Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siampa Puncak Harau
Senja di Lembah Harau dalam tiga hari terakhir terasa lebih berat, seolah udara mengandung serpihan abu yang tak terlihat namun menyesakkan dada.
Matahari yang tenggelam di balik tebing-tebing granit menyisakan warna merah saga yang mengerikan, mengingatkan warga pada api yang melalap Puncak Harau tempo hari.
Api besar itu bukan sekadar cahaya yang memicu kehebohan; ia telah bertransformasi menjadi mitos yang berdenyut di setiap sudut lembah.
Cerita itu menjalar cepat, lebih cepat dari aliran Batanghari, berpindah dari mulut para lelaki di balai desa, menyelinap di antara gurauan para ibu di ladang, hingga menjadi bisik-bisik ketakutan di tepi sungai saat hari mulai gelap.
Kabar tentang setengah peleton prajurit Singasari yang tewas mengenaskan dengan mayat yang kaku dalam posisi-posisi ganjil—menjadi horor baru.
Melahirkan nama sosok makhluk gaib penjaga tebing yang kini dianggap telah bangkit karena wilayahnya dinodai oleh derap sepatu ksatria dari seberang lautan: Siampa Puncak Harau.
Sejak malam berdarah itu, Pos Harau yang dipimpin oleh Purwa Wangsa berubah menjadi sunyi yang mencekam. Gerbang kayu besar itu kini tertutup rapat, hanya sesekali terbuka untuk menerima logistik atau upeti dengan penjagaan ketat.
Tidak ada lagi pengawasan kerja rodi yang pongah. Tidak ada lagi patroli berlebihan di jalan-jalan desa yang biasanya membuat warga menunduk gemetar. Bagi warga sendiri, Siampa adalah Sang Penjaga Harau.
Namun bagi segelintir orang yang menyaksikan langsung peristiwa di puncak, kebenarannya jauh lebih dingin dan sunyi.
Itu bukan kutukan makhluk gaib. Itu bukan sihir hitam dari hutan tua. Itu adalah ulah seorang remaja lima belas tahun—sosok yang selama ini dianggap tak lebih dari debu di kaki mereka.
Balun, remaja yang malam itu berada di garis depan antara hidup dan mati, hanya menceritakan apa yang ia lihat kepada orang-orang yang ia percaya, Datuk Lagang dan kedua sahabatnya; Jagu dan Danta.
Datuk Lagang, kepala desa Harau, mendengarkan kesaksian Balun di sudut rumah gadang yang remang tanpa sekalipun menyela. Setelah Balun selesai bicara dengan napas yang masih tersengal, Datuk hanya berkata singkat, namun setiap katanya terasa seberat batu gunung.
“Rahasiakan,” perintahnya. “Biarkan rakyat percaya itu Siampa. Orang-orang tahu kau berada di sana malam itu, Balun. Jika ditanya, katakan saja kau melihat sosok hitam raksasa di puncak bukit. Jangan lebih, jangan kurang.”
“Baik, Datuk,” jawab Balun tertunduk.
Balun menuruti arahan itu dengan setia. Meski sebagian orang dewasa yang lebih skeptis menduga pelakunya kemungkinan Pasukan Harimau, mereka tetap ikut menyebarkan kisah Siampa.
Dan seperti api di padang rumput kering yang tertiup angin kencang, cerita itu tak lagi terbendung. Dalam tiga hari, nama Siampa telah bergaung hingga ke desa-desa di seberang lembah, menciptakan perisai gaib yang secara tidak langsung melindungi warga dari kesewenang-wenangan Singasari.
Malam kelima setelah tragedi Puncak Harau...
Balun baru saja pulang dari tugas berat mengantar upeti ke Pos Harau bersama dua sahabatnya, Jagu dan Danta. Jalan tanah di tepi lembah terasa begitu sunyi malam ini. Hanya suara serangga malam yang bersahutan dan gesekan daun bambu yang saling beradu, menciptakan irama yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ketika mereka melewati sebatang pohon beringin besar yang akarnya menjuntai seperti jemari raksasa, bayangan seseorang yang bersandar tenang di batangnya melintas sekilas di sudut mata mereka.
Langkah ketiganya terhenti serempak. Jagu menelan ludah dengan susah payah, jakunnya turun naik. Danta membeku di tempat, kakinya gemetar hebat seolah tanah di bawahnya mendadak berubah menjadi lumpur hidup yang hendak menelannya. Wajah mereka pucat pasi, tangan mereka refleks menggenggam erat apa pun yang bisa dijadikan pegangan, meskipun itu hanya pinggiran baju kawan di sampingnya. Pikiran mereka hanya satu: Siampa.
Namun Balun berbeda. Ia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah aura yang dingin, namun tidak mengancam.
“Sena,” sapa Balun pelan, suaranya mengandung getaran hormat yang tulus.
Sosok itu mendorong tubuhnya menjauh dari batang pohon. Cahaya bulan yang menembus celah dedaunan menyinari separuh wajahnya. Matanya tenang, menyerupai kedalaman telaga yang tak terjangkau sinar matahari. Di mata itu, tidak ada lagi jejak bocah ingusan yang biasa mereka rundung.
Jagu dan Danta tergagap, suara mereka seolah tertahan di kerongkongan. “Se… Sena.”
Tidak ada lagi panggilan ‘cungkring’. Tidak ada lagi ejekan. Tidak ada lagi tawa meremehkan. Yang tersisa hanya rasa takut yang bercampur dengan rasa hormat, segan dan rasa bersalah yang menusuk hati. Mereka menyesal telah terlambat menyadari bahwa di antara mereka, telah tumbuh seekor harimau yang menyamar sebagai kucing kampung.
Sena mengangguk singkat. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tapi dia hanya menatap Balun.
Balun menelan ludah, ”Datuk Lagang yang menyuruhku.”
Balun seolah paham apa yang diinginkan Sena, dia bisa menilai alasan Sena muncul dihadapannya, yang berarti Sena sudah tahu tentang rumor Siampa Puncak Harau, dan dirinyalah satu-satunya saksi dari Desa. Jadi sangat mudah di tebak, Sena ingin tahu siapa dibalik rumor Siampa Puncak Harau, karena Balun sadar, dirinya tak mungkin memikirkan tentang hal itu.
“Datuk Lagang?” Gumam Sena, ‘Siapa sebenarnya Datuk Lagang? Kenapa dia bisa memikirkan tentang penyebaran rumor, apa dia bagian dari Pasukan Harimau?’ Batinnya, dia yakin Datuk Lagang pasti bukan rakyat biasa.
Sena memandang datar mereka bertiga, “Aku butuh bantuan kalian.”
Seketika, ketegangan yang menyesakkan itu runtuh. Napas Jagu dan Danta terlepas bersamaan dengan helaan lega yang panjang, seolah mereka baru saja tersadar bahwa mereka telah menahan napas terlalu lama hingga paru-paru mereka sesak.
Balun membusungkan dada tanpa sadar. Ada rasa bangga yang meledak di dadanya, sebuah kehormatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika diminta bantuan oleh sosok yang kini melegenda sebagai Siampa Puncak Harau.
“Katakan saja, saudaraku,” ujar Balun, suaranya kini mantap meskipun masih ada getaran emosi. “Apapun itu, kami akan melakukannya.”
Sena menatap mereka bergantian. Bagaimanapun mereka sejawat desa, teman masa kecil. Baik dirinya maupun mereka, sama-sama dipaksa oleh keadaan.
“Antarkan aku menemui Datuk Lagang, Sa…” Sena tercekat, kalimatnya terputus, ini bukan keinginan Hattori, ini seperti reaksi alami tubuh Sena yang merindukan sesuatu.
Tapi ketiganya mengangguk cepat. Saat mereka baru berjalan beberapa langkah, Sena menangkap beban rasa bersalah mereka, jadi dia mencoba membuka kembali simpul-simpul pertemanan masa kecil yang dulu sempat retak semenjak Singasari datang ke desa mereka.
“Sa..saudaraku” Sena menelan ludah dan kikuk.
Ketiganya menghentikan langkah, dorongan emosional yang tak tertahankan meluap. Mereka tiba-tiba berbalik.
“SENAAA!” teriak mereka bersamaan.
Tanpa aba-aba, ketiganya menerjang dan memeluk Sena erat-erat. Tangis yang mereka tahan sejak malam pembantaian itu akhirnya pecah. Bukan tangisan sedih, melainkan tangisan haru karena sosok yang mereka kira telah hilang ke dunia hitam ternyata masih berdiri di sini, bersama mereka.
Hattori tertegun. Di dunia lamanya, seorang Shinobi tak pernah dipeluk. Sentuhan fisik berarti celah untuk membunuh. Namun, kehangatan dari ketiga remaja ini merembes masuk ke dalam dadanya, meluluhkan kekakuan jiwa Sang Bayangan yang sudah lama membeku.
Di bawah langit yang bertabur bintang bak intan yang tercecer, mereka berjalan menembus kegelapan menuju rumah Datuk Lagang.
Bulan menggantung cerah, memantulkan sinarnya pada tebing-tebing tinggi, seolah alam ingin melupakan amis darah yang pernah tumpah di sana.
Di dalam rumah panggung yang seperti kapal dan beratap ijuk milik Datuk Lagang, udara mendadak berubah berat.
“Apa?” Datuk Lagang memajukan tubuhnya, matanya membelalak tak percaya. “Masuk ke dalam Pos Harau? Kau gila, Sena?”
“Saya tahu batasan, Datuk,” jawab Sena dengan nada datar yang mengerikan. “Jika tidak sekarang, mereka akan segera mengirimkan pasukan lagi ke Pos Harau. Saat mereka kembali dengan jumlah besar, lembah ini akan benar-benar menjadi lautan api.”
“Apa kau ingin menghabisi mereka semua?” tanya Datuk dengan nada ragu.”Tolong jangan lakukan itu.” Mata tua Datuk Lagang seolah memohon pada Sena.
Sena kini jadi ragu akan dugaan sebelumnya, cara berpikir Datuk Lagang seperti bukan para gerilyawan, cara berpikirnya lebih seperti orang yang pernah duduk di pemerintahan.
“Tidak,” Sena menggeleng. “saya hanya ingin menyusup dan memberi peringatan pada Purwa.”
Datuk Lagang terdiam seribu bahasa. Ia menatap lekat-lekat remaja di hadapannya. Ia tidak lagi melihat Sena sebagai anak yatim piatu yang malang. Di matanya, Sena adalah seorang pendekar yang telah berjalan jauh melampaui usianya.
Kecemasan tampak jelas di mata Datuk Lagang, “Bantuan apa yang kamu minta?”
“Saya butuh sembunyi Datuk.” Jawab Sena singkat.
Balun hampir menyela, ingin menawarkan rumahnya, namun Datuk Lagang mengangkat tangan memberi isyarat untuk diam. Ia mengerti. Yang dimaksud Sena bukan hanya tempat tinggal, tapi juga logistik dan identitas rahasianya.
Sementara itu, jauh di balik dinding kayu tebal Pos Harau, Purwa Wangsa sedang mengamuk. Ia menghantam meja kayu hingga retak. Amarahnya memuncak bukan hanya karena setengah peleton prajuritnya dihabisi hanya dengan bambu, melainkan karena warga mulai memuja nama 'Siampa Puncak Harau'. Wilayah yang seharusnya ia tundukkan dengan ketakutan pada Singasari, kini justru lebih takut dan hormat pada sosok mitos itu.
Tapi setidaknya kini dia punya jawaban yang tepat untuk melapor tentang gugurnya tujuh belas prajuritnya ke atasan langsungnya.
Sementara itu, di ruangan bawah tanah sebuah lumbung padi, Sena bercucuran keringat, ia melatih kekuatan jari-jarinya, melatih Kumo-Niju—Teknik Seni Laba-laba, untuk mendukung infiltrasi-nya nanti.