Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Tatapan Dingin Saat Mereka Bertemu Lagi
Bayangan hitam menjulang panjang di atas bebatuan panas Lembah Api Neraka. Ren berdiri tegak, matanya menyapu tajam ke arah kelompok pemburu yang baru saja masuk ke wilayah itu.
Ada lima orang. Wajah mereka tertutup kain hitam, hanya menyisakan sepasang mata yang penuh keserakahan dan kejahatan. Namun, meski wajah mereka tertutup, aura yang mereka pancarkan tidak asing bagi Ren.
"Siapa kau?!" seru pemimpin kelompok itu, seorang pria bertubuh kekar dengan luka bekas cambuk di pipinya. "Minggir! Ini bukan urusan bocah desa sepertimu!"
Ren tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap mereka dengan tatapan yang sedingin es namun seberat gunung. Aura yang dipancarkannya kini berbeda total. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah ketenangan seorang pemburu yang melihat mangsanya.
"Berisik," jawab Ren pelan, suaranya terdengar jelas di tengah gemuruh kawah. "Kalian tadi bicara soal gadis dengan pedang suci? Dia temanku. Kalian mencarinya?"
Wajah para pengejar itu berubah kaget, lalu berubah menjadi senyum licik.
"Oh? Jadi kau kenal dia? Bagus sekali! Hemat kami mencari. Mana dia?! Serahkan dia dan barang yang dia bawa, mungkin kami bisa membiarkanmu hidup!" teriak salah satu anak buah.
Ren tertawa kecil. Tawa yang dingin dan menakutkan.
"Kalian benar-benar tidak belajar dari kesalahan, ya. Sudah pernah dikalahkan sekali, masih berani muncul lagi?"
"Dasar kurang ajar!" Pemimpin itu melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang senjatanya. "Kau pikir dengan bicara besar kau jadi kuat? Lihat bagaimana aku meremukkan tulang-tulangmu!"
Namun, saat pria itu melangkah lebih dekat dan cahaya api kawah menerangi wajah Ren, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak lebar, seolah melihat hantu.
"Kau... kau..." Pria itu tergagap, menunjuk wajah Ren dengan tangan gemetar. "Wajahmu... kenapa wajahmu sangat familiar?"
Ren mengangkat sudut bibirnya, menampilkan senyuman miring yang penuh ejekan.
"Masih ingat? Aku pikir kalian sudah melupakan 'sampah' yang kalian buang dulu," ucap Ren perlahan.
"REN?!"
Serentak kelima orang itu berseru kaget. Wajah mereka pucat pasi seketika.
"Bukan mungkin... itu benar dia! Bocah cacat dari Klan Naga Api! Ren yang dibuang itu!"
"Gila! Kenapa dia bisa ada di sini?! Kenapa dia berani berdiri di hadapan kami?!"
Ketakutan awal berubah menjadi rasa malu dan amarah. Bagaimana mungkin orang yang mereka hina, orang yang mereka anggap tidak lebih rendah dari anjing, kini berdiri di sana dengan aura yang begitu menekan?
Pemimpin itu tertawa gugup, berusaha menutupi keterkejutannya dengan nada keras.
"Hahaha! Jadi kau si sampah itu! Aku heran kenapa kau masih hidup? Apa kau tidak mati kedinginan atau dimakan binatang buas?"
Pria itu melangkah maju selangkah, mencoba mengintimidasi seperti dulu.
"Berlututlah, Ren. Minta maaf karena sudah lancang. Beritahu di mana gadis itu berada, lalu kami akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke klan sebagai pelayan. Bagaimana? Bukankah itu keberuntungan besar untukmu?"
Anak buahnya lain pun ikut tertawa, meski tawa mereka terdengar tidak yakin.
"Benar! Cepat berlutut! Jangan sampai kami mengingatkanmu lagi rasanya dihajar!"
Suara tawa mereka menggema di lembah itu. Namun Ren tetap berdiri tegak. Ia tidak gemetar sedikit pun. Justru tatapannya semakin dingin, semakin tajam.
Di dalam hatinya, Naga Emas berbisik, Hancurkan mereka, cucuku. Tunjukkan pada mereka apa bedanya antara langit dan lumpur.
