(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tingkah bodoh
Raka menghentikan langkahnya beberapa detik di anak tangga terakhir sebelum melirik datar ke arah Selina, tatapannya singkat, tetapi cukup membuat wanita itu langsung mengalihkan pandangan seolah baru sadar telah berbicara terlalu jujur.
“Menyebalkan?” ulang Raka tenang sambil menarik kursi di meja makan.
Selina berdeham kecil lalu buru-buru mengambil gelas jus di depannya. “Ya, karena wajah dinginmu itu,” balasnya cepat. “Baru lihat saja sudah membuat suasana seperti mau menghadiri rapat direksi.”
Sudut bibir Tuan Rendra bergerak tipis, jelas menahan sesuatu yang menyerupai senyum.
“Kalau begitu berarti dia sudah terlihat normal lagi,” ucap pria itu santai sambil menyesap kopi.
Raka hanya menggeleng kecil sebelum mulai sarapan dengan tenang, tak lama setelah sarapan selesai, suasana mansion kembali sibuk.
Beberapa staf rumah bergerak cepat sementara Jack sudah berdiri di area depan bersama dua pengawal dan seorang sopir yang menunggu di dekat kendaraan utama.
Bugatti Chiron hitam itu tampak mencolok di bawah cahaya pagi, bodinya mengkilap sempurna seperti baru saja keluar dari showroom.
Raka keluar dari pintu utama mansion dengan langkah tenang, jas hitam terpasang rapi di tubuhnya sementara ekspresinya kembali berubah dingin.
Nyonya Shanum berdiri di dekat pintu sambil merapikan sedikit kerah jas putranya, sesuatu yang membuat Raka terdiam sesaat.
“Jangan lupa makan siang,” ucap wanita itu pelan.
Raka mengangguk kecil. “Iya, Ma.”
Tuan Rendra yang berdiri tidak jauh memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Jangan terlalu lunak pada mereka,” katanya datar. “Direksi kita terlalu lama nyaman di bawah peraturan lama.”
Raka melirik singkat lalu membuka pintu mobil. “Aku tahu.”
Selina yang berdiri di belakang hanya memperhatikan dalam diam, entah kenapa pemandangan itu terasa asing baginya, pria yang dulu lebih suka menghindar dari tanggung jawab kini justru terlihat percaya diri untuk melakukan semuanya.
“Aku ikut denganmu,” ucap Selina tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.
Raka dan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya pelan, sambil tersenyum tipis. Bukan tanpa sebab Selina ada disana, itu karena dia sudah membantu merawat Nyonya Shanum selama Raka pergi, dan tidak mungkin dia di usir begitu saja hanya karena Raka sudah kembali.
Terlebih lagi, kini Selina bekerja di perusahaan keluarga Pradipta sebagai asisten dari Tuan Rendra, yang tentunya kini dia akan menjadi asisten Raka. Semua itu di lakukan Selina atas kemauannya sendiri, karena perusahaan milik keluarganya sudah di tangani kakaknya, jadi dia tidak terlalu sibuk ikut campur mengenai perusahaan keluarganya sendiri.
Beberapa menit kemudian, kendaraan keluarga Pradipta melaju membelah jalanan ibu kota. Dua mobil pengawal mengikuti dari belakang dengan jarak aman, sementara Selina duduk di kursi samping sambil sesekali memberi laporan singkat mengenai agenda hari itu.
Tak sampai satu jam, gedung utama Pradipta Grup mulai terlihat menjulang tinggi di pusat bisnis kota, gedung kaca raksasa dengan logo besar berwarna perak itu berdiri megah di antara deretan bangunan lain.
Mobil perlahan memasuki basement khusus eksekutif, Begitu mobil berhenti, beberapa staf keamanan yang berjaga langsung menegakkan tubuh. “Selamat pagi, Bu Selina.?” sapa salah satu security sebelum akhirnya diam membeku, saat melihat orang yang keluar dari kursi kemudi.
Karena pria yang keluar dari kendaraan itu terasa sangat familiar. “Tu-Tuan muda...?” gumam salah satu staf.
Kabar itu menyebar cepat bahkan sebelum lift pribadi bergerak naik, di lantai utama kantor, suasana mulai berubah ramai.
