PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Skandal Academia dan Jebakan di Kedai Bulan Merah
Keheningan di paviliun itu kini terasa begitu berat, seolah-olah udara di dalamnya telah digantikan oleh cairan timah yang membeku. Paman Baskara dan Bibi Ratna masih gemetar di pojokan, wajah mereka pucat pasi setelah rahasia asisten mata-mata mereka dikuliti tanpa sisa. Namun, Rosalind belum selesai. Pandangannya yang tajam, yang kini berkilat dengan cahaya ungu misterius berkat sistem Ghost Viper, perlahan bergeser ke arah dua sosok muda yang berdiri paling belakang.
Mereka adalah Celine Wiraatmadja dan Julian Wiraatmadja. Dua kakak sepupu Rosalind yang selalu memandang rendah paviliun kotor ini seolah-olah tempat ini adalah sarang penyakit menular. Celine, dengan gaun sutera nya yang rumit, terus-menerus menempelkan sapu tangan beraroma lavender ke hidungnya. Sementara Julian, sang pemuda pesolek, tampak tidak sabar untuk segera pergi dan kembali ke klub malamnya.
Rosalind mendengus pelan dalam hati. Penglihatan Taktis miliknya mulai memindai mereka berdua, memunculkan deretan data digital yang hanya bisa dilihat olehnya.
[Analisis Target: Celine Wiraatmadja]
[Karakter: Sombong, Mudah Diprovokasi, Naif Politik]
[Status: Muak (Level 95%)]
[ (Rosalind):]
["Nah, sekarang mari kita lihat sepupu cantikku yang satu ini. Celine... kau berdiri di sana seolah-olah kau adalah dewi yang turun ke lumpur, ya? Cantik sih, tapi sombongnya minta ampun. Aku sarankan, bulan depan kau jangan terlalu banyak bertingkah di Academia. Kalau kau masih hobi memprovokasi murid lain, kau akan masuk ke dalam lubang yang tidak bisa kau gali sendiri."]
Celine tersentak. Tangannya yang memegang sapu tangan membeku di udara. Suara itu... suara Rosalind yang jernih namun penuh nada menghina itu kembali bergema di kepalanya. Celine menatap Rosalind dengan mata terbelalak, mencari tanda-tanda apakah bibir adiknya itu bergerak. Tapi tidak. Rosalind hanya menatapnya datar dengan mata ungu yang menghujam jiwa.
["Dengar baik-baik, Kakak Sepupu,"] suara batin itu berlanjut, semakin dingin. ["Akan ada sabotase besar di Academia bulan depan. Sebuah kebakaran hebat akan melanda gedung utama, dan tebak siapa yang akan dijadikan kambing hitam? Kau, Celine! Pihak oposisi keluarga Wiraatmadja sudah merencanakan ini untuk menjatuhkan nama besar ayahmu. Mereka tahu kau mudah marah dan punya masalah dengan Pangeran dari kerajaan tetangga. Kebakaran itu akan menewaskan sang Pangeran, dan kau akan difitnah sebagai pelakunya hanya karena kau terlihat bertengkar dengannya di koridor satu jam sebelumnya."]
Celine merasakan lututnya lemas. Kebakaran? Pangeran kerajaan tetangga? Itu adalah hal-hal yang sangat masuk akal karena ia memang sedang terlibat persaingan sengit di sekolah.
["Daripada berakhir di penjara bawah tanah yang penuh tikus dan bau pesing, mending kau ambil libur sekolah saja, Kak. Pura-pura sakit atau apa pun itu. Jangan biarkan sifat sombong mu itu menjadi senjata bagi musuh untuk menghancurkan keluarga kita. Oh, tapi ya terserah sih, kalau kau lebih suka memakai baju tahanan daripada gaun sutra ini, silakan saja."]
Celine menutup mulutnya dengan sapu tangan, matanya kini berkaca-kaca karena ketakutan yang murni. Ia menatap Rosalind seolah-olah sedang melihat hantu yang bisa meramal masa depan dengan sangat akurat.
Rosalind lalu mengalihkan pandangannya ke samping Celine, di mana Julian berdiri dengan wajah yang mulai berkeringat dingin meskipun cuaca sedang bersalju.
[Analisis Target: Julian Wiraatmadja]
[Karakter: Hedonis, Gegabah, Terjebak Skandal]
[Status: Panik Tersembunyi (Level 98%)]
[ (Rosalind):]
["Dan sekarang, Kak Julian... Kakak laki-laki sepupuku yang hobinya main perempuan dan mabuk-mabukan. Kau pikir rahasiamu aman? Ingat kejadian tiga bulan lalu di Kedai Bulan Merah? Kau pikir itu hanya malam keberuntungan mu?"]
Julian hampir saja melompat karena kaget. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Kedai Bulan Merah adalah aib yang ia simpan sangat rapat, bahkan dari ayahnya sendiri.
["Bodoh sekali,"] Rosalind mendesis dalam pikirannya. {"Kau tidak tahu kalau kau sebenarnya dijebak oleh teman akrab mu sendiri, Baron Ricardo. Dia sengaja membuatmu mabuk berat dan membawamu ke kamar anak Baron Alaric, yaitu Lady Clara. Kau tahu kan, keluarga Baron Alaric itu orang-orang paling baik dan jujur di kekaisaran ini? Mereka tidak pernah berbuat jahat, tapi kau menghancurkan reputasi putri mereka hanya dalam satu malam karena jebakan temanmu itu!"}
Julian merasa lidahnya kelu. Ia ingin berteriak membela diri, tapi mekanisme pertahanan dari sistem Nana membuat tenggorokannya terkunci rapat.
{"Sekarang kau sudah menikah dengan Lady Clara selama sebulan, kan? Tapi kau memperlakukannya dengan buruk karena kau merasa dia yang menjebak mungkin. Padahal, Lady Clara itu selalu menangis setiap malam karena dia merasa malu pada keluarganya. Dia wanita yang tulus, Julian! Dia tidak tahu apa-apa tentang rencana Ricardo. Reputasimu sudah jelek di mata orang-orang yang tahu, dan kau malah menambah dosa dengan menyakiti wanita sebaik dia. Bayangkan, Julian si elit Wiraatmadja, tertipu mentah-mentah oleh Baron kelas rendah dan sekarang malah menjadi suami yang kejam."}
"KAMU—!" Julian akhirnya berhasil mengeluarkan suara, tapi itu hanya berupa bentakan pendek sebelum lidahnya kembali kaku. Ia murka, malu, dan takut secara bersamaan. Bagaimana mungkin Rosalind yang selalu terkurung di paviliun ini tahu tentang Ricardo dan Clara?
Seluruh anggota keluarga di ruangan itu kini berdiri gemetar. Mereka tidak bisa lagi meremehkan gadis di depan mereka. Kekuatan misterius yang membuat mereka bisa mendengar batin Rosalind sekaligus mengunci mulut mereka, membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan entitas yang jauh lebih tinggi dari manusia.
Rosalind—hanya bisa mengerjapkan matanya yang ungu jernih. Ia menatap deretan wajah pucat di depannya dengan rasa heran yang mulai membuncah.
[Batin Rosalind:]
["Lho? Kok mereka semua mendadak jadi patung lilin begini? Suasananya jadi aneh banget. Apa tadi aku ngomong terlalu keras? Eh, tapi kan aku cuma ngomel dalam hati. Kenapa Paman Baskara keringatnya sampai sebiji jagung begitu? Terus itu si Julian, mukanya sudah kayak orang nahan buang air besar di tengah rapat penting. Apa paviliun ini beneran ada hantunya sampai mereka semua melongo ketakutan?"]
Rosalind memiringkan kepalanya sedikit, helai rambut peraknya jatuh menutupi bahunya yang kurus. Ia menatap Duke Lyon yang berdiri paling depan, yang urat lehernya tampak menegang hebat.
[Batin Rosalind:]
{[Jangan-jangan... jangan-jangan mereka semua diam karena kecewa melihatku masih hidup? Iya, pasti itu! Mereka pasti sedang membatin dalam hati: 'Kenapa anak sialan ini tidak mati saja sekalian? Padahal kami sudah capek-capek datang ke paviliun kumuh ini hanya untuk melihat mayatnya, eh ternyata dia malah bangun'. Ckckck, kasihan sekali kalian. Maaf ya, malaikat maut tadi sempat datang, tapi aku usir pakai jurus tendangan tanpa bayangan!"]
Duke Lyon hampir saja jatuh terduduk mendengar tuduhan "ingin melihatnya mati" itu. Hatinya perih. Bagaimana mungkin putrinya berpikir sekejam itu tentang ayahnya sendiri? Padahal Lyon sedang sibuk memikirkan cara memenggal asisten Hans dan Baron Ricardo malam ini juga!
[Batin Rosalind:]
{"Tapi nggak mungkin juga sih kalau mereka semua punya pikiran kompak begitu. Lihat wajah Mama Elena, dia kelihatan mau pingsan. Terus si Xander, tangannya gemetar sampai pedangnya bunyi klunting-klunting. Aneh... benar-benar aneh. Apa jangan-jangan bau badanku saking lamanya nggak mandi di paviliun ini saking dahsyatnya sampai melumpuhkan sistem saraf mereka? Waduh, kalau iya, berarti aku punya senjata biologis alami dong? Hahaha! aku menang tanpa menyentuh!"}
Rosalind tertawa kecil di dalam kepalanya, suara tawa yang bagi keluarga Wiraatmadja terdengar seperti lonceng kematian yang manis namun mematikan. Rosalind benar-benar tidak menyadari bahwa setiap kalimat, setiap ejekan, dan setiap tawa batinnya tersambung langsung ke gendang telinga mereka semua.
"Rosalind..." Duke Lyon akhirnya berhasil memanggil nama putrinya dengan suara serak, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja menelan pasir.
[Batin Rosalind]
["Nah, kan! Tuh suara Ayah sampai pecah begitu. Pasti dia mau marah karena aku kelamaan diam. Oke, Erika... saatnya berakting jadi putri lemah yang tidak tahu apa-apa. Mari kita buat mereka merasa sangat bersalah sampai mereka mau memberiku daging panggang satu gerobak!"]
Rosalind pun menarik napas dalam-dalam, lalu memasang wajah paling melas dan polos yang pernah ia pelajari di sekolah intelijen. Matanya dibuat berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar.
"Ayah... Paman... kenapa semuanya diam saja?" tanya Rosalind dengan suara cicitan yang sangat halus. "Apa Rosalind melakukan kesalahan? Maafkan Rosalind kalau kedatangan Rosalind kembali dari ambang maut membuat kalian semua... kecewa."
[Batin Rosalind:]
["Mampus! Kena kau! Rasakan serangan panah asmara—eh, maksudku panah rasa bersalah dariku! Hahaha, lihat muka mereka makin pucat! Sukses besar!"]
Seluruh keluarga Wiraatmadja serentak memegang dada mereka. Mereka ingin berteriak: "KAMI TIDAK KECEWA, KAMI HANYA TAKUT PADAMU!", tapi lidah mereka tetap terkunci oleh kekuatan sistem Nana. Mereka hanya bisa saling lirik satu sama lain, memberikan kode mata yang panik: "Cepat keluar dari sini sebelum dia membongkar warna pakaian dalam kita juga!"