Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: AJIAN HARIMAU HITAM DAN TAMPAKAN NAGA SERIBU LANGIT
“Aku belum selesai, anak muda!!”
Suara itu menggelegar, bergetar hebat hingga merontokkan butiran debu dari atap rumah-rumah penduduk. Sebuah teriakan yang lahir dari dasar ulu hati yang penuh amarah dan dendam kesumat.
Rangga yang baru saja melangkah pergi dengan gaya santainya, menghentikan langkah secara mendadak. Ia menoleh pelan, caping bambunya sedikit miring menutupi mata kanan.
“Ah…”
Ia menghela napas ringan, seolah baru saja mendengar rengekan anak kecil yang tak mau berhenti menangis.
“Ternyata masih bisa berdiri juga. Punggungmu terbuat dari apa, sih? Kayu jati?”
Di tengah pusaran debu yang mengepul, Harimau Hitam bangkit perlahan. Tubuhnya yang besar terlihat gemetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak energi yang meledak-ledak di dalam pembuluh darahnya. Matanya merah saga, seolah ada api yang menyala di balik kelopak matanya. Napasnya memburu, berat, dan berbau anyir.
“Jangan anggap aku lemah…! Kau belum melihat puncak dari ilmuku!”
Tiba-tiba—
WUSSS!!!
Asap kuning pekat yang berbau belerang menyembur dari pori-pori kulitnya, menyelimuti tubuh Harimau Hitam hingga tak terlihat dari luar.
“Apa itu?!” teriak Rindu, salah satu gadis dari Padepokan Bambu Kuning, sambil menutup hidung karena aroma yang menyengat.
“Itu… itu Ajian Harimau Hitam! Ilmu terlarang dari Lembah Kematian!” seru seorang perampok dengan wajah pucat pasi. Ia tahu betul konsekuensi dari ilmu tersebut.
“Pemimpin benar-benar menggunakannya?! Dia mengorbankan sebagian umurnya!”
Para anak buah perampok itu mendadak mundur teratur! Mereka ketakutan, seolah-olah sesuatu yang sangat mengerikan akan segera lahir dari balik kabut kuning itu.
Rangga hanya mengangkat alis. Ia tidak mundur, malah berdiri dengan satu tangan memegang pinggang.
“Oh…”
Ia menggaruk kepala, terlihat lebih bingung daripada takut.
“Baru sekarang serius ya? Harusnya dari tadi, biar aku tidak perlu membuang-buang waktu.”
“DIAM!!!”
Asap kuning makin tebal dan menderu bagai badai kecil! Di dalamnya, terdengar bunyi yang mengerikan.
Krek! Krek!
Suara tulang yang bergeser dan patah terdengar menyayat hati. Otot-otot Harimau Hitam membesar secara paksa, merobek baju kulit yang ia kenakan hingga berkeping-keping.
“AAAARRRGGHH!!!”
Suara raungan yang lebih mirip binatang buas daripada manusia keluar dari tenggorokannya yang kini membengkak!
Perlahan—
Wujudnya berubah di depan mata semua orang yang terpaku ngeri!
Setengah manusia—
Setengah harimau!
Kulitnya ditumbuhi bulu kasar berwarna hitam legam. Jari-jarinya memanjang, berubah menjadi cakar-cakar runcing yang berkilat tajam. Taringnya mencuat keluar dari gusi yang berdarah, dan matanya kini liar sepenuhnya tanpa ada sisa-sisa kemanusiaan.
Para gadis mundur ketakutan, saling berpelukan erat.
“Dia… dia bukan manusia lagi… itu iblis!”
“Ilmu sesat yang menjijikkan…” gumam Kemboja dengan bibir gemetar.
Rangga menatap tajam ke arah monster di depannya. Matanya memicing, menilai aliran hawa murni lawan yang kini berubah menjadi hawa hitam yang kotor.
Namun—
Ia masih sempat tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat menyebalkan.
“Ah…”
Ia menggelengkan kepala perlahan sambil membuang ludah ke samping.
“Bentuknya jelek sekali… Kalau aku jadi kau, aku lebih memilih mati daripada punya wajah seperti itu.”
“BANGSAT!!!”
Raung Harimau Hitam, suaranya kini berat dan bergema!
“Aku akan mencabik-cabikmu sampai kau memohon untuk dibunuh!!!”
WUSSS!!!
Tanpa peringatan, ia melesat! Kecepatannya meningkat tiga kali lipat! Tanah tempatnya berpijak tadi hancur berkeping-keping.
Cakar raksasanya menghantam tepat ke arah kepala Rangga!
DUARRR!!!
Hantaman itu menimbulkan ledakan kecil. Debu dan kerikil berterbangan!
Namun—
Hantaman itu menghantam tanah kosong!
“Di mana dia?!” Raung Harimau Hitam, kepalanya berputar liar mencari mangsa.
“Di sini.”
Suara Rangga terdengar sangat santai, hampir seperti sedang berbisik di telinga monster itu.
Rangga ternyata sudah berdiri di atas pagar kayu desa yang sempit. Ia masih memakai capingnya, berdiri dengan satu kaki tanpa goyah sedikit pun.
