Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
'Jangan dekat-dekat... jangan dekat-dekat.' batin Aira panik dan berdoa dalam hati. 'Jaga jarak... jaga jarak, biar aman, biar gak malu, biar gak salah apa-apa.' Aira menarik selimut abu-abu gelap itu perlahan-lahan dengan tangan yang masih gemetar, menutupi tubuhnya sampai ke dada, hanya menyisakan kepala yang cantik itu keluar dari balik selimut tebal dan hangat itu. Jantungnya masih berdegup sangat kencang bukan main, seakan ingin meledak keluar dari rongga dadanya.
Tak lama berselang, Elvano pun ikut membaringkan tubuhnya yang tinggi besar dan berat itu di sisi lain ranjang, tepat di sebelah kanan, berjarak sangat jauh dari Aira.
Bugh...
Suara pelan terdengar saat tubuh pria itu menyentuh kasur empuk itu. Kasur yang sangat empuk itu sedikit terguncang pelan karena berat tubuh Elvano saat ia membaringkan dirinya, memberikan getaran halus yang sangat terasa oleh Aira, meskipun mereka terpisah oleh jarak yang begitu lebar.
Elvano berbaring telentang dengan posisi yang santai namun tetap gagah, kedua tangannya diletakkan bersilang di belakang kepalanya yang menjadi bantal, atau kadang diletakkan tenang di atas perutnya yang bidang. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang gelap, hening, dan luas itu.
Meskipun matanya menatap lurus ke atas, tapi indra keenamnya bisa merasakan dengan sangat jelas kehadiran istrinya di sebelah kirinya sana. Ia bisa merasakan aura gadis itu, ia bisa mencium wangi tubuh gadis itu yang harum semerbak bak bunga melati yang segar, dan yang paling jelas, ia bisa merasakan betapa jauh jarak yang ditinggalkan gadis itu darinya.
Sangat jauh. Sangat lebar. Sangat jelas batasnya.
Seolah-olah ada garis tak terlihat yang memisahkan wilayah mereka masing-masing. Seolah-olah gadis itu takut sekali padanya. Seolah-olah ia adalah monster buas atau orang jahat yang siap menerkam kapan saja.
Elvano menghela napas panjang pelan sekali, tersenyum kecut tipis di dalam kegelapan kamar itu melihat sikap istrinya yang seolah-olah sedang membentengi diri dengan tembok tinggi dan kokoh yang tak terlihat itu.
"Ternyata dia takut banget ya sama aku." batin Elvano bergumam pelan, ada rasa geli sekaligus rasa sayang yang aneh muncul di sana. "Padahal aku gak bakal gigit kok, aku juga manusia biasa yang punya hati."
Tapi ia mengerti sepenuhnya. Ia sangat mengerti perasaan istrinya. Ia tahu bahwa semua ini butuh proses yang panjang, butuh waktu, butuh kesabaran ekstra yang tidak terbatas. Tidak ada yang bisa dikerjakan dengan terburu-buru. Tidak ada yang bisa dipaksakan. Cinta dan kedekatan itu harus tumbuh dengan sendirinya, harus dibangun pelan-pelan, selangkah demi selangkah seperti membangun sebuah istana megah yang kokoh dan abadi.
Suasana di kamar itu kembali hening. Sangat hening, sunyi senyap. Tidak ada suara lain lagi selain suara napas mereka berdua yang saling bersahutan meski terpisah oleh jarak yang cukup jauh itu. Hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar berirama tik... tok... tik... tok... yang menjadi pengiring tidur mereka malam ini.
Aira memejamkan matanya erat-erat, berusaha keras untuk bisa memejamkan mata dan terlelap segera, tapi rasanya sangat sulit sekali. Matanya terpejam rapat, tapi kelopak matanya seolah enggan untuk diam, pikirannya terus bekerja, otaknya terus berputar, dan indranya terasa sangat sensitif dan waspada terhadap segala hal.
Ia bisa merasakan kehadiran suaminya itu sangat kuat di sebelahnya sana. Meskipun tidak melihat, meskipun jaraknya sangat jauh sampai hampir menempel dinding, tapi aura maskulin yang dipancarkan oleh tubuh pria itu terasa begitu kuat, begitu hangat, dan begitu menenangkan sekaligus menakutkan bagi hati kecil Aira.
Rasanya aneh. Rasanya campur aduk. Ada rasa takut, ada rasa malu, ada rasa rindu yang aneh, dan ada rasa aman yang anehnya hadir bersamaan.
"Mas..."
Panggil Aira pelan tiba-tiba, suaranya sangat kecil, sangat lembut, nyaris tidak terdengar jelas, seperti bisikan angin malam yang berhembus pelan saja. Ia tidak berani menoleh sedikitpun, ia tetap memunggungi suaminya, punggungnya tegap namun kaku.
"Hmm?"
