Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 My elite lover
"Suruh mereka masuk ..." ucap Saga dengan nada pelan tapi setiap suku kata menusuk seperti lembing tajam yang menusuk jantung. "Tapi ingat ... hari ini bukan cuma soal minta maaf seadanya. HARI INI ... aku mau mereka merasakan penghinaan yang BENAR-BENAR nyata! Biar mereka tahu posisi mereka sebenarnya!"
Satria mengangguk dengan senyuman iblis yang mengerikan. "Siap Komandan! Serahkan saja padaku! Udah nggak sabar liatin mereka gemetar kayak binatang yang mau disembelih!"
_______________________________________
Di Ruang Tamu Utama
Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangan Tuan Hartono, Nia, dan Sasa yang melangkah tertatih-tatih masuk. Ruangan yang megah dengan langit-langit tinggi dan hiasan kristal yang menggantung indah malah membuat mereka merasa kecil dan terkurung. Udara dingin menyelinap masuk, membuat kulit mereka merinding bukan karena dinginnya, tapi karena tekanan yang terasa begitu kuat.
"Tuan, Nyonya dan Nona silakan berdiri dan tunggu di sini dulu!" ucap pelayan bernama Jaya dengan suara yang tegas dan wajah datar tanpa rasa. Tak menunggu balasan, ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang teratur, menyisakan kesan bahwa mereka hanyalah orang yang tidak berharga.
"What?! Apa-apaan sih ini! Masa kita harus berdiri terus-terusan di sini?! Kaki aku pegel nih kalau harus berdiri lama-lama!" keluh Sasa dengan suara yang ditekan tapi jelas terdengar kesalnya. Ia mengusap-usap betisnya yang memang sudah mulai terasa pegal.
"HUSH! Diam kamu Sasa! Ini hanya masalah kecil, kalau dibandingkan kita harus jadi orang miskin dan tidak punya apa-apa!" tegur Nia dengan suara bisik namun penuh tekanan, menyenggol lengan putrinya dengan kasar.
"Tapi Ma! Berapa lama lagi kita harus menunggu? Bukannya tadi satpam itu bilang keluarga Aditama ada di dalam? Kenapa nggak langsung ditemuin aja! Pasti mereka sengaja buat ngerjain kita di sini!" seru Sasa dengan menghentakkan kaki ke lantai marmer, membuat suara dentuman yang jelas terdengar di ruangan luas itu.
Mereka bertiga mau tak mau tetap berdiri di tengah ruangan yang begitu luas, sementara dari arah ruang keluarga terlihat keluarga Aditama sedang santai. Suara tawa riang Al, El dan suara televisi yang menyala terdengar jelas, bahkan bisa dilihat mereka sedang duduk nyaman di sofa mewah sambil menikmati camilan dan minuman hangat.
SATU JAM KEMUDIAN
Akhirnya Saga bangkit perlahan dari tempat duduknya. Setiap gerakan tubuhnya terasa penuh kekuasaan, seolah setiap inci tubuhnya mengeluarkan aura yang mematikan. Di belakangnya, Satria, Al, El, dan Lena mengikuti dengan langkah yang terkoordinasi, seolah mereka adalah pasukan yang siap bertindak.
Langkah kaki mereka yang kokoh membuat suara tak-tak-tak di lantai marmer, semakin membuat hati keluarga Hartono berdebar kencang. Mereka langsung tergesa-gesa merapikan pakaiannya mereka Tuan Hartono menyetrika-setrika jasnya yang sudah rata, Nia menyusun kembali rambutnya yang sedikit kusut, dan Sasa berusaha menutupi ekspresi kesal di wajahnya dengan wajah yang sopan.
"Pagi, Tuan Aditama, Nyonya Aditama, Tuan Muda," sapa Tuan Hartono dengan senyum yang sudah mulai patah di ujung bibir, diikuti oleh Nia dan Sasa yang mengangguk dengan sopan. Tapi matanya tidak berani menatap langsung ke arah mereka.
"Sallena jadi dia istri dari tuan Aditama dan dua bocah ini anaknya!" batin Sasa semakin sesak.