“Cepat juga gerakan kakimu…”
“Tapi masih kurang untuk mengejar bayanganku.”
RAAAHHHH!!!
Harimau Hitam melompat tinggi! Tubuh besarnya menutupi sinar matahari, menciptakan bayangan maut yang menerkam ke arah pagar!
Namun—
Sret!
Rangga melangkah miring dengan gerakan yang sangat luwes, seolah tulang-tulangnya terbuat dari air.
Tubuhnya seperti menghilang di udara, meninggalkan bayangan sisa yang tertinggal sesaat.
“Langkah Naga Sembilan Langit…” gumamnya tenang.
Gerakannya terlihat tidak beraturan, kadang lambat kadang sangat cepat. Namun setiap kali cakar Harimau Hitam menyerang, Rangga selalu berada tepat satu inci di luar jangkauan serangan.
Setiap serangan—
Gagal total! Hanya membelah udara kosong dan merusak bangunan di sekitarnya.
“DIAM!!! DIAM!!! JANGAN BERGERAK, PENDEKAR PENAKUT!!!”
Harimau Hitam makin liar! Ia menyerang membabi buta, cakar-cakarnya menyambar-nyambar seperti badai yang kehilangan arah.
Namun—
Rangga hanya menghindar dengan tenang.
Kadang—
Ia hanya melompat kecil.
Kadang—
Berputar dengan ujung satu kaki.
Kadang—
Bahkan—
Ia berjalan santai seolah sedang menyusuri pematang sawah!
“Dia… dia benar-benar bermain-main dengan maut…” bisik Rindu, matanya membesar penuh kekaguman yang tak terbendung.
“Gila… pemuda itu benar-benar gila…”
Kemboja menelan ludah dengan susah payah.
“Kalau ini hanya sebuah permainan bagi dirinya… aku tidak mau tahu bagaimana jika ia mulai serius…”
Rangga menghela napas, ia mulai merasa bosan melihat gerakan lawan yang kian tak teratur.
“Sudah selesai belum? Aku sudah mulai lapar, tahu.”
“MATI!!!”
Harimau Hitam menghantamkan kedua tangannya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan permukaan bumi!
Namun—
Rangga berhenti bergerak. Kakinya menapak mantap di tanah yang bergetar.
Tatapannya berubah drastis. Sorot matanya kini memancarkan cahaya keemasan yang murni.
“Baiklah…”
Ia membuka kuda-kuda rendah. Kaki kirinya sedikit di depan, tangan kanannya membentuk formasi telapak terbuka.
“Kau sendiri yang memaksa.”
Angin di sekitar desa mendadak berputar kencang mengelilingi tubuhnya. Aura keemasan meledak keluar dari tubuh Rangga, menekan asap kuning milik Harimau Hitam hingga tersapu bersih.
“Ilmu Naga…” gumamnya lirih.
Tangannya bergerak perlahan namun setiap gerakan menciptakan dengungan suara naga yang samar.
“Tapak Naga Seribu Langit…”
Langkahnya terasa sangat ringan, seolah ia menginjak kapas. Namun—
Setiap pijakannya—
Membuat tanah bergetar hebat hingga ke ulu hati siapa pun yang merasakannya!
“Serang aku dengan seluruh nyawamu!”
Harimau Hitam tidak menunggu! Ia melesat dengan seluruh sisa tenaga dalamnya!
WUSSS!!!
Namun—
Rangga maju satu langkah dengan tenang.
Plak!
Telapak tangannya yang dialiri hawa murni berwarna emas menyentuh dada bidang Harimau Hitam. Hanya sentuhan ringan, seolah sedang menepis debu.
“Pelan saja…”
DUKK!!!
Gelombang tenaga dalam yang maha dahsyat meledak dari telapak tangan itu!
“AAAAKHH!!!”
Tubuh Harimau Hitam terpental ke belakang dengan kecepatan peluru!
Namun belum sempat tubuh itu jatuh—
Rangga sudah melesat lebih cepat dan berada di atas posisi tubuh Harimau Hitam yang masih melayang!
Plak!
Pukulan kedua menghantam bahu!
Dug!
Pukulan ketiga menghantam perut!
“ARRGHH!!!”
Tubuh besar Harimau Hitam tidak bisa mengimbangi kecepatan Rangga. Ia terombang-ambing di udara, dihantam dari berbagai sudut oleh bayangan telapak tangan Rangga yang jumlahnya seolah ada seribu.
Setiap serangan—
Tepat sasaran! Sangat cepat! Dan mengandung daya hancur yang mematikan!
“Tapak pertama…”
Plak!
“Tapak kedua…”
Dug!
“Tapak ketiga…”
DUARRR!!!
Gelombang tenaga dalam puncak menghantam telak ke ulu hati!
“AAAAAA!!!”
Asap kuning yang menyelimuti tubuh perampok itu seketika pudar tersapu energi emas!
“Tidak… tidak mungkin!!! Ahhhh!!!”
Wujud harimau monster itu goyah! Tulang-tulangnya yang membesar kini berderak kembali ke posisi semula secara paksa.