Jawab Elvano singkat, suaranya terdengar berat, serak, dan sedikit mendengung khas orang yang sudah sangat mengantuk, dan sedang berusaha keras memejamkan mata untuk beristirahat. Suaranya yang berat itu terdengar sangat menenangkan di telinga Aira.
"Ma... maaf ya mas."
Ucap Aira pelan, suaranya terdengar sangat sedih, ragu, dan penuh rasa bersalah yang mendalam. Dadanya terasa sesak ingin menangis lagi tapi ia menahannya kuat-kuat.
"Maaf kenapa?"
Tanya Elvano balik dengan nada santai dan tenang, matanya masih tetap terpejam rapat, wajahnya tetap tenang menghadap langit-langit kamar yang gelap gulita itu. Tangannya tetap tenang di atas perutnya.
"Maaf... Aira masih belum bisa... belum bisa seakrab yang mas harapkan."
Aira menggigit bibir bawahnya sendiri dengan sangat kuat hingga terasa perih, menahan rasa sesak di dada, dan rasa tidak percaya diri yang kembali menyerang dan menggerogoti hatinya malam ini.
"Aira masih canggung banget, masih takut, masih sungkan. Aira takut mas kecewa sama Aira. Aira takut mas ngerasa kurang karena Aira gak bisa manja atau gak bisa dekat-dekat kayak istri-istri orang lain pada umumnya."
Lirih Aira panjang lebar, mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam sendiri, yang ia simpan rapat-rapat di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia merasa sangat bersalah karena sikapnya yang masih kaku, masih menjaga jarak, seolah-olah ia tidak menghargai suaminya atau tidak menyayangi suaminya, padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Di sebelah sana, di sisi ranjang yang lain, Elvano perlahan membuka matanya yang tadinya terpejam rapat. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke samping, cukup untuk bisa melihat punggung dan rambut hitam panjang istrinya yang terlihat begitu kecil, begitu rapuh, dan terlihat sendirian di pojokan ranjang itu, di bawah cahaya remang-remang bulan yang masuk dari celah jendela.
Mendengar ucapan istrinya yang polos, tulus, dan begitu jujur itu, ada rasa haru yang menyelinap masuk dan menghangatkan seluruh sudut hati Elvano. Ada rasa sayang yang tiba-tiba mengembang besar dan memenuhi seluruh rongga dadanya, melihat betapa manis dan polosnya wanita yang menjadi istrinya ini.
"Enggak apa-apa Ra."
Jawab Elvano lembut sekali, sangat lembut. Suaranya sangat menenangkan, sangat teduh, tidak ada nada marah atau kecewa sedikitpun di sana. Justru nada bicaranya penuh dengan pengertian.
"Aku ngerti kok. Aku ngerti banget perasaan kamu. Semua ini kan baru, kan mendadak, kan asing buat kita berdua. Wiajar banget kalau kamu ngerasa gitu. Wajar banget kalau kamu masih canggung dan masih takut."
Elvano menarik napas panjang sekali, menghirup udara sejuk kamar itu dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan-lahan dengan sangat santai.
"Aku tahu ini semua butuh waktu. Butuh proses yang panjang dan pelan. Gak ada yang perlu diburu-burukan. Gak ada yang perlu dipaksakan sampai kamu merasa tertekan atau tidak nyaman."
Elvano berhenti sejenak, ia memilih kata-kata yang paling tepat dan paling indah agar bisa membuat istrinya merasa tenang, merasa aman, dan merasa nyaman berada di dekatnya.
"Kita jalanin pelan-pelan aja ya. Hari demi hari. Detik demi detik. Aku gak kecewa kok sama sekali. Aku malah respect banget sama kamu karena kamu orangnya sopan, kamu menjaga diri, dan kamu menjaga batasan dengan baik. Itu justru nilai plus yang sangat besar buat aku. Itu bagus kok Ra. Itu menunjukkan kalau kamu wanita yang baik dan berharga."
Kata-kata bijak, dewasa, dan menenangkan yang keluar dari mulut Elvano itu terdengar seperti mantra penyembuh bagi hati Aira. Rasanya begitu menenangkan, rasanya begitu melegakan.
"Iya mas..."
Hati Aira terasa sangat lega mendengarnya, seolah beban berat yang ada di pundaknya dan di dadanya itu hilang terbawa angin malam seketika. Air mata yang tadi menggenang di pelupuk matanya pun akhirnya tidak jadi jatuh membasahi pipi.
"Makasih ya mas. Makasih udah ngertiin Aira. Makasih udah sabar sama Aira." bisik Aira pelan penuh rasa syukur yang tak terhingga.
"Sama-sama." jawab Elvano singkat namun penuh makna.
"Ra..."
Panggil Elvano lagi pelan, memecahkan keheningan yang mulai terasa nyaman itu.
"Iya mas?" jawab Aira cepat dengan suara yang kecil.
"Tidur yang nyenyak ya. Istirahat yang cukup. Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi, jangan mikirin Natasha, jangan mikirin omongan jahat orang lain, jangan mikirin beban apa pun lagi malam ini. Kosongkan pikiran kamu."
