NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Sisi Lain Dari Damian

"Setidaknya... berikan aku uang itu terlebih dahulu sebelum aku resmi menjadi pelayanmu. Uang itu untuk putriku di rumah," bisik Karina lirih, nyaris memohon.

Damian seketika menghentikan langkahnya. Ia menyipitkan mata, menatap Karina dengan sorot tajam yang penuh selubung kelicikan, sebelum akhirnya menyunggingkan seringai lebar.

"Ah, begitu rupanya," gumam Damian. Ia mendongakkan kepala, mengendus udara di sekitar mereka seolah menangkap sebersit aroma yang menarik, lalu tersenyum puas.

"Baik. Aku akan memberikan uang yang sangat banyak padamu, bahkan mengembalikan seluruh harta kekayaanmu yang hilang. Kau bebas, tidak perlu menjadi pelayan di kastilku."

Karina seketika mengernyit heran, dipenuhi rasa curiga. "Apa kau baru saja melontarkan omong kosong?"

"Aku serius. Namun, tentu saja ada syaratnya..."

"Apa itu?" tanya Karina waswas.

"Aku menginginkan putrimu. Bawa gadis itu kepadaku," ucap Damian dingin.

"Tidak! Jangan bawa-bawa dia dalam masalah ini! Dia tidak tahu apa-apa!" tolak Karina lantang.

Di balik pohon cemara, Evelyn yang mendengar percakapan itu merasa jantungnya seakan mencopot. Ia buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat, berusaha mati-matian agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Rasa kecewa dan takut bercampur aduk di dadanya.

Kenapa Ibu menyembunyikan hal mengerikan seperti ini dariku?

Ingin sekali Evelyn menangis saat itu juga, namun air matanya seolah telah mengering dari sumurnya. Rasa sedih itu justru bermutasi menjadi denyutan menyakitkan yang berhulu di gumpalan darah di dalam otaknya.

"Oh, begitu rupanya. Jadi kau menolak?" Damian mendengus meremehkan. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika ada rakyatku yang menjadikanmu mangsa malam ini. Aku tidak sudi membuang-buang waktu dengan manusia rendahan sepertimu."

Tanpa peringatan, Damian kembali membentangkan sepasang sayap hitamnya yang megah. Pria itu melesat ke angkasa, menghilang di balik pekatnya langit malam dan meninggalkan Karina sendirian.

"Hei, sialan! Brengsek kau! Tunggu! Perjanjiannya tidak seperti ini!" teriak Karina, suaranya menggema putus asa di seantero hutan yang sunyi.

Namun, semuanya sia-sia. Kepergian Damian justru menyisakan petaka lain. Teriakan histeris Karina memicu pergerakan sekumpulan Demon liar rendahan yang sedang berkeliaran mencari mangsa. Mereka berdatangan dari kegelapan, mengepakkan sayap-sayap kurus mereka hingga menerbangkan dedaunan kering di sekitar pelataran hutan.

Karina mendongak, wajahnya seketika pias mendapati beberapa sosok mengerikan bertubuh bungkuk dan bermata merah menyala kini telah mengepungnya.

"Pergi kalian! Menjauh!" teriak Karina histeris. Malang baginya, ia datang malam ini dengan tangan kosong tanpa membawa satu pun peralatan ghost hunter milik suaminya.

Para Demon liar itu tidak menghiraukan gertakan Karina. Didorong oleh rasa lapar yang buas, mereka mulai menerjang. Kuku-kuku tajam mereka mencakar dan mengoyak tubuh Karina tanpa ampun, saling berebut seolah wanita itu hanyalah seonggok daging buruan segar.

"ARRGGHH! TOLONG...!" Jeritan menyayat hati Karina memecah keheningan malam.

Aku tidak boleh mati sekarang... Putriku... Bagaimana nasib Evelyn jika aku tiada? batin Karina pilu di sisa kesadarannya yang kian menipis. Dia menolak tawaran Damian justru karena ingin melindungi putrinya.

Melihat pemandangan mengerikan itu, Evelyn didera kepanikan yang luar biasa. Di saat yang sama, rasa pusing yang teramat sangat menghantam kepalanya dengan hantaman yang brutal. Pandangannya berputar dan mengabur.

Tidak... aku tidak boleh pingsan sekarang! Tidak di situasi genting ini!

"Ibu...!"

Didorong oleh rasa sayang dan keputusasaan, Evelyn nekat keluar dari persembunyiannya. Ia menerjang maju, hanya dengan menggenggam sepotong ranting kayu kering yang ia pungut dari tanah. Namun, fisiknya yang rapuh tidak mampu menahan beban emosi dan serangan penyakitnya.

