Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk Ratu Kegelapan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hujan Pedang di Kota Fajar
Kehancuran dimulai bukan dengan ledakan, melainkan dengan keheningan yang mencekam. **Kota Fajar**, salah satu gerbang perdagangan terbesar di Benua Tengah yang setia pada nilai-nilai keseimbangan Wang Tian, mendapati langit mereka tertutup oleh awan yang tidak membawa hujan. Awan itu berwarna hitam pekat, berputar-putar seperti pusaran raksasa yang menelan sinar matahari.
Di atas puncak awan tersebut, **Wang Ruo** berdiri tegak. Jubahnya yang berwarna hitam dengan sulaman rubah perak berkibar liar. Di belakangnya, berdiri tiga sosok yang dikenal sebagai **Tiga Jari Kematian**, tetua elit dari garis keturunan Lin Xia yang telah mencapai **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 8**.
"Kota yang indah," ucap Wang Ruo sambil menatap ke bawah. "Terlalu indah untuk dunia yang sebentar lagi akan menjadi kuburan."
### **Invasi Mayat Pedang**
Wang Ruo mengangkat **Pedang Pemakan Surga** ke langit. "Turunlah, para pelayan Ibunda Agung! Tunjukkan pada mereka bahwa kehidupan adalah anugerah yang bisa ditarik kembali!"
Seketika, awan hitam itu seolah-olah meledak. Ribuan titik hitam jatuh dari langit seperti hujan meteor. Namun, saat titik-titik itu mendekati tanah, barulah penduduk kota menyadari kengerian yang sebenarnya. Itu bukan batu, melainkan **Mayat Pedang**—pendekar yang telah kehilangan nyawa namun digerakkan oleh niat pedang jahat.
Mereka mendarat di atap-atap rumah, di alun-alun kota, dan di atas tembok pertahanan. Tanpa suara, tanpa teriakan perang, mereka mulai menghunuskan pedang berkarat yang diselimuti aura ungu.
*Slash! Slash! Slash!*
Pasukan penjaga Kota Fajar, yang sebagian besar berada di **Ranah Pembersihan Tubuh** dan **Penguatan Tulang**, sama sekali bukan tandingan. Setiap kali pedang Mayat Pedang menggores kulit, luka tersebut tidak mengeluarkan darah merah, melainkan uap hitam yang langsung membekukan aliran Qi korban.
"Pertahankan gerbang!" teriak Komandan Penjaga, seorang pria di **Ranah Pemurnian Qi Bintang 5**. Namun, sebelum ia bisa mengayunkan tombaknya, seorang Mayat Pedang melesat melewatinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kepala sang komandan jatuh ke tanah bahkan sebelum tubuhnya sempat menyadari bahwa ia telah mati.
### **Kekejaman Wang Ruo: Eksperimen di Medan Perang**
Wang Ruo turun perlahan dari langit, mendarat di tengah-tengah alun-alun kota yang kini penuh dengan mayat dan kepanikan. Ia mengabaikan orang-orang yang berlarian dan justru mendekati seorang anak muda yang sedang memeluk pedangnya dengan gemetar.
"Kau... kau memiliki sedikit bakat," ucap Ruo sambil mencengkeram rahang pemuda itu.
Ruo tidak membunuhnya. Sebaliknya, ia menyuntikkan setetes cairan merah gelap—**Darah Iblis Rubah** yang telah dimurnikan—ke dalam leher pemuda itu.
"AAARRGHHH!" pemuda itu menjerit. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Tulang-tulangnya berderak, memanjang, dan menembus kulitnya membentuk duri-duri tajam. Matanya memutih, dan dalam hitungan detik, pemuda yang tadinya manusia itu berubah menjadi monster haus darah yang langsung menyerang penduduk di sekitarnya.
"Indah sekali," gumam Ruo. "Ibunda benar. Kenapa harus bersusah payah mengumpulkan mayat jika kita bisa mengubah yang hidup menjadi senjata?"
### **Dominasi Tanpa Ampun**
Di Menara Pedang Hitam, **Wang Zhun** memantau penyerangan ini melalui cermin air yang terbuat dari darah. Ia melihat bagaimana Kota Fajar runtuh hanya dalam hitungan jam. Namun, tujuannya bukan hanya penghancuran.
"Kumpulkan semua jantung mereka yang berada di atas Ranah Pemurnian Qi," perintah Wang Zhun melalui transmisi suara ke telinga Ruo. "Energi Dantian mereka adalah nutrisi terbaik untuk mempercepat pemulihan tubuh fisik Ibunda Lin Xia."
Wang Ruo tersenyum kejam. Ia mengangkat tangannya, dan sebuah domain kegelapan menyebar dari kakinya.
**Teknik Area: Penjara Pedang Jiwa Gelap!**
Ribuan pedang energi muncul dari tanah, membentuk sangkar raksasa yang mengurung seluruh kota. Tidak ada yang bisa melarikan diri. Siapa pun yang mencoba menyentuh dinding energi itu akan langsung terpotong menjadi jutaan serpihan debu.
"Hari ini, Kota Fajar akan berganti nama menjadi Kota Ratapan," seru Ruo.
Di tengah pembantaian itu, Ruo tiba-tiba merasakan getaran di udara. Sebuah riak kecil yang sangat tipis, nyaris tak terasa. Ia menoleh ke arah Barat.
"Kau merasakannya, Tetua?" tanya Ruo pada salah satu bawahannya.
"Ya, Tuan Muda. Seseorang sedang memanipulasi tekanan udara di kejauhan. Itu pasti anak dari garis keturunan Sui Ren itu."
Wang Ruo menjilat bibirnya yang kering. "Bagus. Biarkan dia melihat kehancuran ini. Aku ingin dia datang ke sini dengan penuh kemarahan. Kemarahan membuat darah menjadi lebih manis, dan aku butuh darahnya untuk menjadi kunci pembuka pintu **Fase Langit**-ku."
### **Pesan Berdarah**
Sebelum matahari terbenam, Kota Fajar telah sunyi. Tidak ada lagi suara tangisan, hanya suara langkah kaki Mayat Pedang yang berpatroli di atas tumpukan tulang. Di gerbang kota, Wang Ruo meninggalkan sebuah pesan yang ditulis dengan darah para pemimpin kota:
> *"Kepada semua keturunan Wang: Kaisar kalian telah meninggalkan kalian. Langit telah berpaling. Hanya Pedang yang bisa memberikan kalian keabadian. Berlututlah pada Lin Xia, atau jadilah bagian dari fondasi menaranya."*
>
Kegelapan kini benar-benar telah menyebar. Garis keturunan Istri Keempat tidak lagi bersembunyi. Mereka telah menyatakan perang terhadap seluruh dunia, dan mereka memulainya dengan memadamkan cahaya pertama di Benua Tengah.
**Kondisi Pasukan Wang-Xia (Bab 35):**
* **Wilayah Dikuasai:** Lembah Pedang Suci & Kota Fajar.
* **Tujuan Berikutnya:** Menghancurkan Akademi Angin, tempat suci bagi para pengikut garis keturunan Istri Kedua.
* **Progres Lin Xia:** 15% Pemulihan Fisik (Membutuhkan 10.000 jantung lagi).
**Fokus cerita tetap pada perkembangan kekuatan jahat ini. Bagaimana Wang Ruo akan memimpin pasukannya menuju Akademi Angin, dan apa bentuk kekejaman baru yang akan ia tunjukkan untuk menyenangkan nenek moyangnya?**
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam.
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru
narasi jadi terlalu singkat tanpa di sadari cerita sudah tamat
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru... tetapi ini membuat narasi cerita jadi pendek
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
lanjut kaka
Cerita mengikuti wang tian seorang pemuda yang awalnya dianggap sampah/cacat/berasal dari klan kecil. Namun, sebuah pertemuan takdir dengan kitab kuning dan guru misterius mengubah jalannya.
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam]. Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam, Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.