Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 hidup dan mati bersama
"Kak, sekarang kita harus bagaimana?" Wajah Yan Ning seketika risau mendengar peringatan dari Ning Garang.
Harimau. Binatang buas itu adalah momok mengerikan yang membuat nyali siapa pun menciut, apalagi bagi wanita lemah seperti mereka.
"Ayo, kita pulang saja," ucap Nyonya Mu tanpa banyak tanya. Dia langsung menarik lengan kedua putrinya untuk berbalik arah.
Nara mengernyit sejenak, lalu dengan lembut melepaskan cengkeraman tangan ibunya. "Ibu, tunggu dulu."
Wajah Nyonya Mu memerah panik. "Ara, tolong patuh sama Ibu sekali ini saja. Ini taruhannya nyawa, Nak. Ayo pulang, Ibu pasti bakal cari cara lain buat memberi kalian makan."
Nyonya Mu rela menahan malu atau bahkan dipukuli asal kedua putrinya tetap aman. Bagi seorang ibu, keselamatan nyawa anak-anaknya adalah yang paling utama.
"Ibu, masalahnya tidak sesederhana itu lagi," sahut Nara sambil menatap ibunya lekat-lekat.
"Setelah semua keributan tadi, apa Ibu pikir mereka bakal mengampuni kita begitu saja? Ini bukan lagi soal meminta maaf. Mereka beneran ingin menyingkirkan kita, Bu."
Raut wajah Nyonya Mu mendadak bimbang. Dia mengetatkan bibirnya sejenak sebelum menyahut lirih, "Mereka tidak akan seberani itu. Membunuh orang ada hukumannya."
"Sekarang mungkin tidak berani, tapi bagaimana dengan besok-besok?" Nara menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau lagi hidup tertindas seperti ini. Aku tidak sudi melihat Ibu dan Yan Ning dipukuli setiap hari oleh pria itu, diperlakukan seperti budak. Sudah cukup, Bu."
"Kita naik ke gunung hari ini bukan cuma buat mencari pengganjal perut. Kita harus membuka jalan hidup kita sendiri," tegas Nara serius.
"Kalau tidak mau terus-menerus diinjak, kita bertiga harus jadi kuat."
Untuk menjadi kuat di zaman ini, mereka butuh modal dan uang. Hanya dengan cara itu mereka tidak akan dipandang rendah dan bisa membuat orang-orang zalim itu merasa takut.
Masalahnya, seluruh keuangan Keluarga Yan dikunci rapat oleh Nenek Lou. Jangankan memegang uang perak, Nyonya Mu bahkan tidak punya uang receh sepeser pun.
Nara sadar dia hanya bisa mengandalkan kemampuannya sendiri di dunia ini. Tanpa modal awal, langkah mereka untuk mandiri akan terasa sangat sulit.
Gunung di depan mereka menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Nara ingin mencari apa saja yang bernilai jual, entah itu ayam hutan atau tanaman obat seperti ginseng, demi mengumpulkan modal pertamanya.
Sepasang mata Nyonya Mu mulai berkaca-kaca. Dia menatap jajaran pohon tinggi di area bukit dengan cemas. "Tapi Ara, di atas sana ada harimau!"
Nara beralih menatap Yan Ning yang terdiam kaku. "Kalau begitu, Ibu dan Yan Ning pulang saja dulu. Biar aku yang masuk ke hutan sendirian, aku janji bakal segera kembali."
"Sekarang masih siang dan cuaca sangat terik. Binatang buas biasanya tidak akan berkeliaran di jam begini," bujuk Nara mencoba menenangkan.
"Tidak boleh!" seru Nyonya Mu dan Yan Ning kompak secara bersamaan.
Yan Ning langsung mencengkeram erat pergelangan tangan Nara. "Kak, jangan berani-berani meninggalkanku sendirian!"
"Pilihannya cuma dua. Kita semua pulang, atau kita bertiga pergi ke gunung bersama-sama," tegas Nyonya Mu dengan sorot mata yang mendadak berubah mantap.
Nara sempat terpukau melihat ketegasan ibunya. Namun, hatinya seketika menghangat merasakan kesetiaan murni yang ditunjukkan oleh ibu dan adiknya.
"Kalau hidup, kita hidup bersama. Kalau harus mati, kita juga mati bersama," ucap Nyonya Mu sambil menggandeng erat tangan Nara dan Yan Ning di kedua sisinya.
"Setuju!" sahut Yan Ning mantap.
Nara tersenyum lebar, rasa optimis kembali membakar dadanya. "Baiklah, ayo kita berangkat."
Ketiganya segera memantapkan langkah, berjalan beriringan menerobos lebatnya hutan pegunungan.
Beberapa saat kemudian, Ning Garang kembali melangkah keluar dari pondok kayunya. Kondisi di depan halaman rumahnya sudah tampak sepi.
Pria itu awalnya mengira ibu dan anak itu sudah mengurungkan niat mereka dan pulang ke desa.
Namun, anjing pemburu hitamnya, Dazhan, mendadak menggonggong dua kali ke arah jalur pendakian gunung.
Ning Garang langsung mengalihkan pandangannya ke tanah. Begitu melihat beberapa jejak kaki berukuran kecil yang masih samar mengarah ke dalam hutan, wajahnya seketika mengeras.
"Sialan!" umpat Ning Garang kasar.