Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Geometri Tanpa Batas
Kegelapan di dalam kamar utama Saga biasanya terasa menenangkan, sebuah ruang hampa yang sunyi dan teratur. Namun malam ini, kegelapan itu terasa berat, seolah-olah udara di Unit 402 telah berubah menjadi cairan kental yang sulit dihirup.
Aroma sandalwood dari lilin aromaterapi Saga kini harus berbagi ruang dengan wangi stroberi yang manis dan agak tajam dari rambut Nala.
Saga berbaring setegak papan di sisi kanan ranjang.
Punggungnya kaku, dan matanya menatap langit-langit seolah sedang menghitung partikel debu yang mungkin lolos dari filternya. Ia bisa merasakan setiap pergerakan kecil di sisi kiri kasur. Setiap kali kain sprei katun Mesir-nya bergesekan dengan daster Nala, saraf-sarafnya berdenyut.
"Mas... kamu belum tidur?" suara Nala memecah kesunyian, pelan namun terdengar seperti ledakan di telinga Saga.
"Bagaimana saya bisa tidur kalau ada polutan di sebelah saya?" sahut Saga dingin, meski sebenarnya detak jantungnya sedang melakukan maraton.
Nala mendengus, suara yang sangat tidak elegan.
"Kasurnya empuk begini, Mas. Harusnya Mas bersyukur. Di kamar tamu, bantalnya agak keras tahu."
"Itu karena kamu menumpuknya dengan novel-novel murahanmu itu, Nala."
Hening kembali turun. Namun bagi Saga, keheningan ini justru lebih menyiksa. Tanpa selotip hitam di lantai, ia merasa kehilangan kompas moral dan kedaulatannya.
Selama ini, garis itu adalah dinding pelindung. Selama Nala di sana dan dia di sini, dunianya tetap aman. Sekarang, ruang di antara mereka hanyalah hamparan sprei abu-abu yang tidak berpenghuni—sebuah wilayah tak bertuan yang berbahaya.
Tiba-tiba, Nala bergerak. Ia berbalik posisi, memunggungi Saga. Namun, karena kebiasaan tidurnya yang "ekspansif", kakinya yang tidak tertutup selimut secara tidak sengaja bersentuhan dengan betis Saga.
Saga tersentak seolah tersengat listrik. "Nala! Kakimu!"
"Aduh, maaf! Dingin, Mas... AC kamu ini kayak di kutub utara," gumam Nala sambil menarik selimut, tanpa sadar menarik lebih banyak bagian selimut ke arahnya.
Saga merasa separuh tubuhnya kini terpapar udara dingin. Ia ingin menarik balik selimut itu, tapi itu berarti ia harus menyentuh tangan Nala atau masuk lebih jauh ke dalam "zona merah" gadis itu. Ia memilih untuk tetap kaku, membiarkan kedinginan menusuk kulitnya daripada harus menyerah pada situasi ini.
Namun, kantuk adalah musuh yang tidak bisa dilawan selamanya. Setelah hampir dua jam bertarung dengan pikirannya sendiri, mata Saga mulai terasa berat. Ia mulai terbuai ke dalam alam bawah sadar, tepat saat suhu udara di dalam kamar mencapai titik terendahnya.
Di sinilah bencana yang sesungguhnya dimulai.
Dalam tidurnya, Nala adalah seorang penjelajah. Ia mencari sumber panas secara insting. Merasa ada sesuatu yang hangat di dekatnya, Nala mulai bergeser. Perlahan tapi pasti, ia melintasi garis imajiner yang dulu memisahkan mereka.
Saga, yang baru saja terlelap, mendadak merasakan beban tambahan di lengan kanannya. Ia bermimpi sedang tertimpa reruntuhan maket bangunan, namun saat matanya terbuka sedikit, ia menyadari kenyataan yang lebih mengerikan.
Kepala Nala sudah mendarat dengan nyaman di bahunya. Rambut gadis itu menggelitik leher Saga, dan yang lebih parah lagi, kaki Nala kini melingkar santai di atas kakinya.
Saga membeku. Napasnya tertahan. Ia ingin berteriak "Pelanggaran Wilayah!", tapi mulutnya seolah terkunci.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat wajah Nala yang tertidur pulas. Tanpa ekspresi menyebalkan atau mulut yang terus mengunyah keripik, Nala terlihat... tenang. Bahkan, hampir manis.
Saga menatap langit-langit lagi, merutuki nasibnya. Ia bisa saja mendorong Nala sekarang, tapi ia tahu Nala akan terbangun dan mereka akan berdebat hingga subuh, yang artinya Tante Sofia pasti akan bangun dan curiga.
Tahan, Saga. Tahan. Ini cuma tiga hari, batinnya meratap.
Namun, tangannya yang berada di bawah kepala Nala mulai kesemutan. Ia mencoba menggerakkannya sesenti demi sesenti, tapi
Nala justru mengerang kecil dan semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Saga, seolah Saga adalah guling limited edition.
"Daster ayam jago sialan," bisik Saga lirih, matanya menatap motif ayam jago yang sekarang berada tepat di depan matanya.
Saga akhirnya menyerah. Ia membiarkan lengannya menjadi bantal darurat bagi gadis berantakan itu. Ia menutup matanya, mencoba membayangkan garis selotip hitam yang sangat lurus di pikirannya sebagai meditasi.
Tapi anehnya, sensasi hangat yang menjalar dari tubuh Nala perlahan-lahan mulai mencairkan kekakuan di dalam dirinya.
Malam itu, di Unit 402, simetri bukan lagi prioritas utama.
Beberapa jam kemudian, cahaya subuh mulai mengintip dari balik gorden. Saga terbangun lebih dulu karena ia mencium aroma yang tidak biasa. Bukan aroma parfum mahalnya, tapi aroma... mentega dan bawang putih?
Matanya terbuka lebar. Nala masih menempel padanya seperti perangko. Tapi yang membuatnya panik bukan itu.
CELEKREK.
Pintu kamar terbuka pelan. Tante Sofia muncul dengan wajah ceria dan celemek di pinggang.
"Anak-anak, sarapan sudah—"
Tante Sofia berhenti di ambang pintu.
Matanya berbinar melihat posisi "romantis" putra kaku dan calon menantu pura-puranya. Nala yang memeluk lengan Saga, dan Saga yang (terlihat seperti) sedang mendekap kepala Nala.
"Oh! Mama tidak bermaksud mengganggu!" Tante Sofia menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya penuh kemenangan.
"Lanjutkan saja! Mama akan taruh nasi gorengnya di meja makan. Jangan lupa mandi bareng ya supaya hemat air!"
Begitu pintu ditutup kembali, Saga langsung mendorong Nala hingga gadis itu terjaga dengan kaget.
"Apa?! Ada apa?! Kebakaran?!" seru Nala panik, rambutnya berdiri ke segala arah.
"Mati kita, Nala! Mama lihat kita!" Saga melompat dari kasur, wajahnya merah padam.
"Dan gara-gara kamu, sekarang Mama punya ide yang lebih gila lagi!"
Nala mengucek matanya, menatap Saga yang tampak seperti baru saja lolos dari maut.
"Tapi Mas... tadi malam lengannya enak banget jadi bantal. Mas pakai deterjen apa sih?"
Saga hanya bisa menggeram frustrasi, menyambar handuknya, dan berlari ke kamar mandi. Sementara itu, Nala tersenyum kecil di balik selimut abu-abu itu. Mungkin hidup tanpa selotip hitam tidak seburuk itu.