Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Kuliah
Collin tidak menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian para mahasiswi yang ada di lorong kampus Mahreen. Dia melihat Mats ke arah yang berbeda tapi sempat memberikan kiss bye ke Mahreen yang auto buang muka.
Collin hanya menatap sinis ke pria itu. Dirinya tidak suka dengan cara Mats Tyler. Definisi cowok tidak punya malu.
"Lange, kamu ikut masuk ya!" ucap Mahreen. "Nissa biasa sih ikut masuk ke dalam kelas. Soalnya ada privilege bagi pengawal aku."
Collin mengangguk. "Baik Princess."
Mahreen pun masuk ke dalam ruang kuliah sementara Collin duduk di kursi paling belakang sambil mengawasi gadis itu. Ternyata situasinya jadi lumayan membagongkan karena teman-teman Mahreen yang perempuan, banyak mencuri-curi pandang ke Collin.
Mahreen memperhatikan itu semua dengan perasaan dongkol. Bagaimana pun, Collin adalah pengawalnya dan semua cewek-cewek malah sibuk bergosip soal Collin!
"Kalian itu lho! Macam tidak pernah lihat cowok!" sinis Mahreen.
"Tapi Mahreen, pengawal kamu yang ini laki banget!" ujar temannya. "Dia itu ... Auranya sangat ... misterius. Dingin, tidak tersentuh dan ... bikin penasaran!"
Mahreen mendengus sebal. "Dia itu gay!" ucapnya asal. "Tidak bakalan doyan sama kalian! Sengaja aku minta yang beda biar nggak jelalatan sama kalian!"
Collin mendelik. Enak saja bilang aku gay! Aku itu normal!
Mahreen menoleh ke arah Collin dan memberikan tatapan tajam. Pria itu hanya memasang wajah datar, seolah tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.
Mahreen berbalik ke depan saat dosennya masuk ke dalam ruang kuliah. Dia pun berusaha untuk konsentrasi tapi tetap saja, pikirannya melayang ke ucapan para teman-temannya yang suka pada Collin.
"Apa sih gantengnya Lange? Otak dia kan cuma memikirkan aku tidak kena hold uang jajan Daddy!" batin Mahreen sebal.
Collin duduk dengan santai sembari mengikuti kuliah. Jujur, dia menikmati menjadi mahasiswa selundupan karena hanya menemani Mahreen bukan sebagai mahasiswa sebenarnya. Pria itu mendapatkan banyak pengetahuan dari perkuliahan hari itu yang kebetulan memakai bahasa Inggris karena untuk mahasiswa internasional.
"Untung pakai bahasa Inggris, jadi aku tidak harus memeras otak untuk menerjemahkan dari bahasa Belanda," gumam Collin yang tanpa sadar ikut mencatat dengan ponselnya inti dari perkuliahan hari itu. "Harusnya aku bawa laptop atau buku catatan."
Sementara Collin menikmati perkuliahan, Mahreen melirik ke arah temannya yang diam-diam menyisipkan kertas kecil yang dilipat. Dia meminta untuk diberikan pada Collin lewat temannya ke belakang.
Mahreen menatap dingin ke arah temannya yang tersenyum manis padanya. Mahreen makin dongkol saat Collin membaca note tersebut dan menyimpannya dalam saku jaketnya.
Awas kamu Lange!
***
Mahreen berjalan bersama Collin menuju taman untuk membuat tugas sebelum masuk kelas berikutnya. Collin hanya mengikuti gadis itu dengan wajah dingin. Dia tahu Mahreen jengkel karena dilihat dari cara berjalannya yang sedikit menghentak pertanda seorang wanita sedang marah. Hingga mereka tiba di taman yang terdapat meja dan kursi di sana.
Mahreen membanting buku catatannya ke meja taman dengan wajah masam. Suasana kampus siang itu ramai, tetapi yang membuatnya semakin jengkel adalah suara cekikikan teman-teman perempuannya yang berjalan mendekati dirinya.
“Ya ampun, itu pengawalmu?” bisik salah satu mahasiswi sambil melirik pria tinggi berbadan tegap yang berdiri beberapa meter dari Mahreen.
Collin yang berdiri di sebelah Mahreen, tetap diam dengan jaket hitam rapi dan ekspresi datar. Sikap tenangnya justru membuat banyak mahasiswi makin penasaran.
“Gila, ganteng banget ...”
“Kayak aktor film.”
“Kalau aku punya bodyguard begitu, tiap hari kubawa ke kampus.”
Mahreen memejamkan mata sejenak, menahan kesal.
“Kenapa sih mereka ribut banget?” gerutunya pelan.
Salah seorang temannya, Lisbet, malah tertawa kecil. “Salah sendiri. Pengawalmu terlalu mencolok.”
“Dia itu pengawal, bukan pajangan.”
Di sisi lain taman itu, dua mahasiswi memberanikan diri menghampiri Collin.
“Hai. Nama kamu siapa?” tanya salah satu dari mereka malu-malu dengan bahasa Belanda.
"Dia tidak bisa bahasa Belanda!" cebik Mahreen.
Gadis itu mengulangi pertanyaan yang sama dengan bahasa Inggris.
“Lange,” jawabnya singkat.
“Kamu masih single?”
Mahreen spontan berdiri dari kursinya. “Kalian serius nanyain status pengawal orang?”
Semua langsung menoleh ke arahnya. Kedua mahasiswi itu salah tingkah.
“Eh, cuma bercanda kok, Mahreen.”
Mahreen berjalan mendekat dengan wajah jutek. “Kalau mau cari pacar, jangan ganggu orang yang lagi kerja.”
Collin menatap Mahreen beberapa detik, lalu berkata tenang, “Princess, saya tidak terganggu.”
“Itu bukan poinnya,” balas Mahreen cepat.
Lisbet yang melihat dari jauh nyaris tertawa melihat ekspresi Mahreen yang tampak seperti orang cemburu.
Setelah kedua mahasiswi itu pergi, Mahreen menyilangkan tangan dan menatap tajam Collin.
“Besok jangan terlalu mencolok!" ucapnya kesal.
Collin mengangkat alis sedikit. “Maksud Princess?”
“Entahlah. Pakai masker mungkin. Atau jangan berdiri setegak itu.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Collin terangkat tipis seperti menahan senyum.
“Baik, Princess. Saya akan mencoba terlihat kurang tampan.” Collin menatap dalam ke mata hijau Mahreen.
Entah mengapa, tatapan mata abu-abu itu membuat Mahreen kikuk. Pipinya perlahan merona.
"Besok muka kamu dibuat banyak jerawat!" ucap Mahreen asal.
"Wajah saya tidak ada jerawatnya," protes Collin.
"Kamu kasih biji jeruk kek, biji semangka kek!" balas Mahreen.
Collin hanya menggeleng sementara Lisbet makin terbahak.
***
Collin masih mengawal Mahreen untuk dua kuliah lagi sebelum akhirnya pulang. Mats Tyler yang melihat itu, hendak mendekati Mahreen tapi Collin lebih cepat. Dia pun langsung menghadang Mats.
"Mau apa kamu?" tanya Collin dingin sementara Mahreen sudah masuk ke dalam mobil.
"Mau bicara dengan Mahreen," jawab Mats Tyler.
"Tidak. Kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Collin tegas.
"Tapi aku yakin dia masih cinta aku! Mahreen!" panggil Mats Tyler.
"Pergi kamu!" usir Collin.
Mats Tyler tetap hendak maju menghampiri Mahreen yang ada di dalam mobil tapi Collin menahanannya. Mats Tyler yang tidak terima, mendorong tubuh Collin. Namun sebagai agen MI6 yang sudah terbiasa dengan latihan fisik dan bela diri, dia tidak diam begitu saja.
Collin membalas perlakuan Mats dan dia mendorong mantan pacar Mahreen itu. Tidak terima dengan perlakuan Collin, Mats berusaha memukul pengawal Mahreen. Namun Collin menghindar dan dia langsung meraih tangan Mats. Sekejap tubuh Mats melayang di udara akibat kena banting judo Collin.
Pria itu terkapar di tanah dan Collin berdiri sambil menatap dingin. Sementara Mahreen keluar dari mobil dan memanggil pengawalnya.
"Jangan pernah mendekati Princess Mahreen kalau kamu tidak mau menyesal di kemudian hari!" ucap Collin yang segera berbalik. "Masuk Princess. Kita pulang!"
Mahreen pun menuruti perintah Collin dan masuk ke dalam mobil. Collin pun segera menstater mobilnya dan keluar dari area parkiran Leiden University.
Mats hanya menatap nanar ke arah mobil hitam yang pergi begitu saja.
Brengsek! Brengsek! Brengseeeekkk!
***
Yuhhuuuu up Siang Yaaaaa
thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh