Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rundingan
Ratna menelan salivanya, saat Ia mendengar pertanyaan dari Gina.
Bagaimanapun,ia tidak mau—jika Alawiyah menjadi target, sebab wanita itu, sudah menjadi tujuannya, setelah Bayu— maka Alawiyah adalah yang berikutnya.
"Jangan," potongnya dengan cepat. Ekspresinya seperti seseorang yang sangat kalut..
"Memangnya kenapa?" Juminten bertanya penuh selidik. Keningnya berkedut, mencari jawaban dari Ratna yang tampak serius.
"Sebab dia berhijab, pastinya faham agama, dan sulit untuk ditumbalkan," Ratna mencoba menghasut, ia tak mau kehilangan calon tumbal berikutnya.
Saat ini, ia berharap jika keduanya termakan oleh semua bualannya.
Gina dan Juminten mengangguk patuh, seolah apa yang dikatakan oleh Ratna adalah kebenaran.
"Baiklah, kalau begitu, kita sepakat saja, aku akan kepesarean besok, dan meminta kuncen untuk menghubungkan dengan jin yang menjadi sekutuku untuk menukar tumbal,"
Gina sudah menyetujui rundingan yang dibuat, agar tidak lagi ada persaingan dalam mendapatkan jiwa Bayu.
"Ya, aku juga rencana besok mau ziarah dulu ke makamnya Eyang Jugo, baru ke hutan segitiga," jawab Juminten menimpali.
"Ya, sudah. Kita sama saja, besok aku jemput," Gina menyahut.
"Kita sudah deal—dan kesepakatan ini tidak dapat diganggu gugat lagi." Ratna menekan nada bicaranya. Lalu menimang kunci mobilnya.
"Aku mau belanja ayam cemani dulu, kita berpisah disini." Ratna melenggok memasuki mobilnya, dan meninggalkan kedua bestie nya tersebut.
****
Malam beranjak, terlihat dilangit tak satupun bintang yang muncul, seolah tertutup awan kelabu.
Alawiyah baru saja selesai membaca yasinnya, dan ini adalah malam ketiganya, ia butuh empat malam lagi, dan membaca tanpa terputus.
jika satu malam terlewati, maka harus mengulang dari awal.
Wuuuush
Udara panas tiba-tiba datang ke ruang kamarnya, dan membuat Alawiyah merasa gerah.
"Panas sekali, biasanya kalau malam, dipegunungan akan terasa dingin." ia mengipas-ngipas lehernya dengan menggunakan telapak tangan.
Rasa gerah, membuat ia melepaskan pakaiannya, dan menggantinya dengan pakaian dinas yang biasa ia kenakan saat bersama Bayu dulu.
Tanpa Alawiyah sadari, sesosok makhluk mengerikan sedang berdiri tepat dibelakang jendela kamarnya.
Ia sedang mengendus aroma jiwa yang akan ia dapatkan, dan malam ini—adalah malam terakhir dari perjanjian yang sudah disepakati, dan jika tidak juga tercapai, maka harus ada konsekuensinya.
"Aku harus menembusnya, meskipun wanita itu memagar Bayu dengan doa, tapi aku tidak boleh menyerah."
Sosok itu menerobos masuk melalui lubang angin.
Dan kedua matanya semakin menyala, saat melihat tubuh Alawiyah yang berpakaian cukup menantangnya.
"Huh, andai saja tugas yang ini sudah selesai, maka aku akan senang hati mengggahinya," sosok itu tersenyum mesum, saat melihat sang wanita tertidur lelap disamping suaminya.
Sosok Genderuwo itu semakin mendekat, dan jarak tidak lagi ada—tangan besar itu menyentuh dada Bayu.
"Kau milikku." ucapnya dengan suara yang sangat serak, dan saat ia ingin menghisapnya, tiba-tiba saja sebuah tendangan mengenai kepalanya.
"Menyingkirlah! Ini bagianku!" sosok wanita bermuka hancur, dengan aroma amis darah yang menyengat menghalangi niatnya.
Sosok Genderuwo terpental, dan menembus dinding, lalu terhenti saat tubuhnya menghantam pohon pulai.
Pohon yang sedang berbunga lebat, dan menebarkan aroma yang menyengat, menghentikan tubuhnya.
Sedangkan sosok Sundel Bolong yang tadi menghantamnya, bergegas menempelkan mulutnya diubun-ubun Bayu, dan mereka sepertinya sedang terburu-buru, dikejar waktu.
Baru saja ia menempelkannya mulutnya, satu sosok Pocong datang menendangnya, menggunakan bokongnya.
Aroma busuk yang lebih mirip tai lering, menguar di ruang kamar.