Ren perlahan menggelengkan kepala.
"Dulu... kalian benar. Aku adalah orang kecil. Aku adalah orang yang tak berdaya yang bisa kalian tendang, kalian hina, kalian buang sesuka hati."
Suara Ren tenang, namun setiap kata terasa seperti palu yang memukul dada mereka.
"Tapi saat kalian membuangku, kalian lupa satu hal. Kalian membuang anak haram, tapi kalian tidak tahu bahwa kalian sebenarnya membuang Raja yang sedang tidur."
"APA YANG KAU BICARAKAN?!" bentak pemimpin itu tak terima. "Masih berani ngomong besar kau bocah cacat! Meridianmu rusak! Kau tidak bisa berkultivasi! Apa yang bisa kau lakukan selain mengemis?!"
"Itu dulu."
Ren menghela napas panjang.
BOOM!!!
Tiba-tiba, gelombang energi yang dahsyat meledak keluar dari tubuh Ren! Aura merah keemasan berputar kencang di sekelilingnya, membuat debu dan batu-batu kecil terangkat ke udara.
Level kultivasi yang terpancar... Perbaikan Qi Tingkat Menengah!
Dan bukan itu saja, densitas energinya jauh lebih padat dan berat dibandingkan kultivator biasa di level yang sama!
Kelima pengejar itu terhuyung mundur, wajah mereka berubah menjadi putih seperti kertas. Jantung mereka seakan berhenti berdetak.
"Ti... tidak mungkin... ini bohong! Bagaimana bisa meridian cacat itu berkultivasi?!"
"Apa yang terjadi?! Kenapa tekanannya seberat ini?!"
Ren melangkah maju selangkah. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya retak. Tatapan matanya kini bukan lagi tatapan manusia biasa, melainkan tatapan dewa yang sedang menatap semut-semut kecil.
"Kalian menyuruhku berlutut?" Ren tersenyum sinis. "Sayang sekali... hari ini giliran kalian yang harus menunduk."
"Jangan takut! Dia cuma main sulap! Serang dia! Habisi dia sebelum dia jadi kuat!" teriak pemimpin itu panik. Ia sadar jika membiarkan Ren hidup, masa depan mereka akan hancur.
"Serang!!"
Keempat anak buahnya mengangkat senjata, menerjang maju dengan geram marah. Mereka tidak mau percaya bahwa bocah sampah itu kini bisa mengalahkan mereka.
Namun Ren hanya berdiri diam. Saat musuh-musuhnya tinggal beberapa meter lagi, ia baru bergerak.
Tidak ada gerakan mewah. Hanya satu gerakan tangan yang sangat sederhana, namun secepat kilat.
WUSH!
DUG! DUG! BUK! TRAK!
Hanya dalam sekejap mata, terdengar suara benturan keras berturut-turut.
Keempat penyerang itu terlembal mundur secepat mereka datang. Mereka terpelanting jauh, menghantam dinding tebing dengan keras dan jatuh tak berdaya. Tulang-tulang mereka pasti remuk redam.
Hanya tersisa sang pemimpin yang berdiri kaku di tempat, mulutnya terbuka lebar tak percaya.
Dalam satu serangan... Ren melumpuhkan empat orang sekaligus tanpa bahkan menyentuh tubuh mereka secara langsung, hanya menggunakan gelombang angin dari pukulannya!
Pemimpin itu gemetar hebat. Rasa takut yang sebenarnya kini menjalar hingga ke tulang sumsumnya. Ia menatap Ren yang kini berjalan mendekat perlahan.
"Kau... kau benar-benar Ren...?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Ren berhenti tepat di hadapannya. Tinggi badan Ren mungkin tidak sebesar pria itu, tapi saat ini, Ren terlihat seperti raksasa yang menjulang tinggi.
"Aku Ren," bisik Ren tepat di telinga pria itu. "Tapi aku bukan lagi Ren yang kalian kenal. Aku adalah mimpi buruk yang akan menghantui kalian selamanya."
Ren mengangkat tangannya perlahan, telapak tangannya memancarkan cahaya merah panas.
"Kalian datang mencari Xue Ying... dan kalian menginginkan kematian. Aku akan mengabulkan permintaan kalian semua."
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