Suara Elvano terdengar sangat tegas namun penuh dengan kasih sayang dan perlindungan yang luar biasa besar.
"Aku di sini. Ada aku disebelah kamu. Kita aman. Rumah ini aman. Lingkungan ini aman. Gak ada yang bakal berani ganggu kita lagi malam ini. Gak ada yang bakal berani nyakitin kamu lagi selagi aku ada di sini. Istirahatlah dengan tenang, Ra. Biarkan semua masalah dan beban itu hilang sampai pagi nanti."
Suara Elvano itu terdengar begitu berat, begitu tegas, namun di dalamnya tersimpan rasa protektif atau rasa ingin melindungi yang sangat besar dan kuat. Kata-kata itu bukan sekadar ucapan biasa, itu adalah janji seorang suami kepada istrinya. Itu adalah jaminan keselamatan yang diberikan dengan tulus.
"Iya mas." jawab Aira pelan, suaranya bergetar karena terharu.
Meskipun jarak fisik mereka di atas ranjang yang luas itu masih sangat jauh, terpisah oleh hamparan seprai putih yang luas dan dingin itu, meskipun tidak ada satu sentuhan fisik pun yang terjadi di antara mereka malam ini, dan meskipun panggilan sayang manja seperti "sayang", "cinta", atau "babe" belum terucap keluar dari bibir mereka berdua secara langsung. Tapi kata-kata tenang, nasihat bijak, dan janji perlindungan yang diucapkan oleh Elvano itu sudah lebih dari cukup. Itu sudah melebihi segalanya.
Itu sudah cukup untuk membuat hati Aira terasa hangat, damai, dan tentram luar biasa. Rasanya seperti ada selimut kehangatan yang membungkus seluruh jiwa dan raganya, membuat rasa takut dan rasa canggung itu perlahan menghilang digantikan oleh rasa nyaman yang luar biasa.
Aira menarik napas panjang sekali, menghirup udara segar dan dingin kamar itu dalam-dalam hingga memenuhi seluruh paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan dengan sangat santai dan lega.
Tubuhnya yang tadinya tegang, kaku, dan siap siaga sejak tadi, kini perlahan-lahan mulai rileks sepenuhnya. Otot-otot bahunya yang tegang, kini melorot turun dengan santai, kakinya yang tadinya kaku kini terasa lebih lentur, dan pikirannya yang tadinya kacau balau, kini terasa jauh lebih tenang dan kosong dari segala hal yang menyakitkan.
'Selamat malam mas.'
Batin Aira berucap pelan, penuh rasa hormat, penuh rasa syukur, dan mulai tumbuh benih-benih rasa sayang yang murni, tulus, dan dalam di sana.
'Mimpi indah ya... terima kasih sudah jadi pelindung buat Aira, terima kasih sudah jadi suami yang begitu baik dan pengertian.'
Dan di sisi lain ranjang yang luas itu, di sebelah kanan yang jauh dari Aira, Elvano pun kembali memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia mencoba untuk terlelap. Meskipun istrinya menjaga jarak aman yang sangat jauh darinya, bahkan posisi tubuh Aira hampir menempel sempurna ke dinding kamar di sebelah kiri sana, tapi mengetahui bahwa gadis itu ada di sana, ada di tempat yang sama dengannya, ada di bawah atap yang sama, ada di dalam satu kamar yang sama, dan ada di bawah naungan ikatan suci pernikahan mereka yang halal.
Itu sudah cukup membuat hatinya tenang untuk saat ini. Itu sudah cukup membuatnya merasa bahwa rumah ini benar-benar terasa seperti rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga, bukan hanya bangunan kosong yang dingin dan sepi seperti sebelumnya.
Ada rasa hangat aneh yang menjalar di dadanya melihat dan mendengar istrinya bisa tenang kembali. Ada rasa bangga dan rasa sayang yang mulai tumbuh subur di sana tanpa ia sadari.
Mereka berdua akhirnya terlelap dalam tidur masing-masing.
Masih dengan jarak yang lebar dan terbentang luas di antara tubuh mereka, masih dengan rasa canggung yang tipis menyelimuti suasana kamar itu, masih dengan sopan santun yang sangat terjaga.
Tapi hati mereka berdua perlahan-lahan mulai beranjak menuju arah yang sama. Mulai saling memahami, mulai saling mengerti, dan mulai saling menyayangi dengan caranya masing-masing.
Malam itu berlalu dengan sangat damai.
Angin malam berhembus pelan membelai kaca jendela, bulan purnama terus bersinar terang menerangi bumi, dan detak jam dinding terus berirama menandakan bahwa waktu terus berjalan, membawa mereka berdua menuju pagi yang baru, menuju hari yang baru, dan menuju cerita cinta yang baru yang lebih indah.
Mimpi indah, dua jiwa yang sedang belajar menyatu dalam diam dan kesabaran.