“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Seniman berdarah
Lu Ming tidak melakukan gerakan menghindar yang besar atau dramatis. Ia hanya menggeser tumit kaki kanannya satu inci ke belakang tepat saat mata pedang itu nyaris menyentuh kulit lehernya.
Pedang besar itu menyapu angin kosong, menciptakan siulan tajam. Dalam sekejap mata, sebelum lawan sempat menarik kembali senjatanya, jari-jari tangan kiri Lu Ming sudah menempel di pergelangan tangan pria bopeng itu.
Krak!
Suara tulang yang hancur berkeping-keping terdengar renyah di tengah kesunyian gang. Pria itu menjerit histeris saat pergelangan tangannya terkulai lemas, pedang besarnya jatuh berdenting ke tanah becek.
Lu Ming tidak memberinya waktu untuk memproses rasa sakit. Dengan gerakan tangan kanan yang anggun namun secepat kilat, ia menarik pedang pendeknya dari sarung di pinggang.
Bilah pedang pendek itu kini telah dialiri Arus Qi yang sangat pekat dan murni, begitu padat hingga bilahnya tampak bergetar dan memancarkan cahaya hitam legam yang kelam.
Dengan satu putaran tubuh yang estetis, Lu Ming membelah dada pria bopeng itu diagonal dari bahu hingga pinggang.
Darah segar menyembur deras seperti air mancur yang rusak, membasahi wajah dan jubah Lu Ming dalam sekejap.
Bukannya merasa jijik atau menyeka darah itu, Lu Ming justru memejamkan matanya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati kehangatan cairan kental itu di kulit wajahnya yang sedingin es.
"Satu goresan tinta pertama untuk kanvas malam ini," bisiknya pelan, senyum tipis, sangat tipis dan mengerikan muncul di sudut bibirnya.
Teman-teman pria bopeng itu, sekitar tujuh orang, tertegun sejenak melihat pemimpin mereka tewas dalam satu gerakan.
Namun, rasa solideritas semu dan kemarahan mengalahkan rasa takut mereka.
Mereka berteriak murka, menghunuskan senjata mereka, dan menyerbu Lu Ming secara serentak dari segala arah.
Lu Ming bergerak. Ia bukan lagi seorang pemuda yang berjalan menyeret langkah, melainkan menjelma menjadi hantu kelaparan di antara bayang-bayang gang sempit.
Gerakannya tidak brutal atau serampangan, setiap tebasan, tusukan, dan elakan pedangnya dilakukan dengan presisi yang mengerikan. Ia bergerak seperti seorang penari yang sedang melukis kaligrafi kematian di udara malam.
Ia menebas leher kultivator pertama, lalu menggunakan momentum tubuh lawan yang jatuh sebagai tumpuan untuk melompat di udara, menghindari tebasan parang, dan menusuk jantung orang kedua tepat dari atas.
Ia tidak menyentuh, bahkan tidak melirik, para warga sipil yang ketakutan dan bersembunyi di balik pintu atau gerobak di pinggir jalan. Targetnya hanyalah mereka yang menghunuskan senjata dan memiliki "niat membunuh".
Dalam waktu kurang dari satu batang dupa terbakar, pertempuran berakhir. Jalanan itu kembali menjadi sunyi senyap, hanya suara tetesan darah yang jatuh dari ujung pedang Lu Ming dan genangan air di lantai batu yang terdengar, ritmis dan mengerikan.
Setelah sepuluh mayat kultivator terkapar bersimbah darah, Lu Ming berjalan perlahan menuju sebuah tembok putih besar milik sebuah gudang gandum di ujung gang. Tembok itu bersih, sebuah kanvas sempurna.
Ia mencelupkan jari-jari tangan kanannya ke dalam genangan darah yang masih hangat di lantai batu.
Dengan gerakan tangan yang sangat ahli, gerakan seorang master kaligrafi, ia mulai menulis di tembok putih itu.
Setiap huruf yang ia buat seolah-olah ditarik paksa dari lubuk jiwanya yang paling dalam, membawa serta rasa sakit dan kehancurannya.
Darah kental itu tidak hanya mengalir ke bawah, melainkan meresap ke dalam pori-pori tembok batu akibat tekanan Qi yang Lu Ming salurkan melalui ujung jarinya. Huruf-huruf itu tampak hidup, berdenyut gelap di bawah cahaya bulan.
"Dua puluh tahun menenun rindu,"
"Ternyata sutra yang kupintal hanyalah debu."
"Ibu tersenyum di taman yang asri,"
"Putranya membusuk di jalanan sunyi."