NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prosedur Ilegal

Aiena terbaring lemah di ranjang pasien obat anestesi disuntikkan ke dalam nadinya beserta dengan obat tidur. Ia mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun seluruh tubuhnya terasa ringan, kesadarannya perlahan memudar. Anestesi itu mulai bekerja, menarik kesadarannya.

“Tidur saja, Na. Jangan dilawan,” suara Haze terdengar sangat jauh, hampir seperti gema di bawah air.

Meski lemas, Aiena memaksakan matanya terbuka sedikit, menangkap bayangan Haze yang duduk santai di kursi plastik putih, hanya dua meter dari ranjangnya. Pria itu menyilangkan kaki, jarinya lincah menari di atas layar ponsel yang cahayanya memantul di wajahnya yang tenang. Tidak ada cemas di wajah itu, tidak ada sedikitpun rasa bersalah.

Seorang pria berseragam hijau kusam masuk ke ruangan pengap itu, membawa nampan berisi peralatan logam yang berdenting pelan. Tanpa kata, oknum petugas itu mulai mengatur posisi kaki Aiena.

“Berapa lama?” tanya Haze tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Paling lama dua puluh lima menit jika dia tidak berontak,” jawab si petugas pendek.

Aiena ingin berteriak. Ia ingin bangkit dan lari dari ruangan terkutuk ini, namun kelopak matanya terasa dijahit paksa untuk menutup. Sebelum kegelapan benar-benar menyelimutinya, ia sempat melihat Haze meliriknya sekilas bukan dengan tatapan khawatir, melainkan tatapan seorang pemilik yang sedang menunggu barangnya diperbaiki.

“Lakukan yang bersih. Seperti yang terakhir kali,l” ucap Haze pelan, seolah sedang memesan modifikasi mobil.

Pria itu kembali fokus pada permainan di ponselnya saat proses evakuasi paksa itu dimulai. Baginya, pemandangan calon anaknya yang akan segera disingkirkan dari rahim Aiena hanyalah sebuah rutinitas sederhana untuk mengembalikan status kepemilikannya atas wanita itu tanpa beban tambahan. 

***

Langit-langit putih kusam yang retak menjadi hal pertama yang ditangkap oleh netra Aiena yang masih berbayang. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Kesadarannya sudah pulih namun belum seratus persen. Sebagian tubuhnya masih terasa mati rasa. Tidak adanya petugas di ruangan itu seolah memberi sinyal bahwa segalanya telah selesai.

“Bangun, Na. Jangan manja, kita tidak bisa lama-lama disini.”

Suara Haze terdengar tepat di samping telinganya. Pria itu sudah berdiri, merapikan rambutnya sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar yang tertutup rapat. Ia tidak membantu Aiena duduk, hanya menatapnya dengan ketidaksabaran yang kentara.

Aiena tidak menjawab. Isakan kecil mulai lolos dari bibirnya yang pucat dan kering. Air mata mengalir deras, membasahi bantal keras yang ia gunakan sebagai tumpuan. Ia meringkuk, memeluk perutnya, merasa bersalah. Merasa begitu jahat pada darah dagingnya sendiri.

“Kenapa nangis lagi?” Haze mendesis, suaranya tajam seperti belati. Ia membungkuk, wajahnya tepat berada di depan wajah Aiena, menghalangi pandangan wanita itu ke arah lain. 

“Hapus air matamu. Kamu sudah setuju tadi.”

“Dia nggak salah, Haze,” jawab Aiena lirih di sela isakannya.

“Diam!” Pria itu mencengkeram bahu Aiena, menyentaknya agar duduk tegak di tepi ranjang. “Ini yang terbaik buat kita berdua.”

Haze menarik napas panjang, menatap Aiena dengan binar obsesif yang membuat bulu kuduk berdiri. “Aku nggak mau anak itu, Aiena. Aku nggak butuh makhluk kecil yang bakal ngambil kamu dari aku. Pokoknya aku nggak mau perhatianmu kebagi. Kamu cuma punyaku, full, tanpa gangguan dari siapapun. Kalau perlu kamu nggak usah kerja, seharian aja sama aku.”

Aiena menatap pria di hadapannya dengan ngeri. Ia melihat sosok monster yang terbungkus dalam wajah tampan yang dulu ia cintai. “Kamu gila, Haze.”

“Aku cuma cinta lebih dari siapapun,” balasnya sambil mengusap pipi Aiena yang basah dengan gerakan kasar. 

“Tapi aku kesiksa Haze…”

“Ayo pulang. Sudah malam. Nanti orang tuamu khawatir.”

Aiena menurut dalam diam, kakinya gemetar saat menyentuh lantai yang dingin. Ia menyadari bahwa di mata Haze, ia bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah piala yang harus tetap mengkilap hanya untuk dilihat olehnya sendiri. Tanpa cacat, tanpa beban, dan tanpa hak untuk mencintai apa pun selain pria itu.

***

Sebagian besar lampu rumah sudah padam ketika Aiena diantar Haze pulang. Ia berjalan pelan mengendap-endap agar tidak membangunkan anggota keluarga yang lain. Lalu langsung masuk ke dalam kamar.

Di atas ranjang, di balik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, Aiena menangis. Menyesali prosedur ilegal yang dilewatinya untuk kesekian kali. 

Namun yang baru saja ini benar-benar membuatnya sedih. Jauh lebih sedih dari sebelumnya. Dengan penyesalan yang seolah tak berujung.

***

1
Wid Sity
akhirnya hari pernikahan telah tiba
Quoari: Akhirnya nikah juga mereka
total 1 replies
Wid Sity
alasanmu gak masuk akal ya, Sean. Kalo habis dipel kan harunya ada tanda lantai licin
Quoari: Maksudnya di rumah. Tapi beda juga harusnya luka jatuh
total 1 replies
Wid Sity
ni orang kenapa sih. Tiap Aiena lihat Sean. Ada aja babak belur di tubuhnya
Quoari: Korban kdrt. Tapi pas di restoran aman
total 1 replies
Wid Sity
iya. Nasehatin orang yang bucin tu gak berguna. Buang2 energi, bikin emosi. Kita tidak bisa menolong orang yang tidak mau ditolong. Jadi ya udahlah, biarin aja
Quoari: Betul, percuma
total 1 replies
Wid Sity
sepertinya Shane tahu sesuatu tentang Sean dan Lina
Quoari: Sedikit banyak tau, sean temennya, bukan cuma rekan bisnis
total 1 replies
Wid Sity
uwee, sekarang udah manggil sayang🤭
Quoari: Iya kadang
total 1 replies
Wid Sity
daritadi gangguin papamu Mulu, cil. Papamu sibuk, kenapa gak main sama mamamu aja sih
Quoari: Bocil ngga paham, karna ngga ditegur juga sama mamanya
total 1 replies
Wid Sity
egois banget. Padahal Sean lagi repot banget. Lina malah diem aja, gak bantuin. Padahal posisinya Sean lagi bahas kerjaan
Quoari: Betul, semua Sean, mana Sean takut istri
total 1 replies
Wid Sity
betul. Di zaman sekarang sangat langka Nemu cowok seperti Shane
Quoari: Banyaknya yang seperti haze
total 1 replies
Wid Sity
sangat pengertian
Quoari: Beneran idaman yang ini
total 1 replies
Wid Sity
aw, sangat gentleman 😍
Wid Sity
Shane berasa tua ya, Aiena dipanggil mbak, Shane dipanggil pak
Quoari: 🤣🤣 iya ya. Tapi emang tuaan shane
total 1 replies
Wid Sity
kadang jodoh tu misteri dan tidak disangka sangka
Wid Sity
Aiena dipasang kacamata kuda, jadi lihatnya ke Haze Mulu
Quoari: Iya, gabileh lihat yang lain
total 1 replies
Wid Sity
lengket banget kayak magnet
Wid Sity
kok bisa mereka curi2 waktu tidur bersama? Itu kan study tour, ada banyak orang
Quoari: Bisa, karna nginep hotel. Bisa kerjasama ama temennya
total 1 replies
Wid Sity
waduh, padahal masih kecil, belum waktunya
Quoari: Udah punya ktp
total 1 replies
Wid Sity
kasihan banget jadi nyamuk, wkwkwk
Quoari: Gapapa dia kerja😄
total 1 replies
Wid Sity
gak sekalian nitip asbak Bali ni
Quoari: Yang itu ya 🤭
total 1 replies
Wid Sity
ternyata muka dua. Mentang2 Aiena udah jadi calon istrinya bos, malah jadi ramah
Quoari: Takut kl mau judes sama bosnya aiena
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!