Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERJANJIAN DI ATAS BARA
Udara di dalam ruang kerja Zayn Al-Fatih terasa seperti membeku, seolah-olah mesin pendingin ruangan diatur pada suhu terendah hanya untuk menguji ketahanan nyali siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sana. Cahaya dari lampu gantung kristal yang minimalis berpendar redup, memberikan bayangan panjang yang tampak menari-nari di atas deretan buku bersampul kulit tua dan meja mahoni raksasa yang tampak angkuh. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya terdengar detak jam dinding mekanik yang berbunyi teratur, seakan-akan menghitung mundur waktu kehancuran seseorang.
Zayn duduk di kursi kebesarannya yang berlapis kulit asli, meletakkan laptop perak milik Maryam di atas meja dengan dentuman yang sengaja dibuat keras. Suara itu bergema, memantul di dinding-dinding kedap suara, menciptakan getaran yang membuat jantung Aaliyah berdegup kencang di balik rongga dadanya. Zayn tidak langsung bicara. Matanya yang tajam, sedikit memerah karena kurang tidur dan kelelahan mental, menatap lurus ke arah Maryam yang berdiri mematung di hadapannya.
Aaliyah, yang di rumah ini dikenal sebagai Maryam, tampak seperti bayangan hitam yang sunyi. Ia berdiri dengan tangan yang saling bertaut di balik kain gamisnya, kepalanya tertunduk namun bahunya tetap tegak—sebuah posisi tubuh yang membingungkan bagi Zayn. Ia tidak melihat ketakutan yang biasa ia lihat pada pelayan lain; ia melihat sebuah martabat yang coba disembunyikan.
"Jelaskan," ucap Zayn akhirnya. Satu kata itu keluar dengan nada rendah, namun mengandung berat otoritas yang sanggup meruntuhkan pertahanan mental orang biasa. "Dan jangan berani-berani menggunakan satu kata pun tentang 'petunjuk Tuhan' atau 'mukjizat'. Aku ingin fakta teknis, Maryam. Sekarang juga."
Aaliyah menarik napas dalam-dalam di balik niqabnya. Paru-parunya terasa sesak karena oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis oleh aura dominasi Zayn. Ia tahu, jika ia salah memilih satu kata saja, ia tidak hanya akan kehilangan tempat persembunyiannya, tapi juga kesempatan untuk membersihkan nama ayahnya yang saat ini tengah bertaruh nyawa di ruang ICU.
"Laptop itu milik kakak laki-laki saya, Tuan Muda," dusta Aaliyah dengan suara yang sengaja dibuat sedikit lebih berat dan datar. Ia menggunakan teknik pernapasan yang ia pelajari agar suaranya tidak terdengar seperti putri Kyai yang berpendidikan tinggi. "Dia adalah seorang teknisi sistem di sebuah perusahaan kecil sebelum meninggal dalam kecelakaan tragis setahun lalu. Dialah yang mengajari saya segalanya—dari logika dasar hingga cara membaca bahasa mesin. Dia selalu bilang, di dunia yang penuh serigala ini, seorang wanita yang tampak lemah harus memiliki senjata yang tidak terlihat oleh mata."
Zayn menyipitkan mata, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk. Ia mengamati gerak-gerik Maryam dengan sangat teliti, mencari celah pada kebohongan wanita itu. "Kakak? Jadi kau ingin aku percaya bahwa seorang gadis desa sepertimu, yang sehari-hari hanya berkutat dengan cucian dan debu, belajar kriptografi tingkat lanjut hanya dari seorang kakak di waktu senggang?"
"Ilmu tidak memilih tempat untuk tumbuh, Tuan Muda. Seperti bunga liar yang tetap bisa mekar di celah trotoar yang keras dan gersang," jawab Maryam, menggunakan metafora yang sedikit puitis namun tetap tajam. "Saya tidak bermaksud meretas sistem Anda untuk keuntungan pribadi. Semalam, saat saya sedang membersihkan debu di meja ini, saya melihat layar monitor Anda berkedip merah dengan pola yang sangat spesifik. Itu adalah Ransomware Polymorphic tipe Zero-Day. Jika saya tidak segera bertindak untuk mengalihkan payload-nya, seluruh data keuangan Al-Ghifari Group akan terkunci dalam enkripsi militer hanya dalam waktu lima puluh menit. Anda akan kehilangan miliaran rupiah sebelum matahari terbit."
