NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 : CEPET PERGI NAYA!

Lampu kamar mati, sengaja di matikan oleh Rosa. Cuma ada cahaya dari celah pintu yang nggak ketutup rapet. Bau kapur barus nyampur bau anyir. Mangkok di bawah kasur rasanya seperti menarik-narik selimut Naya.

Naya kebangun dari tidurnya. Terasa sesak, tapi nggak bisa gerak. Dadanya berat kayak ketindihan.

Di ujung kasur, ada yang duduk. Rambut panjang di ikat satu, nametag KASIR masih nyantol di dada kiri seragamnya, SARI.

Mukanya pucet. Bibir biru. Di leher ada bekas cekikan item melingkar. Tapi dia senyum. Senyum tipis.

"Naya." suaranya pelan. Kayak suara Abel, tapi lebih kosong.

Naya mau teriak, nggak bisa. Air mata netes aja di pelipis.

Sari nunduk, ngeliat ke bawah kasur. Ke arah mangkok. "Makan siangnya jangan di makan, Na. Itu bukan buat kamu."

Tangan Sari dingin nyentuh kaki Naya. Naya merinding sampe ke ubun-ubun.

"Aku juga dulu nggak tau," lanjut Sari. Tangannya ngetok lantai 3x.

BUG! BUG! BUG!

Naya teringat, itu adalah suara pukulan dari dalam laci. Naya pun langsung menyadari jika yang selama ini mengetok di dalam laci adalah Sari.

"Buka laci jam setengah 1, sendirian. Katanya biar rejeki ngumpul. Ternyata... Aku yang ditumbalin,"

Naya mengernyitkan keningnya tidak mengerti.

Sari ketawa. Pelan. Nggak ada bahagia, "Tanggal 13, Na. Dia laper tiap 3 bulan sekali. Harus ada yang kenyangin. Kalau nggak kamu... ya temenmu. Kalau nggak temenmu.. Bisa aja kamu."

Naya ngerasa laci kasir kebuka di kepalanya. Bunyi klik Di dalem laci, bukan duit.

Struk merah numpuk. Semua tulisannya sama _ 'Dhahar kudu wareg' Sari 12/06.

Sari deketin muka ke Naya. Bau kemenyan nyegrak.

"Rosa udah pilih kamu, Na. Dia mandor. Dia yang nyodorin nama kamu. Aku juga dulu dipilih di bunuh oleh Rosa."

Air mata Sari netes ke pipi Naya. Dingin. Asin.

Darah.

"Jangan mau dikasihani Rosa. Kasihannya dia itu palsu. Jangan makan siang. Jangan buka laci. Jangan percaya tanggal 13 itu gajian."

Tiba-tiba bayangan Naya tertuju ke tempat kasir seolah arwahnya di bawa ke sana.

Tangan Sari nunjuk ke paku tanggal, "Kunci. Kuncinya bukan di paku. Kuncinya..."

"A-aku arghhh jangan Eyang Dhahar!!" Teriak Sari lalu menghilang.

BRAK!

Pintu kamar kebanting dari luar. Naya kaget, bisa gerak lagi. Duduk ngos-ngosan.

Naya yang sudah keringetan, berdiri lalu menghidupkan lampu. Pintu kamar benar-benar terbanting tadi.

Rosa masih tidur. Tapi mangkok di bawah kasur... geser. Dikit. Kayak ada yang baru dorong dari dalem.

Di sprei, deket kaki Naya, ada struk merah. Basah. Tulisannya baru, tintanya belum kering.

'Dhahar kudu wareg - Naya 13/09'

Tanggal 13. Bulan ini. 3 hari lagi.

Naya masih mengingat sekilas kejadian yang terjadi pada yang tadi namun tidak mengingat jelas semua kata-kata dari Sari karna Naya lebih merasa takut daripada mendengarkan Sari yang sudah menampakkan diri padanya.

Pagi hari pun tiba.

Seperti biasa Naya bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Rosa yang juga baru bangun memakai kacamatanya, lalu tak lama Abel juga keluar dari kamar untuk mengambil air minum ke dapur. Mereka bertiga terdiam dan saling bertatap mata satu sama lain. Kecuali Naya yang kembali merapikan tasnya, Abel nampak menatap Rosa seolah bertukar pikiran.

"Mbak Abel udah sembuh?" Tanya Naya yang menyandang tasnya.

Abel menggeleng, "Masih pusing."

"Kapan kerja lagi, Mbak?" Tanya Naya yang memang tidak nyaman bekerja sendirian di kasir mengingat kejadian-kejadian aneh yang telah terjadi apalagi kejadian semalam.

"Aku mau cuti satu minggu lagi, nanti mau ke rumah sakit." Jawab Abel.

Naya yang mendengar itu tentu saja merasa bete namun dia juga tidak bisa apa-apa karna Abel sakit, dan mungkin saja masih trauma yang membuat Abel memilih untuk masih tidak datang ke rumah makan. Namun anehnya kenapa Pak Dermawan sama sekali tak mempermasalahkan ketidak hadiran Abel di rumah makan padahal Abel merupakan karyawan juga.

"Mbak emang udah izin ke Pak Dermawan?" Tanya Naya daripada dia bertanya-tanya sendiri.

"Aku izin ke Teh Intan."

"Kok ke Teh Intan?" Tanya Naya semakin bingung.

Rosa menarik tangannya, "Jangan banyak tanya, Naya. Kita berangkat."

Naya pun hanya menuruti, Abel merasa lega di sana karna Rosa menyelamatkannya dari pertanyaan Naya yang jika di tanya terus menerus pasti akan membuat Naya semakin mencurigai dirinya yang memang sudah sembuh dari demamnya.

Di perjalanan ke rumah makan.

"Mau sarapan?" Tanya Rosa.

"Aku takut Rosa di kasir sendirian." Naya tiba-tiba berkata seperti itu.

"Aku ngeliat banyak kejadian aneh. Aku juga liat sosok penampakan cwe pake seragam rumah makan, rambutnya ikat satu. Aku pernah liat dia." Jelas Naya.

"Itu..." Rosa mengingat seseorang yang memang satu-satunya ada di pikirannya.

"Sari?" Tanya Naya.

Rosa menghentikan langkahnya, "Jangan berani menyebut namanya. Dia arwah jahat di rumah makan. Dia hantu penasaran yang gak terima sama kematiannya."

"Bukannya Sari hilang?"

Rosa menatap marah Naya, "Ada juga yang cerita kalau dia sudah meninggal. Lebih banyak diam, Naya. Kamu terlalu banyak bicara sekarang."

"Aku bingung sama situasi aku, gimana aku enggak nanya." Naya kesal sekarang.

"Aku enggak pernah menjawab pertanyaan orang bingung kayak kamu, aku cuman pengen kamu sadar kalau gak ada pilihan lain kecuali jalani aja." Tegas Rosa menggeram lalu meninggalkan Naya sendirian.

Naya yang marah, kecewa, dan frustasi pun hanya bisa lanjut berjalan juga ke rumah makan sementara Rosa sudah berjalan di depannya.

Sesampainya di rumah makan. Nesya yang baru memarkirkan motor.

"Mbak Nesya gak biasanya telat." Sapa Rosa kepada Nesya.

"Iya nih, semalam habis main sama temen sampe larut." Jawab Nesya.

"Hai Naya!" Sapa Nesya.

"Iya Mbak." Jawab Naya.

Rosa masuk ke rumah makan, dan langsung menuju ke dapur.

Naya yang baru masuk rumah makan langsung melihat ke kasir dimana rasanya ada feeling tidak nyaman di sana. Rifki sedang bersih-bersih, mengelap meja satu persatu.

"Rifki, Mang Agus kemana?" Tanya Naya karna memang tidak melihat Agus.

"Mang Agus sakit." Jawab Rifki.

"Sakit apa?" Tanya Naya.

"Demam."

Naya teringat sesuatu dimana Abel juga demam terakhir kali berurusan dengan laci kasir. Apa terjadi sesuatu?

Naya melangkah ke kasir tidak ingin meletakkan tasnya ke ruang karyawan yang ada di lantai dua. Naya meletakkan tasnya dibawah kolong meja kasir. Jadi nanti kalau waktunya sudah pulang, dia bisa langsung pulang tanpa harus menaiki tangga lagi ke atas. Lebih tepatnya Naya hanya ingin menghindari semua hal-hal yang aneh yang bisa saja menimpa dirinya kapan saja.

Rosa keluar dari dapur, memperhatikan Naya.

Seperti biasa Naya menghidupkan komputer, mesin kasir, dan mesin printer. Naya mencek harga menu. Tangannya gemetar. Matanya sesekali ngelirik ke laci. Ketutup. Kunci masih di paku tanggal.

Rumah makan pun buka dan mulai rame. Naya otomatis senyum, ngetik, sobek struk, balikin duit. Tapi kepala dia muter terus.

Sari. Nametag.

Struk 13/09.

Rosa bunuh orang.

BUG!

Pelan. Dari dalem laci. Padahal nggak ada yang buka.

Naya kaku. Rifki yang lagi nganter pesanan noleh. Matanya langsung ke laci, terus ke Naya. Dia geleng kecil. Seolah mengatakan agar Naya tidak peduli karna sekarang sedang banyak pelanggan yang sedang makan.

BUG! BUG!

Dua kali. Lebih cepet. Kayak orang nggak sabaran.

Naya nahan napas. Di kaca etalase, bayangannya sendiri lagi. Tapi di belakang bayangannya, ada Sari.

Nunduk. Rambut ikat satu. Nametag masih nyantol. Persis seperti kemarin. Naya yang sudah sadar tidak takut lagi.

Naya nggak noleh. Dia udah tau.

Noleh artinya Sari ilang.

Di kaca, tangan Sari ngangkat. Pelan. Dia nunjuk ke kalender di dinding sebelah paku tanggal.

"Tanggal 11." Gumam Naya.

Sari ngangguk. Satu kali.

Terus jarinya geser. Mencoret dengan darah tanggal 12 dan tanggal 13.

"Apa artinya?" Tanya Naya bingung.

Sari geleng kenceng. Bibirnya gerak dengan nada bicara yang sangat pelan seolah energinya habis 'Jangan datang'

Tiba-tiba di kepala Naya, suara Sari masuk membuat Naya hampir ambruk jika saja dia tidak memegang meja kasir dan menahan bobot tubuhnya. Bukan dari telinga. Dari dalem suara itu masuk. Seolah teriakan muncul begitu keras.

"Pergi, Naya tanggal 11!!! Kemana aja. Naik bus. Naik kereta. Kemana pun asal jangan di sini!!"

"Tanggal 12 sama 13... Rumah makan haus. Gentong dibuka. KAMU AKAN JADI TUMBAL!!"

Naya mau nangis. Dia bisik, pelan banget, bibir nggak gerak, "Kemana aku harus pulang, Sar..?? Kemana..??"

"KEMANA PUN ITU NAYA!!"

BUG! BUG! BUG!

Laci getar. Kunci di paku tanggal goyang. Kayak ada yang mau narik paksa dari dalem.

"NAYA!" Bentak Rifki.

Naya kaget. Noleh. Bayangan Sari di kaca udah hilang. Laci diem lagi. Kunci masih nyantol.

"Lu ngelamun lagi," bisik Rifki sambil narik Naya minggir. "Udah gue bilang jangan liat kaca."

"Mbak... Sari... Dia..." Naya dengan nada takut.

"Sstt." Rifki nyekap mulut Naya. Matanya liat ke atas. Ke CCTV, dan juga ke Rosa yang sibuk membuat video review makanan.

"Nanti. Pulang. Jangan sekarang."

-

Jam 17.00. Naya beresin kasir. Nggak ada pelanggan. Rifki ngitung duit untuk setoran. Zuan ngepel lantai.

Naya pun baru sadar dan melihat dada sebelah kirinya. Kosong. Nggak ada nametag. Tengkuknya dingin.

"Jangan lembur dulu, besok lembur. Kamu pulang jam 5." Ujar Rifki datar.

Naya ngangguk. Dia nggak berani bilang mau kabur besok. Tembok ada kuping.

Saat akan keluar rumah makan, Naya berhenti karna tiba-tiba terdengar suara Sari, kejauhan, kayak dari dalem sumur.

'CEPET PERGI NAYA!'

_

Sampe mess, Rosa udah di kamar. Duduk di kasur, ngelipet baju. Liat Naya masuk, dia diem aja.

Naya narik napas. Nekat. "Sa.. Aku mau nanya."

Tangan Rosa berhenti ngelipet. Matanya nggak noleh. "Tidur. Kamu capek."

"Aku tau semuanya, Sa. Kamu mau numbalin aku kan?"

Rosa berdiri. Cepet. Sekali langkah udah di depan Naya. Dia dorong Naya ke tembok. Pelan, tapi ngancem.

"Lu tau dari mana?” bisik Rosa. Matanya merah. Bukan nangis. Marah. Takut.

Naya diem.

Rosa mencekik leher Naya, "Jangan main-main, Naya. Kita gak ada kesempatan buat kabur dari semua ini. Kita semua sudah terikat kontrak kerja dengan Eyang Dhahar."

Air mata Naya netes. "Jadi... jadi bener kalau kamu..."

"Gue mandor tumbalnya." potong Rosa dingin namun airnya menetes saat membuat pengakuan, "Tugas gue untuk nganter tumbalnya. 4 orang udah gue bunuh, Dinda. Yuni. Wulan. Sari. Lu yg kelima."

"Kenapa aku..."

"Karena lu nggak ada yg nyariin," Jawab Rosa. Jujur. Kejam. "Dan gak ada yang peduli sama lo."

Naya melorot. Jatuh ke lantai.

Rosa jongkok. Nadanya melunak dikit. Kayak ngomong sama adiknya. "Na... maaf. Tapi gue juga mau hidup. Wulan dulu juga bilang gitu ke gue pas mau numbalin Yuni. Terus gue yg numbalin Wulan. Kita gak ada tempat sembunyi."

Dia berdiri. Ngambil selimut. Nyelimutin Naya yg masih di lantai sembari memeluk tubuh Naya yang kaku.

"Naya, maafin aku. Aku enggak punya pilihan." Rosa menangis pilu seolah itu adalah perpisahan terakhir mereka.

Sementara Naya di kepala cuma muter suara Sari.

'CEPET PERGI NAYA!!'

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!