NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cctv

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah ventilasi rumah sederhana itu tak lagi terasa hangat bagi Xarena. Baginya, itu adalah alarm perang. Setelah menyiapkan sarapan sederhana untuk Ciara dan menitipkan putrinya pada sang Ibu, Xarena berangkat menuju kantor dengan satu topeng baru: ketenangan yang mematikan.

​Sesampainya di lobi kantor, langkah Xarena sempat tertahan. Bayangan kejadian semalam di hotel bintang lima itu sempat melintas, tapi ia segera menepisnya. Di pantry, ia bertemu dengan Kinan yang sudah menunggunya dengan wajah cemas dan segelas kopi di tangan.

​"Ren! Kamu beneran masuk?" Kinan menghampirinya, matanya menyelidik setiap inci wajah sahabatnya. "Tampang kamu pucat banget, lho. Kalau nggak kuat, mending balik aja. Serius, aku yang handle izinnya."

​Xarena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat lebih tulus dari biasanya karena ia tahu hanya Kinan yang tulus peduli padanya. "Aku nggak apa-apa, Nan. Terima kasih ya sudah mengkhawatirkan aku. Aku harus kerja, tagihan nggak bakal lunas kalau aku cuma nangis di kamar."

​"Tapi Alan... dia pasti bakal cari gara-gara lagi," bisik Kinan khawatir.

​"Biarkan saja," jawab Xarena pendek sebelum melangkah menuju mejanya.

​Baru saja ia meletakkan tas, telepon di mejanya berdering. Suara sekretaris pribadi Alan terdengar dingin di ujung sana. "Xarena, Pak Alan minta kamu ke ruangannya sekarang. Bawa laporan keuangan kuartal terakhir."

​Xarena menarik napas dalam, merapikan blazernya yang mulai pudar warnanya, lalu berjalan menuju ruangan sang CEO. Di dalam sana, Alan duduk di balik meja mahogani besar. Pria itu tampak sangat rapi, sangat berkuasa, dan sangat... asing.

​"Letakkan di sana," perintah Alan tanpa melihat ke arahnya.

​Xarena meletakkan map tebal itu di meja. Ia tidak segera pergi, melainkan berdiri tegak menunggu instruksi selanjutnya. Alan mulai membalik halaman laporan itu dengan kasar, sengaja mencari celah kecil untuk mencaci-maki performa kerja wanita di depannya. Alan memang punya rencana untuk kembali menyudutkan Xarena hari ini, ingin melihat wanita itu menangis lagi seperti semalam.

​Namun, saat Alan mendongak untuk melontarkan sindiran pedasnya, lidahnya mendadak kelu. Ia tertegun melihat sorot mata Xarena.

​Alan sangat mengenal Xarena—setidaknya Xarena yang dulu. Wanita itu dulu memiliki mata yang teduh, lembut, dan selalu memancarkan binar cinta saat menatapnya. Namun kini, binar itu padam total. Yang tertinggal hanyalah sepasang mata yang dingin, menyimpan bara amarah dan kebencian yang sangat dalam. Sorot mata itu seolah berkata: Kau tidak bisa lagi menyakitiku.

​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Alan merasa terusik dengan perubahan itu. Entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya melihat Xarena yang begitu datar.

​"Apakah ada orang yang tidak kamu sukai?" bisik Alan hampir tak terdengar, sebuah pertanyaan sarkas sekaligus menyelidik yang keluar begitu saja.

​Xarena tetap berdiri diam, tanpa ekspresi. Ia tidak memberikan reaksi apa pun, seolah Alan hanyalah udara kosong.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Monique masuk dengan langkah angkuh, diikuti oleh tiga orang pria berseragam teknisi yang membawa kotak peralatan dan kabel-kabel.

​"Pasang di sudut sana, dan satu lagi tepat mengarah ke meja ini," perintah Monique dengan suara melengking, menunjuk-nunjuk sudut ruangan Alan.

​Alan mengernyitkan dahi, bangkit dari kursinya. "Ada apa ini, Monique? Kenapa kamu bawa orang-orang ini ke kantorku?"

​Monique menghampiri Alan, bergelayut manja di lengan suaminya namun matanya menatap tajam ke arah Xarena yang masih berdiri di sana. "Alan sayang, aku sengaja mau pasang CCTV tambahan di ruanganmu. Biar kamu aman dan nggak ada celah bagi pelakor atau wanita murahan mana pun untuk mengganggu kamu saat bekerja. Kamu tahu kan, zaman sekarang banyak orang yang nggak tahu malu, suka menggoda suami orang demi uang."

​"Hentikan, Monique. Ini kantor, bukan rumah," pinta Alan dengan suara rendah, merasa risih dengan drama yang dibuat istrinya di depan stafnya.

​Monique tidak peduli. Ia malah duduk santai di sofa kulit sambil terus mengawasi para teknisi. Sementara itu, Xarena yang sedari tadi diam, tiba-tiba menarik napas kecil. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat tipis namun terlihat sangat jelas di mata Monique.

​Bagi Xarena, tingkah Monique benar-benar lucu sekaligus memalukan. Seorang istri yang begitu tidak percaya diri sampai harus memasang 'mata-mata' di ruang kerja suaminya sendiri. Benar-benar sebuah komedi kelas teri.

​"Kau? Kenapa kau tertawa?" bentak Monique, suaranya naik beberapa oktaf. Ia berdiri dan melangkah menghampiri Xarena. "Apa yang lucu? Berani sekali kau menertawakan aku!"

​Xarena hanya menggeleng perlahan, matanya menatap Monique dengan tatapan kosong yang lebih menyakitkan daripada kata-kata. Keengganannya untuk menjawab justru membuat Monique semakin meledak.

​"Apa alasan kamu menertawakan aku, hah?! Jawab!" teriak Monique emosi, wajahnya memerah karena merasa direndahkan oleh seorang wanita yang ia anggap 'sampah'.

​Xarena tetap bungkam. Ia hanya sedikit memiringkan kepalanya, masih dengan senyum miring yang sama. Ia merasa tak perlu membuang energi untuk menjawab wanita yang sedang ketakutan kehilangan suaminya itu.

​"Xarena, kembali ke mejamu," sela Alan, suaranya terdengar berat.

​Tanpa kata, Xarena membalikkan badan dan melangkah keluar. Ia bisa merasakan tatapan tajam Monique menusuk punggungnya dan teriakan histeris wanita itu yang masih terdengar meski pintu sudah tertutup.

​Xarena berjalan menyusuri lorong kantor dengan kepala tegak. Ia sadar, permainan baru saja dimulai. Jika Monique dan Alan ingin menjadikannya musuh, maka ia akan memberikan mereka musuh yang paling tangguh. Kebencian di hatinya kini menjadi bahan bakar yang membuatnya merasa lebih hidup daripada sebelumnya.

​"Terima kasih sudah membenciku, Alan. Itu jauh lebih mudah daripada mencintaimu," gumamnya dalam hati sambil terus melangkah, meninggalkan kekacauan di dalam ruangan mewah itu tanpa rasa takut sedikit pun.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!