Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Tiga Sudut — Dua Orang yang Tahu, Satu yang Berpura-pura
"Kamu yakin Sasha?" tanyaku, meraih bahu Sasha yang masih basah. "Kamu nggak salah dengar?"
"Sumpah, Nay." Sasha menggigil, entah karena dingin atau takut. "Aku sengaja ikutin dia ke belakang lapangan. Dia ketemuan sama anak kelas 3 yang katanya temannya. Mereka ngomong pelan-pelan, tapi aku deketin. Dan aku dengar, 'Nayla Kirana harus hancur. Sama kayak dulu.'"
Rasya berdiri. Wajahnya kembali dingin—tidak, lebih dingin dari sebelumnya.
"Vania juga terlahir kembali," kataku pelan.
"Nggak mungkin." Rasya menggeleng. "Kalau dia terlahir kembali, dia nggak akan ngomong seenaknya di tempat umum. Dia licik. Dia tahu cara bermain."
"Mungkin dia sengaja biar kedengeran?" usul Sasha, yang kebingungan dengan topik 'terlahir kembali' tapi memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. "Maksudku, biar anak kelas 3 itu percaya kalau Vania serius?"
"Tapi Sasha, kamu denger itu dari jarak dekat. Nggak mungkin dia nggak sadar." Aku memutar otak. "Kecuali... dia sengaja biarkan kamu dengar."
"Maksudnya?"
"Vania tahu kamu teman dekatku. Mungkin dia sengaja biarkan kamu mendengar rencananya, supaya kamu cerita ke aku, lalu aku ketakutan, lalu aku bertindak ceroboh." Aku mengepalkan tangan. "Itu taktiknya. Bikin lawan panik, lalu lawan buat kesalahan."
Rasya mengangguk pelan. "Cerdik."
"Sayangnya dia lupa satu hal," kataku.
"Apa?"
Aku tersenyum. Bukan senyum manis. Senyum yang penuh arti.
"Aku sudah pernah hidup sekali. Aku tahu cara bermain permainannya."
---
Pukul 17.00 — Jalan Pulang
Sasha duluan diantar ojek. Aku dan Rasya memutuskan berjalan kaki pulang—rumahku tidak terlalu jauh, dan hujan sudah reda menjadi gerimis tipis.
"Vania nggak mungkin terlahir kembali," ucap Rasya tiba-tiba. Kami berjalan berdampingan di trotoar yang basah. "Dia terlalu... bodoh untuk jadi pintar."
Aku tertawa. "Kasar amat."
"Bukan kasar. Fakta." Dia menggeser payungnya—sekarang dia membawa payung yang lebih besar karena meminjam dari perpustakaan. "Kalau dia terlahir kembali, dia akan langsung menghampirimu, berpura-pura baik, lalu menusukmu perlahan. Bukan malah ngomong rencana di belakang sekolah dengan suara keras."
"Jadi?"
"Jadi, Vania di kehidupan ini adalah Vania yang sama dengan kehidupan sebelumnya. Dia belum tahu apa-apa." Rasya berhenti di lampu merah. "Tapi yang jadi masalah... seseorang yang terlahir kembali sedang memanipulasinya."
Aku menoleh. "Maksudmu, ada orang lain? Selain kita berdua?"
"Bisa jadi."
"Andre?"
"Bisa jadi."
Aku bergidik. Membayangkan Andre yang terlahir kembali—dengan semua pengalaman dari kehidupan sebelumnya—adalah mimpi buruk. Karena di kehidupan sebelumnya, Andre sudah jahat tanpa tahu masa depan. Kalau dia terlahir kembali dengan pengetahuan itu... astaga.
"Tapi kenapa dia mau memanipulasi Vania?" tanyaku.
"Karena di kehidupan sebelumnya, mereka berdua bekerja sama." Rasya menatapku. "Dan mereka berhasil. Andre dapat perusahaan dari hasil fitnahnya, Vania dapat Andre. Mereka berdua untung."
"Tapi aku yang rugi."
"Iya."
Aku menunduk. Memandangi ujung sepatuku yang mulai basah karena genangan air.
"Rasya, aku takut."
Dia berhenti. Lalu, dengan gerakan yang ragu-ragu, dia meraih tanganku.
"Jangan takut. Kali ini kamu tidak sendirian."
---
Di Depan Rumah
Rasya mengantarku sampai ke pagar.
"Makasih," kataku.
"Ya."
"Besok sekolah, kita harus punya rencana."
"Pasti."
Aku menatapnya. Dia menatapku. Hujan gerimis membuat rambutnya basah di ujung, dan wajahnya... wajahnya terlihat seperti lukisan di tengah hujan.
