermin emas itu dipindahkan ke museum sejarah sekolah. Arini meminta para tukang untuk tidak lagi menutup-nutupi sejarah aula tersebut.
Satria dan Arini berdiri di tengah aula yang kini terasa lebih terang. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, menyinari debu-debu yang menari di udara.
"Sat, kamu mikir nggak? Apa kita bakal punya benang takdir yang panjang kayak Maria dan Meneer?" tanya Arini tiba-tiba.
Satria menatap Arini, lalu menatap benang merah ghaib yang tipis (yang hanya bisa dilihatnya) yang melingkar di jari manis mereka berdua—sebuah tanda ikatan yang muncul setelah mereka berhasil melewati teror Isabelle.
"Gue nggak tahu seberapa panjang, Rin," jawab Satria sambil tersenyum. "Tapi gue bakal mastiin nggak akan ada gunting ghaib mana pun yang bisa mutusin benang itu."
Arini tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Teror Noni Belanda bergaun merah mungkin telah berakhir, namun petualangan mereka sebagai duo indigo SMA Wijaya Kusuma masih menyisakan banyak bab rahasia yang menunggu untuk dibuka.