Zayn terdiam. Hening yang panjang menyelimuti mereka. Ia teringat kembali pada wajah frustrasi tim IT-nya pagi tadi melalui panggilan video. Mereka menyebut tentang 'malaikat anonim' yang membangun shadow wall atau dinding bayangan yang sangat canggih. Sebuah teknologi yang bahkan belum mereka terapkan secara resmi di perusahaan.
"Lalu kenapa kau tidak lapor padaku? Kenapa bertindak diam-diam seperti pencuri di malam hari?" Zayn bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mengelilingi mejanya, mendekati Maryam hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.
"Karena Anda sudah menghakimi saya sejak detik pertama saya menginjakkan kaki di rumah ini, Tuan Muda," Maryam mendongak, matanya menatap langsung ke arah mata elang Zayn yang mengintimidasi. Ada kilatan keberanian dan harga diri yang membuat Zayn sedikit terperanjat. "Jika saya lapor, apakah Anda akan percaya pada seorang pelayan ber-niqab yang bahkan Anda sebut 'bau kemiskinan'? Ataukah Anda justru akan menuduh saya sebagai penyusup yang sengaja menanam virus itu untuk memeras Anda? Saya memilih untuk menolong tanpa suara, karena saya tahu keadilan jarang berpihak pada orang seperti saya."
Kata-kata itu menghujam tepat di ego Zayn. Pria itu merasa tersindir, namun ia tidak bisa membantah kebenarannya. Zayn adalah pria yang dididik untuk selalu curiga, terutama pada mereka yang tampak terlalu baik atau terlalu religius. Baginya, kebaikan tanpa pamrih adalah dongeng yang sudah lama ia bakar bersama kenangan pahit tunangannya yang berkhianat.
Zayn meraih laptop perak itu, membukanya, dan menekankan tombol power. Cahaya biru dari monitor memantul di wajah Zayn yang kaku. "Buka kuncinya. Tunjukkan padaku apa yang kau lakukan semalam. Jika kau berbohong, aku pastikan kau keluar dari rumah ini menuju jeruji besi."
Aaliyah melangkah maju dengan ragu. Tangannya yang halus dan ramping sedikit gemetar—bukan hanya karena kedinginan, tapi karena kedekatan fisik dengan Zayn yang begitu intens. Ia memasukkan kata sandi terenkripsi sepanjang dua puluh empat karakter yang terdiri dari kombinasi huruf, angka, dan simbol yang rumit. Saat layar itu terbuka, barisan kode terminal hijau yang bergerak cepat langsung terpampang.
"Lihat ini, Tuan Muda," Maryam menunjuk ke sebuah baris kode yang berkedip di pojok kiri bawah. "Serangan itu bukan berasal dari luar negeri seperti yang dilaporkan tim IT Anda. Itu adalah serangan dari dalam, menggunakan jalur backdoor administratif. Seseorang menggunakan akun administratif tingkat tinggi milik Kepala IT Anda, Tuan Rian. Dia mencoba melakukan injection dana dari akun cadangan perusahaan ke sebuah rekening cangkang di Kepulauan Cayman, lalu berencana menghapus seluruh jejaknya dengan menghancurkan peladen utama."
Zayn mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya mengikuti telunjuk Maryam. "Rian? Tidak mungkin. Dia sudah bekerja denganku selama lima tahun. Dia adalah orang yang aku percayakan untuk menjaga gerbang digital perusahaanku!"