Baru beberapa langkah berlari, kaki Evelyn lemas. Tubuhnya tersungkur ke atas tanah yang lembap, tepat di saat jeritan ibunya berhenti untuk selamanya—tewas terkoyak oleh makhluk-makhluk mengerikan itu. Kesadaran Evelyn runtuh, menyeretnya ke dalam kegelapan total.

Namun, sebelum kuku-kuku tajam para Demon liar sempat menyentuh kulit Evelyn, sekelebat bayangan hitam melesat dari langit senja dan menyambar tubuh gadis itu dalam sekejap mata.

Itu adalah Damian.

Sang Raja Demon kembali. Ia mengangkat tubuh ringkih Evelyn, lalu mendekapnya erat ke dada tegapnya. Damian melirik ke bawah, menatap wajah pucat gadis yang tak sadarkan diri itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Dasar gadis bodoh," gumam Damian, suaranya berbisik rendah di dekat telinga Evelyn. "Kau begitu berani bertaruh nyawa hanya untuk menolong wanita kejam itu? Padahal kau bahkan tidak memiliki ikatan darah sedikit pun dengannya."

Melihat kehadiran sang penguasa tertinggi, sekumpulan Demon liar yang tadi beringas seketika membeku. Mereka serentak menjatuhkan diri ke tanah, membungkuk dalam-dalam sambil bergetar ketakutan di bawah tekanan aura gelap sang raja.

"Enyah kalian semua! Jangan berani-berani menyentuh ataupun melukai mate-ku!" titah Damian lantang. Suaranya menggelegar penuh ancaman, menggetarkan pepohonan di sekeliling mereka.

Tanpa perlu diperintah dua kali, kawanan makhluk mengerikan itu langsung lari kocar-kacir, terbang menyelamatkan diri dan meninggalkan area hutan dalam sekejap.

Damian kembali mengepakkan sayap hitamnya yang megah, membawa tubuh Evelyn mengangkasa, menembus kabut malam. Di bawah guyuran cahaya rembulan yang keperakan, paras pria berusia 180 tahun itu tampak luar biasa tampan, sekaligus dingin bak pahatan es. Ia sama sekali tidak menyesali kematian Karina. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa wanita itu bukanlah ibu yang baik.

Sebenarnya, Damian sudah menyadari keberadaan Evelyn sejak pertama kali menginjakkan kaki di jantung hutan ini. Aroma tubuh gadis itu begitu memikat—perpaduan manis antara bunga peony yang mekar sempurna dan kesegaran dedaunan setelah hujan. Aroma mutlak yang langsung dikenali oleh insting purbanya: aroma sepasang belahan jiwa sejati (mate).

Damian menatap helai rambut hitam Evelyn yang berterbangan ditiup angin malam. Ada raut tidak puas yang tercetak di wajah tampannya.

"Setidaknya, berikan aku seorang mate yang tangguh dan kuat," gerutu Damian ketus pada kegelapan malam. "Kenapa Dewi takdir malah memberiku gadis manusia yang lemah dan berpenyakitan seperti ini? Sialan."

Meskipun mulutnya terus merutuk kesal, sepasang lengan kekar Damian justru mendekap tubuh Evelyn semakin erat, melindunginya dari terpaan angin malam yang menusuk saat mereka terbang menuju kastilnya.

****

Begitu sepasang botnya mendarat di balkon kastilnya yang megah, Damian mendadak menghentikan langkah. Ia terdiam cukup lama, tampak menimang-nimang sesuatu di dalam kepalanya.

"Ah, kenapa aku malah membawanya kemari?" gumam Damian frustrasi. "Bisa gawat kalau Dominic atau para pelayan lain sampai tahu. Aku bisa diejek habis-habisan oleh mereka."

Damian tahu betul bagaimana tabiat Dominic—pria kaku dari ras vampir yang sayangnya merupakan tangan kanan kepercayaannya sendiri. Vampir itu sangat gemar mencampuri urusan orang lain. Jika Dominic sampai mengendus kegilaan ini, rahasia ini pasti akan langsung menyebar luas menjadi gosip hangat di kalangan ras immortal. Mau ditaruh di mana wajahnya sebagai Raja Demon nanti?

Belum lagi jika para petinggi Dewan Ras sampai mengetahuinya. Damian menolak keras hal itu terjadi. Ia tidak sudi disandingkan dengan seorang gadis manusia biasa yang lemah dan berpenyakitan.

Dengan cepat, Damian membatalkan niatnya. Ia merapal mantra sihir kegelapan untuk memutarbalikkan koordinat ruangnya kembali menuju rumah sewa Evelyn. Ia tidak mau membuat seisi kastil gempar malam ini.

WUSSS! BRUK!

Begitu materialisasi tubuhnya sempurna di dalam kamar Evelyn, tanpa kelembutan sedikit pun, Damian langsung menjatuhkan tubuh mungil gadis itu ke atas kasur busa yang tipis.

"Lebih baik aku segera pergi sebelum dia tersadar,"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!