“Serius? Tuan muda sudah kembali?”
“Bukannya sudah lama menghilang?”
“Aku dengar dia langsung ambil alih perusahaan...”
Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut, sementara itu, di salah satu divisi operasional, seorang pria muda berpakaian formal sedang berdiri sambil meninjau laporan mingguan dengan ekspresi tidak sabar.
Farhan.
Sebagai manajer divisi, pagi itu suasana hatinya jelas buruk sejak semalam. Telepon dari Rasti, masalah keluarganya, hingga bayangan wajah Raka yang terlalu tenang terus mengganggu pikirannya.
“Pak Farhan, ada informasi dari atas,” ucap seorang staf buru-buru menghampiri. “Katanya pewaris keluarga Pradipta datang hari ini.”
Farhan mendecak pelan tanpa terlalu peduli.
“Terus kenapa? Kerja saja,” balasnya singkat.
Namun belum sampai lima menit kemudian, lift utama di ujung koridor terbuka, suasana kantor yang semula ramai perlahan berubah sunyi.
Beberapa staf langsung berdiri lebih tegak, Jack keluar lebih dulu, lalu sosok di belakangnya membuat beberapa orang refleks menahan napas.
Langkah Raka terdengar tenang di atas lantai marmer, jas hitamnya tampak rapi sempurna sementara sorot mata dingin itu menyapu ruangan tanpa banyak emosi.
Farhan yang awalnya tidak terlalu memperhatikan ikut menoleh malas, lalu seketika ia terdiam.
“...Lo?” gumamnya refleks.
Raka menghentikan langkah beberapa meter darinya, tatapannya singkat, nyaris tanpa perubahan ekspresi, seolah hanya melihat seseorang yang tidak penting.
Farhan langsung mengerutkan dahi, rasa tidak percaya bercampur kesal muncul begitu saja.
“Apa-apaan?” katanya sambil melangkah maju sedikit. “Lo ngapain di sini?”
Beberapa staf langsung saling pandang, suasana berubah canggung.
Jack mengernyit, ia tak menyangka ternyata pria menyebalkan itu bekerja di perusahaan milik tuannya, ia terdiam sambil memperhatikan apa yang akan terjadi.
“Kenapa aku tidak menyadari pria ini bekerja di di perusahaan?” batinnya.
Bagaimana tidak, Jack tidak terlalu ikut campur urusan perusahaan, terlebih ribuan karyawan belum tentu bisa ia hapal semua wajahnya satu persatu.
Farhan malah menyeringai kecil, belum menyadari situasinya. “Jangan bilang sekarang lo kerja di sini juga?” katanya meremehkan. “Masuk lewat orang dalam?”
Tatapan beberapa staf mulai berubah panik, karena untuk pertama kalinya mereka sadar satu hal.
Farhan... sedang bicara dengan pewaris utama Pradipta Grup tanpa mengetahui siapa yang sedang berdiri di depannya itu.
Saat Jack akan bergerak, Raka mengangkat tangannya memberi isyarat kepadanya.
“Sudah biarkan saja, kita lihat apa yang akan dia katakan,” bisik Raka pelan.
Jack mengangguk singkat, sambil menahan kesalnya kepada pria pongahan itu.
“Yaa, aku bekerja disini sebagai staf,” jawab Raka asal membuat semua orang spontan menutup mulut mereka.
Farhan langsung tertawa keras, karena pikirnya Raka tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan dirinya.
“Ck! Belagu amat lo, pake jas segala, emang lo dewan direksi?” ejeknya di iringi tawa.
Namun, Farhan mulai merasa tidak nyaman ketika melihat semua orang terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Apa lagi ini?” batinnya.
Sementara Raka hanya terkekeh pelan, tatapannya dingin nyaris tanpa ekspresi, membuat semua orang dapat merasakan tekanan dari tatapannya saja.
Raka maju selangkah, dan menepuk pundak Farhan.
“Sebaiknya, kau bersiap saja membereskan semua barang-barangmu, karena perusahaan ku tak memerlukan sampah sepertimu.”
Deg.
Bukannya takut, justru Farhan semakin tertawa keras, hal itu membuat semua orang sudah dapat memastikan bahwa ini hari terakhir Farhan berada disana.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km