Saga hanya melirik mereka sekilas tanpa sedikitpun ekspresi di wajahnya, lalu langsung berjalan menuju sofa besar dan duduk dengan pose yang rileks namun tetap penuh otoritas. Satria, Lena, dan si kembar mengikuti langkahnya.
Al dan El langsung melompat ke pangkuan Satria dan Lena, kedua bocah itu menatap keluarga Hartono dengan mata yang dingin seperti es. Tatapan mereka tidak ada rasa iba atau segan, malah penuh dengan kesenangan karena akhirnya bisa melihat orang yang kemarin menghinanya sekarang berada di hadapannya.
Saga duduk dengan tenang, kedua tangan bersilang di dadanya. Udara di ruangan tiba-tiba terasa begitu panas dan sesak, seolah oksigennya tiba-tiba berkurang. Aura mematikannya membuat keluarga Hartono merasa seperti sedang ditatap oleh singa yang siap menerkam.
"Duduk ..." ujar Satria dengan suara datar yang tidak bisa ditolak, menunjuk ke arah tiga kursi tunggal yang letaknya jauh di depan sofa besar mereka, seolah mereka hanya tamu yang tidak berhak duduk dekat.
"Jangan salah tempat," tambah Saga dengan tajam saat melihat Sasa sudah mulai melangkah ke arah sofa di sebelahnya.
Wajah keluarga Hartono langsung menjadi merah padam karena malu dan terhina. Mereka duduk dengan tubuh yang sangat tidak nyaman, bahu mereka menggantung dan tangan mereka gemetar hebat menahan ketakutan yang muncul dari dalam dada.
"Apa yang membawa kalian ke sini sepagi ini?!" tanya Satria dengan nada tegas memandang mereka seperti orang yang tidak berharga.
"Maafkan kami, Tuan Aditama ... kami datang untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang dilakukan putri kami Sasa, pada dua putra Tuan Aditama kemarin di Butik Dirgantara ... tolong maafkan kami, Tuan," ucap Tuan Hartono sambil membungkukkan tubuhnya serendah mungkin, hampir menyentuh lantai. Suaranya sudah mulai bergetar.
"Ya Tuan. Saya yakin putri kami Sasa tidak sengaja menyinggung Tuan Muda Al dan El. Itu semua hanya kesalahpahaman belaka, sungguh... sungguh itu bukan maksudnya," tambah Nia dengan suara yang terbata-bata, matanya menatap lantai karena tidak berani melihat wajah Saga.
Saga tetap diam. Ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya menatap mereka dengan mata yang tajam seperti mata elang yang mengawasi mangsanya. Setiap detik keheningan membuat jantung keluarga Hartono berdebar semakin cepat, hingga mereka bisa mendengar degupan jantung sendiri di telinga mereka.
Melihat suasana yang semakin mencekam dan Saga yang tidak memberikan respon sama sekali, Nia langsung menyenggol lengan Sasa dengan sangat kasar, membuat Sasa sedikit teriak kesakitan tapi langsung menutup mulutnya.
"Sasa! Ayo minta maaf sekarang juga! Cepat! Jangan cuma diam aja!" desisnya dengan suara pelan tapi penuh kegelisahan, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca karena takut.
Sasa menggigit bibir bawahnya hingga terasa sakit dan pahit. Rasa benci dan amarah bergolak hebat di dalam dadanya, kenapa dia harus minta maaf pada bocah yang kemarin dia anggap anak miskin? Tapi melihat wajah Papanya yang sudah pucat dan Mama-nya yang panik, ia terpaksa menelan semua rasa tidak suka itu. Ia berdiri dengan kaki yang sudah mulai lemas, lalu menundukkan kepalanya dalam di hadapan si kembar.
"Maafkan aku ... Tuan Muda Al, Tuan Muda El ... Tante Sasa minta maaf karena kemarin berkata kasar dan menghina kalian ... maafkanTante ya," ucapnya dengan suara sedikit bergetar penuh harap. Matanya secara tidak sengaja mencari-cari keberadaan Rena orang yang jadi alasan utama ia datang ke sini, namun tak melihat sosok wanita itu di ruangan tersebut.
Tiba-tiba, suara kecil tapi jelas memecah keheningan yang menusuk.
"Oh, jadi Tante jahat sekarang baru sadar kesalahannya ya?" ujar El dengan wajah yang terlihat polos tapi nadanya dingin seperti es yang membekukan tulang.
"Tante jahat kan kemarin bilang kami anak miskin, pakaian lusuh, dan tidak pantas berada di butik mewah? Kenapa sekarang Tante malah datang ke rumah kami? Apa Tante jahat gak salah orang?"sambung Al dengan seringai yang puas, seolah akhirnya menemukan kesempatan untuk membalas segala penghinaan yang pernah mereka terima.
"Ya pasti karena Tante jahat tahu kita bukan anak miskin tapi pewaris keluarga besar, kan?!" timpal El dengan cepat, lalu tawa terbahak-bahak yang terdengar menusuk telinga keluarga Hartono.
Dah!
"Bukan begitu, Nak ... itu semua ... itu semua hanya kesalahpahaman belaka ..." jawab Nia dengan suara yang sudah mulai menggeliat, wajahnya makin pucat seperti mayat hidup.
"SALAH PAHAM?!"
Suara Saga yang tiba-tiba menggelegar membuat seluruh tubuh keluarga Hartono tersentak kaget. Saga berdiri perlahan-lahan, setiap langkah kakinya terdengar berat di telinga mereka.
"Wanita itu meremehkan mereka hanya karena merasa dirinya paling kaya dan paling berkuasa di sana! Tapi begitu tahu mereka adalah pewaris dua keluarga besar yang paling berpengaruh di negeri ini, kalian langsung datang menjilat ludah sendiri! Lucu sekali!" bentak Saga dengan suara yang bergema memenuhi seluruh ruangan.
"Kau tidak hanya menghina keponakanku yang masih kecil ini! Kau juga menghina Rena, wanita yang paling berharga bagiku! Jadi jangan pernah berpikir bisa lepas begitu saja tanpa ada konsekuensi?!"
Sasa dan orang tuanya ternganga, mulut mereka terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Napas mereka tercekat di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang menghalangi pernapasan mereka.
"Maafkan kami, Tuan Muda Saga ... kami sungguh tidak tahu kalau mereka adalah keluarga Aditama ... kami tidak tahu kalau Rena adalah orang yang dekat dengan Tuan Muda ..." rintih Tuan Hartono dengan suara yang lemah sekali, kepalanya semakin tertunduk dalam.
"Tahu atau tidak tahu, itu BUKAN alasan yang bisa membenarkan apa yang kalian lakukan!" potong Saga dengan suara yang dingin dan penuh rasa tidak bisa diterima. "Minta maaf pada anak-anak itu mungkin mudah untuk kalian lakukan. Tapi maafku ... dan maaf dari Rena ... tidak akan kalian dapatkan dengan mudah!"
Saga berjalan mondar-mandir sebentar di depan mereka, setiap langkahnya membuat keluarga Hartono semakin menunduk. Kemudian ia berhenti tepat di depan mereka, tatapannya membuat bulu kuduk mereka merinding dan kulit mereka merinding dingin.
"Dengar baik-baik keputusan ini!" ucapnya dengan suara pelan tapi setiap kata terdengar jelas dan penuh otoritas yang tidak bisa ditentang.
"Pertama, aku akan mengambil separuh aset perusahaan kalian. Semua dana itu akan aku berikan pada panti asuhan dan yayasan yang membantu anak-anak yatim dan orang miskin. Itu hukuman buat kalian agar kedepannya belajar menghargai setiap orang tanpa melihat status mereka!"
Wajah keluarga Hartono semakin pucat sampai ke tulang pipinya. Separuh aset perusahaan, itu artinya perusahaan mereka akan kehilangan separuh kekayaannya dan sudah di pastikan akan sulit berjalan, apa lagi perusahaan kecil seperti perusahaannya.
"Kedua ..." Saga mengalihkan pandangannya ke arah Sasa dengan tatapan yang tajam sekali. "Kau harus meminta maaf secara resmi pada Rena. Dan permintaan maaf itu ... harus kau lakukan di depan semua orang pada HARI PERNIKAHANMU DENGAN RENDY!"
Bersambung ....