Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 9: "Aksi Nekat di Atas Dahan"
Langit Kediri pagi itu tampak cerah, kontras dengan suasana di dalam kamar utama kediaman Ustadz Zain. Shania terbangun dengan mata sembab. Ia menoleh ke arah sofa, namun tempat itu sudah kosong dan rapi. Zain selalu bangun lebih awal, seolah-olah ia adalah bayangan yang enggan bersinggungan dengan cahaya Shania.
Setelah shalat Subuh yang ia lakukan dengan sisa-sisa isak tangis, Shania berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya. Kata-kata Zain semalam masih terngiang,
“Saya, memberikanmu kebebasan itu. Saya tidak akan lagi peduli pada apa yang kamu lakukan.”
Dada Shania kembali berdenyut perih.
"Oh, jadi kamu mau main cuek-cuekan? Kamu mau kasih aku kebebasan?" bisiknya pada cermin.
Ada percikan pemberontakan yang mulai menyala di matanya. Namun, kali ini bukan pemberontakan ala gadis kelab malam Jakarta. Ini adalah pemberontakan seorang istri yang merasa diabaikan, yang ingin menarik perhatian suaminya dengan cara yang paling tidak terduga di lingkungan pesantren yang serba teratur ini.
Shania membuka lemari pakaiannya. Ia menarik sebuah jilbab instan berwarna marun yang praktis, namun ia sengaja tidak mengenakan cadarnya. Ia ingin Zain melihat ekspresinya, melihat setiap inci kemarahannya, dan melihat bahwa "Shania yang liar" tidak hilang, ia hanya berganti kostum.
"Kalau dengan menjadi istri saleha yang penurut aku tetap dianggap debu, maka mari kita lihat bagaimana reaksimu kalau aku jadi 'setan kecil' di pesantren ini, Mas," gumamnya sambil menyeringai tipis.
Halaman belakang ndalem yang berbatasan langsung dengan area asrama putra memiliki beberapa pohon buah yang rimbun. Salah satunya adalah pohon mangga gadung yang sedang berbuah lebat. Pohon itu tinggi, dahan-dahannya menjuntai hingga ke atas pagar pembatas.
Zain sedang memimpin kerja bakti santri pagi itu. Ia berdiri dengan wibawa, mengenakan sarung hitam dan koko putih, memberikan instruksi tentang pembersihan selokan dan penataan taman. Wajahnya tenang, seolah badai semalam tidak pernah terjadi. Namun, konsentrasinya buyar saat ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenali, diikuti oleh pekikan beberapa santriwati dari balik pagar.
"Ya Allah, Mbak Shania! Turun, Mbak! Bahaya!"
Zain menoleh ke arah sumber suara. Jantungnya hampir copot.
Di sana, di dahan pohon mangga yang tingginya sekitar lima meter dari tanah, Shania sedang duduk dengan santai. Kakinya berayun-ayun di udara, menyingkap sedikit bagian bawah gamisnya hingga memperlihatkan celana panjang longgar yang ia kenakan di dalam. Ia tidak memakai cadar, wajah cantiknya terpampang jelas di bawah sinar matahari, lengkap dengan ekspresi menantang.
"Mbak Shania, nanti jatuh! Itu dahannya kecil!" teriak salah satu santriwati dengan wajah pucat.
Shania justru tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat kontras dengan kesunyian pesantren.
"Tenang saja! Dulu di Jakarta aku sering panjat pagar kalau telat pulang. Pohon begini mah kecil!"
Zain melangkah mendekat dengan langkah lebar. Amarah dan kekhawatiran berperang di dalam dadanya. Ia melihat beberapa santri putra mulai mencuri pandang ke arah pohon, terpesona sekaligus kaget melihat istri sang Ustadz bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan urat takut.
"Shania! Turun!" suara Zain menggelegar, rendah namun penuh penekanan.
Shania menunduk, menatap Zain yang berdiri di bawah pohon. Ia sengaja memetik sebuah mangga muda dan menggigitnya tanpa dikupas, hanya untuk menunjukkan betapa "liar" dirinya pagi ini.
"Eh, ada Pak Ustadz. Katanya nggak mau peduli lagi sama urusanku? Kok sekarang teriak-teriak?" sahut Shania dengan nada mengejek.
"Ini bukan soal urusan pribadi, ini soal keselamatanmu dan wibawa tempat ini! Turun sekarang!"
"Nggak mau! Di sini adem, Mas. Bisa lihat pemandangan dari atas. Lagipula, bukannya Mas Zain bilang aku bebas? Ya ini kebebasanku. Aku mau jadi monyet sehari, boleh kan?"
Zain mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ia bisa merasakan mata puluhan santri sedang memperhatikan mereka. Ini adalah ujian kesabaran yang lebih berat daripada ujian tesisnya dulu.
"Shania, saya tidak sedang bercanda. Turun atau saya naik ke sana?"
Shania justru semakin berulah. Ia berpindah ke dahan yang lebih tinggi dan lebih ramping. Dahan itu berderit, membuat semua orang yang melihat menahan napas.
"Naik saja kalau berani! Mas kan kaku kayak kayu, mana bisa panjat pohon?" tantang Shania.
Ia ingin memancing emosi Zain, ingin melihat pria itu kehilangan kendali lagi. Baginya, kemarahan Zain lebih baik daripada kedinginannya.
Zain menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia berbalik ke arah para santri.
"Semuanya, kembali bekerja! Jangan ada yang menoleh ke sini!" perintahnya tegas.
Para santri segera membubarkan diri dengan cepat, meskipun rasa penasaran mereka masih membuncah. Setelah area itu agak sepi, Zain kembali menatap Shania.
"Kamu, mau apa sebenarnya, Shania?" tanya Zain, suaranya kini melunak, ada nada lelah yang terselip di sana.
"Aku, mau Mas Zain bicara sama aku! Bukan cuma 'tolong ambilkan air' atau 'terima kasih'. Aku mau Mas Zain yang dulu, yang marahin aku kalau bacaan tajwidku salah, yang ceramahin aku soal aurat! Aku benci Mas yang sekarang!"
Shania berteriak, suaranya mulai bergetar.
Ia berdiri di atas dahan, mencoba meraih mangga yang lebih tinggi, namun kakinya terpeleset daun yang licin akibat sisa hujan semalam.
"Aaaah!"
"Shania!"
Tubuh Shania merosot. Untungnya, ia sempat menangkap dahan di bawahnya, namun ia kini bergelantungan dengan posisi yang sangat berbahaya. Wajahnya yang tadi menantang kini berubah pucat pasi.
"Mas! Tolong!"
Tanpa memikirkan jubah atau sarungnya, Zain langsung melompat meraih dahan terendah. Dengan gerakan yang cekatan dan tak terduga, ia memanjat pohon itu. Ternyata, masa kecil Zain yang dihabiskan di pedesaan membuatnya sangat mahir dalam urusan ini. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah berada di dahan tempat Shania bergelantungan.
Zain meraih pinggang Shania dengan satu tangan yang kuat, sementara tangan lainnya berpegangan pada batang utama pohon. Ia menarik Shania ke arahnya hingga punggung wanita itu menempel pada dadanya.
"Pegang leher saya, kuat-kuat!" perintah Zain.
Shania menurut, ia memeluk leher Zain dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Ia bisa merasakan napas Zain yang memburu dan detak jantung pria itu yang berdegup kencang di punggungnya.
Zain perlahan turun sambil membawa beban tubuh Shania. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, Zain tidak langsung melepaskan Shania. Ia membawa istrinya ke balik rimbunnya pohon agar tidak terlihat oleh orang lain.
Begitu Shania berdiri tegak, ia langsung dilepaskan. Zain mundur satu langkah, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak.
"Kamu, gila? Kamu, bisa mati atau patah tulang hanya untuk sebuah perhatian?" sentak Zain.
Shania terengah-engah, namun ia justru tersenyum tipis di balik sisa ketakutannya.
"Tapi Mas akhirnya peduli, kan? Mas akhirnya menyentuhku lagi, Mas akhirnya bicara banyak lagi sama aku."
"Dengan cara membahayakan nyawa? Ini bukan bukti cinta, Shania! Ini pembangkangan yang bodoh!"
"Aku, memang bodoh! Aku liar, aku nggak tahu aturan! Itu kan yang Mas pikirkan tentang aku? Jadi sekalian saja aku tunjukkan!"
Shania mendekat, menatap Zain dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas, bilang Mas mau jaga aku tetap mulia di mata Allah, tapi kenapa Mas malah biarkan aku sendirian dalam kesunyian? Mas tahu nggak, didiamkan itu lebih sakit daripada dipukul!"
Zain terdiam. Ia menatap Shania yang kini berantakan—kerudungnya miring, gamisnya terkena getah pohon, dan wajahnya kotor oleh debu batang pohon. Namun di mata Zain, Shania tetaplah amanah yang sangat berat sekaligus indah.
"Kenapa diam? Ayo marahi aku lagi! Bilang aku istri durhaka! Bilang aku memalukan pesantren!" tantang Shania lagi.
Zain memejamkan mata sejenak, mencoba meredam gejolak di hatinya. Saat ia membuka mata, tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan kesedihan yang mendalam.
"Saya, mendiamkanmu karena saya sedang berperang dengan diri saya sendiri, Shania. Saya takut jika saya bicara, yang keluar adalah kalimat yang akan saya sesali seumur hidup. Saya takut jika saya menyentuhmu, saya tidak akan bisa berhenti karena rasa kecewa dan rindu yang bercampur aduk."
Zain melangkah maju, menghapus noda getah di pipi Shania dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, membuat Shania terpaku.
"Kamu, bilang kamu rindu, saya? Kamu pikir saya tidak? Setiap malam saya di sofa itu, saya menghitung detak jam hanya untuk menahan diri agar tidak kembali ke ranjang dan memelukmu. Tapi harga diri saya sebagai lelaki... sebagai suamimu... merasa hancur saat tahu saya hanya dijadikan bahan eksperimen 'kebebasan'mu."
Shania meraih tangan Zain yang ada di pipinya.
"Nggak, Mas... demi Allah, soal ciuman itu, soal pelukan itu... awalnya mungkin aku bercanda. Tapi setelah itu, aku benar-benar merasakannya. Aku merasakannya, Zain. Makanya aku takut. Aku takut kalau aku jatuh cinta sama kamu, aku nggak bisa jadi diriku sendiri lagi."
Zain menatap Shania dalam-dalam.
"Menjadi dirimu sendiri tidak harus dengan memanjat pohon atau melanggar aturan, Shania. Kamu bisa tetap menjadi Shania yang ceria, Shania yang kritis, tanpa harus kehilangan kehormatanmu."
"Tapi Mas terlalu kaku..." bisik Shania.
"Maka ajari saya untuk tidak kaku, tapi jangan dengan cara meruntuhkan iman saya," balas Zain dengan nada yang mulai kembali tenang namun hangat.
"Sekarang, masuk ke rumah. Ganti pakaianmu. Dan jangan pernah, seumur hidupmu, naik ke pohon itu lagi tanpa seizin saya."
"Kalau aku naik lagi?" goda Shania, mencoba mencairkan suasana dengan sifat jahilnya yang kembali muncul.
Zain menatapnya tajam, namun kali ini ada sudut bibirnya yang sedikit terangkat.
"Kalau kamu naik lagi, saya akan pastikan kamu tidak akan bisa keluar kamar selama seminggu karena harus menyetor hafalan satu juz penuh setiap harinya."
Shania menjulurkan lidahnya.
"Duh, hukumannya horor banget!"
Meskipun "perang dingin" itu belum sepenuhnya usai, setidaknya es di antara mereka mulai retak. Shania berjalan menuju rumah mungil mereka dengan langkah yang lebih ringan. Ia tahu, jalannya untuk mendapatkan hati Zain seutuhnya masih panjang, tapi ia siap. Ia akan tetap menjadi Shania yang "liar"—liar dalam mengejar cinta suaminya, tentu saja dengan versi yang lebih "halal".
Zain menatap punggung Shania yang menjauh. Ia menghela napas panjang, lalu melihat ke arah pohon mangga itu lagi.
"Ya Allah... Engkau beri aku istri yang luar biasa ujiannya," bisiknya sambil tersenyum tipis.
Ia baru menyadari bahwa hatinya sudah benar-benar terjatuh, dan memanjat pohon setinggi apa pun terasa jauh lebih mudah daripada harus mendiamkan Shania satu hari lagi.
Namun, Zain tahu, ia harus tetap tegas. Shania butuh bimbingan, bukan sekadar pemanjaan. Dan babak baru perjuangan mereka di Pesantren Al-Muammar baru saja dimulai.
Bersambung ....
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething