"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Firasat Seorang Kekasih
Pelukan terurai.
Sukma dan Nara saling menatap, lalu melempar senyum. Menyeka wajah mereka yang basah dengan ujung jari.
"Ayo, duduk dulu, Ra," ucap Sukma sembari menarik lengan Nara.
Sebelum duduk di kursi kayu, Nara menyapa Bi Jayanti dan mencium takzim punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Bagaimana kabarnya, Non Nara?" tanya Bi Jayanti disertai senyuman hangat.
Nara balas tersenyum. "Alhamdulillah baik, Bi. Bibi dan Sukma bagaimana?"
Bi Jayanti terdiam, mengalihkan tatapannya sesaat pada Sukma, lantas menghela napas. "Alhamdulillah, kami juga baik, Non," jawabnya merendahkan nada suara.
"Bibi buatkan teh dulu ya," imbuh Bi Jayanti.
"Nggak usah, Bi. Tadi aku dan Haidar mampir di kedai kopi dulu sebelum sampai di sini," tolak Nara halus.
"Kalau begitu, saya tinggal dulu ke belakang. Mari, Mas Haidar... ikut Bibi jika berkenan. Supaya Non Nara dan Non Sukma bisa leluasa berbincang."
Haidar mengangguk tipis, membawa langkahnya menginjak lantai teras dan mengekor di belakang Bi Jayanti.
Selepas Haidar dan Bi Jayanti berlalu, sunyi sejenak turun menyelimuti. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara Nara.
"Sukma, kenapa nomor telepon dan WhatsApp-mu nggak aktif? Semua chat yang aku kirim, nggak ada satu pun yang centang dua, apalagi terbaca," tanya sekaligus protes Nara dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.
"Maaf, Ra. Aku sengaja mengganti nomorku untuk sementara waktu. Tepatnya, sehari setelah aku tinggal di desa ini." Sukma meraup udara dalam-dalam, mengalihkan atensinya pada bunga-bunga mawar putih yang bermekaran di halaman depan.
"Aku ingin hidup tenang, Ra. Jauh dari kebisingan teman-teman kampus yang membicarakan Kak Hamdan di grup chat kelas. Aku capek. Aku serasa ingin menyusul Kak Hamdan dan kedua orang tuaku, tapi... Alhamdulillah, sejak mengenal anak-anak yatim piatu yang bernaung di Yayasan Abimana, keinginanku itu perlahan sirna. Aku menemukan alasan untuk bertahan dan pasrah menjalani garis takdir, meski... semesta seolah belum puas menghukumku."
Nara menoleh--menatap penuh empati wajah Sukma yang terbingkai sendu, lalu meraih jemari sahabat terkasihnya itu dan menggenggamnya erat.
Tak ada kata yang terucap. Namun, bahasa tubuh Nara sudah cukup mewakili seluruh frasa yang ingin terlontar dari bibirnya.
"Aku... hamil, Ra. Aku mengandung darah dagingnya," suara Sukma bergetar. Air matanya luruh mengiringi kalimat yang mengalir lirih, namun menghunjam telak di ulu hati Nara.
Nara seketika bergeming. Jelas, ia terkesiap mendengar kenyataan pahit yang kembali menimpa Sukma.
"Ra, aku harus bagaimana? Aku... aku tidak menginginkan janin ini hadir ke dunia dengan cara yang hina." Sukma tergugu. Bahunya berguncang hebat, menumpahkan seluruh kepedihan batin yang mendera jiwanya.
Nara memejamkan mata erat-erat, mengizinkan air mata duka mengalir bebas tanpa permisi. Tangannya seketika bergerak merengkuh tubuh Sukma, mencoba memberi rasa tenang lewat dekapan hangat serta usapan lembut yang berlabuh di punggung.
"Sabar ya, Ma. Yang kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ujian berat ini. Aku janji... aku akan selalu membantumu dan berada di sisimu setelah lulus kuliah nanti. Aku janji, Sukma. Aku janji..."
Sukma perlahan mengangkat kedua tangannya yang semula berada di pangkuan, lalu membalas pelukan Nara tak kalah erat.
Di bawah langit senja, kedua sahabat itu saling menumpahkan tangis. Tidak ada lagi bisikan penguat, tergantikan oleh isak yang terdengar menyayat hati.
Di dalam benaknya, Nara berjanji bahwa ia akan segera membeberkan seluruh perbuatan bejat Xavier langsung kepada Gea. Meminta gadis itu untuk mendesak Xavier agar mau bertanggung jawab: menikahi Sukma dan mengembalikan marwahnya yang telah hancur
.