"Rasya."
"Hm?"
"Aku nggak tahu gimana caranya, tapi aku percaya kamu."
Dia tersenyum. Senyum yang membuat lesung pipit itu muncul lagi.
"Aku percaya kamu juga."
Aku masuk ke rumah sambil menahan senyum. Begitu pintu tertutup, aku bersandar di baliknya, meremas-remas ujung jaket.
Kenapa sih, si Rasya ini—
"Nayla! Dari mana aja?" teriak Bunda dari ruang tamu.
"Dari perpustakaan, Bun!"
"Perpustakaan? Terus siapa cowok yang anter kamu pulang?"
Aku membeku.
Astaga, Bunda lihat.
"CUMA TEMEN!" teriakku sedikit terlalu keras.
Bunda keluar dari ruang tamu, tangan di pinggang, mata menyipit. "Temen? Atau lebih dari temen?"
"Bunda, aku baru kelas 1 SMP!"
"Emangnya Bunda bilang apa? Bunda cuma tanya." Bunda menyeringai jahil. "Tapi cowoknya ganteng, ya. Sopan pula, nganterin sampe depan pagar."
"BUNDA!"
---
Malam Itu — Chat Log
Rasya (21.04): "Sampai rumah?"
Nayla (21.05): "Udah. Bundaku ngeliat kamu anterin. Sekarang aku diinterogasi."
Rasya (21.05): "Maaf."
Nayla (21.06): "Nggak perlu maaf. Lagian emang kamu yang nganter."
Rasya (21.06): "Jadi aku harus sering-sering nganter?"
Nayla (21.07): "..."
Nayla (21.07): "Kamu mulai jago bercanda, ya?"
Rasya (21.08): "Karena kamu."
Aku memukul bantal lagi.
Ini sudah kebiasaan buruk. Setiap kali dia mengirim pesan manis, aku jadi kayak remaja labil.
Rasya (21.09): "Nayla, besok aku akan mulai memantau Vania. Kamu fokus sama Andre."
Nayla (21.10): "Fokus sama Andre? Maksudnya?"
Rasya (21.10): "Deketin dia. Bikin dia percaya sama kamu."
Nayla (21.11): "GILA KAMU? ANDRE MUSUH!"
Rasya (21.11): "Justru itu. Kita harus tahu rencana mereka. Musuh dalam selimut."
Aku menghela napas.
Nayla (21.13): "Kamu nggak cemburu?"
Dia butuh waktu lama untuk membalas.
Rasya (21.17): "Cemburu."
Rasya (21.17): "Tapi aku percaya kamu."
Senyumku melebar tanpa bisa kusembunyikan.
Nayla (21.18): "Oke. Aku lakuin."
Rasya (21.18): "Tapi kalau dia berani nyentuh kamu lagi..."
Nayla (21.19): "Kamu akan piting dia lagi?"
Rasya (21.19): "Bukan. Aku akan bikin dia nggak bisa sentuh siapa-siapa selamanya."
Aku terkikik.
Cowok ini... dramatis banget sih.
Tapi jujur, rasanya aman.
---
Keesokan harinya
Andre menungguku di depan gerbang sekolah. Wajahnya masih sedikit lebam di pipi kanan—bekas pitingan Rasya. Tapi dia tetap tersenyum begitu melihatku.
"Nayla! Pagi!"
Senjataku: senyum ramah yang tidak terlalu hangat, tapi juga tidak terlalu dingin.
"Pagi, Andre."
"Aku... aku minta maaf soal kemarin." Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku nggak tahu kalau nyentuh pundakmu itu masalah buat kamu."
"Enggak masalah kok." Aku mengangkat bahu. "Cuma Rasya itu... terlalu protektif."
"Kalian dekat, ya?"
"Ya, kami bertetangga." Aku berbohong dengan mulus. Dari sudut mataku, aku melihat Rasya berdiri di dekat tiang bendera, membaca buku—tapi matanya sesekali melirik ke arahku.
Dia memantauku. Baiklah.
"Hei, Andre," kataku tiba-tiba. "Kamu udah kenalan sama Vania belum?"
Andre mengerjap. "Vania? Yang pindahan dari Bandung?"
"Iya."
"Belum. Kenapa?"
"Kalian berdua dari Bandung, kan? Mungkin ada kesamaan." Aku tersenyum manis. "Ayo, kukenalin."
Mataku bertemu dengan Vania yang sedang jalan menuju kelas. Dia tersenyum padaku—senyum manis khasnya—lalu melambai.
Vania, kamu pikir kamu pintar?
Ayo kita lihat siapa yang lebih pintar.