"Kepercayaan adalah mata uang yang paling mudah dipalsukan di dunia digital, Tuan," sela Maryam dengan nada yang kini terdengar lebih berwibawa. "Rian tidak bekerja sendiri. Dia sedang ditekan oleh pihak ketiga. Saya sempat mencegat komunikasi tersembunyinya melalui server bayangan yang saya buat. Mereka menjanjikan dia posisi Direktur Operasional di sebuah perusahaan pesaing jika dia berhasil membuat Al-Ghifari Group tampak seperti sedang melakukan pencucian uang terkait skandal Yayasan Al-Azhar."
Mendengar nama "Al-Azhar", jantung Aaliyah terasa seperti berhenti berdetak sesaat. Ia segera mengamati reaksi Zayn. Pria itu tampak tersentak, rahangnya mengeras, dan tangannya secara otomatis meraih amplop cokelat di mejanya—dokumen investigasi yang berisi foto Aaliyah tanpa niqab.
"Apa hubungan Rian dengan Al-Azhar?" tanya Zayn penuh selidik, suaranya kini terdengar lebih berbahaya.
"Mereka ingin membuat skema di mana dana ilegal dari Yayasan Al-Azhar seolah-olah mengalir ke rekening pribadi Anda sebagai 'uang jasa' pengamanan. Dengan begitu, saat yayasan itu hancur karena skandal putri Kyai-nya yang sedang viral itu, Anda akan ikut terseret sebagai penadah dana haram. Nama Al-Ghifari akan hancur dalam semalam, saham Anda akan anjlok ke titik terendah, dan saat itulah pihak ketiga akan melakukan hostile takeover—membeli perusahaan Anda dengan harga sampah."
Zayn mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan bunyi retakan kecil yang menyeramkan. Penjelasan Maryam sangat logis dan sangat matang untuk ukuran seorang pengamat luar. Ini adalah taktik korporat yang sangat kotor, dan Zayn hampir saja masuk ke dalam lubang yang mereka gali.
"Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang skandal Al-Azhar? Kau bilang kau orang kampung," Zayn memutar tubuhnya, menatap Maryam dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin menguliti setiap rahasia di balik kain hitam itu.
Aaliyah membeku. Ia sadar ia hampir saja melewati batas penyamarannya. "Berita itu ada di mana-mana, Tuan Muda. Di televisi, di internet, bahkan di pasar-pasar. Saya hanya menggunakan kemampuan teknis saya untuk menghubungkan titik-titik data digital yang kebetulan saya temukan saat menangkis serangan semalam. Data tidak pernah berbohong, meskipun manusia melakukannya."
Zayn kembali duduk, napasnya memburu pelan. Ia menatap Maryam dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa kagum yang enggan diakui, rasa takut akan potensi wanita ini, dan rasa curiga yang masih berakar sangat kuat di hatinya.
"Jika kau memang sehebat ini," Zayn memulai, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti sebuah bisikan yang intim namun dingin, "kenapa kau mau menjadi pelayan rendahan di rumah ini? Dengan kemampuan seperti ini, kau bisa bekerja di perusahaan teknologi Silicon Valley dengan gaji ratusan juta per bulan. Kenapa memilih membersihkan debu, mencuci piring, dan mengurus ibuku yang sakit?"
Aaliyah terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah jendela besar yang kini menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan permata di atas beludru hitam. "Kadang, tempat yang paling aman dari badai yang menghancurkan adalah tepat di bawah atap musuh kita sendiri, Tuan Muda. Saya tidak butuh gaji besar. Saya hanya butuh tempat tinggal yang tenang, perlindungan untuk diri saya dan Bibi Inah, dan waktu untuk... menyembuhkan luka."
Zayn tertegun. Kalimat itu mengandung kesedihan yang begitu murni hingga ia bisa merasakannya merayap masuk ke dalam sanubarinya. Ia teringat akan masa lalunya sendiri, saat ia kehilangan segalanya dan harus merangkak dari lumpur kehinaan. Namun, skeptisismenya kembali menang.
"Baiklah," Zayn berdiri tegak, kembali ke mode bos besarnya. "Aku akan menahan laptop ini. Kau boleh tetap di rumah ini, tapi dengan satu syarat yang mutlak."
"Apa itu, Tuan Muda?" tanya Aaliyah, tetap tenang.
"Mulai hari ini, tugasmu bukan hanya mengurus ibuku dan membantu Bi Inah. Kau adalah analis keamanan siber pribadiku secara anonim. Kau akan bekerja dari ruangan ini setiap malam setelah ibuku tertidur. Kau harus mencari bukti konkrit keterlibatan Rian dan siapa pun di balik pihak ketiga itu tanpa mereka sadari. Jika kau berhasil membersihkan namaku dan menyelamatkan perusahaanku, aku akan memberikan apa pun yang kau minta. Harta, identitas baru, atau apa pun."
Aaliyah menunduk sedikit, menyembunyikan binar di matanya. "Saya hanya ingin keselamatan saya dan Bi Inah terjamin, serta permohonan agar Anda tidak meremehkan orang yang beribadah lagi."
Zayn mengabaikan permintaan moral itu. "DaN satu hal lagi," ia melangkah maju hingga hanya berjarak beberapa senti dari niqab Aaliyah. Panas tubuh Zayn dan aroma parfum sandalwood-nya yang maskulin membuat Aaliyah merasa pening. "Jangan pernah berbohong padaku lagi tentang apa pun. Karena jika aku menemukan satu saja celah kecil dalam ceritamu tentang kakakmu atau asal-usulmu... aku tidak akan menyerahkanmu ke polisi. Aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menyentuh keyboard komputer lagi seumur hidupmu. Kau paham risikonya?"
Aaliyah tidak gentar. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menantang tatapan Zayn melalui celah niqabnya yang misterius. "Saya setuju, Tuan Muda. Tapi saya juga memiliki satu syarat yang tidak bisa diganggu gugat."
Zayn mengangkat satu alisnya, benar-benar terkejut dengan keberanian pelayannya yang satu ini. "Kau berani mengajukan syarat padaku di rumahku sendiri?"
"Jangan pernah mencoba membuka niqab saya. Jangan pernah mencoba mencari tahu siapa saya di balik kain ini. Biarkan saya menjaga kehormatan saya di hadapan Allah, sebagaimana Anda menjaga rahasia-rahasia kotor bisnis Anda."
Zayn menatap mata Maryam cukup lama. Ia mencari keraguan, mencari ketakutan, namun ia hanya menemukan ketenangan yang sedalam samudera dan keteguhan yang sekeras karang. Ada sesuatu dalam diri wanita ini yang membuatnya merasa... kecil.
"Kesepakatan tercapai," ucap Zayn pendek, suaranya sedikit serak. "Sekarang keluar dari sini. Dan jangan lupa bersihkan sisa kopi yang tumpah di lorong tadi. Di mata dunia dan pelayan lain di rumah ini, kau tetaplah Maryam, pelayan yang tidak punya apa-apa. Ingat itu."
Sementara itu, di lantai bawah, di balik pilar besar yang gelap, Sabrina berdiri dengan wajah yang memerah karena geram. Ia telah mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka sejak tadi. Meskipun ia tidak bisa mendengar detail pembicaraan teknis yang membosankan tentang kode-kode itu, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Zayn—pria yang selama ini dingin pada semua wanita—berdiri begitu dekat dengan Maryam. Ia melihat Zayn menyerahkan kembali laptop itu dengan cara yang tampak seperti sebuah perjanjian rahasia.
"Sialan!" desis Sabrina, kuku-kukunya yang dipoles merah darah mencengkeram kain gorden dengan kuat hingga berderik. "Gadis ninja itu... dia sedang mencoba merayu Zayn dengan cara yang berbeda. Dia ingin terlihat pintar agar Zayn tertarik. Aku tidak bisa membiarkan pelayan rendahan ini merusak rencanaku."
Sabrina segera melangkah cepat menuju taman belakang yang sepi, mengeluarkan ponselnya yang terenkripsi, dan mendial sebuah nomor internasional. Panggilannya diangkat pada nada kedua.
"Halo? Rian? Kita punya masalah besar," suara Sabrina terdengar tajam dan mendesak. "Zayn mulai curiga tentang servernya, dan dia sepertinya punya 'peliharaan' baru di rumahnya yang tahu cara bermain dengan sistem. Seorang pelayan ber-niqab. Aku tidak tahu dari mana asalnya, tapi dia berbahaya."
Di seberang telepon, suara Rian terdengar gugup. "Apa? Seorang pelayan? Itu tidak mungkin, Nona Sabrina. Dinding bayangan yang muncul semalam itu adalah karya seorang profesional kelas dunia. Tidak mungkin itu hanya seorang pelayan."
"Aku tidak peduli itu mungkin atau tidak! Faktanya, Zayn sedang bicara berdua dengannya di ruang kerja selama satu jam!" Sabrina menggeram. "Lakukan rencana cadangan sekarang juga. Hancurkan server cadangan Yayasan Al-Azhar malam ini, buat seolah-olah terjadi pengiriman dana besar ke akun pribadi Zayn, dan pastikan jejak peretasannya mengarah langsung ke alamat IP di kamar pelayan di rumah Zayn! Aku ingin dia ditangkap polisi sebagai dalang utama fitnah Al-Azhar malam ini juga!"
Sabrina menutup teleponnya dengan kasar, sebuah senyum licik tersungging di bibirnya. Ia akan memastikan bahwa "Maryam" tidak akan pernah punya kesempatan untuk membuka cadarnya di depan Zayn, kecuali di depan para penyidik kepolisian.
Malam itu, di dalam kamar pembantunya yang remang-remang, Aaliyah duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Ia tidak memegang laptop—karena secara teknis laptopnya kini berada di bawah pengawasan ketat sistem Zayn—namun ia memegang mushaf Al-Qur'an kecil yang sampulnya sudah mulai usang. Suaranya yang merdu namun penuh duka mengalun pelan, memenuhi sudut-sudut kamar yang pengap.
"Wa yamkuruuna wa yamkurullah, wallahu khairul maakiriin..." (Mereka merencanakan tipu daya, dan Allah juga merencanakan tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana).
Ia tahu, hidupnya kini sedang berada di ujung tanduk yang sangat tajam. Ia terpaksa bekerja dan melindungi pria yang sebenarnya memiliki niat untuk membeli tanah peninggalan ayahnya yang sedang sekarat. Ia terjepit di antara rasa ingin membalas dendam pada dunia dan kewajibannya untuk tetap menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Zayn Al-Fatih mungkin pria yang kasar, Zayn mungkin pria yang trauma, namun saat Aaliyah melihat bagaimana Zayn dengan lembut mencium kening ibunya yang sakit tadi siang, ia tahu bahwa di balik cangkang es yang keras itu, ada sebuah jiwa yang merindukan cahaya kebenaran.
Di luar, hujan kembali turun dengan rintik yang tenang, seolah ingin membasuh debu-debu kebohongan yang bertebaran. Di dalam ruang kerjanya, Zayn Al-Fatih duduk terdiam, menatap laptop perak milik Maryam. Ia mencoba membuka sebuah file yang sengaja tidak diberi kata sandi oleh Maryam. Folder itu berjudul "Harapan".
Isinya bukan barisan kode komputer yang rumit, melainkan sebuah rekaman suara berdurasi singkat. Zayn menekannya. Suara seorang wanita yang sangat merdu sedang melantunkan doa untuk kesembuhan orang tua terdengar memenuhi ruangan. Itu adalah suara Maryam, namun terdengar begitu suci dan jauh dari kesan manipulatif.
Zayn memejamkan matanya, menyandarkan kepala ke kursi, merasakan getaran suara itu meresap ke dalam hatinya yang telah lama mati rasa. "Siapa kau sebenarnya, Maryam? Kenapa kau membuatku merasa... ingin percaya lagi pada dunia yang sudah mengkhianatiku?"
Badai konspirasi baru saja dimulai, dan di bawah atap Al-Ghifari yang megah, dua jiwa yang terasing mulai menemukan frekuensi yang sama di tengah hiruk-pukuk kode, fitnah, dan niqab yang menyembunyikan kebenaran paling pahit.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji