Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aroma bumbu kacang yang gurih dan hangatnya nasi putih menjadi pelengkap sempurna bagi pertemuan singkat namun bermakna di meja makan kayu yang sederhana itu. Sandi memperhatikan ibunya makan dengan lahap, sebuah pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan sudut hatinya yang paling dingin. Setelah piring-piring bersih, Sandi meneguk air putihnya dan berdeham pelan.
"Bu, nanti Sandi mau keluar sebentar ya. Mau ke Velodrom," pamit Sandi sembari membereskan piring kotor. "Sudah lama badan nggak gerak. Sayang ilmu silat yang diajarkan Kakek kalau nggak pernah dilancarkan lagi. Takutnya nanti jurusnya malah karatan."
Ibunya tersenyum, menyeka sisa bumbu di sudut bibir dengan ujung jarinya. "Iya, Nak. Bagus itu buat kesehatan. Tapi ingat, jangan malam-malam pulangnya. Jatinegara kalau sudah lewat jam delapan malam mulai rawan."
Sandi mengangguk patuh. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengunci diri di kamar. Di atas meja belajar yang lampunya agak redup, ia membuka buku catatan matematikanya, mengulas kembali rumus fungsi kuadrat yang diterangkan Pak Gunawan tadi siang. Baginya, belajar bukan sekadar kewajiban, tapi satu-satunya tiket untuk mengubah nasib gubuk ini menjadi istana bagi ibunya.
Setelah merasa otaknya cukup "panas", Sandi melirik jam dinding. Sudah waktunya. Ia mengganti kaosnya dengan pakaian olahraga yang sudah agak pudar warnanya namun tetap bersih, mengenakan sepatu kets yang solnya mulai menipis, dan berpamitan pada ibunya.
Motor Ninja hijau itu kembali menderu, membelah kemacetan sore Jakarta Timur yang pengap oleh asap knalpot. Setibanya di Velodrom Rawamangun, Sandi memarkirkan motornya di bawah pohon rindang. Ia memulai dengan peregangan otot yang sistematis, lalu mulai berlari mengelilingi lintasan lari. Enam putaran ia lahap tanpa henti hingga peluh membanjiri tubuhnya yang atletis. Di pojokan lapangan yang agak sepi, ia mulai memainkan jurus-jurus silat warisan kakeknya. Gerakannya gesit, bertenaga, dan penuh presisi—sebuah kontras dari kepribadiannya yang biasanya tenang dan pendiam di sekolah.
Puas menguras keringat, Sandi memutuskan untuk pulang. Namun, saat ia terhenti di lampu merah perempatan jalan raya, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak—yang sangat ia kenali dari kejadian di sekolah tadi—berhenti tepat di samping motornya. Kaca jendela elektrik yang gelap itu perlahan turun.
"Sansan!"
Suara cempreng yang sangat familiar itu memecah lamunan Sandi. Ia menoleh dan mendapati Saskia melambai heboh dari kursi penumpang, sementara ibunya yang cantik dan elegan duduk di kursi kemudi. Keduanya berpakaian sangat rapi, seolah baru saja menyelesaikan sesi belanja mewah di pusat kota.
"Ikuti kami!" perintah Saskia sebelum lampu berubah hijau dan mobil itu melesat maju.
Sandi sempat ragu sejenak. Namun, rasa penasaran mengalahkan logikanya. Ia memacu motornya mengikuti iringan mobil tersebut hingga mereka berbelok ke area parkir supermarket TipTop. Sandi memarkirkan motornya di bahu jalan agar tidak repot masuk ke dalam, Saskia menghampiri Sandi yang masih duduk di motornya.
"Kamu dari mana, San? Kok keringatan gitu?" tanya Saskia sambil memperhatikan kaos Sandi yang basah.
"Habis olahraga di Velodrom. Kenapa memangnya? Ada masalah?" tanya Sandi bingung.
Saskia tidak menjawab, ia hanya tersenyum penuh arti sambil menoleh ke arah mamanya yang baru saja turun dari pintu kemudi dan melangkah anggun menghampiri mereka. Sandi segera turun dari motor, menghampiri wanita itu, dan meraih tangannya untuk bersalaman dengan takzim.
"Ada apa ya, Tante? Saskia bilang ada yang perlu dibicarakan. Apa Sandi ada salah?" tanya Sandi was-was.
Mama Saskia tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat berkelas. "Nggak ada yang salah kok, San. Tante cuma mau..." Ia membuka tas bermereknya, mengeluarkan sebuah kotak putih kecil yang masih terbungkus segel plastik mengkilap. "Ini. Kamu pegang. Di dalamnya sudah ada kartu perdana dan pulsanya sekalian."
Mata Sandi membelalak. Ia mengenali logo di kotak itu. Itu ponsel seri terbaru yang harganya mungkin setara dengan gaji buruh selama beberapa bulan. "Tante! Maaf, maksudnya apa ini?"
"Gini lho, San. Tadi Saskia cerita, katanya cuma kamu yang nggak punya ponsel di kelompok kalian. Terus dia juga mengadu, katanya waktu kamu nolongin dia di Velodrom dulu dan antar dia pulang, kamu janji mau telepon dia dari wartel atau telepon koin. Tapi ditunggu berbulan-bulan, nggak pernah ada telepon masuk. Jadi, ini hadiah dari Tante karena kamu sudah jagain Saskia dari zaman SD sampai sekarang. Tante tahu, cuma kamu yang bisa bikin dia merasa aman."
Sandi terdiam seribu bahasa. Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan pergolakan batin yang hebat. Tangannya yang kasar karena sering bekerja mendadak terasa kaku saat menyentuh kotak ponsel itu.
"Kenapa, San? Kamu nggak suka modelnya?" tanya Mama Saskia heran melihat keterdiaman Sandi.
"Maaf, Tante... bukannya Sandi nggak suka," Sandi melirik Saskia yang sedang menaik-naikkan alisnya dengan wajah jahil. "Sandi merasa nggak berhak dan nggak pantas menerima hadiah semahal ini. Sandi berteman dan menolong Saskia itu tulus, bukan karena berharap imbalan atau barang mewah."
Mama Saskia tersenyum, matanya memancarkan ketulusan. "Sudah, jangan dipikirkan. Ini hadiah dari Tante sebagai orang tua. Kalau kamu menolaknya, Tante malah merasa kamu nggak sopan dan nggak menghargai pemberian orang tua."
Sandi menghela napas panjang, terjebak dalam dilema kesopanan dan harga diri. "Tante, jujur saja... kalau Sandi terima, Sandi bingung mau bilang apa ke Ibu di rumah. Sandi takut Ibu merasa nggak enak atau merasa kita berutang budi terlalu besar karena Sandi berteman dengan Saskia."
"Kalau itu masalahnya, sekarang juga kita ke rumah kamu. Tante yang bicara langsung sama Ibu kamu," tawar Mama Saskia mantap.
Sandi tersentak. "Jangan, Tante! Rumah Sandi jelek, jalurnya sempit banget. Mobil mewah Tante nggak akan bisa masuk, yang ada nanti malah lecet kena pagar atau tembok warga. Kasihan mobilnya."
Mama Saskia menghela napas, menyadari betapa keras kepalanya pemuda di depannya ini dalam menjaga martabat keluarganya. Namun, ia juga tak mau kalah.
"Gini saja. Kamu bawa pulang dulu ponsel ini. Kalau nanti Ibu kamu tanya dan dia keberatan, silakan kamu kembalikan ponsel ini ke rumah Tante, tapi ajak Ibu kamu juga biar kita bisa kenalan. Paham?"
"Tapi Tante—"
"Nggak ada tapi-tapian. Ayo Sas, kita masuk, keburu malam nanti," potong Mama Saskia tanpa memberi celah bagi Sandi untuk memprotes lagi.
Tanpa menunggu jawaban, kedua wanita itu berbalik dan melangkah masuk ke dalam supermarket, meninggalkan Sandi yang berdiri mematung di samping motor Ninjanya. Ia menatap kotak ponsel di tangannya dengan tatapan kosong, lalu mengusap wajahnya kasar dengan tangan satunya.
"Aduh... diterima salah, nggak diterima juga malah dibilang nggak sopan. Gimana cara ngomong ke Ibu nanti ya?" gumamnya lirih, merasa beban di saku jaketnya tiba-tiba menjadi sangat berat.
Sandi masih berdiri mematung di dekat motornya, menatap kotak ponsel yang masih terbungkus segel plastik mengkilap itu dengan tatapan nanar. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, benda itu tampak seperti beban seberat beton. Ia tahu niat Mama Saskia baik, sangat baik bahkan. Namun, bayangan wajah ibunya yang bersahaja, yang selalu mengajarkannya untuk tidak silau dengan harta orang lain, membuat tangannya gemetar. Jika ia membawa pulang benda semahal ini, ibunya pasti akan terjaga semalaman karena merasa berutang budi.
Pikiran Sandi berputar cepat. Ia tidak bisa membawa ini pulang, tapi ia juga tidak enak hati menolak secara kasar di depan umum. Matanya kemudian tertuju pada seorang satpam supermarket bertubuh tegap yang sedang berjaga dengan sigap di dekat pintu masuk supermarket.
Dengan langkah mantap namun penuh keraguan di dada, Sandi menghampiri satpam tersebut. "Pak, permisi!" sapa Sandi sopan.
Satpam itu menoleh, memperbaiki posisi topinya. "Iya, Adik? Ada yang bisa dibantu?"
Sandi menghela napas, lalu menunjuk ke arah sedan perak mewah milik Mama Saskia yang terparkir rapi. "Pak, bisa minta tolong banget ga? Nanti kalau pemilik mobil perak itu keluar..." Sandi menyodorkan kotak ponsel tersebut. "Tolong berikan ini kembali kepada beliau, ya? Bilang saja dari anak motor yang tadi bicara sama mereka."
Satpam itu sempat tertegun melihat kotak ponsel yang jelas-jelas barang mahal, namun ia mengangguk profesional. "Siap, adek. Nanti saya sampaikan langsung begitu pemiliknya keluar. Kamu bisa titipkan ke saya, aman."
"Terima kasih banyak ya, Pak. Tolong banget ya," ujar Sandi sambil menyerahkan kotak itu. Ia merasa sebagian beban di pundaknya terangkat, meski rasa bersalah pada Saskia tetap membayang.
Sandi segera kembali ke motornya dan menghidupkan mesin. Namun, sifat waspadanya muncul. Ia tidak bisa begitu saja percaya pada orang asing dengan barang seharga itu. Ia memacu motornya keluar dari area parkir, namun tidak langsung pulang. Sandi memutar balik dan berhenti di sebuah sudut gelap di seberang jalan, terlindung oleh rimbunnya pohon tanjung, cukup jauh agar tidak terlihat namun cukup dekat untuk memantau pintu masuk supermarket.
Sekitar tiga puluh menit berlalu dalam sunyi. Sandi terus memperhatikan jam tangannya hingga akhirnya sosok Mama Saskia dan Saskia muncul dari pintu kaca, mendorong troli belanjaan yang isinya banyak kantong plastik belanjaan mereka.
Jantung Sandi berdegup kencang saat melihat satpam tadi berlari kecil menghampiri mereka sebelum mereka sempat membuka pintu mobil. Dari kejauhan, Sandi bisa melihat gestur tubuh Mama Saskia yang tersentak kaget. Beliau menerima kotak itu, lalu bahunya tampak merosot sedikit—sebuah tanda kekecewaan yang nyata.
Saskia, yang berdiri di samping mamanya, langsung memasang wajah cemberut. Ia tampak menghentakkan kakinya kecil dan menoleh ke sekeliling area parkir, seolah mencari keberadaan Sandi di antara kerumunan orang. Wajahnya yang biasanya ceria kini dilingkupi mendung kekecewaan yang dalam. Setelah percakapan singkat dengan satpam tersebut, mereka masukan barang belanjaannya dengan dibantu satpam supermarket itu dan mereka berdua masuk ke dalam mobil, perlahan meninggalkan pelataran TipTop.
Sandi menarik napas panjang, ada rasa sesak yang aneh di dadanya melihat wajah kecewa Saskia. Namun, ia merasa ini adalah pilihan terbaik. Ia lebih memilih melihat Saskia cemberut malam ini daripada melihat ibunya rendah diri di hadapan orang kaya besok pagi.
"Maafin gue, Sas. Gue belum pantes megang barang semahal itu," gumam Sandi lirih.
Ia kembali menghidupkan mesin Ninja-nya. Suara knalpot 2-tak itu meraung pelan, membelah angin malam Jatinegara saat Sandi melaju pulang dengan tangan kosong, namun dengan harga diri yang tetap tegak.
Suasana Jatinegara di malam hari mulai terasa lembap. Sandi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang diterangi lampu neon putih yang agak redup. Di sudut ruangan, ia melihat ibunya masih berkutat dengan tumpukan pakaian pelanggan, uap dari setrika arang yang telah dimodifikasi itu mengepul tipis.
"Bu, Sandi pulang," sapa Sandi pelan.
Ibunya menoleh, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat. "Mandi dulu, San. Sudah mau malam, badan kamu bau matahari sama keringat olahraga itu."
Sandi mengangguk patuh, segera menuju kamar mandi di belakang. Guyuran air sumur yang dingin membantu mendinginkan saraf-sarafnya yang tegang sejak kejadian di depan TipTop tadi. Setelah berpakaian bersih, ia mendapati ibunya baru saja mencabut kabel setrika, menandakan pekerjaannya untuk hari ini telah usai.
Sandi mendekat, duduk di lantai di samping ibunya. "Bu..."
Ibunya menoleh, menatap wajah putra semata wayangnya dalam-dalam. "Kenapa, Nak? Tumben banget wajah kamu ditekuk begitu? Ada masalah di jalan?"
Sandi menghela napas panjang, mencoba merangkai kata. "Menurut Ibu, kalau Sandi dapat ponsel dari orang lain... gimana, Bu?"
"Ponsel? Dari siapa?" Ibunya tampak terkejut, menghentikan kegiatannya melipat kain.
Sandi pun bercerita dengan jujur. Tentang pertemuannya di lampu merah, perintah Saskia untuk mengikuti mobilnya, hingga momen di mana Mama Saskia menyodorkan kotak ponsel tersegel di parkiran TipTop. Ia menceritakan betapa ia dipaksa untuk menerima barang mewah tersebut sebagai balas budi karena telah menjaga Saskia selama ini.
"Terus, kamu bawa pulang ponselnya?" tanya ibunya hati-hati.
Sandi menggelengkan kepala. "Pas mereka masuk ke dalam TipTop, Sandi titipkan ponsel itu ke satpam. Sandi tunggu dari kejauhan sampai satpam itu mengembalikannya ke Mama Saskia. Sandi lihat dari jauh... sepertinya mereka kecewa banget, Bu. Wajah Saskia langsung cemberut. Menurut Ibu, Sandi salah nggak sudah berbuat begitu?"
Ibunya terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tulus merekah di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan. Ia mengusap bahu Sandi dengan tangannya yang kasar karena detergen dan panas setrika.
"Menurut Ibu, kamu nggak salah, Nak. Justru Ibu bangga melihat kamu masih punya kekuatan untuk menjaga martabatmu. Kita memang orang susah, tapi bukan berarti kita harus menggantungkan kebutuhan kita pada belas kasihan orang lain, apalagi barang semewah itu. Ibu lebih tenang kamu punya tangan kosong tapi hati yang tegak, daripada punya ponsel mahal tapi hati kamu merasa berutang budi terus-menerus."
Sandi merasakan beban di dadanya luruh seketika. "Makasih ya, Bu. Sandi jadi sedikit lebih tenang sekarang."
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Jangan dipikirkan terus biar nggak jadi beban pikiran. Besok kamu harus sekolah," ujar ibunya lembut.
Sandi mengangguk, lalu melangkah menuju kamar kecilnya. Namun, meski restu ibu sudah di tangan, saat ia berbaring dan menatap langit-langit kamar, bayangan wajah Saskia yang kecewa tadi sore kembali muncul. Ia membayangkan bagaimana reaksi gadis itu besok di sekolah. Apakah Saskia akan mendiamkannya? Atau justru Mama Saskia akan menganggapnya tidak tahu sopan santun?