.
Langit di pagi ini tampak muram, seolah semesta tengah dirundung duka atau bahkan memberi pertanda.
Seperti biasa, Xavier menjemput Gea dengan motor kesayangannya ZX-25R warna biru metalik.
Rupanya Gea sudah menunggu di halaman depan. Gadis itu menyambut kedatangan Xavier dengan senyum khasnya yang teramat manis. Namun, ada satu hal yang berbeda. Wajah cantik Gea terlihat begitu pucat.
Xavier mati-matian menahan diri untuk tidak langsung bertanya ataupun berkomentar. Ia memilih menunjukkan perhatian, meski sisi hatinya terus merutuki diri: ia tak pantas lagi menjadi kekasih Gea, karena telah mengkhianati janji yang pernah digaungkan dengan melakukan perbuatan hina--menodai kesucian gadis lain.
"Ge, mau pakai mobil atau motor ini aja? Kalau mau pakai mobil, gue pulang sebentar buat naruh motor. Terus kita berangkat bareng ke kampus pakai mobil," ujar Xavier, menatap lekat wajah pucat kekasihnya.
"Pakai motor ini aja, Vier. Lagian aku udah kesiangan. Ada kuis di jam pertama."
Xavier mengangguk samar, lalu memakaikan helm di kepala Gea dengan gerakan hati-hati dan meminta kekasihnya itu untuk segera naik ke atas kuda besinya.
Perjalanan menuju kampus kali ini terasa berbeda. Tidak ada candaan manis yang dilontarkan oleh Xavier. Lelaki bermata elang itu lebih banyak diam. Bibirnya bungkam, tapi otaknya gaduh--dipenuhi kata-kata Edo, "Apa jangan-jangan... Sukma hamil? Dan lo yang mewakilinya ngidam."
"Bloody hell!" umpatnya tiba-tiba, membuat Gea seketika terkejut.
"Vier, kamu kenapa? Apa ada masalah?" cecar Gea lembut, sedikit merenggangkan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Xavier.
"Maaf, Ge. Gue cuma lagi sebel aja sama Edo. Biasalah, mulutnya asal ngomong. Bikin gue pengen ngumpat terus."
Gea menghela napas. Ia merapatkan kembali pelukannya, lalu menyandarkan kepalanya di punggung bidang sang kekasih.
"Kamu harus bisa mengelola emosi, Vier. Jangan mudah terpancing amarah, apalagi cuma karena kata-kata Edo yang pasti sekadar candaan dan nggak penting dimasukkan ke dalam hati."
Xavier kembali mengangguk, menanggapi perkataan Gea yang sarat akan petuah.
Ia lantas mengurangi kecepatan laju sepeda motornya. Tangan kirinya merengkuh jemari Gea dan menggenggamnya erat.
"Maaf..." Kata itu yang terus ia gemakan di dalam benak.
Hening sesaat turun menaungi mereka, sebelum akhirnya Gea kembali bersuara menceritakan mimpi buruk yang beberapa hari ini selalu datang menghantui.
"Vier, beberapa hari ini aku sering bermimpi mengenakan gaun pengantin. Tapi... nggak ada kamu di dekatku. Aku berdiri di atas awan, sementara kamu berpijak di tanah pedesaan. Seolah, lewat mimpi itu, alam sedang memberikan pertanda... hidupku nggak akan lama lagi. Dan kita... akan terpisah sebelum kamu mengikrarkan janji suci di hadapan penghulu," ucap Gea lirih.
Kalimat yang mengalir pelan itu bagaikan ribuan pisau belati yang menghunjam jantung, meremukkan ulu hati dan menyisakan rasa ngilu yang luar biasa di dada Xavier.
"Vier, jika aku benar-benar pergi..."
"Enough, Ge. Cukup. Gue nggak mau denger lagi. Lo harus tetap hidup, sampai kita menua bersama. Sumpah, gue nggak bisa kehilangan lo." Suara Xavier bergetar hebat. Sepasang mata elangnya mengembun. Sebisa mungkin ia menahan titik-titik air yang mulai menggenang di pelupuk mata agar tidak tertumpah.
Gea mengulas senyum tipis. Ia kian mengeratkan pelukannya dan memejamkan sepasang mata indahnya, membiarkan embusan angin menerpa wajahnya yang kini terbingkai kristal bening.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier