Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan
Suasana di dalam ruang kerja pribadi Kakek Wijaya terasa begitu sunyi dan tegang. Ruangan berukuran luas dengan dinding panel kayu jati itu sengaja di kunci rapat. Tidak boleh ada satu pun pelayan mansion yang mendekat. Di dalam ruangan, Kakek Wijaya, Tuan Baskara, dan Nyonya Shinta menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Campuran rasa bahagia, sedih, dan haru mengalir di udara, membuat waktu terasa berjalan begitu lambat.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan samar di pintu rahasia membuat Nyonya Shinta langsung berdiri dari duduknya. Pintu bergeser perlahan, memunculkan Pak Surya yang melangkah masuk terlebih dahulu. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, mengenakan jaket denim longgar, kacamata hitam berbingkai tebal, serta kumis tipis palsu yang menempel di atas bibirnya.
Pemuda itu melepas kacamata hitamnya, lalu mencopot kumis palsu tersebut sembari terkekeh pelan. "Aduh, gatal sekali memakai benda ini," gerutunya dengan nada slengean.
Saat penyamaran itu terbuka, ketampanan yang luar biasa langsung terpancar di wajahnya. Di usianya yang menginjak sembilan belas tahun, pemuda itu tumbuh menjadi sosok yang memikat. Matanya yang tajam dan mengintimidasi sangat mirip dengan milik sang kakek. Wibawanya yang tenang meniru sang papa, namun saat bibirnya melengkung, senyum manis nan tulus milik sang mama langsung terlihat jelas.
"Cakrawala..." bisik Nyonya Shinta lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Mama!" Cakra merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Nyonya Shinta langsung berlari dan menghambur ke pelukan putra bungsunya, menangis sejadi-jadinya meluapkan kerinduan belasan tahun. Tuan Baskara mendekat, merangkul keduanya dengan erat. Bahu sang papa bergetar menahan tangis haru yang amat dalam. Cakra yang biasanya suka bercanda, kini memeluk kedua orang tuanya dengan penuh ketegasan, seolah berjanji tidak akan ada lagi jarak di antara mereka.
Di sudut ruangan, Kakek Wijaya menyeka sudut matanya yang basah dengan saputangan, sementara Pak Surya menunduk, ikut terharu menyaksikan pandangan itu.
Setelah pelukan hangat itu terurai, Kakek Wijaya melangkah mendekat dengan bantuan tongkatnya. "Kemari, Cucuku," panggil sang kakek dengan suara serak.
Cakra tersenyum manis lalu memeluk kakeknya dengan hati-hati. "Kakek masih terlihat seperti singa jantan yang gagah," canda Cakra, mencoba mencairkan suasana.
Kakek Wijaya terkekeh, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam. "Ini untukmu. Hadiah kepulanganmu, kartu VVIP Platinum Signature Pass Samudra Group."
Cakra langsung melambaikan tangannya, menolak dengan halus. "Kakek, tidak usah. kartu-kartu unlimited yang Kakek dan Papa kirimkan ke luar negeri saja belum habis aku pakai."
"Ambil, Cakra! Jangan membantah kakekmu," paksa Kakek sambil menyelipkan kartu itu ke saku jaket Cakra. Cakra hanya bisa pasrah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tuan Baskara menepuk bahu putranya. "Papa juga sudah menyiapkan mobil keren untukmu berangkat kuliah besok. Versi terbaru tahun ini."
Cakra langsung menggeleng cepat. "Aduh, Papa, jangan mobil mewah. Nanti orang-orang langsung curiga. Aku minta motor biasa saja, Pa. Biar terlihat seperti mahasiswa biasa dan tidak mencolok."
Nyonya Shinta menggenggam tangan Cakra erat-erat, matanya kembali berkaca-kaca penuh kecemasan. "Cakra, Mama sangat takut. Di luar sana sangat berbahaya. Bagaimana jika musuh-musuh itu mengenalimu?"
Cakra menatap mamanya dengan lembut, lalu menggenggam balik tangan mamanya dengan mantap. "Mama, jangan khawatir. Cakra yang sekarang bukan bocah tiga tahun yang dulu. Cakra sudah belajar beladiri di sana, bahkan bisa menjatuhkan lima orang kekar sekaligus dalam sekejap. Cakra pasti akan menjaga diri."
Tuan Baskara mengangguk setuju, lalu mengambil sebuah map dari meja kerjanya. "Untuk mendukung penyamaranmu, mulai besok identitasmu resmi diganti. Namamu adalah Gala Putra Langit. Papa sengaja menyelipkan kata 'Langit' sebagai bentuk penghormatan dan kenangan untuk kakakmu."
"Nama yang keren, Pa. Gala Putra Langit," ucap Cakra sambil tersenyum penuh arti.
"Pak Surya sudah menyiapkan semua dokumen yang telah disamarkan, untuk kamu masuk ke Universitas Samudra besok," lanjut Tuan Baskara tegas.
Pak Surya membungkuk hormat. "Semua sudah siap, Tuan Muda. Malam ini, saya akan mengantar anda ke apartemen yang sudah disiapkan."
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk melepas rindu, dan mengobrol bersama keluarganya, Cakra akhirnya berpamitan. Ia harus istirahat dan bersiap untuk hari pertamanya kuliah besok, Pak Surya segera mengantarnya pergi melalui jalur rahasia menuju apartemen barunya.