gadis bernama Gabriela atau biasa di panggil El, berusaha membalas dendam nya kepada orang yang menyakitinya dan juga orang yang telah membunuh mama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinsesAna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Dia yang mancing gue. " ucap El dengan wajah datar nya.
"Lo pikir gue ga tau, dari awal masuk sekolah ini, Risa cuma mau temenan sama lo tapi lo selalu ketus dan cuek. " ucap Ryan menatap El.
"Terserah lo. " ucap El yang tidak mau berdebat hanya karena masalah ini.
"Lo sama aja dengan yang lain, padahal Risa cuma mau temenan aja sama lo, karena dia emang ga punya temen, apa karena dia ga punya orang tua karena itu lo ga sudi temenan saja dia, karena lo masih memiliki orang tua jadi lo ga mau berteman dengan dia. " ucap Nino yang memang selama ini merasa kasihan dengan Risa.
El sendiri terdiam, bukan karena ucapan Nino mengenai Risa sering di bully atau apa pun itu, El sendiri saja tidak tau tentang bagaimana Risa, yang bahkan dia lupa dengan nama Risa itu.
Kata memiliki orang tua membuat El rasa nya ingin tertawa mendengar kata itu, ah jangankan keluarga teman saja dia tak punya,
dia memang memiliki seorang Ayah, yang bahkan dari dia lahir hingga sebesar sekarang tak El mendapatkan yang nama nya kasih sayang, yang selalu dia dapatkan hanya kata kasar, bentakan dan pukulan juga hinaan.
Sedangkan Risa masih memiliki Ryan sebagai saudara nya yang melindungi nya, dan El sendiri hanya punya dirinya sendiri, lantas siapa yang jauh lebih menyedihkan, tanya El entah kepada siapa.
"Hubungan nya sama gue apa kalau dia ga punya orang tua dan sering di bully, gue ga butuh harus nya dari situ dia ngerti kalau ga semua ke inginan dia bisa di penuhi, dia ga bisa maksa orang lain buat temenan sama dia dan lo saudara dia kan, kenapa ga lo aja yang nyariin dia temen atau lo atau lo semua, jangan usik gue karena gue ga pernah ganggu kalian dan gue ga butuh temen. "ucap El yang segera pergi dari tempat itu.
El sangat benci saat orang mengatakan jika dia adalah anak yang beruntung karena memiliki orang tua, beruntung apa nya, kata beruntung menurut El adalah saat dia masih mampu bertahan sejauh ini, walaupun hanya mengandalkan diri sendiri dalam segala hal.
Tak lama bell masuk berbunyi dan dan guru pun masuk.
"Pagi anak anak." sapa guru wanita itu dengan senyuman hangat.
"Hari ini ibuk akan memberikan kalian tugas kelompok dan terdiri dari dua orang. " ucap Guru itu.
"kelompok nya sama dengan biasa nya ya. " ucap guru itu.
"Buk." panggil El membuat guru itu menoleh.
"Ya, ah kamu anak baru itu kan, apa kamu belum punya kelompok.? " tanya guru itu dengan ramah.
"Belum buk. " jawab El membuat guru itu tersenyum.
"Sebentar ibuk lihat dulu, disini yang tidak punya kelompok juga, Risa. " ucap Guru itu.
"Kamu mau kan satu kelompok dengan Risa.? " tanya guru itu yang di angguki oleh El.
Risa memang biasa nya sendiri karena tidak ada yang mau satu kelompok dengan nya.
"Ya sudah jadi semua sudah memiliki kelompok dan tugas nya minggu depan harus kalian kumpulkan. " ucap guru itu yang di iyakan oleh semua nya.
...
El berjalan sendiri menuju kantin untuk mengisi perut nya yang terasa lapar.
El memesan makanan dan duduk di bangku kosong, yang ada di tengah kantin itu, karena meja yang ada di pinggir sudah penuh.
El menikmati makanan nya, begini lah dia sendiri tanpa ada teman untuk bercerita.
Brak
El mendongak saat ada orang yang berani mengebrak meja nya dan menganggu acara makan siang nya.
"Lo beliin gue makanan. " ucap Alena kepada El.
Alena adalah geng pembully di sekolah ini, dia sangat suka membully siswi yang lemah dan juga berada di bawah nya.
"Heh lo denger ga.? " ucap salah satu teman Alena.
"Lo mau pura-pura tuli, cepet pesenin gue makanan. " ucap Alena kepada El yang masih sibuk menikmati makanan nya.
Alena yang kesal mengepal kuat tangan nya, sial El berani sekali melawan nya.
Byurr
Alena mengambil bakso El dan menyiram nya ke tubuh El.
El sendiri memejamkan mata nya, Sial ternyata Alena berani sekali berbuat seperti ini.
"Hahah mampus lo. " ucap Alena tertawa bersama teman teman nya.
Brak
El menendang meja itu hingga terguling, dan itu membuat Alena beserta teman nya terdiam bahkan seisi kantin pun terdiam.
"Lo berani usik gue. " ucap El dengan seringai di bibir nya.
Bugh
Gerakkan tangan El yang begitu cepat memberikan Alena bogeman di hidung nya, hingga Alena berteriak histeris.
"Lo." ucap Alena memegang hidung nya yang mengeluarkan darah.
"Apa hmm.?" tanya El mendekati Alena dan kelompok nya.
"Jangan ganggu gue, karena gue ga pernah ganggu lo, atau lo bakalan dapet yang lebih dari ini. " ucap El kepada Alena yang wajah nya memerah.
El segera pergi, tapi sebelum itu dia menyiram Alena dengan cabe yang ada di atas meja dan juga minuman.
Tak lupa El menghampiri penjaga kantin dan mengganti kerusakan yang sudah di perbuat, baru lah dia pergi dari kantin itu.
Meninggalkan Alena yang menatap penuh kebencian pada nya.
El sangat yakin jika nanti Alena akan mengadu pada Ayah dan membuat diri nya di hajar oleh ayah nya.
"El liat aja lo, bakalan gue bales. " batin Alena yang tidak akan melepaskan El begitu saja.
Sebelum membersihkan diri nya di toilet, El lebih dulu membeli seragam di koperasi sekolah, karena seragam nya sudah kotor.
El kembali ke kelas setelah membersihkan diri nya dan mengganti pakaiannya.
"Emm El,kita kan satu kelompok dan gue belum punya nomor lo buat ngabarin dimana ngerjain tugas nya. " ucap Risa kepada El.
"Ponsel lo. " ucap El meminta ponsel Risa dan dia memberikan nomor ponsel nya pada Risa.
"Nanti gue kabari. " ucap Risa yang hanya di jawan dengan deheman oleh El.
Jam pulang pun tiba El segera pergi menuju parkiran dan akan pulang ke apartemen nya saja.
"El nanti gue kabari jam berapa dan lokasi dimana. " ucap Risa menghampiri El dan tak jauh dari situ ada geng Venom yang mengawasi.
"hmm." jawab El dengan deheman dan dia segera mengendarai motor nya meninggalkan sekolah.
"Dingin bener ya si El. " ucap Cakra yang masih saja kikuk melihat sikap dingin El, padahal tak jauh beda dengan Al yang dingin nya sebelas dua belas dengan El, tapi kenapa harus ada satu manusia lagi yang dingin seperti itu.
"Cabut." ucap Al mengendarai motor nya meninggalkan sekolah.