Buuuuugh
Tendangan bokongnya, mampu membuat sang Sundel Bolong terpental keluar, lalu menubruk tubuh Genderuwo, yang membuat mereka saling peluk.
Duuuuuaar
Tiba-tiba suara ledakan yang cukup kuat terdengar dari luar.
Hal itu disebabkan oleh Genderuwo dan juga Sundel Bolong yang sedang adu mekanik.
Suara ledakan itu membuat Alawiyah terbangun. "Allahu Akbar." pekiknya dengan tiba-tiba, saat ia tersadar dari tidur lelap.
Suara takbir yang di kumandangkan oleh Alawiyah, membuat Pocong kiriman seseorang—tersentak kaget.
"Hah!" ia terlonjak, dan menyurut kebelakang, saat hawa panas seolah menjalar ke tubuhnya.
"Dia mengucap apa, sih?" sosok itu merasa seperti terbakar.
Kenapa bau tai kering—ya?" ucapnya, sembari menggerakkan ujung hidung, dan ingin mencari sumbernya
Alawiyah menoleh ke arah belakang, dan spontan ia kembali beristighfar. " Astagfirullahalladziim ...." pekiknya dengan rasa ketakutan. Ditambah lagi, saat ia melihat pocong berada di dalam kamar, dengan wajah gosong.
"Kamu ngapain disini?! Pergi!" usir Alawiyah dengan wajah takut.
"Ya nyari tumbal-lah, masa iya mau konser!" sahut pocong tersebut dengan nada marah, sebab Alawiyah sudah memergoki aksinya.
"Astaghfirullah, dasar jin ifrit, jin Ba'al! Ngapain pula kau nyari tumbal kemari, kau ambil saja tuanmu jadi tumbal, kenapa meati orang lain?!" Alawiyah terlibat cekcok.
Ia beranjak bangkit, dan menantang pocong tersebut dengan kesal.
"Eh, gak takut pula kau—ya? Malah nantangin?" sosok pocong itu merasa kesal, sebab merasa harga dirinya di injak-injak oleh Alawiyah, karena wanita itu tidak takut sedikit pun saat melihat wajahnya yang gosong.
"Kau pasti ingin mengambil jiwa suamiku?!"
"Iya, emangnya kenapa? Maslah buat, loe?!" jawab si Pocong dengan angkuh.
"Maka aku tidak takut menghalangimu! Aku akan menyelamatkannya, apapun yang terjadi!" balas Alawiyah dengan memberanikan dirinya.
Sebab ia mengingat pesan gurunya, jangan pernah takut dengan mereka, karena jika kita berani, maka mereka yang akan mundur.
"Oh, coba saja kalau kau bisa? Dukun mana yang kau pakai buat menghalauku?" tantang Pocong tersebut dengan congkak.
Alawiyah dengan cepat menanggapinya. "Allahu laa illaha ilaa huwal hayyul qayum ..."
Alawiyah membaca surah langganan yang dipercaya dapat mengusir jin ifrit.
"Hah! Panas tau! Apa pula yang kau baca ini, berhenti weeey!" pekik sang pocong,ia sudah sangat kepanasan, dab tak tahan lagi.
"Sialan!" makinya, lalu memilih pergi.
Sialnya, saat ia berhasil keluar dari kamar Alawiyah, justru ia bertemu dengan Genderuwo dan juga Sundel Bolong yang saling jambak-jambakan.
"Weey, bubar, bubar! Sebelum terbakar!" pocong itu mengingatkan, lalu melesat menghilang.
Sundel Bolong yang menyadari hawa panas dari doa yang dibaca Alawiyah, menghentikan aksinya, lalu menarik bulu ketiak Genderuwo sebelum ia melesat pergi.
Sedangkan sang Genderuwo terlambat menyadari, kilauan cahaya keperakan yang menghantarkan panas, datang menyambarnya, lalu dengan cepat membakar tubuhnya.
Wuuuusss
"Aaaaarrrg ...." pekiknya dengan suara yang kencang dan menggelegar, hingga membuat Ratna yang masih berbaring sembari bermain ponsel tersentak kaget.
Sang Genderuwo meronta kepanasan, sedangkan Alawiyah mengulanginya berulangkali, dan semakin membuat Genderuwo itu terus berteriak kesakitan, dan suara pekikannya semakin kencang.
"Hah? Kenapa si Genderuwo?" ia meletakkan ponselnya, lalu membenahi piyamanya.
Ratna beranjak dari berbaringnya, berniat ingin mengintai dari tirai jendela.
Belum sempat ia menyadari semuanya, sosok Genderuwo itu menabrak tubuhnya.
Braaaak
Ratna terlempar lagi ke ranjang, dan sosok itu berdiri dengan bulunya yang hangus.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