Tubuhnya kembali mengecil!
Cakar panjangnya memendek!
Taringnya lenyap!
Dalam beberapa detik saja—
Ia kembali menjadi manusia biasa yang malang, tanpa sehelai benang pun yang utuh di tubuhnya.
Namun—
Belum sempat ia menarik napas untuk sekadar berteriak kesakitan—
Rangga sudah berdiri tegak tepat di belakangnya.
“Sudah capek?”
“Hah?!”
Harimau Hitam menoleh dengan wajah yang sudah babak belur.
Plak!
Sebuah pukulan telapak tangan terbuka mendarat dengan suara nyaring—
Namun—
Bukan ke dada. Bukan ke kepala.
“AAAH!!!”
Pukulan itu mendarat tepat di pantatnya!
“Kenapa… kenapa dia memukul di situ?!” teriak Rindu kaget, wajahnya memerah karena malu sekaligus bingung.
Rangga tertawa kecil, ia seolah sedang menghukum anak kecil yang nakal.
“Supaya kau cepat sadar dari kesurupanmu tadi.”
Plak!
“AAAAHH!!!”
Plak!
“AMPUN!!!”
Plak!
“JANGAN!!! AMPUN!!! SAKITTT!!!”
Seluruh desa—
Mendadak terdiam seribu bahasa melihat pimpinan perampok yang paling ditakuti itu kini menangis tersedu-sedu sambil memegangi bokongnya.
Lalu—
“Tahahahaha!!!”
Tawa pecah bagai bendungan yang jebol!
Para gadis tertawa hingga mengeluarkan air mata!
Penduduk desa tertawa sambil memegangi perut!
Bahkan beberapa perampok yang tersisa pun—
Tak sanggup lagi menahan tawa meski nyawa mereka terancam!
“Pemimpin besar kita… dipukul… di bagian itu…”
“Ini… ini adalah kekalahan yang paling memalukan dalam sejarah persilatan…”
Harimau Hitam akhirnya jatuh berlutut, wajahnya sudah tak keruan antara rasa sakit dan malu yang luar biasa.
“AMPUN!!! AMPUN, TUAN PENDEKAR!!!”
“Aku menyerah!!! Aku tobat!!!”
Rangga berhenti memukul, ia mengusap telapak tangannya ke baju, seolah baru saja menyentuh benda kotor.
“Dari tadi bilang begitu kan enak. Tidak perlu berubah jadi kucing garong dulu.”
Ia menatap dingin ke arah pimpinan perampok itu, sejenak aura kependekarannya kembali menyelimuti.
“Masih mau lanjut? Aku masih punya jurus 'Cubitan Naga' kalau kau mau.”
“Tidak! Tidak! Ampun! Aku pergi! Aku tidak akan kembali lagi!”
Rangga mengangguk puas.
“Bagus.”
Ia menoleh ke arah sisa-sisa perampok yang masih gemetar di kejauhan.
“Kalian?”
Mereka tidak butuh jawaban kedua! Wajah mereka mendadak pucat seperti mayat!
“LARI!!! SELAMATKAN DIRI KALIAN!!!”
Seketika—
Semua perampok itu kabur tunggang langgang!
Mereka masuk ke hutan dengan kecepatan yang mungkin lebih cepat dari saat mereka menyerang tadi! Tak ada satu pun yang berani menoleh ke belakang!
Rangga menghela napas panjang, merapikan letak capingnya.
“Berisik sekali mereka itu…”
Ia menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan sisa debu. Lalu ia menoleh ke arah barisan gadis-gadis cantik yang kini menatapnya seolah ia adalah dewa yang baru turun dari langit.
“Sudah selesai. Desa kalian aman sekarang.”
Rindu tertawa renyah, ia melangkah mendekat dengan berani.
“Kau benar-benar gila! Aku belum pernah melihat pendekar sepertimu!”
Rangga tersenyum, kali ini senyumnya terlihat tulus dan sedikit jenaka.
“Terima kasih. Anggap saja itu hiburan pagi hari.”
Kemboja menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
“Tapi… kau kuat sekali… Sangat kuat.”
Gadis galak dari padepokan itu mendengus, mencoba menyembunyikan rasa kagumnya yang meluap.
“Hmp! Jangan jadi sombong setelah menang!”
Rangga mengangkat bahu dengan santai.
“Aku tidak sombong…”
Ia menatap langit biru yang cerah di atas Desa Bambu Kuning.
“…aku memang kuat. Itu kenyataan, kan?”
Sunyi sejenak menyelimuti suasana—
Lalu—
Tawa kembali pecah lebih keras dari sebelumnya.
Dan di Desa Bambu Kuning—
Hari itu—
Akan selalu dikenang bukan hanya sebagai hari kemenangan melawan kejahatan.
Namun juga—
Sebuah cerita legenda yang akan diceritakan turun-temurun.
Tentang seorang pendekar aneh yang memakai caping bambu…
Yang mengalahkan musuh paling sakti sekalipun…
Dengan cara yang sangat tidak terduga… dan sedikit memalukan.
Bersambung...